Aku kira setelah, aku berhasil kabur dari sebuah desa yang sangat membingungkan dan penuh dengan keanehan hidupku akan lebih baik dan tidak mengalami hal-hal yang sangat membuatku takut tapi nyatanya aku salah besar, aku dan ketiga temanku malah terjebak kembali di sebuah desa tua yang lebih menakutkan dan mengerikan, yang paling aneh semua orang di desa itu menatap kami berempat dengan tatapan yang mengerikan, kecuali pada Erlangga mereka menatap Erlangga dengan senyum indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika
Setelah mereka semua mendapatkan kamar masing-masing, kini mereka segera beristirahat karena malam semakin larut.
Walaupun kamar di dalam gubuk itu tidak terlalu nyaman, tapi setidaknya mereka bisa beristirahat sejenak dari pada harus tidur di tengah-tengah hutan pada malam hari.
Bukannya tidak bisa membangun tenda atau semacamnya, bisa sekali itu semua mereka lakukan, tapi sayangnya mereka terdampar di sana hanya dengan tangan kosong, tanpa apapun hanya baju mereka kenakan yang mereka punya, tapi Erlangga selalu membawa kameranya.
Tahu sendiri apa yang terjadi dengan keempat orang itu, sampai sekarang berada di tempat yang sama sekali tidak mereka kenali.
Nayla gadis itu baru saja hendak memejamkan matanya untuk segera menyusuri alam mimpi, sayangnya rasa takutnya lebih mendominasi dirinya, sehingga mata indahnya kembali membuka dengan sempurna.
"Huh, aku sama sekali tidak bisa tidur bagaimana ini, aku terlalu takut" keluh Nayla pada dirinya sendiri.
Berbeda dengan Dika dan Arin yang memilih untuk satu kamar, sedangkan Nayla dan Erlangga memang ingin berpisah kamar, tapi kamar mereka tidak berjauhan, kamar Erlangga tepat di depan kamar yang Nayla pilih.
"Kali ini aku harus bisa tidur, yah walaupun hanya sebentar" ucap Nayla lagi.
Kamar yang sangat gelap itu juga salah satu sebab kenapa Nayla tidak bisa memejamkan matanya, ditambah bayang-bayangan makhluk tak kasat mata yang pernah dia jumpai selalu muncul dalam pikirannya.
Gubuk tua yang sangat kusam dan terlihat menyeramkan juga menjadi salah satu alasan Nayla tidak bisa memejamkan matanya.
"Huh, bagimana ini" Nayla kembali mengeluh.
"Duk, dor, brak, srek" entah suara apa yang baru saja Nayla dengan, suaranya bahkan sangat nyaring, sudah ketakutan ditambah mendengar suara-suara aneh itu, maka rasa takut Nayla bertambah.
"Suara apa itu?" tanya Nayla pada diri sendiri.
Buru-buru Nayla turun dari tempat tidurnya, walaupun hanya beralaskan kayu saja tapi Nayla tetap menikmatinya, mau bagaimana lagi hanya tempat tidur beralaskan kayu itu saja yang ada di gubuk tua ini.
Setelah sudah turun dengan sempurna dari tempat tidurnya yang sama sekali tidak nyaman Nayla, langsung mencari sumber suara barusan yang mengganggunya dan sangat nyaring memasuki gendang telinga Nayla.
Dengan rasa takut Nayla terus berjalan mengikuti instingnya, entah apa yang gadis itu lakukan padahal dia sudah sangat ketakutan, tapi kenapa harus mencari suara-suara aneh tadi, padahal lebih baik jika dia berdiam diri di tempatnya tadi.
Nayla yang sudah separuh jalan dari kamarnya, sangat jelas terlihat wajah ketakutannya, wajahnya sudah sangat merah dan seluruh tubuhnya tegang juga kaku, sedangkan seluruh badanya hampir gemetar, kakinya saja sudah terasa lemas, tapi apalah daya walaupun kakinya sangat lemas, tapi kakinya juga yang terus membawa seluruh badannya untuk terus berjalan.
Kini rasa penasaran gadis itu yang terus memuncak mengalahkan rasa takutnya yang semakin menjadi.
Belum sempat Nayla kembali melangkahkan kakinya dia merasa ada yang memegang kakinya dari bawah, entah apa yang menempel pada kaki Nayla, tapi yang dia bisa rasakan ini sangatlah dingin sekali.
"Argh…! Apa ini sangat dingin" Nayla hanya bisa menjerit dalam hati, sambil mengibaskan kakinya kuat untuk menghilangkan rasa dinginnya.
