Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Debu Merah dan Hujan Panah Petir
Bab 20: Debu Merah dan Hujan Panah Petir
Suara logam beradu dengan tanah liat keras bergema di pelataran Candi Bajang Ratu.
Bara bergerak seperti angin puyuh. Kedua Kujang-nya, Si Sulung dan Si Bungsu, menari liar memotong anggota tubuh Pasukan Terakota yang menghadangnya.
Srak!
Satu kepala Golem tanah liat terpenggal, menggelinding di tanah. Tubuh tanpa kepala itu ambruk menjadi gundukan debu merah.
Namun, sebelum Bara sempat menarik napas, debu itu berputar, menyatu kembali, dan membentuk tubuh Golem yang utuh dalam hitungan tiga detik.
"Sialan," umpat Bara sambil melompat mundur menghindari tusukan tiga tombak tanah sekaligus. "Mereka beregenerasi! Kita tidak bisa menang dengan memotongnya!"
"Jangan gunakan apimu, Mitra!" peringatkan Garuda. "Jika kau membakar tanah liat ini, mereka akan mengeras menjadi keramik! Mereka akan jadi lebih kuat dan susah hancur!"
Bara menggertakkan gigi. Dia terjebak.
Dua lusin Golem itu tidak memiliki rasa takut, rasa sakit, atau kelelahan. Mereka terus mendesak maju dengan formasi dinding perisai yang rapat, menyudutkan Bara ke tepi parit kanal kering.
Bara butuh solusi. Fisiknya kuat, tapi staminanya terbatas. Dia tidak bisa bertarung selamanya melawan musuh yang abadi.
Tiba-tiba, Bara merasakan panas menyengat di dadanya. Peti Teratai Emas di balik bajunya bergetar hebat, seolah ingin melompat keluar.
Bara melihat ke arah gerbang Paduraksa itu. Relief bunga teratai di dinding gerbang bersinar dengan irama yang sama dengan peti di dadanya.
Denyut... Denyut...
"Kunci..." gumam Bara, matanya menyipit di balik topeng perak. "Mereka bukan musuh. Mereka adalah mekanisme pengaman. Mereka menyerang karena tidak mengenali 'Sandi' energinya."
Bara menyarungkan kedua Kujang-nya di punggung. Sebuah tindakan gila di tengad medan perang.
Dia berdiri tegak, memejamkan mata, mengabaikan tombak-tombak yang mengarah ke lehernya.
Dia memanggil kembali sensasi yang ia rasakan di atas kapal Walet Merah. Bukan api Garuda yang membakar, tapi cahaya matahari pagi yang hangat dan berwibawa.
"Sembilan Langkah Surya: Langkah Pertama - Terbit Fajar."
Kedua telapak tangan Bara bercahaya putih bersih. Dia merentangkan tangannya ke depan, ke arah barisan Golem itu.
Cahaya itu menyapu mereka seperti ombak.
Seketika, gerakan para Golem terhenti. Tombak-tombak tanah itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajah dan dada Bara. Mata kosong mereka yang tadinya gelap, kini berpendar putih, merespons cahaya Bara.
Formasi mereka perlahan membelah. Mereka mundur ke sisi kiri dan kanan, membuka jalan lurus menuju gerbang. Tabir energi di tengah gerbang mulai menipis.
"Berhasil," desis Bara lega. Keringat dingin mengalir di punggungnya.
Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
Namun, takdir tidak pernah membiarkan Bara berjalan mulus.
WUSH!
Sebuah suara desingan tajam membelah udara.
Insting Bara berteriak bahaya. Dia membanting tubuhnya ke samping.
JLEB!
Sebuah anak panah besi berwarna hitam menancap di tanah, tepat di tempat Bara berdiri sedetik lalu. Anak panah itu meledak, melepaskan jaring listrik ungu yang menyengat.
"Hampir saja," suara dingin terdengar dari atas tembok reruntuhan. "Refleksmu bagus untuk seekor tikus got."
Bara mendongak.
Di atas tembok keliling candi, berdiri enam prajurit Elang Hitam. Di tengah mereka, Kapten Raka berdiri angkuh sambil memegang busur komposit besar yang dialiri listrik.
"Elang Hitam..." geram Bara. "Kalian menunggu sampai aku membukakan pintu, ya? Dasar benalu."
Kapten Raka melompat turun dengan ringan, diikuti lima anak buahnya. Mereka mendarat dalam formasi setengah lingkaran, menutup jalan keluar Bara, sekaligus memisahkan Bara dari gerbang.
"Kami menyebutnya efisiensi taktis," kata Raka datar, menarik pedang panjang dari pinggangnya. "Serahkan Peti Teratai itu. Dan menyerahlah. Mungkin aku akan membunuhmu dengan cepat tanpa menyiksa."
Situasi berubah menjadi bencana.
Di depan: Gerbang yang mulai terbuka.
Di belakang: Pasukan elit pembunuh.
Di samping: Pasukan Golem yang kini bingung karena konsentrasi Prana Surya Bara terputus.
"Aku menolak tawaranmu," jawab Bara, kembali mencabut Kujang-nya.
"Maka matilah," perintah Raka. "Formasi Serbu: Kilat Menyambar!"
Lima prajurit Elang Hitam menerjang serentak. Kecepatan mereka jauh di atas preman pasar atau murid perguruan. Mereka bergerak terkoordinasi, serangan mereka saling menutupi celah.
Trang! Ting! Trang!
Bara kewalahan. Dia menangkis serangan pedang dari kiri, tapi sebuah tendangan berselimut listrik menghantam rusuk kanannya.
