Suatu hari nanti, anganmu akan menjadi nyata, mimpimu akan terwujud, dan do’amu akan terkabul.
Liliana Pramesti, seorang gadis yatim piatu yang hidup dalam sebuah kemiskinan, menjadi tulang punggung bagi adik semata wayangnya yang menderita penyakit down syndrom, tentu saja adalah hal sulit baginya.
Namun, kerasnya hidup, tidak lantas menyurutkan keyakinan dan perjuangannya untuk tetap bertahan.
Hingga ... suatu hari, dia terpaksa harus menikah dengan cinta pertamanya sedari kecil, semenjak itu, dunianya berubah, jungkir balik, kedamaiannya terenggut begitu saja.
“Bang Ilham itu, seperti batu, dan aku seperti air, batu dan air bisa hidup berdampingan, meski batu memang memiliki karakter yang keras, dan air memiliki karakter yang lembut, namun tidak tersentuh. Tapi suatu hari nanti ... air mampu menghancurkan batu”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Neng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prewedding
Nitnit ... nitnit ... nitnit ...
Suara ponselku berbunyi, kuraba ponselku yang berada di tepi ranjang masih dengan mata yang terpejam. Ku buka aplikasi SMS pada ponselku, lalu kubaca isi pesannya.
Satu buah pesan dari Sisil, “Hay Lia, sibuk gak?? Bisa tolong aku??”
“Huh ... kenapa lagi dia?? Apalagi yang ingin dia lakukan??” monologku dalam hati, kuselimuti Irfan, lalu aku beranjak keluar dari dalam kamar, takut aktifitasku bisa membangunkannya.
“Enggak, ada apa??” Ku kirimkan pesan balasan pada Sisil.
“Hari ini, aku dan Bang Ilham mau ada acara prewedding, kamu bisa temenin aku??” satu buah pesan kembali kuterima.
“Huuuhhh ... “ Ku tarik napasku dalam-dalam lalu kubuang kasar.
“Dia itu kenapa sih?? Kayak sengaja banget minta tolong aku” gumamku dalam hati.
“Iya, boleh, dimana acaranya??” kembali kukirimkan pesan balasan dariku.
“Nanti aku jemput” hanya itu pesan balasan dari Sisil, ku letakkan ponsel jadulku di atas meja, yang hanya bisa di gunakan untuk telpon dan SMS saja ini.
Ku tatap foto keluargaku satu-satunya, yang sengaja aku pajang di ruang tengah.
“Ayah, Ibu, Kakak, pangeranku akan segera bersanding dengan putri lain, aku sungguh sangat kecewa, bahkan pangeranku tidak pernah sekalipun melihatku, bahkan dia merasa sangat terganggu ketika tahu aku sangat mencintainya, ck ini tidak adil bukan?? Bahkan cintaku bisa membebaninya” Aku berbicara dengan foto itu, sambil mengelusnya. Pandanganku menjadi buram, setetes bulir bening kembali terjatuh tanpa permisi.
***
Tttttiiiiiidddddd ... !!!!!
Aku mengerjap kaget, kala mendengar suara klakson mobil yang membahana di depan rumahku, segera aku membuka pintu dan mengeluarkan kepalaku, mengintip siapa yang datang. Ah, ternyata Sisil dan Bang Ilham. Sisil turun dari mobil menghampiriku.
“Lia, ayo” ajaknya, mengibaskan tangan kanannya.
“Iya” jawabku mengangguk, lalu keluar dari rumah, dan menguncinya, setelah sebelumnya aku sudah menitipkan Irfan pada tetangga seperti biasa.
“Lia, ayo masuk mobil” perintah Sisil, saat aku hanya berdiri di ambang pintu mobil, segala rasa berkecamuk di dalam hatiku, rasa canggung, karena bertemu lagi dengan Bang Ilham, setelah sebelumnya dia memakiku. Rasa benci, takut, malu dan segala rasa lainnya terus bergemuruh bergantian saling mendominasi dari dalam dadaku.