Setelah Nayla merasa sesuatu itu berhasil lepas dia segera berlari tergesa-gesa, tapi sayang karena dia terlalu ketakutan hingga dia kesasar.
"Dimana ini?" Nayla sudah membentur tembok dengan kedua tangan yang dilipat ke atas sambil melihat sekeliling.
"Hihihi" belum apa-apa Nayla kembali mendengar suara aneh.
"Siapa disana?" tanya Nayla lantang dengan keberanian yang sudah sangat menipis.
"Argh…!" seketika itu juga Nayla pingsan di tempatnya, bagaimana tidak dia melihat sebuah bayangan yang sangat besar hendak mencekik nya, dan bayangan itu terus mendekat pada Nayla, belum sempat Nayla membalikan badan, di depannya dia seperti melihat seorang wanita yang berlumuran darah di bagian dadanya dengan senyum yang menakutkan.
"Nayla" ucap Arin, sambil menatap sendu Nayla. "Bagaimana dia bisa tidur disini? bukankah Nayla juga mendapatkan kamar di depan kamar Erlangga?" bingung Arin.
"Terus kita haru bagaimana? membiarkan Nayla tidur disini atau membawanya ke kamarnya?" Dika meminta solusi pada Arin.
Sedangkan Arin hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Arin dan Dika yang baru saja selesai dari kamar mandi, karena Arin kebelet pipis tapi dia tidak berani pergi sendiri, jadilah dia meminta temani Dika, jika Dika tidak mau maka Arin akan marah padanya, prinsip Dika dari pada Arin marah dengan dirinya lebih baik dia memberanikan diri daripada takut, toh dia juga jika di kamar sendiri akan ketakutan.
Tadi saat hendak kembali ke kamar mereka, Arin tidak sengaja mendengar teriakan Nayla, maka dari itu keduanya memutuskan untuk mencari keberadaan Nayla, sebelum nya juga mereka sudah memeriksa kamar Nayla, tapi Nayla tika ada disana.
Akhirnya Arin dan Dika menemukan Nayla sedang tergeletak di ruang tengah dengan keadaan baik-baik saja.
"Kita bawa saja Nayla ke kamarnya yang" usul Dika lagi.
"Sepertinya memang harus begitu, tapi aku masih penasaran kenapa Nayla bisa tidur di tempat ini"
***
Pagi harinya Erlangga sudah menyiapkan makanan untuk mereka, tadi saat matahari muncul buru-buru Erlangga mencari buah-buahan dan memburu hewan untuk sarapan mereka di pagi hari, tidak mungkin mereka mengandalkan makanan yang ada sedangkan mereka saja tidak memiliki persediaan makanan, jadilah Erlangga mengalah untuk mencari makanan untuk disantap pagi hari ini.
"Pagi, Er" sapa Dika disusul oleh Arin juga.
"Hei! pagi, bagaimana semalam apakah kalian tidur dengan nyenyak?" tanya Erlangga, tapi fokusnya masih pada kelinci yang sedang dia bakar.
"Lumayan, tapi ngomong-ngomong dimana Nayla?" jawab Arin sambil celingukan mencari keberadaan Nayla.
"Disini" teriaknya saat Nayla mendengar pertanyaan Arin yang dilontarkan untuk Erlangga.
Dengan segera Nayla mendekat ke arah tiga orang itu, apalagi saat ini Erlangga sedang membakar daging harumnya sampai tercium ke hidung Nayla, yang jaraknya masih lumayan jauh, sudah lapar tambah lapar saja Nayla, apalagi dia merasa dirinya semalam seperti dari berolahraga berat.
"Kamu bagaimana bisa semalam tidur di ruang tengah yang sangat kotor itu Nay?" cerocos Arin saat Nayla sudah di dekat mereka semua.
"Tidur di ruang tengah?" Nayla mengulangi perkataan Arin barusan. "Bukanya aku sedari tadi malam hanya berada di dalam kamar ku?"
"Kamu benar-benar tidak mengingat apa-apa Nay?" sahut Dika tidak percaya. "Semalam yang memindahkan kamu ke kamarku aku dan Arin, karena kamu tidur di tanah ruang tengah" jelas Dika.
"Tapi benar aku sama sekali tidak mengingat apa-apa" jujur Nayla, sedari tadi waktu bangung saja dia sudah memikirkan apa yang terjadi semalam pada dirinya tapi sama sekali dia tidak ingat apa-apa.
"Mungkin Nayla tidur sambil berjalan" komentar Erlangga yang sedari tadi diam, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Erlangga membuat mereka bertiga mengangguk secara bersama, karena jawaban yang Erlangga berikan masuk dalam logika.