Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012: Tiga Vila untuk Si Licik
"Tiga vila premium dijual sekaligus?"
Bos Firman menatap berkas di atas meja seperti sedang melihat daging empuk yang jatuh ke piringnya sendiri.
Kantor agen properti itu dingin oleh AC, tapi matanya panas.
Di belakangnya, dinding kaca menampilkan foto-foto rumah mewah Surabaya: kolam biru, pagar tinggi, jalan kompleks yang bersih, ruang tamu putih tanpa debu. Di meja, Mbak Lina dari kantor agen duduk tegang, sesekali melirik Hendra seperti takut penjualnya berubah pikiran.
Hendra hanya menyandarkan punggung.
Tiga nama kompleks tertulis rapi di map.
Taman Surga.
Vila Kencana.
Panorama Selatan.
Dulu, sebelum kiamat, tiga vila ini adalah simbol keluarga Wijaya masih punya sisa wajah di Surabaya. Kolam, garasi, taman, sertifikat, pajak, furnitur impor.
Saat hujan super datang, semua itu berubah menjadi bangkai beton di kota yang tenggelam.
Sekarang?
Sekarang tiga bangkai masa depan itu masih bisa ditukar menjadi uang hidup.
"Saya butuh proses cepat," kata Hendra.
Bos Firman tersenyum. Umurnya sekitar empat puluhan, tubuh agak gemuk, jam tangan besar, cincin batu di jari, dan suara orang yang terbiasa membuat orang lain merasa berutang sebelum transaksi dimulai.
"Cepat itu bisa, Pak Hendra. Tapi cepat selalu punya harga."
"Sebutkan."
Firman mengambil satu lembar penilaian aset. "Kalau dijual normal, mungkin Bapak bisa menunggu pembeli keluarga satu per satu. Enam bulan. Mungkin setahun. Tapi pasar properti mewah Surabaya sedang berat. Pajak, perawatan, isu ekonomi, semua menekan."
Mbak Lina membuka mulut, ingin menambahkan data.
Firman mengangkat tangan kecil.
Ia tidak perlu data.
Ia perlu panggung.
"Tiga puluh dua miliar itu angka mimpi," lanjutnya. "Saya berani ambil semuanya. Tunai. Tapi di angka dua puluh enam miliar."
Mbak Lina menegang.
Selisih enam miliar bukan potongan.
Itu gigitan.
Mbak Lina menunduk, jelas tidak berani memotong bos besar yang bisa menutup komisi seluruh kantornya. Di dunia properti, orang seperti Firman sering disebut penyelamat likuiditas. Padahal mereka hanya menunggu pemilik aset kehabisan napas, lalu menekan lehernya dengan senyum.
Kalau Hendra masih Hendra sebelum mati sekali, harga itu akan membuat darahnya naik.
Sekarang tidak.
Enam miliar yang hilang memang banyak.
Tapi tiga vila ini akan tenggelam. Sertifikat akan menjadi kertas basah. Kolam renang akan bercampur lumpur laut. Garasi mewah akan berisi ikan mati dan pecahan kaca.
Dua puluh delapan miliar hari ini lebih berharga daripada tiga puluh dua miliar yang tidak sempat berubah menjadi beras, solar, obat, dan baja.
Hendra memandang Firman. "Terlalu rendah."
"Rendah?" Firman tertawa halus. "Pak Hendra, saya yang menanggung risiko. Saya beli tiga unit sekaligus, saya bayar cepat, saya urus balik nama, saya bayar orang untuk renovasi, saya pegang barang yang belum tentu bisa dilepas bulan depan."
"Dua puluh sembilan."
"Dua puluh enam setengah."
"Tiga puluh."
Firman mengetuk meja dengan kuku.
Tok. Tok. Tok.
Ia sedang memainkan jeda agar tampak seperti memberi kemurahan.
Hendra bisa mendengar napasnya.
Lebih cepat daripada orang yang benar-benar ragu.
Firman tidak ragu. Ia lapar.
Di kehidupan sebelumnya, orang seperti ini bertahan beberapa minggu setelah bencana, lalu mati karena salah merampas gudang orang yang lebih kejam. Mereka tidak pernah paham bahwa uang hanya berguna sebelum dunia runtuh.
"Dua puluh delapan miliar," kata Firman akhirnya. "Tunai bertahap hari ini. DP langsung masuk rekening escrow notaris. Pelunasan setelah tanda tangan. Saya bahkan bantu kendaraan untuk Bapak. Katanya Bapak juga sedang pindah barang, kan?"
