NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Di balai desa, kediaman Arya Jaya, malam telah sepenuhnya mengambil alih. Sebagian kecil penduduk desa telah berkumpul, namun ketegangan tampak jelas di wajah mereka.

Di tengah kerumunan yang cemas itu, Arya Jaya berdiri tegak. Ia menyusun rencana dengan tergesa-gesa, berpacu dengan waktu sebelum kegelapan malam benar-benar menelan hutan.

Di tangannya, beberapa warga membawa tali dan tombak bambu, sementara yang lain memegang lentera minyak yang berkedip-kedip redup. Mereka tidak banyak bicara, namun kecemasan terpancar jelas dari sorot mata mereka.

Di sisi mereka, Wulandari tampak gemetar. Sakmah yang berdiri didekatnya mencoba menenangkan, menyarankan agar ia tidak memaksakan diri ikut mencari.

“Tenanglah, Wulan. Kondisimu tidak memungkinkan”

“Aku harus ikut!"

Wulandari menolak, suaranya lirih.

"Aku ingin memastikan putraku selamat!”

Sakmah menatap Arya Jaya, menggeleng pelan, seolah memohon.

Namun, Arya Jaya tahu bahwa akan sulit membujuknya. Ikatan batin antara ibu dan anak itu terlalu kuat untuk dipisahkan.

"Aku tidak bermaksud mengajaknya, tapi aku akan memastikan Wulandari tetap berada di bawah perlindunganku."

Dengan beban berat yang menghimpit, pikiran Arya Jaya melayang pada orang kepercayaannya yang berada jauh di luar desa.

‘Seandainya ia masih di sini, ia pasti tahu bagaimana cara menghadapi badai ini,’ pikirnya putus asa.

Namun, suasana tegang itu pecah. Beberapa langkah kaki menghampiri mereka, melangkah santai.

Tirta Wardana.

Jubah sutranya melambai tertiup angin malam. Senyumnya lebar, terlalu lebar untuk malam yang seharusnya penuh kepedulian. Ia tidak datang sendirian, beberapa pengikutnya berjalan di belakangnya

Arya Jaya menatap Tirta sekilas. Wajahnya tidak menunjukkan kejutan, tetapi kerut di keningnya tampak bertambah dalam.

Tirta menyapa dengan suara yang halus dan berminyak,

“Tentu saja aku datang, bagaimanapun juga, aku bagian dari desa ini. Akan sangat tidak sopan jika aku tidak datang saat semua orang sedang… panik.”

Beberapa warga saling bertatapan. Ada yang menyambut Tirta dengan hormat, ada pula yang mulai berbisik, seolah tak yakin apa yang akan keluar dari mulutnya.

Tirta melangkah masuk, seolah tak perlu diundang. Ia berdiri di samping kepala desa, dan suaranya mulai mengalir. Kata-katanya terdengar halus dan manis, namun terasa seperti racun yang merayap.

“Saudara-saudara… aku hanya ingin bertanya,”

Tirta menatap satu per satu wajah warga,

“Sudah berapa kali kita mendengar soal anak-anak yang melanggar aturan desa dan masuk ke hutan? Sudah berapa kali kita memberi peringatan?”

Seorang warga menjawab lirih,

“Sudah sering…”

“Lalu sekarang?” lanjut Tirta, suaranya meninggi.

“Kita diminta mempertaruhkan nyawa, meninggalkan rumah, meninggalkan anak-istri… demi mencari bocah ceroboh yang tak tahu diri?”

Desisan lirih mulai terdengar, keraguan mengendap seperti kabut.

Arya Jaya tetap diam, namun kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Sakmah menatap Tirta dengan tidak senang, sementara Wulandari yang mendengar semua itu tak lagi bisa menahan air matanya.

Tirta melanjutkan provokasinya.

“Aku tidak bilang kita harus berhenti jadi manusia, tapi bukankah lebih baik… kita fokus pada yang penting? Siapa yang akan menjaga desa kalau semua pria dewasa masuk ke hutan malam-malam begini?"

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap, lalu melanjutkan.

"Bagaimana jika... Semua ini adalah jebakan binatang buas?”

Mendengar provokasi yang menusuk itu, Arya Jaya tak bisa berdiam diri.

“Tirta... kau sudah keterlaluan.”

“Aku hanya bicara kebenaran, Arya!"

"Aku peduli pada warga, tidak seperti seseorang yang terlihat bijaksana, tapi menumpahkan masalahnya sendiri kepada mereka.”

Ucapan itu membuat beberapa sukarelawan goyah, kerumunan yang tak seberapa itu mulai melangkah mundur.

