Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan sang suami, mengharuskan Hanum berbagi bukan cuma raga tapi juga hati. "Saya terima nikah dan kawinnya Amalia binti Ahmad dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah.... sah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🕊R⃟🥀Suzy.ೃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Amelia
Kedatangan Rio yang tiba-tiba membuat hati juga perasaan ku berantakan, kisah masa lalu kembali muncul saat aku ingin memulai lembaran hidup baru.
Namaku Amelia Ratna Sari tapi, orang-orang hanya mengenal diriku sebagai Amelia saja.
Bukan tanpa alasan aku membuang nama belakangku, aku membenci nama itu sama seperti aku membenci orang yang telah memberikan nama itu padaku.
Aku terlahir dari keluarga yang tidak baik-baik saja, ayahku bercerai dengan ibuku saat aku berusia tujuh tahun. Usia dimana seorang anak membutuhkan keluarga yang utuh.
Setelah perceraian itu, ayahku memilih pergi dengan gundiknya dibanding denganku. Aku tidak punya saudara, aku sebatang kara.
Ibuku membawa ku pergi, saat rumah yang menjadi tempat bernaung terpaksa harus di jual demi mencukupi kebutuhan kami.
Ibuku seorang ibu rumah tangga, yang semasa hidup nya tak pernah bekerja. Mengandalkan suami untuk memenuhi semua kebutuhannya.
Saat mendapati ayah berselingkuh, ibu orang pertama yang paling terpukul. Mencoba bertahan tapi aku tau kalau ibuku tidak baik-baik saja.
Hingga saat ayah mengajukan gugatan dan perceraian itu dilaksanakan, aku tau ibu orang pertama yang hancur selain diriku sendiri.
Tapi keputusan tak bisa diubah, ayah lebih memilih gundik nya daripada kami yang menemani dari nol.
Hancur itu yang aku rasakan dulu, seorang anak yang berusia tujuh tahun harus dipaksa mengerti tentang keadaan.
Setelah perceraian ayah dan ibu, kami masih menempati rumah kami. Hingga saat aku mulai masuk Sekolah Menengah Pertama, ibu mulai menjual apa yang kita punya untuk terus menyambung hidup.
Termasuk rumah yang kami tempati, juga harus rela terjual demi kelangsungan hidup kami yang semakin sulit.
Saat kami mulai putus asa, ibuku memilih untuk menikah kembali dengan seorang duda tua. Aku tidak setuju dengan rencana ibu untuk menikahi orang yang lebih pantas disebut kakek daripada ayah untuk ku.
Tapi ibu menyakinkan aku kalau semua akan baik-baik saja. Dan benar hidup kami hampir kembali seperti semula, hingga suatu kejadian yang membuat aku menjadi seperti sekarang.
Tepatnya saat usiaku menginjak angka delapan belas tahun, entah bagaimana awalnya saat aku sendirian dirumah, ayah angkat ku tiba-tiba masuk kedalam kamar dan berniat untuk melecehkan diriku.
Aku berusaha meminta tolong tapi tak ada satupun yang datang, hingga saat ayah tiriku ingin membuka paksa baju yang kupakai, aku memukul kepala ayah tiri ku dengan vas yang ada di sisi tempat tidur.
Darah mengalir dari kepalanya dan di saat yang bersamaan anak ayah tiri ku datang, dia berteriak kalau aku seorang pembunuh yang ingin membunuh ayahnya.
Aku mengelak tapi tuduhan itu seolah-olah tak terbantahkan, ibu yang melihat kejadian itu menangis histeris, berusaha untuk mencegah mereka menghakimi diriku.
Demi membebaskan diriku, ibuku memilih untuk meninggalkanku sendiri. "Maaf Lia, setelah ini ibu harap kamu akan bahagia, Nak." pamit ibuku.
Aku hancur bahkan ibuku sendiri, membuangku demi suaminya yang hampir menghancurkan masa depanku.
Aku pergi meninggalkan rumah juga Ibu, "Ku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi bu, apapun keadaannya nanti."
Lulus Sekolah Menengah Atas, aku mendaftarkan diri untuk kuliah di Fakultas ternama dengan beasiswa yang ku punya, aku berhasil kuliah di tempat tersebut. Dan itu juga yang menjadi awal perkenalan ku dengan Rio Dewanto.
Lelaki tampan dengan postur tubuh yang tegap, badan yang tinggi juga senyum yang manis, sedikit mampu menarik perhatianku gak cuma diriku tapi seluruh gadis yang ada di kampus.
Awal pandangan pertama begitu mempesona, kami dekat karena kami satu jurusan dan mengambil mata kuliah yang sama.
Kedekatan kami berjalan sebagaimana mestinya, Rio orang yang sangat baik, tidak pernah membedakan teman satu dengan yang lain nya.
Hingga suatu hari dia mendatangiku saat jam istirahat siang di kantin. Dia berdiri dengan membawa sekuntum mawar merah dan bertanya, "Maukah kau menjadi kekasihku?" ucapnya di depan semua teman-teman yang melihat.
