Mahira Amalia Hamarung, tak menyangka Teddy akan meninggalkan dia saat Mahira justru telah menyerahkan kesuciannya pada pria itu. Dalam ketakutannya perbuatan mereka itu akan membuat Mahira hamil, Putri sahabat baiknya menghubungi Edmond Moreno. Pria yang dulu sangat mencintai Mahira. Edmond akhirnya bersedia menikahi Mahira sekalipun Mahira nantinya hamil. Pernikahan itu pun terjadi. Saat telah resmi menjadi istri Edmond, Mahira pun tahu masa lalu Edmond yang membuatnya terguncang. Ketika Mahira hampir menyerah, Teddy justru hadir kembali untuk mendapatkan kembali cinta Mahira. Bagaimana pernikahan itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya?
Ini sebuah cerita sederhana tentang memahami cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Ke Pantai (part 2)
Walaupun Mahira tak mengerti dengan apa yang Sofia ucapkan namun ia bisa mengetahui kalau ada nama Monalisa. Hati Mahira menjadi tak tenang. Apakah Monalisa ada di sini? Haruskah ia bertanya?
"Sayang, kita berdansa, yuk!" ajak Edmond.
"Aku malu, Ed." Mahira ingin menarik tangannya yang dipegang oleh Edmond.
"Kenapa harus malu? Kita kan sudah pernah dansa bersama saat menikah. Lagunya bagus." Edmond berdiri. Ia kemudian berdiri di belakang kursi Mahira, memegang sandaran kursi tempat Mahira duduk. Mahira pun berdiri dan Edmond menarik kursi itu sehingga istrinya bisa keluar dengan bebas. Sambil bergandengan tangan, keduanya menuju ke lantai dansa.
"Kita dansa juga, yuk!" ajak Lerry. Sofia mengangguk. Ia pun menerima uluran tangan kekasihnya itu.
Suasana romantis langsung terasa saat dua pasangan itu berdansa mengikuti lagu yang ada. Edmond terlihat sangat menikmati saat berdansa mereka sampai ia memejamkan matanya. Mahira pun terhanyut dalam dekapan Edmond. Sampai akhirnya matanya menatap sosok perempuan yang duduk tak jauh dari sana. Ia duduk sendiri sambil memegang gelas wine di tangannya. Yang membuat Mahira sedikit terganggu adalah cara wanita itu memandangnya. Suatu tatapan yang penuh dengan rasa kebencian dan kemarahan. Mahira akan mengatakan itu pada Edmond namun ia mengurungkan niatnya karena Edmond sudah menunduk dan langsung mencium bibirnya dengan lembut dan mesra.
Mahira terkejut namun ia tak berani menolaknya. Edmond begitu romantis membuat seluruh tubuh Mahira bergetar dengan rasa bahagia. Ia menikmati ciuman suaminya itu. Sampai akhirnya lagu itu selesai.
"Lerry, kami ke kamar dulu ya?" Pamit Edmond saat mereka kembali ke meja.
"Masih juga jam 9." Lerry menatap arlojinya.
"Bumil kan nggak boleh tidur larut malam. Lagi pula ada aktifitas yang harus kami lakukan sebelum tidur. Ya kan sayang?" Edmond menatap Mahira lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Ed....!" Mahira mencubit pinggang Edmond karena ia merasa malu pada Lerry dan Sofia.
Lerry tertawa. "Jangan malu, Mahira. Aku sudah tahu kalau suami mu itu sedikit mesum."
"Memangnya kamu tidak? Jangan bilang kalau kalian berdua nggak akan lembur malam ini." Edmond segera memeluk pinggang Mahira dan mengajak istrinya itu pergi.
"Sayang, Lerry dan Sofia tidur di kamar yang sama?" tanya Mahira saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Iya."
"Mereka kan belum menikah."
"Itu bukan urusan kita, sayang. Itu prinsip hidup yang mereka jalani. Makanya Sofia tak mau tinggal di mess karena akan menjadi gunjingan para tetangga. Ia lebih suka tinggal di kota. Jangan pikirkan mereka ya? Kami memang bersahabat namun tak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing." Ujar Edmond.
"Maaf."
Edmond yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Mahira hanya tersenyum. Ia mencium puncak kepala Mahira. "I love you." baiknya lembut.