“I iya” Aku membuka pintu mobil, lalu masuk kedalamnya tanpa menoleh pada Bang Ilham, tapi sekilas aku melihat Bang Ilham dengan ekor mataku, dia menatapku dari kaca sepion depan mobil. Aku segera menunduk, dengan tangan saling bertautan satu sama lainnya.
“Terimakasih Lia, mau mengantar kami, maaf merepotkanmu” tiba-tiba kudengar alunan suara itu, suara yang selalu terdengar merdu di telingaku. Seketika rasa benci mulai memudar dari hatiku, berganti dengan rasa senang hanya karena mendengar suara pangeranku. Cinta memang bodoh!.
Aku mengulum senyum, lalu memberanikan diri mengangkat wajahku. “Tidak apa-apa Abang, Lia seneng bisa bantu Abang” jawabku.
“Maaf untuk kejadian waktu itu” Bang Ilham tersenyum, aku bisa melihatnya, dia sungguh tersenyum padaku, hatiku begitu berbunga!.
“Tidak apa-apa” jawabku menggeleng.
“Pada ngobrolin apa??” Sisil tiba-tiba masuk kedalam mobil, setelah sebelumnya mengecek barang bawaannya di bagasi mobil. Aku segera memalingkan wajahku ke jendela mobil, sementara Bang Ilham kembali fokus menatap arah depan, bersiap mengendarai mobilnya.
“Bukan apa-apa, hanya berterimakasih pada Lia, karena mau mengantar kita” jawabnya singkat, sambil melajukan mobilnya perlahan.
“Oh, gituh” Sisil mengangguk lalu tersenyum.
Mobil melaju begitu pelan, suasana hening, entah kenapa? Aku dan Sisil teman sekelas, kami seumuran, kami sudah saling mengenal sekian lama, tapi kenapa jadi ada rasa canggung di antara kita? Hingga membuat kami seolah kehabisan bahan obrolan. Entahlah ...
Setengah jam berlalu, hanya terdengar suara music yang mengalun, yang tadi sempat di putar Bang Ilham.
“Aku ingin mencintaimu,
setulusnya, sebenar-benar aku cinta,
dalam doa dalam ucapan,
dalam setiap langkahku,
aku ingin mendekatimu,
selamanya, sehina apapun diriku,”
Lagu terus mendayu-dayu, mengiringi perjalanan kami, hingga satu jam berlalu. Akhirnya kami tiba di lokasi pemotretan foto prewedding Bang Ilham dan Sisil. Aku turun dari mobil, seketika aku langsung menikmati panorama indah alam ini. Suasananya begitu sejuk, angin sepoi-sepoi menambah rasa nyaman di hatiku.
“Lia, boleh tolong ambilin ini??” aku mengerjap kala mendengar suara Sisil, aku tau ini tujuan dia memintaku menemaninya. Sisil menunjukkan sebuah tas besar perlengkapan barang-barang Sisil.
“Iya” Aku mengangguk, lalu menyambar tas Sisil dengan tergopoh-gopoh, karena memang berat sekali rasanya.
“Lia, tolong ini juga nanti di bawa ya” Sisil seperti sengaja kembali menyuruhku, aku diam, ingin rasanya aku murka pada Sisil.
“Biar aku yang bawa” tiba-tiba suara itu membuatku tenang, aku tersenyum kala kulihat Bang Ilham menenteng tas Sisil.
“Makasih sayang” dengan manjanya Sisil bergelayut di tangan Bang Ilham sambil berlalu mendahuluiku.
Tiba di tempat pemotretan, mereka langsung mengganti kostum dan langsung touch up, aku memperhatikan mereka di kejauhan, aku duduk di salah satu kursi, sambil melipat tangan di dada.
“Aku harap posisi itu adalah milikku” gumamku dalam hati, aku menggeleng lalu tersenyum.
“Sadar Lia!” hatiku berteriak.
