Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Tawaran yang Gila Itu
Pria bermasker itu berdiri di depan meja perawat ketika Keisha keluar dari ruang konsultasi.
Ia mengenalinya dari mata gelap yang terlalu tenang dan cara tubuh tinggi itu membuat lorong rumah sakit terasa lebih sempit.
Langkah Keisha berhenti.
Suster Ningrum yang sedang memegang berkas ikut pucat. "Dok, pasien batu ginjal yang kemarin datang lagi."
"Saya bisa lihat," bisik Keisha.
Pria itu menoleh. Tatapannya turun sekilas pada kartu identitas Keisha, seakan memastikan perempuan yang dicari tidak kabur atau mengganti nama dalam tiga hari terakhir.
Keisha menghampiri dengan punggung tegak. "Selamat sore, Pak. Apakah ada keluhan setelah kunjungan kemarin?"
"Ada."
Jantungnya jatuh.
"Keluhan fisik?"
"Keluhan terhadap pelayanan."
Suster Ningrum menunduk di balik berkas.
Keisha menarik napas. "Saya sudah menyerahkan laporan insiden dan kepala poli sudah menerima kronologinya. Kalau Bapak ingin membuat komplain resmi, bagian pengaduan ada di lantai dasar. Saya bisa mengantar."
"Saya ingin bicara dengan Anda lebih dulu."
"Bisa di sini."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena saya tidak ingin seluruh poli mendengar syarat saya."
Keisha menatapnya curiga. "Syarat apa?"
"Lima belas menit. Warung kopi di seberang."
"Saya sedang bekerja."
"Jadwal Anda selesai tujuh menit lalu."
Kini tatapannya benar-benar menajam. "Bapak memeriksa jadwal saya?"
"Nama dan unit kerja Anda tergantung jelas di dada. Informasi jam layanan ada di situs rumah sakit. Tidak sulit."
Sebelum Keisha sempat membalas, suara Prof. Handoko terdengar dari belakang. Sang dokter senior melewati mereka sambil membawa tablet.
"Keisha, urusan biaya perawatan Mama-mu sudah ada jalan?" tanyanya. "Jangan ambil terlalu banyak jaga malam. Kamu tetap harus makan."
Keisha memaksakan senyum. "Belum, Prof. Insya Allah saya cari cara."
Prof. Handoko mengangguk kepada pria bermasker itu, lalu kembali ke ruang konsultasi. Percakapan hanya berlangsung beberapa detik, tetapi Keisha melihat sesuatu berubah di mata pria di depannya.
Seperti potongan terakhir baru saja masuk ke tempatnya.
"Lima belas menit," ulangnya.
Keisha mengatupkan rahang. "Baik. Tapi setelah itu, kita selesaikan urusan komplain sesuai prosedur."
Warung kopi di seberang rumah sakit hanya memiliki enam meja plastik. Bau kopi tubruk, gorengan, dan asap kendaraan bercampur di bawah atap seng. Keisha memilih meja paling dekat kasir agar pembicaraan mereka tetap terlihat orang lain.
Pria itu duduk di seberangnya, lalu melepas masker.
Keisha lupa menarik kursi.
Wajah yang selama ini tersembunyi ternyata lebih mengganggu daripada matanya. Rahang tegas, hidung lurus, bibir yang tampak terlalu terbiasa memberi perintah. Tidak ada senyum ramah. Bekas garis tipis di dekat alis kirinya justru membuat ketampanannya terasa berbahaya.
"Sudah selesai melihat?" tanyanya.
Keisha segera duduk. "Saya memastikan wajah pelapor sesuai identitas."
"Anda belum pernah melihat identitas saya."
"Itu salah satu masalahnya. Siapa nama Bapak?"
"Arya."
"Hanya Arya?"
"Untuk pembicaraan ini, cukup."
Keisha hampir berdiri lagi. "Kalau Bapak berniat mempermainkan saya, saya kembali bekerja."
"Jadilah pacar saya."
Pantat Keisha jatuh kembali ke kursi.
Suara sendok beradu dengan gelas dari meja sebelah. Seorang pengemudi ojek online menoleh sekilas, lalu pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Keisha membungkuk ke depan. "Apa?"
"Pacar bohongan," koreksi Arya. "Saya butuh seseorang untuk dikenalkan kepada keluarga. Tidak ada hubungan sungguhan. Tidak ada sentuhan yang tidak disepakati. Anda hanya perlu hadir beberapa kali dan meyakinkan ibu saya."
Keisha menatapnya selama lima detik penuh.
"Anda gila."
"Kemungkinan itu sudah Anda periksa kemarin?"
"Kemarin saya hampir memeriksa bagian yang berbeda."