Ketika mereka memasuki kamar, Edmond tak mau membuang waktu. Ia langsung mencium istrinya dengan keras dan langsung menyentuh bagian-bagian yang menjadi favoritnya.
"Sayang, tadi saat kita berdansa, aku melihat ada seorang wanita yang memandang ku dengan tatapan sinis."
Edmond yang sementara membuka kemeja yang dipakainya hanya tersenyum. "Mereka iri karena aku mendapatkan istri yang cantik dan baik seperti dirimu." Edmond membuang kemeja yang dipakainya secara sembarangan. Ia juga membuka celana jeans yang dikenakannya. "Jangan pikirkan orang lain saat kita sedang berdua." Lalu ia segera naik ke atas tempat tidur dan melanjutkan kembali aktifitas mereka yang membawa Mahira pada puncak kenikmatan yang selalu membuatnya melayang.
************
Mahira bangun. Ia merasa haus. Saat ia menoleh ke samping, ia tak menemukan Edmond. Mahira mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat kalau sekarang sudah jam 2 dini hari. Kemana Edmond ya?
Setelah mengenakan bajunya kembali, Mahira menuju ke kamar mandi.
"Sayang, kau di dalam?" tanya Mahira sambil mengetuk pintu. Namun Edmond tak menjawab. Saat Mahira membuka pintu kamar mandi, Edmond tak ada di dalamnya.
Tadi, selesai mereka bercinta, Mahira langsung tertidur. Ia ingat dengan jelas sebelum tertidur masih sempat melihat ponselnya. Waktu itu sudah menunjukan jam 11 lewat 15 menit. Ia juga merasakan kalau Edmond sudah tidur sambil memeluknya dari belakang.
Setelah meminum air, Mahira melangkah ke balkon. Tak ada juga Edmond di sana.
Hati Mahira bertanya. Apakah ada hubungannya dengan apa yang Sofia katakan tadi? Monalisa?
Mahira mengambil ponselnya. Ia bermaksud ingin menelepon Edmond namun hati kecilnya melarang. Ia selalu mengatakan pada hatinya bahwa ia akan mempercayai Edmond. Lelaki yang telah menyelamatkan nama baiknya. Ia tak mau Edmond berpikir kalau ia adalah istri pencemburu yang tak mempercayai suaminya.
Lelah menunggu, Mahira akhirnya tertidur. Edmond belum juga kembali saat jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari.
**************
Pagi harinya, Mahira bangun lebih dulu. Ia segera mandi dan ganti pakaian. Edmond nampak masih tidur dengan nyenyak. Entah jam berapa Edmond kembali. Ada sejuta tanya dalam hati Mahira. Akhirnya, ia menyendiri ke balkon dan menelepon Putri.
"Kemana Ed? Mengapa juga kamu tak meneleponnya?" tanya Putri saat Mahira curhat masalah Edmond.
"Aku merasa nggak enak, Put. Kesannya aku terlalu kepo dengan apa yang Ed kerjakan."
"Kamu kan istrinya? Mengapa juga dia meninggalkan kamar tanpa memberitahukannya kepadamu?"
"Jadi menurutmu aku harus bertanya kepadanya?"
"Tentu saja. Kalau Ed sampai macam-macam kepadamu, aku nggak akan tinggal diam, Ra. Kamu sahabatku. Aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku sendiri. Menyakitimu berarti menyakiti aku juga."
Mahira menjadi sangat terharu dengan semua perhatian Putri. Sekalipun kini mereka sudah saling berjauhan namun perhatian Putri kepadanya tak pernah berkurang. Walaupun mereka tak setiap hari saling menelpon, namun setidaknya Putri selalu menyapanya baik di wa grup maupun mengirim pesan pribadi padanya. Mahira jadi rindu dengan suasana bank. Ia rindu bekerja lagi.
"Makasi ya, Put. Kamu selalu ada untukku. Bagaimana kabar kantor?"
"Seperti biasa. Ramai dan melelahkan. Oh ya Sinta akan menikah minggu depan."
"Duh, kangen aku dengan Sinta. Sampaikan salam ku padanya? Aku akan mengirim hadiah untuknya."
"Dia pasti akan senang. Oh, ya kemarin aku melihat Teddy. Dia juga bersama Maya. Mereka seperti orang yang pacaran saja. Saling bergandengan tangan."
