"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Jatuh Cinta?
Sepanjang perjalanan pulang, Kiara tak bisa menutupi senyumnya yang terus mengembang. Kadang dia terkikik sendiri, lalu kembali tersenyum malu. Beberapa kali dia menyentuh bibirnya yang baru saja merasakan sesuatu yang begitu luar biasa.
"Apakah berciuman itu rasanya seindah ini?" gumam Kiara sambil membayangkan wajah Kaisar saat mengecup dan melumat bibirnya. Kaisar benar-benar terlihat seksi, bulu lentik matanya saat terpejam dan deru napasnya yang cepat saat bibir mereka menyatu benar-benar membuat Kiara kecanduan dan terus menginginkannya.
"Aku gila! aku sudah gila!" pekik Kiara sambil memukuli setang motornya.
"Ah! aku harus cepat pulang sebelum makanan ini dingin, Ayah pasti suka makanan ini," lirih Kiara, dan mau tidak mau dia jadi teringat kembali pada Kaisar. Ternyata tak cuma tampan, Kaisar juga sangat baik dan perhatian. Buktinya tanpa di minta, dia memesankan makanan untuk Ayah Kiara. Kiara benar-benar tak menyangka Kaisar memiliki sisi lembut seperti ini, sungguh berbeda dengan Fero.
Dulu saat Fero tahu Kiara memiliki Ayah yang terbaring sakit, dia biasa saja bahkan seolah tak mau ambil pusing dan tak peduli.
Kiara memijat dadanya, karena tiba-tiba saja dadanya berdebar kencang, "Pak Kaisar benar-benar 'sesuatu'. Nggak ada tandingnya, dia benar-benar lelaki sempurna. Duh, jangan-janagn aku jatuh cinta beneran ini..." gumam Kiara sambil menggigiti bibir bawahnya.
Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang karena Kiara terus menerus membayangkan Kaisar, akhirnya Kiara sampai di depan rumah sederhananya.
Kiara memarkir motornya tepat di depan teras rumah. Dia mendengus kesal karena melihat mobil Fero masih terparkir di sini. "Tuh orang betah amat nggak pulang-pulang!" geramnya lirih.
Saat Kiara sedang melepas helmnya, pintu rumahnya terbuka dan muncullah si kolor ijo alias Fero dengan wajah bete. Ngapa tu orang? nggak di kasih jatah sama Mona apa gimana! kesal Kiara karena baru pulang sudah di suguhi wajah bete dari orang yang di bencinya.
"Dari mana saja! kok baru pulang!" ketus Fero sambil berkacak pinggang di ambang pintu.
Kiara menaikkan sebelah alisnya, "bukan urusanmu!" ucapnya cuek sambil berlalu namun Fero menghadangnya. Dia tak mengijinkan Kiara masuk dan terus berdiri di ambang pintu.
"Minggir!" sentak Kiara sambil melotot ke arah Fero! heran, siapa dia berani melarang Kiara masuk ke rumahnya sendiri!
Fero memandangi wajah Kiara dan sontak membelalakan matanya saat melihat sesuatu yang berbeda di bibir Kiara. Bibir Kiara terlihat bengkak! bukan bengkak biasa! itu adalah bengkak akibat di lumat dalam waktu yang lama.
"Siapa? siapa yang mencium bibirmu sampai bengkak begitu?" geram Fero.
Kiara spontan menutupi bibirnya dengan tangan, "Bu-bukan urusanmu!" lalu dengan kekuatan penuh, dia mendorong Fero agar menjauh sehingga Kiara bisa menerobos masuk ke dalam rumahnya.
"Ayaah!" panggil Kiara dengan ceria menghambur masuk ke kamar sang Ayah.
"Kamu sudah pulang?" kaget Ayah yang sedang menatap layar ponselnya.
Kiara mengangguk sambil tersenyum lebar, "Ayah sudah makan? pacarku membelikan Ayah makanan! lihatlah!" ucap Kiara sambil menunjukkan beberapa tas plastik berisi makanan yang aromanya sangat wangi.
"Waow, baunya enak sekali. Ayah jadi lapar," Ayah tampak tertarik dan ingin segera menikmati makanan yang di bawakan Kiara.
"Tapi Kia, maaf. Pempers Ayah sepertinya sudah penuh, bisa tolong gantikan dulu?"
"Oh iya, sekalian mandi ya, Ayah!" Kiara meletakan kantong platik tadi di atas meja, lalu segera berlari ke dapur untuk memasak air hangat. Setelah itu dia bergegas menyiapkan peralatan mandi untuk Ayahnya.
"Dari mana saja kamu! jam segini baru pulang!" sentak Karina yang baru keluar dari toilet dan melihat Kiara tengah sibuk di dapur mengambil beberapa piring.