Tak lama kulihat mereka memulai sesi pemotretannya, mereka terlihat begitu serasi, cantik, tampan, dan sama-sama berasal dari keluarga berada.
Hatiku rasanya panas, kala melihat Sisil tengah memeluk Bang Ilham dari belakang, lanjut Bang Ilham yang merangkul Sisil. Huh ... rasanya aku tak sanggup!.
“Lia!!!” tiba-tiba Sisil melambaikan tangannya padaku, aku mengerjap, lalu menghampiri mereka.
“Apa??“ tanyaku.
“Aku haus, boleh aku minta minum??” tanyanya mengiba, sementara bang Ilham masih mengipasi wajahnya dengan tangan.
Aku mengangguk, kemudian memberikan botol minuman pada sisil. Sisil menerimanya, lalu meminumnya, setelahnya dia memberikan kembali botol minuman itu padaku.
“Terimakasih” serunya, aku hanya mengangguk, lalu berlalu ke tempatku semula.
Beberapa jam berlalu, tapi mereka tak kunjung selesai, berkali-kali aku menguap karena bosan,
“Mereka mau ganti baju sampai berapa kali lagi sih?? Bosen lama-lama” gumamku.
“Huuhhh ... Lia, maaf lama yah?? Aku udah selesai, yuk kita pulang” dengan napas ngos-ngosan dan wajah layu, namun tetap berbinar Sisil tersenyum padaku.
Aku mengangguk ”Ayo pulang” Aku berdiri.
“Sebentar, Bang Ilham belum selesai, dia lagi ganti baju dulu” Sisil menahan tanganku.
“Ah, baiklah” aku kembali terduduk, jika untuk menunggu pangeranku, jangankan hanya sepuluh menit, sepuluh tahun, sudah pernah aku menunggunya.
Tak lama Bang Ilham datang, “Yuk pulang” Ajaknya, kemudian dia menuntun tangan Sisil dan berjalan mendahuluiku.
Aku mengerucutkan bibirku, merasa kesal atas sikap pangeranku.
Di dalam mobil, kami kembali terdiam, rasa canggung itu masih ada, satu di antara kami, tidak ada yang mau memulai kata.
“Eeekkkhheeemmm ... Lia, terimakasih untuk hari ini” Sisil menatapku dari kursi depan.
“Sama-sama” Aku mengangguk.
“Lia, besok mau bantu aku lagi??” tanya Sisil menatapku penuh harap.
“Apa??” tanyaku singkat.
“Besok, kita mau beli barang-barang seserahan, tolong bantu kami ya Lia” Sisil mengiba.
“Baiklah” jawabku cepat, lalu mengangguk.
Aku tidak senang ketika harus memenuhi keinginan Sisil, tapi aku bahagia bisa bertemu kembali dengan pangeranku. Cinta memang kadang bisa segila itu!.
“Nanti, kalau Lia mau nikah, kami juga pasti bakalan bantu kamu kok” Sisil tersenyum mengejek.
“Ah, iya” jawabku lagi. Membalas perangai buruknya hanya akan membuatku sakit hati lagi. Jadi kuputuskan untuk diam saja.
“Lia sudah punya pacar??” tanya Bang Ilham tiba-tiba.
“Hah?? Eh, be belum” Aku menggeleng, lalu menunduk, tak menyangka, pangeranku akan bertanya seperti itu padaku.
“Oh ... “ jawabnya mengangguk datar.
Sekilas kulihat dari kaca sepion depan Sisil tersenyum penuh rahasia.
Bersambung ..........
Next?
jujur saya lbh suka cerita yg real life drpd yg haluu....
semua cerita teteh bagus2 kok. semangat terus ya teh....🥰🥰🥰🥰
Sehat terus tetehku, terus lah berkarya. Love you 🤗🤗🤗
semangat berkarya Teteh, ttp sehat & bahagia, maafin para readers yg suka komplen ky netizen😌
tapi percayalah, aku menikmati cerita Lia yg bnyk bgt beri pelajaran bt kita. makasih Teteh🤗
...