"Benarkah? Teddy pacaran sama Maya? Kok dia tega sama aku? Maya itu kan masih sepupuku? Apakah dia sengaja meninggalkan aku untuk bersama Maya?" Mahira merasakan hatinya sakit. Matanya bahkan berkaca-kaca.
"Sudahlah. Jangan bersedih. Maaf kalau aku sudah membuatmu bad mood di pagi ini. Namun kamu tahu kan kalau aku tak bisa menyembunyikan sesuatu padamu. Aku juga kesal dan marah padanya."
"Apakah Teddy tak bertanya tentang aku?"
"Bertanya tentang kamu? Itu tak mungkin, Ra. Melihatku saja ia langsung membuang muka seolah tak pernah mengenalku."
"Sepertinya kisah kami selama 4 tahun tak ada artinya bagi Teddy. Terima kasih ya. Aku tutup dulu. Bye..." Mahira mengahiri percakapannya dengan Putri. Ia menghapus air matanya dengan hati yang perih. Saat ia membalikan badannya untuk kembali ke kamar, ia terkejut melihat Edmond yang berdiri tepat di depan pintu sambil bersedekap. Ia nampaknya baru bangun karena hanya mengenakan celana boxer nya. Sama seperti yang Mahira lihat tadi di atas tempat tidur. Wajah Edmond terlihat marah. Ia bahkan menatap Mahira dengan dingin. Mahira tahu kalau Edmond pasti mendengarkan percakapannya dengan Putri.
"Selamat pagi, Ed." Sapa Mahira berusaha tersenyum. Entah kenapa tatapan mata Edmond rasanya membuat buku kuduk Mahira berdiri.
"Aku mau mandi setelah itu kita turun untuk sarapan." Kata Edmond masih dengan sikap dinginnya lalu segera membalikan badannya dan ia meninggalkan Mahira yang masih berdiri di balkon.
Mahira pun segera masuk. Ia menyisir rambutnya sebentar, lalu menyiapkan pakaian Edmond.
Tak lama kemudian, Edmond selesai mandi. Ia mengambil pakaian yang disiapkan Mahira untuknya lalu segera memakainya. Edmond menyisir rambutnya dan memakai minyak wanginya. Tak ada percakapan yang tercipta di pagi ini dan Mahira tak tahu bagaimana harus memulai percakapan diantara mereka.
"Ayo kita turun!" Kata Edmond lalu mengambil ponselnya dan memasukkannya ke saku celananya. Ia melangkah lebih dulu. pegangan tangan hangat seperti yang biasa Edmond lakukan saat mereka keluar kamar. Mahira memilih berjalan di belakang Edmond.
Dia pasti marah karena aku tadi menyebut nama Teddy. Tapi dia juga semalam pergi tanpa memberi tahu aku. Seharusnya aku juga marah juga kan? Batin Mahira saat keduanya sudah ada dalam lift.
Edmond masih tetap diam. Begitu juga saat mereka menuju ke restoran.
"Ed...., Mahira....!" panggil Lerry yang ternyata sudah lebih dulu ada di sana. Tak terlihat Sofia.
Edmond mengambil piring dan mengambil nasi goreng. Mahira terlihat kehilangan selera makannya. Sikap Edmond sungguh membuatnya kesal.
Saat Edmond dan Mahira sudah duduk, Lerry memperhatikan makanan di atas piring Mahira.
"Kamu sedang hamil dan hanya sarapan sepotong roti?" tanya Lerry.
"Aku tak lapar." jawab Mahira sambil tersenyum. "Di mana Sofia?" tanya Mahira berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Dia masih tidur. Pasti bangunnya nanti menjelang makan siang."
"Oh...."
Lerry memperhatikan Edmond dan Mahira. "Kalian kenapa? Kok saling diam? Wajah Edmond juga cemberut. Kalian marahan ya? Duh pasti karena selama kan?" Lerry terlihat menyesal.
"Semalam?" Mahira jadi bingung.
"Semalam aku menelepon Ed dan meminta dia untuk menemani aku mencari Sofia. Aku dan Sofia semalam bertengkar dan dia pergi dari kamar. Sudah hampir jam 1 dia nggak kembali. Aku jadi panik dan meminta bantuan Ed. Maafkan aku ya? Karena panik Sofia entah kemana, Ed sampai meninggalkan kamu sendiri di kamar."
