Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Diselamatkan!
Lift menuju lantai tujuh belas terasa terlalu lambat.
Kevin Saputra berdiri di depan pintu lift dengan wajah dingin. Di belakangnya, manajer malam dan dua security hotel mengikuti tanpa berani bicara.
Di tangan manajer, master key berwarna hitam tampak kecil.
Tapi malam itu, benda kecil itu menentukan nasib seseorang.
"Pak Kevin," bisik manajer, "kalau ini salah paham..."
Kevin tidak menoleh.
"Kalau ini salah paham, saya yang minta maaf."
Angka lift naik.
Lima belas.
Enam belas.
Tujuh belas.
Pintu terbuka.
Kevin keluar lebih dulu.
Koridor Hotel Marquis sunyi. Karpet tebal menelan suara langkah, lampu dinding kuning membuat semuanya terlihat mahal dan bersih.
Terlalu bersih untuk sesuatu yang kotor.
Di depan kamar 1708, Kevin berhenti.
Dari dalam terdengar suara laki-laki.
"Santai saja, Jessica. Kamu cuma terlalu lelah."
Suara itu membuat mata Kevin mengeras.
Vincent Hadiprana.
Kevin mengangkat tangan.
Manajer segera menempelkan master key.
Lampu kunci menyala hijau.
Pintu terbuka.
Kevin mendorongnya keras.
Di dalam kamar, Vincent berdiri di sisi ranjang. Jasnya sudah dilepas, dasinya longgar. Jessica duduk lemah di tepi ranjang, tubuhnya miring, satu tangan mencengkeram sprei seolah masih mencoba mempertahankan kesadaran.
Vincent baru menoleh.
"Siapa..."
Kevin sudah bergerak.
Ia meraih kerah Vincent dan mendorongnya ke dinding.
Benturan keras membuat lampu meja bergetar.
"Kevin!" Vincent terkejut. "Kamu gila?"
Kevin menatapnya dari jarak sangat dekat.
"Kamu yang gila."
Vincent mencoba tersenyum.
"Ini bukan urusanmu. Dia datang sendiri. Kami hanya..."
Pukulan Kevin menghentikan kalimat itu.
Tidak berlebihan.
Satu pukulan.
Cukup membuat bibir Vincent pecah dan tubuhnya jatuh ke lantai.
Security langsung masuk dan menahan kedua tangannya.
"Jangan biarkan dia menyentuh apa pun," kata Kevin.
"Baik, Pak."
Jessica mengangkat kepala sedikit.
Matanya tidak fokus.
"Hendry..."
Nama itu keluar pelan.
Kevin segera mengambil selimut dan melemparkannya ke bahu Jessica, menjaga jarak yang pantas.
"Bu Jessica, ini Kevin. Anda aman. Saya panggil Hendry sekarang."
Vincent tertawa pendek dari lantai.
"Kamu pikir Hendry bisa apa? Dia cuma..."
Kevin menoleh.
Vincent berhenti.
Ada sesuatu di mata Kevin yang tidak pernah ia lihat di pesta atau ruang bisnis.
Rasa jijik.
"Di hotel saya," kata Kevin pelan, "orang seperti kamu tidak punya hak bicara."
Ia mengambil ponsel.
Panggilan tersambung dalam dua detik.
"Hendry."
Di seberang, suara Hendry tenang.
"Kevin?"
"Jessica ada di Hotel Marquis. Dia dibawa ke kamar 1708 dalam keadaan tidak sadar penuh. Vincent ada di sini."
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu suara Hendry turun sangat rendah.
"Apa dia sempat menyentuh Jessica?"
Kevin menatap Jessica, lalu Vincent yang ditahan.
"Saya masuk tepat waktu. Saya tidak melihat tindakan lebih jauh. Tapi dia sudah menunggu di kamar."
"Jaga Jessica. Jangan biarkan Vincent pergi. Simpan semua CCTV."
"Sudah."
"Aku datang."
Panggilan terputus.
Kevin memasukkan ponsel ke saku.
Vincent mulai panik.
"Kevin, dengar. Ini bisa diselesaikan. Kamu mau apa? Saham? Proyek? Aku bisa bicara dengan ayahku."