Tirta tersenyum sinis, lalu berbalik seolah hendak pergi. Namun, ia berhenti, dan berkata dengan lantang,

"Pikirkan baik-baik. Malam ini bisa jadi malam terakhir bagi siapa pun yang nekat masuk ke hutan. Dan ingat, tak ada yang akan mengganti apa pun yang hilang... jika kalian tak kembali."

Ia berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan keheningan tebal yang dipenuhi keraguan. Bayangannya perlahan menyatu dengan kegelapan malam, tetapi kata-katanya masih bergema di kepala mereka.

Satu per satu, beberapa orang di tempat itu mulai mundur, meninggalkan regu pencari. Pikiran mereka telah berubah.

Apa yang dikatakan Tirta memang masuk akal.

Untuk apa membahayakan diri jika tidak ada jaminan? Itu sama saja seperti mengorbankan diri tanpa hasil yang pasti.

Kini, dari puluhan orang yang awalnya berkumpul, hanya tersisa sepuluh orang. Mereka berdiri di tengah gelapnya malam bersama Kepala Desa, Wulandari, Sakmah, dan sukarelawan yang memilih bertahan di tengah keraguan.

Arya Jaya menarik napas panjang, seolah menelan kepedihan dan rasa kecewa dalam satu tarikan napas. Ia lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, memberi hormat kepada mereka yang masih berdiri di sana.

“Aku memang tidak memaksa siapa pun untuk ikut, tapi kepada kalian yang tetap tinggal… aku sungguh berterima kasih.”

Melihat kepala desa mereka menunduk seperti itu, beberapa orang terlihat gelisah. Rasa hormat tumbuh dalam hati mereka, menggantikan ketakutan yang sempat merayap.

“Kepala Desa, jangan merendahkan diri Anda seperti itu,”

Seorang pria paruh baya yang maju selangkah, suaranya bergetar menahan kenangan pahit.

“Aku akan tetap ikut. Dulu, aku kehilangan anakku karena tak seorang pun mau menolomg. Aku takkan membiarkan itu terjadi lagi!"

“Benar, aku akan ikut!”

Sahutan bergema dari yang lain. Mereka semua memiliki alasan tersendiri untuk bertahan. Suasana yang tadinya dipenuhi keraguan kini berubah menjadi penuh semangat. Obor kembali terangkat, dan pijakan kaki kembali mantap.

Di tengah semangat yang mulai menguat, Arya Jaya berdiri lebih tegak. Wajahnya kini tak lagi dihiasi kegelisahan, melainkan ketegasan.

Ia kemudian mendekati Wulandari yang masih terlihat goyah di sisi Sakmah, lalu dengan tenang memapahnya. Perhatian kecil itu membuat dada Wulandari sesak oleh haru.

“Arya… maaf karena telah merepotkanmu. Aku sungguh berterima kasih.”

Arya Jaya menggeleng perlahan, suaranya berat namun tulus.

“Jangan minta maaf, Wulan. Justru akulah yang harusnya menyesal. Karena aku… aku yang membuat Jihan harus menanggung risiko ini.”

Dan dengan itu, malam pencarian dimulai. Bukan sekadar soal menemukan seorang anak yang hilang, tetapi tentang siapa yang masih berani berdiri di tengah badai kepentingan.

Tentang siapa yang masih memiliki hati.

1
Ancient
Ayoo jangan lupa tinggalkan likenya🙏 biar author Semangat 🫶
Zhareeva Mumtazah anjazani
Lah jika arya mati siapa yang akan jadi kepala desa selanjutnya?
DownBaby
BENERKAN UNTUK MENYDARKAN JIHAN PERLU PENGORBANAN YANG SETARA JUGA
DownBaby
hell nah novel ini kedepannya bkl penuh tragedi/Sob/
Ar`vinno
apa tuh
Erigo
mungkinkah...
Embun Pagi
Lanjut Thor
DownBaby
JIHAN
Erigo
SERU BANGET THOR LANJUT, KASIHAN AMA JIHAN ASLI DI FITNAH AMA PENDUDUK DESA, KEHILANGAN IBUNYA😭
Ancient: Itulah ujian untuk Jihan hehe
total 1 replies
Erigo
Yah jelas sekali dengan kondisinya sekarag, Jihan menjadi gila🤭
Erigo
Terdengar familiar

"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"
Erigo
bagus Jihan
Erigo
WOI LU KAN YANG NYAMPERIN
Erigo
Makin seru, tapi kasihan Jihan di fitnah mlu😭
Erigo
Thor
Erigo
begitulah manusia
Erigo
👍
Erigo
Apakah bakal jadi guru Jihan?
Djumadi Dudung
orang nglamun kog panjang bnr
Ancient: itu transisi flashback kak
total 1 replies
Erigo
tuh kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!