NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.12 -Luka Yang Tak Terlihat

Aylin membeku. Trauma itu datang tanpa disadari. Tatapan Aksara terlalu dekat. Suara beratnya terlalu pelan. Semua itu—kedekatan fisik, ruang yang tiba-tiba mengecil dan gelap—mendorong ingatan lama yang selalu dia coba kubur dalam-dalam.

Jantungnya berdegup terlalu keras. Tenggorokannya tercekat. Ujung jarinya mulai mendingin. Ia mundur selangkah, tapi Aksara—karena masih ingin bercanda dan belum sadar—ikut maju setengah langkah.

“Kenapa?” Aksara tersenyum kecil. “Malu, hm? Aku cuma lihat kok, bukan—”

Suara itu, nada menggoda itu…

Detik itu juga, tubuh Aylin bereaksi tanpa izin. Aroma kamar, jarak, sorot mata intens—semuanya menumpuk jadi satu dan menyeretnya kembali pada kenangan kelam. Kenangan ketika tubuhnya tak punya pilihan selain diam dan pasrah. Napas Aylin tersengal, tubuhnya bergetar hebat.

“Aylin?” Aksara akhirnya sadar ada yang salah. Alisnya mengerut.

Mata Aylin membesar, pandangannya buram oleh air mata. “Ja… jangan dekat-dekat!” Suaranya pecah, nyaris menjerit.

Aksara langsung berhenti di tempat. “Hei, hei. Aylin… lihat aku.”

"Berhenti! Berhenti aku mohon jangan sakit!" pekik Aylin sambil memejamkan mata rapat-rapat. Tiba-tiba saja ia terduduk lemas di lantai kamar mandi. "Sakit! Sakit! Berhenti!" jerit Aylin histeris.

"Aylin!" Aksara panik dan ikut berjongkok di hadapan Aylin.

“Aku nggak… aku nggak bisa bernapas…”

Baru saat itu Aksara paham: ini bukan malu, ini bukan menggoda, ini bukan bercanda. Ini trauma. Dan wajah Aylin—yang selama ini tampak kuat, jutek, dan selalu bicara semaunya—kini begitu rapuh dan ketakutan, membuat dada Aksara mencelos.

“Aylin…” suara Aksara berubah lembut. “Maaf. Aku kebangetan. Aku nggak akan bercanda lagi kayak gitu, aku janji.”

Aksara membimbing Aylin untuk duduk di atas ranjang. Namun, tubuh Aylin kembali menegang saat disentuh. Sadar akan hal itu, Aksara segera duduk di lantai agar posisi mereka tidak sejajar, memberikan ruang seluas mungkin agar Aylin tidak merasa terintimidasi.

“Napas pelan-pelan, ikuti aku,” katanya tenang. “Nggak ada yang bakal menyakitimu di sini.”

Aylin terisak kecil. Inilah pertama kalinya Aksara melihat sisi Aylin yang tak pernah ia sangka. Aksara hanya mengusap punggung Aylin perlahan, ia belum berani memeluk karena takut Aylin semakin ketakutan.

"Ada apa sebenarnya denganmu, Aylin?" tanya Aksara dalam hati. Setelah Aylin tenang, Aksara memintanya untuk tidur.

"Sudah, semua akan baik-baik saja. Tidurlah. Aku akan menjagamu."

Aylin menurut. Ia memejamkan mata, meski rasa takut masih membayangi. Ia mencoba memberikan satu celah kepercayaan pada Aksara malam itu.

*

*

Sementara itu, di tempat berbeda, sepasang suami istri duduk saling berhadapan dengan suasana tegang. Hanya suara denting sendok yang sesekali beradu dengan cangkir.

“Kamu lihat?” Lusi membuka percakapan. “Putrimu menikah dengan keluarga Danendra… keluarga berada.”

Reynan menunduk dengan senyum pahit. “Tapi mereka tidak menganggapku, Lus. Bagaimana mereka mau mengundangku? Aku bahkan… tidak pernah ada untuk mereka.”

Lusi mendengus keras. “Seharusnya mereka tetap mencari kamu. Aylin itu anakmu, Mas. Masa iya diam saja bertahun-tahun?”

Reynan mengusap wajahnya lelah. “Sudahlah. Kita nggak punya hak menuntut apa pun dari mereka.”

“Tapi aku punya satu hal yang harus kamu ingat,” suara Lusi merendah namun tajam.

“Usaha kita sedang butuh dana. Kalau nggak ada modal tambahan, kita bisa bangkrut kapan saja.”

Reynan terdiam. Kata-kata itu menghantam pikirannya. Benar—keuangannya sedang kacau. Benar pula—dia membutuhkan investor.

