Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 22
Audrey mengerjapkan matanya, ia merasakan pusing di kepalanya masih belum sembuh, begitu juga rasa mual itu masih terasa menggelitik perutnya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya dan menyadari kalau dia masih berada di dalam kamar. Tapi, kenapa aku bisa ada di ranjang laki-laki dingin itu? Mengingat Byakta, Audrey merinding sendiri.
Ia menggulung rambutnya sambil mencoba mengingat apa yang sudah terjadi sehingga dia sampai bisa tidur di kasur ini.
Ingatannya sedikit berputar saat ia terbangun dalam keadaan pusing dan mual, ia juga mengingat saat ia muntah dan Byakta datang menolongnya dan setelah itu dia tidak ingat apapun lagi.
"Bagaimana bisa aku sampai pingsan begitu, memalukan sekali!" Gerutu Audrey.
Ia hendak turun dari tempat tidur, namun pergerakannya terhenti saat pintu kamar terbuka, menampakkan sosok tampan itu disana.
Byakta datang dengan satu gelas susu dan satu gelas air putih juga semangkuk bubur di atas nampan.
Bagai malaikat yang turun dari langit, Byakta tampak bercahaya saat memasuki kamar. Mungkin jika yang melihatnya bukan Audrey, maka wanita mana pun akan terpesona dengan ketampanan Byakta.
Tapi, tidak dengan Audrey, ia malah memalingkan wajahnya lalu menutup mulutnya. Perutnya mulai bergejolak, rasanya seperti diaduk-aduk.
Byakta yang tidak mengerti dengan kondisi Audrey yang menahan gejolak ingin muntah, dengan tidak tahu malunya mendekat kepada Audrey.
"Bibi Lauren menyuruhku membawa sarapan untukmu, kau jangan salah paham, karena ini perintah bibi Lauren, bukan kemauanku,"
Bukannya mendengarkan ucapan Byakta yang bertele-tele, Audrey malah menyibakkan selimutnya dan langsung berlari ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi Audrey kembali memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar selain cairan kuning yang rasanya pahit sekali.
Byakta tidak tinggal diam, ia langsung meletakkan nampan yang di pegangnya, lalu berlari menyusul Audrey ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi
"Stop!" teriak Audrey.
Gadis itu kembali muntah, sedangkan Byakta tidak peduli dengan penolakan Audrey, ia mendekat dan ingin memijat tengkuk Audrey untuk memudahkan gadis itu mengeluarkan isi perutnya.
Namun yang terjadi, Audrey malah menepis tangan Byakta yang sudah hampir memegang tengkuknya.
"Hentikan! Saya mohon menjauhlah, Tuan."
Audrey kembali muntah dan membuat Byakta frustasi melihatnya, "aku hanya ingin membantumu,"
"Tidak perlu, wajah Anda ….!"
Audrey kembali muntah setiap kali melihat wajah Byakta, jangankan melihat, terbayang saja sudah membuat perutnya terasa di aduk-aduk.
"Ada apa dengan wajahku?" Byakta meraba wajahnya sendiri.
"Kenapa dengan wajahku, hah! Kau jangan mengada-ada, tidak ada masalah dengan wajahku!"
Dengan tidak sadar laki-laki itu malah membentak Audrey yang mulai kehabisan tenaga, karena merasa tidak ada yang salah dengan wajahnya.
"Wajah anda yang membuat saya muntah-muntah, Tuan!" jelas Audrey tanpa dosa, lalu ia kembali muntah lagi.
"Hah! Jangan sembarangan bicara, ya!" Byakta semakin marah mendengar penjelasan Audrey, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tiba-tiba Audrey kembali pingsan kehabisan tenaga.
Melihat Audrey pingsan lagi, Byakta kembali panik, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa wajahnya bisa jadi penyebab Audrey muntah-muntah?
Banyak lagi pertanyaan yang bersarang di benaknya, namun ia mengesampingkan itu semua dan menolong Audrey terlebih dahulu.
"Ada apa? Astaga! Kenapa bisa begini lagi, apa yang kau lakukan!" Bibi Lauren yang tiba-tiba datang juga ikut panik melihat Audrey digendongan Byakta dalam keadaan pingsan.
"Jangan tanya apa-apa dulu, Bi! Lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit dulu."
Byakta berjalan cepat menuju lantai bawah, ia berteriak kepada semua orang untuk menyiapkan mobil.
Ia terus berteriak panik, karena melihat semua orang bekerja dengan lambat. "Apa kalian tidak bisa bekerja dengan baik! Akan ku pecat kalian semua, kalau sampai istriku kenapa-kenapa!" tegasnya tak terbantah.
Semua orang baik kepala pelayan maupun sopir menjadi ketakutan melihat kemarahan bercampur rasa panik bosnya.