"Uhuk!" Bara terdorong mundur.
Kapten Raka tidak tinggal diam. Dia mengayunkan pedangnya, melepaskan gelombang energi listrik (Slash) berbentuk bulan sabit.
Bara melompat menghindar, tapi listrik itu menyambar ujung jubahnya, membakar kain itu dan menyengat kulit kakinya.
Lutut Bara goyah. Efek kelumpuhan listrik mulai menjalar.
"Sudah berakhir," kata Raka, berjalan mendekat untuk eksekusi. "Kau kuat, tapi kau sendirian."
Bara terengah-engah. Dia melirik ke arah Golem yang masih diam mematung di dekat gerbang. Mereka netral. Mereka hanya menyerang jika ada ancaman, atau jika tidak ada "kunci".
Sebuah ide gila muncul di kepala Bara.
"Sendirian?" Bara tersenyum di balik topengnya yang retak. "Siapa bilang aku sendirian? Aku bawa pasukan."
Bara merogoh dadanya, mengambil Peti Teratai Emas.
Raka berhenti. "Jangan macam-macam dengan peti itu!"
Bara tidak menyerahkan peti itu. Dia justru melemparkan peti itu sekuat tenaga ke udara, melambung tinggi melewati kepala Raka dan pasukannya, jatuh tepat di depan kaki para Golem di dekat gerbang.
"AMBIL ITU!" teriak Bara.
Raka dan pasukannya secara refleks menoleh dan bergerak hendak mengejar peti itu.
Saat Pasukan Elang Hitam masuk ke dalam zona pertahanan Golem... mekanisme kuno itu aktif kembali.
Para Golem mendeteksi ancaman asing yang bergerak cepat mendekati gerbang tanpa izin/aura Surya. Mata mereka berubah merah menyala.
"PENYUSUP... MUSNAHKAN..."
Dua lusin Golem itu berbalik serentak dan menerjang Pasukan Elang Hitam.
"Sialan!" umpat Raka saat tombak tanah liat menusuk ke arah wajahnya. Dia terpaksa berhenti mengejar Bara untuk menangkis.
Pertempuran menjadi kacau. Pasukan Elang Hitam yang tadinya mengepung Bara kini sibuk bertahan hidup dikeroyok Golem abadi.
"Sekarang!"
Bara memanfaatkan kekacauan itu. Dia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya.
"Gerak Langkah: Kilat Garuda!"
Bara melesat melewati celah pertempuran. Dia berlari menuju gerbang.
"JANGAN BIARKAN DIA MASUK!" teriak Raka sambil memotong tubuh Golem (yang langsung menyatu lagi). Dia menembakkan anak panah petir ke arah Bara.
Bara tidak berhenti. Dia memungut Peti Teratai Emas sambil berlari tanpa mengurangi kecepatan (scooping), lalu melompat masuk ke dalam Tabir Energi di gerbang.
Anak panah Raka melesat mengejar punggung Bara.
Tapi tepat saat Bara menembus tabir, energi itu memadat.
BLARR!
Anak panah itu meledak saat menabrak tabir pelindung, tidak bisa menembus masuk.
Bara jatuh berguling di lantai batu di balik gerbang. Aman.
Di luar, Raka meraung marah. Dia mencoba mengejar masuk, tapi Golem-Golem itu membentuk dinding betis, menghalangi jalan.
Tabir energi itu berkedip-kedip, lalu perlahan menjadi solid kembali, menutup pandangan ke luar. Suara pertempuran di luar perlahan meredup, tergantikan oleh kesunyian purba di dalam kompleks candi.
Bara terbaring terlentang, napasnya memburu, dadanya naik turun. Seluruh tubuhnya sakit.
"Ide gila," komentar Garuda. "Melempar harta warisan leluhur sebagai umpan? Kalau peti itu pecah, aku akan menghantuimu selamanya."
Bara tertawa lemah, masih memeluk peti itu. "Tapi berhasil, kan? Sekarang biarkan si Kapten Listrik itu bermain dengan boneka tanah liat seharian."
Bara bangkit duduk. Dia melihat sekeliling.
Dia tidak berada di reruntuhan lagi.
Di balik gerbang itu, pemandangannya bukan lagi puing-puing Trowulan yang hancur. Melainkan sebuah taman istana yang indah, utuh, dan terawat. Bunga teratai emas mekar di kolam-kolam jernih. Pohon-pohon Maja berbuah lebat.
Dan di tengah taman itu, berdiri sebuah pendopo kecil. Di dalamnya, duduk sesosok bayangan yang sedang minum teh, seolah sudah menunggu kedatangan Bara selama ratusan tahun.
"Selamat datang pulang, Anakku," suara wanita yang lembut bergema di udara.
Jantung Bara berhenti berdetak sesaat.
Itu bukan suara Garuda. Itu suara yang dia dengar dalam mimpi-mimpinya saat demam.
Suara Ibu.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 20
Kilat Menyambar: Teknik pedang cepat yang menggunakan Prana elemen petir untuk meningkatkan kecepatan tebasan dan melumpuhkan saraf lawan.
Golem (Terracotta): Di bab ini diperjelas bahwa kelemahan mereka adalah Kode Energi. Serangan fisik tidak berguna. Ini menunjukkan bahwa reruntuhan ini dilindungi sihir tingkat tinggi, bukan sekadar penjaga fisik.
Dimensi Saku (Pocket Dimension): Area di balik gerbang Bajang Ratu ternyata adalah ruang terpisah yang membekukan waktu atau melestarikan kondisi masa lalu (Istana Majapahit yang utuh).