“Lus…” Reynan menarik napas panjang, “jangan bilang kamu berniat—”

“Kamu itu ayahnya Aylin, Mas,” potong Lusi cepat.

“Dan keluarga itu harus saling bantu. Kalau dia menikah dengan keluarga kaya raya, kenapa kita nggak bisa minta tolong?”

Reynan menatap istrinya dengan kecewa, namun tak bisa membantah. Kenyataan hidup memojokkannya. Satu-satunya pintu yang tampaknya terbuka adalah pintu yang pernah ia biarkan tertutup rapat bertahun-tahun lalu.

Pikiran Reynan kembali ke masa lalu. Pada Rosalind yang ia tinggalkan tanpa penjelasan, dan pada Aylin kecil yang saat itu baru berusia lima tahun—yang masih butuh pelukan seorang ayah. Namun ia memilih pergi demi wanita lain. Ia ingat betul hari saat ia menyerahkan surat cerai dan menutup pintu kehidupan untuk mereka tanpa uang sepeser pun.

“Apa aku harus menemui Aylin… sekarang?” gumamnya lirih saat menatap jalanan sepi.

*

*

Pagi harinya di kamar hotel, Aylin sudah tampak segar meski matanya masih sedikit sembab. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa pada dirinya, Aksara memesan banyak menu sarapan: roti, susu, buah, hingga bubur kacang hijau.

“Ayo makan. Hari ini kita jalan-jalan,” kata Aksara santai.

“Jalan-jalan? Kemana?” Aylin duduk dan menatap makanan itu. Perutnya berbunyi. Biasanya ia sarapan nasi, tapi aroma bubur kacang hijau itu cukup menggoda. Saat mencicipinya, mata Aylin berbinar kecil. Aksara tersenyum tipis melihat istrinya makan dengan lahap.

Setelah sarapan, mereka turun ke lobi. Di sana, Kakek Harsa dan Kirana sedang bersiap pulang.

“Kakek,” sapa Aylin ramah.

“Mami.” Kirana hanya tersenyum tipis.

“Kalian mau ke mana? Kok pagi-pagi sudah keluar?” tanya Kakek Harsa.

“Aku mau jalan-jalan, Kek. Mas Aksa yang ajak,” jawab Aylin, tak lama mobil pun tiba dan Kakek berpamitan.

“Kakek duluan ya. Jangan lupa main ke rumah,” pesan Kakek sebelum mobilnya berlalu.

Aylin menatap sekitar mencari Aksara yang tadi pamit sebentar ke parkiran.

“Ke mana sih Mas Aksara? Lama amat,” gumamnya.

Di area parkir, Aksara berdiri dengan wajah kesal di hadapan Arvano.

“Van, cukup. Jangan seperti anak kecil. Aku sudah punya istri,” ucap Aksara tegas.

Arvano mendengus sinis. “Lalu? Kita belum selesai, Sa. Kamu belum putusin aku. Kamu masih milik aku!”

Wajah Aksara seketika menegang. Ada rasa jijik, marah, dan muak yang bercampur. Bukan karena Arvano laki-laki, tapi karena cara Arvano mengikatnya bertahun-tahun dengan hubungan abu-abu yang tak pernah Aksara inginkan. Aksara merasa terpaksa karena sebuah rasa budi yang ia salah artikan.

“Sudah, Van.” Suara Aksara merendah namun sangat tegas.

“Hubungan itu… dari dulu salah. Aku nggak pernah niat ke arah itu. Kamu tahu.”

Arvano terdiam sesaat, rahangnya mengeras. Matanya memerah seperti anak kecil yang direbut mainannya.

“Aku yang menemani kamu saat kamu jatuh! Aku yang selalu ada! Dan sekarang kamu pilih perempuan itu?!”

Aksara menutup mata, menahan emosi yang meluap. “Kalau kamu terus begini, aku akan akhiri semuanya sekarang. Dan aku akan serius dengan Aylin, membangun keluarga kecilku.”

Ia pergi meninggalkan Arvano tanpa menoleh. Arvano mengepalkan tangan begitu keras hingga buku-jarinya memutih.

“Lihat saja… aku akan pastikan perempuan itu nggak bisa milikin kamu,” bisiknya dingin.

Dulu, saat Aksara terpuruk, Arvano memang satu-satunya yang ada. Saking lamanya mereka dekat, Arvano keliru menafsirkan kenyamanan sebagai cinta. Dan kini, cemburu itu perlahan berubah menjadi obsesi yang sangat berbahaya.

Bersambung ....

maaf typo

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!