Sudut bibir Arya bergerak. "Sayang sekali Anda berhenti sebelum diagnosis."
Wajah Keisha panas. "Jangan bawa-bawa itu!"
"Anda yang membawanya."
"Saya menolak." Keisha menyilangkan tangan. "Cari perempuan lain. Bandung penuh orang. Pasang iklan kalau perlu."
"Saya tidak membutuhkan orang yang ingin menjadi pacar saya. Saya membutuhkan orang yang tidak tertarik."
"Selamat. Saya sangat tidak tertarik."
"Itulah sebabnya Anda cocok."
Keisha mengusap kening. Berdebat dengan Arya seperti memukul tembok yang bisa membalas sindiran.
"Kenapa harus saya?"
"Ibu saya mengenal hampir semua perempuan di lingkungan saya. Kalau saya membawa salah satu dari mereka, kebohongannya mudah terbaca. Anda orang luar. Profesi Anda jelas. Anda berani membantah saya."
"Itu pujian paling buruk yang pernah saya dengar."
"Saya belum selesai." Arya menyandarkan punggung. "Anda juga membutuhkan uang."
Keisha membeku.
"Tadi Prof. Handoko bilang soal biaya perawatan. Nama Anindita Kusumo dan Griya Anindita ada dalam pemberitaan bisnis lama. Perusahaan yang dulu didirikannya sekarang dikelola Herman Sucipto, sementara putrinya mengambil banyak jadwal jaga. Tidak perlu membuka rekam medis untuk memahami masalahnya."
"Anda menyelidiki saya."
"Saya memastikan calon rekan transaksi tidak berbahaya."
"Dan hasilnya?"
"Anda berbahaya bagi pasien yang salah mengambil kartu antrean. Selebihnya masih bisa ditoleransi."
Keisha mendorong kursinya. "Percakapan ini selesai. Saya memang butuh uang, tapi saya tidak menjual diri untuk membohongi keluarga orang."
Tatapan Arya tidak berubah. "Saya meminta waktu dan akting, bukan tubuh Anda. Semua batas ditulis. Anda boleh menentukan tempat pertemuan, durasi, dan bentuk kontak. Saya membayar jasa profesional."
Keisha tidak duduk, tetapi tangannya masih bertumpu pada meja. "Berapa lama?"
"Satu bulan lebih dulu."
"Berapa kali bertemu?"
"Sesuai kebutuhan. Tidak lebih dari yang tertulis."
"Tidak menginap, tidak berduaan di tempat tertutup, tidak menyentuh saya tanpa izin."
"Setuju."
Jawaban yang datang tanpa ragu itu membuat Keisha kesal pada dirinya sendiri karena sempat lega.
"Saya belum menerima," tegasnya.
"Saya tahu."
"Dan saya tidak mau dilibatkan dalam masalah mantan Anda."
"Namanya Vanya. Ibu saya ingin saya kembali kepadanya. Saya tidak mau. Tugas Anda hanya menunjukkan bahwa posisi itu sudah terisi."
"Posisi? Saya bukan papan nama yang bisa digantung di depan rumah."
"Kalau Anda papan nama, saya tidak perlu membayar semahal ini."
Keisha menahan keinginan menyiramkan kopi orang lain ke wajahnya. "Bagaimana kalau keluarga Anda tahu kita berbohong?"
"Itu risiko saya."
"Nama saya yang ikut rusak."
"Karena itu ada klausul kerahasiaan dan ganti rugi. Saya juga tidak akan membiarkan siapa pun mempermalukan Anda."
Kalimat terakhir diucapkan datar, tetapi kepastian di dalamnya membuat Keisha menatapnya lebih lama. Pria ini menyebalkan, namun ia tidak terdengar seperti seseorang yang mengucapkan janji untuk mengisi udara.
"Menipu ibu Anda bukan jasa profesional."
"Mencegah beliau memasukkan mantan saya ke rumah adalah tindakan penyelamatan."
"Itu masalah Anda."
"Benar. Karena itu saya membayar."
Arya mengambil selembar tisu dari wadah. Ia meminjam pulpen yang terselip di saku jas putih Keisha tanpa meminta, menulis angka, lalu mengembalikannya.
Keisha hendak memprotes sampai ia melihat jumlah yang tertera.
Napasnya tertahan.
Angka itu lebih besar daripada total biaya perawatan Mama selama dua belas bulan, termasuk obat, nutrisi, perawat, dan cicilan yang menumpuk. Jari Keisha yang tadi siap mendorong tisu itu malah berhenti di tepinya.
Arya menggeser tisu tersebut sampai menyentuh telapak tangannya.
"Cukup buat Bu Anin bertahan setahun."
Tangan Keisha bergetar saat menggenggam tisu itu.