Semua orang memandang kami dan berteriak, "Terima … terima … terima."
Aku yang malu-malu hanya mengangguk samar, dan kulihat kebahagiaan itu jelas nampak di mata Rio.
Sejak saat itu sampai sekarang kami masih berstatus sebagai kekasih, belum ada sekalipun kata putus yang terucap.
Pernah suatu hari aku ingin meninggalkan nya, karena aku merasa tak pantas untuk nya dan juga keadaan ku yang terlalu sulit.
Godaan dari yang bernama uang, tak cukup sampai disaat aku bersama dengan Rio. Walaupun dia selalu memberikan yang aku inginkan tapi keserakahan itu mulai menampakan wujudnya.
***
"Hai." sapa Rio menghampiri Amel.
"Hai juga."
"Kamu nanti pulang bareng ya sama aku,"
"Aku gak bisa kan aku harus ke cafe untuk kerja," ucapku sendu.
"Aku tunggu sampai kamu selesai kerja."
"Tap … tapi." belum sempat Amel berbicara tapi sudah terpotong dengan ucapan Rio
"Tidak ada penolakan, aku tunggu pokok nya, oke cantik?"
"Hmm."
***
Malam yang ditunggu pun akhirnya datang, selesai bekerja paruh waktu Amel pulang dan di saat yang bersamaan juga Rio telah menunggunya di tempat yang biasa Rio pake untuk menunggu.
"Aku pengen bicara sama kamu!" ucapnya serius.
"Ada apa?"
"Untuk sementara waktu ini kita tidak akan bisa bersama dulu."
"Kenapa?"
"Orang tuaku, meminta aku untuk lebih banyak belajar tentang bisnis jadi aku memutuskan untuk sekolah keluar negeri, disana ada kakak ku dan aku akan tinggal disana." ucap Rio hati-hati.
Amel meneteskan air mata, tanda sakit hatinya, "Berapa lama?"
"Tak lama, kamu tunggu aku kembali ya dan untuk biaya kuliah dan tempat tinggal, kamu jangan khawatir semua sudah aku bayar yang penting kamu belajar dengan baik, biar kamu bisa meraih cita-cita kamu." ucap Rio sembari memeluk Amel.
"Aku mencintaimu Lia, tunggu aku kembali."
Amel menangis sesenggukan, menandakan hatinya yang kembali patah, kekasih yang mengerti dia apa adanya sekarang pun mulai pergi meninggalkan dirinya.
"Kamu janji pasti akan kembali kan?" tanya Amel lirih.
"Ya aku akan secepatnya kembali sayang, tunggu aku ya? nanti setiap bulan akan ku kirimkan uang untuk mu membeli semua kebutuhanmu."
Amel mengangguk dan memeluk erat Rio.
***
Dan tiga tahun setelah perpisahan itu, kini Rio kembali dengan sejuta misteri. Amel yang menyadari kesalahannya karena menikah dengan Ilham tak kuasa menahan rasa takutnya.
"Husttt, bukan macam-macam tepatnya hanya satu macam saja, dan akan ku pastikan kamu akan menikmati itu." Kata-kata Rio begitu menggema di pikiran Amel berputar seperti kaset yang sudah mulai rusak.
Dan pikiran itu sukses membuat Amel kesusahan, bahkan merusak hati juga hari nya di kantor saat ia bekerja.
"Huft, aku tidak bisa bekerja kalau seperti ini keadaannya." ucap Amel dalam hati.
Amel berjalan masuk kedalam ruang kerja Ilham, ia bermaksud untuk meminta ijin pulang terlebih dahulu.
"Mas," panggil Amel saat ia masuk.
"Hmm"
"Mas, aku ijin pulang dulu ya?"
Ilham yang sibuk membaca berkas yang ada di laptopnya, seketika mendongakkan kepalanya dengan heran.
"Kenapa kok pulang duluan, kamu sakit?" tanyanya sedikit khawatir.
"Gak mas hanya sedikit pusing sama lelah aja."
"Hm, baiklah kamu pulang dan istirahat tapi Mas gak bisa nganter kamu pulang."
"Iya gak papa aku naik taksi aja nanti."
"Oke, ya sudah kamu pulang saja nanti tugas yang lain, biar orang lain yang kerjakan."
Amel berjalan mendekat ke arah Ilham, sedikit memberikan kecupan singkat tapi ternyata tidak sesingkat itu juga.
Ilham meraih tengkuknya ******* bibirnya pelan, hingga nafas keduanya mulai tak beraturan.
"Pulang lah nanti malam aku pulang!" ucap Ilham menyudahi ciumannya.
Amel mengangguk, mengiyakan "Janji ya pulang, besok kan weekend aku pengen berduaan sama kamu Mas." ucapnya manja.
"Iya," jawab Ilham.
Amel keluar dari kantor dan berjalan menyusuri lobi sambil menunggu pesanan taksi nya muncul.
"Hai, Lia." terdengar sapaan lembut tapi menakutkan.
Deg
"Kam … kamu."
****
itu anak siapa?