Kevin menatapnya seolah melihat sampah di lantai marmer.
"Kamu masih berpikir ini soal proyek?"
"Jangan pura-pura suci. Keluarga Saputra juga bisnis."
"Benar."
Kevin mendekat.
"Karena itu saya tahu bedanya bisnis dan kejahatan."
Vincent menggertakkan gigi.
"Kamu akan menyesal."
Kevin hanya berkata kepada security, "Bawa dia ke ruang keamanan. Jangan pukul lagi. Jangan beri dia ponsel. Semua akses keluar ditutup."
"Baik, Pak."
Vincent diseret keluar.
Sebelum pintu tertutup, ia masih berteriak, "Kevin! Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan!"
Kevin menjawab tanpa menoleh, "Malam ini, saya tahu persis."
Sepuluh menit kemudian, mobil Hendry berhenti di depan Hotel Marquis.
Ban hampir mencicit.
Bagus turun dari kursi depan.
Hendry berjalan masuk tanpa berlari, tetapi setiap langkahnya membuat staf hotel mundur setengah langkah.
Kevin menunggu di lobi.
Begitu melihat Hendry, ia langsung berkata, "Dia aman. Saya masuk sebelum Vincent sempat melakukan lebih jauh."
Hendry berhenti satu detik.
Napasnya seperti baru kembali.
Lalu dinginnya naik lagi.
"Di mana Jessica?"
"Kamar 1708. Saya minta staf perempuan mendampingi di luar pintu. Dia masih bingung."
"Vincent?"
"Ruang keamanan."
Hendry menatap Kevin.
"Terima kasih."
Kevin mengangguk.
"Kita bicara nanti. Sekarang urus istrimu dulu."
Hendry masuk ke kamar 1708.
Jessica duduk di sofa, selimut membungkus bahunya. Seorang staf perempuan hotel berdiri di dekat pintu, menjaga jarak.
Begitu Jessica melihat Hendry, air matanya jatuh.
"Hendry..."
Hendry berlutut di depannya.
Ia tidak langsung menyentuh.
"Jessica, ini aku. Kamu aman sekarang."
Jessica menatapnya dengan mata kabur.
"Aku... aku tidak tahu. Mama bilang klien. Aku minum jus. Lalu semuanya..."
Suaranya pecah.
"Vincent ada di kamar."
Tangan Hendry mengepal.
Urat di punggung tangannya menonjol.
Namun saat ia berbicara, suaranya lembut.
"Dia tidak akan menyentuhmu lagi."
Jessica menggigit bibir.
"Aku takut."
Baru saat Jessica mengulurkan tangan, Hendry menggenggamnya.
Ia melepas jasnya dan menutupkan ke tubuh Jessica di atas selimut.
"Kita pulang."
Di pintu, Kevin menyerahkan sebuah flashdisk kecil.
"Salinan awal CCTV. Rekaman restoran, lift, koridor, dan pintu kamar. File asli saya kunci di server hotel. Tidak ada yang bisa hapus tanpa melewati saya."
Hendry menerima flashdisk itu.
"Jangan lapor polisi dulu."
Kevin menatapnya.
"Kamu yakin?"
"Aku akan lapor pada waktu yang tepat. Sekarang yang utama Jessica pulang dengan aman. Semua bukti harus utuh."
Kevin mengerti.
"Baik."
Bagus yang sejak tadi diam bertanya pelan, "Pak, Vincent?"
Hendry menatap pintu koridor.
"Biarkan dia hidup malam ini."
Kalimat itu membuat staf hotel menahan napas.
Suaranya pelan.
Karena terlalu tenang.
Hendry membawa Jessica keluar lewat lift khusus agar tidak melewati tamu lain.
Di ruang keamanan, Vincent duduk dengan wajah pucat dan bibir berdarah. Saat melihat Hendry lewat dari layar monitor kecil, ia berdiri dengan panik.
"Hendry! Ini salah paham!"
Hendry tidak masuk.
Ia hanya berhenti di depan pintu kaca.
Mata mereka bertemu.
Vincent tiba-tiba tidak bisa bicara.