Mahira diam. Ternyata Ed bersama Lerry. Tuh kan, aku tak seharusnya curiga pada, Ed.
"Mahira, jangan marah ke Ed ya? Aku mau ke kamar dulu. Mau melihat keadaan Sofia. Semalam ia mabuk di cafe. Hampir jam 3 baru kami menemukannya." Lerry mengambil tissue dan membersihkan mulutnya. Setelah itu ia segera meninggalkan Edmond dan Mahira.
Mahira merasa tak enak hati. Tentang kepergian Edmond semalam, ia telah menemukan jawabannya. Dan sekarang, apa yang menyebabkan Edmond bersikap dingin padanya, itu yang harus Mahira ketahui.
"Ed, kamu marah padaku?" Mahira akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya." Jawab Edmond lalu meletakan sendok yang ada di tangannya. Ia pun terlihat tak berselera untuk sarapan.
"Salah aku apa, Ed?"
"Aku kan pernah bilang padamu, Ra. Aku siap menerima dirimu apa adanya. Asalkan kamu tak akan pernah kembali ke masa lalu mu. Mengapa juga berita tentang Teddy yang jalan dengan sepupumu sangat mempengaruhi dirimu sampai kau menangis? Aku cemburu karena kau masih memikirkannya." Kata Edmond tanpa menyembunyikan hatinya yang marah.
"Maaf, Ed. Aku akui kalau aku salah. Hanya saja, melupakan Teddy...."
"Aku tak mau kamu menyebutkan namanya." Edmond memotong ucapan Mahira. Ia berdiri. "Aku mau ke pantai sebentar. Kamu kembali saja ke kamar dan siapkan barang-barang kita. Siang ini kita kembali ke kota."
"Kenapa siang ini, Ed? Bukankah liburan kita seharusnya sampai besok?"
"Aku sudah nggak mood untuk melanjutkan liburan ini." Edmond segera pergi. Mahira menjadi tak enak hati. Ingin rasanya ia menangis. Namun ia menguatkan hatinya. Sikap dingin Edmond sungguh membuatnya tak nyaman. Tak ada lagi senyuman manis dan sikap mesranya. Ternyata Edmond sangat tak menyenangkan saat ia dalam mode cemburu.
Mahira pun meneguk jus jeruk yang diambilnya tadi. Setelah itu ia bergegas kembali ke kamar. Mahira menjadi serba salah.
**************
Selamat malam semuanya....
kira-kira sudah ada yang bisa menebak apakah Ed tulus atau hanya memanfaatkan sesuatu dari Mahira?
Berikan komen mu ya..
Jangan lupa juga dukungannya untuk emak
emang ratu setan si muna.....😤👻
good Ed 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
1*istri tidak percaya suami, suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
*suami tidak percaya istri, suami tetap salah karena hubungan harus dilandasi kepercayaan
2*PEBINOR, lelaki lain yang menyukai istri, cintanya tulus, tidak boleh dihukum apapun kesalahannya, harus berakhir bahagia
*PELAKOR, wanita lain yang menyukai suami, cinta obsesi, jalang, harus dibinasakan
3*istri buat salah, jangan dibesarkan, harus langsung dimaafkan
*suami buat salah, tidak boleh langsung dimaafkan, suami harus dibuat mengemis dan berjuang dulu
4*intraksi istri dengan lelaki lain, tidak masalah, itu hanya intraksi biasa
*intraksi suami dengan wanita lain, menjijikan, laknat
5*istri tidak Terima masa lalu suami, itu wajar, suami harus membuktikan diri
*suami tidak Terima masa lalu istri, kesalahan besar, hubungan harus saling menerima keadaan masing2
6*istri berbohong pada suami, biasa saja jangan terlalu dimasalahkan
*suami berbohong pada istri, kesalahan besar, hubungan harus saling jujur
dan ini semua ada dinovel ini dan mirisnya author selalu membela mahira dan selalu membiarkan kesalahan mahira dan selalu membiarkan kesalahan teddy (PEBINOR) tapi author membesar2kan kesalahan edmond dan edmond selalu salah dan dibuat menebus kesalahannya, mengemis cinta dan berjuang, dan pelakor dilalnat dan dibinasakan
dimana keadilan kalau sudah begini????? miris