"Pacaran lah, memangnya yang bisa pacaran cuma Mona!" ucap Kiara cuek sambil berlalu meninggalkan ibu tirinya yang terlihat penasaran.
Setelah selesai menyeka tubuh Ayah dengan air hangat yang di beri larutan antiseptik, Kiara segera menggantikkan pakaian bersih agar Ayahnya merasa nyaman. Lalu setelah itu mulai menyuapkan makanan yang tadi di belikan Kaisar.
"Enak sekali, Kia!" pekik Ayah saat suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
"Ini ayam betutu khas Bali dan nasi daun jeruk, enak Ayah? nanti kapan-kapan Kiara belikan lagi," ucap Kiara senang karena Ayahnya makan dengan sangat lahap.
"Dapat uang dari mana kamu bisa beli makanan kayak gini! beli di Hotel lagi!" ketus Karina sambil menendang tas plastik yang tertera nama Hotel tempat Kiara membeli makanan ini.
"Ini kan Hotel bintang lima, makanannya pasti harganya mahal dan kamar hotelnya juga pasti mahal," ucap Fero sambil melirik sinis pada Kiara.
"Kencan pertama langsung ngamar? Ternyata diam-diam kamu menghanyutkan ya? Sama aku aja sok jual mahal, ternyata sama saja," ucap Fero dengan senyum nakal menghiasi wajahnya.
"Hati-hati kalau ngomong! Jangan samakan gue sama elu!" ketus Kiara.
"Dan bisa nggak sih kalian punya sopan santun! Aku lagi nyuapin Ayah makan, ngapain kalian ngumpul di sini! Bikin pengap aja!" ketus Kiara.
"Iya, nak Fero, ayo keluar saja. Di sini nggak nyaman bau..." ucap Karina lalu mengajak Fero keluar, diikuti Mona.
Kiara mendengus keras sambil menggelengkan kepalanya, "dasar benalu!" kesalnya.
"Ayo Yah, makan lagi."
Ayah terdiam dan menatap anak gadisnya.
Kiara menaikkan kedua alisnya, "jangan bilang Ayah percaya sama omongan Fero?!"
"Ayah hanya percaya apa yang akan kamu bilang," jawab Ayah.
Kiara menggigit bibir bawahnya lalu mulai bercerita, "ya kita berteduh di hotel tapi hanya untuk makan kok, yah... Ya namanya pacaran ciuman tipis-tipis kan nggak masalah..." ucap Kiara lirih sambil tersenyum malu.
"Kamu sudah ciuman dengan Kaisar?" kaget Ayah.
Kiara nyengir, "maaf yah, terbawa suasana. Tapi cuma ciuman aja kok nggak yang lain-lain..."
Ayah mendesah, "cepat ajak dia ke rumah, Ayah ingin mengenalnya lebih banyak."
"Dia bilang dia akan jemput Kia ke rumah saat kencan kita berikutnya, nanti Kiara kenalin ke Ayah, ya," ucap Kiara sambil membereskan piring bekas makan ayahnya.
"Sekarang Ayah duduk dulu, nunggu dua sampai tiga jam baru rebahan lagi ya?"
Ayah hanya mengangguk namun tak menjawab ucapan Kiara.
Kiara tahu, Ayah pasti kecewa padanya karena sudah berciuman dengan Kaisar di hari pertama mereka kencan. Ayah pasti khawatir Kiara akan berakhir seperti Mona. Dan itu tentu saja membuat Kiara menyesal.
Ini semua gara-gara Fero! Kenapa sih orang sialan itu harus ngomong blak-blakan di depan Ayah! Bikin ruwet aja!
Kiara keluar dari kamar Ayahnya dan mendekati Fero yang tengah asyik ngobrol dengan Mona dan Karina di ruang tamu.
"Fero!" sentak Kiara, membuat Roy mau tak mau menoleh ke arahnya
"Sekali lagi lu ikut campur urusan gue! Gue laporin ke warga biar lu berdua di geruduk terus di arak keliling kampung! Mau lu! Hah!"
"Apasih!" kesal Mona.
"Bilang sama cowok lu! Jangan ikut campur urusan gue! Mau gue ciuman kek, mau gue ngamar kek, mau ke hotel bintang lima kek! Itu urusan gue!" ucap Kiara sedikit lantang.
"Lagian gue ke hotel, pacar gue yang bayarin, nggak kaya elu yang nggak modal maunya gratisan!"
"Dan satu lagi, kalian nggak ada hak buat ngatur gue! Karena kalian bukan siapa-siapa di sini! Dasar benalu!" setelah memuntahkan semua unek-unek nya, Kiara bergegas pergi menuju kamarnya, meninggalkan tiga orang yang tampak shock mendengar ucapan kasar Kiara barusan.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