Hendry berkata dari luar, suaranya cukup pelan sampai hanya orang di dekatnya yang mendengar.
"Berdoalah Jessica baik-baik saja."
Lalu ia pergi.
Di rumah, Daun sudah tidur di kamar Mama Ayu tidak ada. Gunawan tidak tahu apa yang terjadi. Hendry meminta Bagus berjaga di luar dan menghubungi dokter pribadi perempuan untuk memeriksa Jessica tanpa membuat keributan.
Dokter datang diam-diam.
Pemeriksaan singkat memastikan kondisi Jessica stabil. Ada indikasi ia diberi zat yang membuat kesadaran melemah, tetapi tidak ada tanda cedera fisik lain.
Hendry baru benar-benar menutup mata selama satu detik.
Hanya satu detik.
Jessica tertidur beberapa jam.
Hendry duduk di kursi samping ranjang.
Tidak pergi.
Tidak memegang ponsel.
Tidak membalas pesan siapa pun.
Saat subuh hampir datang, Jessica membuka mata.
Lampu kamar redup.
Wajah Hendry adalah hal pertama yang ia lihat.
"Kamu masih di sini?"
Suara Jessica serak.
"Aku di sini."
Jessica menatap langit-langit.
Ingatannya datang sedikit demi sedikit.
Telepon Mama.
Restoran.
Jus jeruk.
Kepala berat.
Kamar hotel.
Vincent.
Tubuhnya mulai gemetar.
Hendry berdiri, tetapi tetap menunggu.
Jessica menoleh kepadanya.
"Mama tahu?"
Hendry tidak menjawab terlalu cepat.
Jessica sudah tahu.
Air matanya turun tanpa suara.
"Jadi dari awal... aku memang bisa dikorbankan."
Hendry duduk di tepi ranjang.
"Kamu bukan barang. Bukan alat tukar. Bukan jalan keluar keluarga Wirawan."
Jessica menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
Tangisnya tertahan.
Tangis orang yang akhirnya melihat kenyataan yang terlalu lama ia hindari.
"Kenapa selalu kamu yang datang?" bisiknya. "Saat semua orang mendorongku, kenapa hanya kamu yang menarikku kembali?"
Hendry merasa dadanya seperti ditekan batu.
"Karena kamu istriku."
Jessica menangis lebih dalam.
Hendry tidak memeluknya sampai Jessica sendiri bergerak mendekat.
Saat ia bersandar di bahu Hendry, Hendry hanya menahannya dengan hati-hati, seperti menjaga sesuatu yang retak tapi masih sangat berharga.
"Aku akan melindungimu dan Daun," katanya.
"Selalu?"
"Selalu."
Malam itu tidak ada janji besar yang diucapkan dengan suara keras.
Tidak ada nafsu.
Tidak ada paksaan.
Hanya seorang perempuan yang akhirnya berhenti menahan semuanya sendirian, dan seorang laki-laki yang duduk sampai pagi agar ia tahu: kali ini, ia tidak ditinggalkan.
Ketika matahari pertama menyentuh balkon, Jessica kembali tertidur dengan jari masih menggenggam ujung lengan Hendry.
Hendry berdiri pelan.
Ia berjalan ke balkon dan menutup pintu kaca setengah rapat.
Udara pagi dingin.
Kota Biru baru bangun.
Hendry menyalakan ponsel.
Ada dua puluh tujuh pesan dari Cynthia, Dimas, Rizal, dan Kevin.
Ia hanya membuka kontak Adrian.
Panggilan tersambung.
"Pak Hendry?"
Suara Adrian langsung waspada.
Hendry menatap garis matahari di kejauhan.
"Percepat semua rencana terhadap Hadiprana."
Adrian tidak bertanya kenapa.
"Baik. Level apa?"
Hendry menutup matanya.
Wajah Jessica di kamar hotel masih memenuhi kepalanya.
"Total."
Di seberang, Adrian menarik napas pelan.
"Saya mengerti."
Hendry membuka mata.
Suaranya rendah.
"Hadiprana."
Angin pagi bergerak melewati balkon.
"Sekarang giliranmu."