Mbak Lina menoleh cepat.
Hendra mengangkat alis tipis.
Informasi "pindah barang" seharusnya hanya beredar di antara agen, sopir, dan beberapa orang yang melihat aktivitasnya.
Firman sudah menggali.
Bagus.
Musuh yang mau menggali biasanya meninggalkan lubang untuk dirinya sendiri.
"Kendaraan apa?"
"Truk box kecil. Sopir saya bisa bantu. Gratis. Anggap saja bonus karena transaksi besar."
Gratis.
Kata itu selalu berbau.
Hendra menatap berkas sebentar, lalu berkata, "Saya lihat unit Taman Surga dulu."
Satu jam kemudian, mereka berdiri di halaman vila Taman Surga.
Rumput dipotong rapi. Air kolam memantulkan langit Surabaya yang terlalu cerah. Udara lembap menempel di kemeja. Dari pagar tinggi, suara kendaraan kota masuk sebagai dengung jauh.
Firman berjalan di samping Hendra sambil menunjuk dinding, lantai marmer, dapur kering, dan kamar utama.
"Unit begini butuh pembeli selera tinggi," katanya. "Kalau saya ambil, saya harus poles lagi. Tidak gampang."
Ia berkata tidak gampang, tapi matanya mengukur posisi kamera, jalan keluar, garasi, dan seberapa mudah rumah ini dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Hendra membiarkannya bicara.
Di garasi, seorang anak buah Firman berpura-pura memeriksa ban mobil Hendra.
Gerakannya terlalu lama.
Kunci kecil di tangannya berkilat sebentar.
Indra Hendra menangkap bunyi magnet menempel di bawah rangka mobil.
Klik.
Sangat pelan.
Kalau sebelum Unsur Logam, suara itu mungkin tenggelam oleh dengung kota.
Sekarang, bunyinya seperti batu kecil jatuh di air sunyi.
Pelacak.
Hendra tidak menoleh.
Ia malah bertanya, "Kalau saya setuju dua puluh delapan, kapan uang penuh masuk?"
Firman tersenyum lebih lebar.
"Sore ini juga, Pak. Kita ke notaris. Orang saya sudah siap."
"Bukan besok?"
"Untuk Bapak, saya percepat."
Untuk uangku, maksudmu.
Hendra mengangguk. "Baik."
Di kantor notaris sore itu, semua berlangsung cepat.
Sertifikat diperiksa. Identitas dicocokkan. Staf mengetik akta. Mbak Lina duduk kaku di sudut ruangan, mungkin masih tidak percaya tiga aset premium berpindah tangan dalam satu hari.
Firman terus tersenyum.
Terlalu sopan.
Terlalu puas.
Saat tanda tangan terakhir selesai, ponsel Hendra bergetar.
Notifikasi bank masuk.
Angka besar bertambah di rekening.
Dua puluh delapan miliar rupiah.
Tidak sebesar nilai normal.
Tapi cukup untuk membeli lebih banyak bahan bakar, obat, mesin, perlengkapan dingin, dan membuka jalan ke transaksi yang lebih gelap.
Di layar, angka itu tampak tenang.
Di kepala Hendra, angka itu langsung berubah menjadi palet makanan kaleng, generator cadangan, panel surya, pompa air, kain termal, ban off-road, dan lusinan pintu baja yang kelak akan menutup orang-orang serakah di luar bunker.
Uang diam di rekening hanya angka.
Barang yang masuk Ruang Penyimpanan adalah hidup.
Firman menjabat tangan Hendra dengan kedua tangan.
"Selamat, Pak Hendra. Bapak dapat uang cepat. Saya dapat aset bagus. Sama-sama untung."
"Ya," kata Hendra. "Sama-sama."
Di halaman notaris, truk box kecil yang dijanjikan Firman sudah menunggu.
Seorang anak buah berdiri di dekat pintu, wajah ramah palsu.
"Kalau Bapak mau langsung pakai, kunci ada di sini," kata Firman. "GPS standar perusahaan sudah terpasang untuk keamanan kendaraan. Normal, kan? Truk operasional."
Ia mengatakannya ringan.
Seperti jebakan yang diberi label resmi akan berubah menjadi hadiah.
Hendra menerima kunci.
Di bawah truk, ada satu pelacak resmi.
Di bawah mobilnya sendiri, ada satu lagi yang tidak resmi.
Dan di saku jas anak buah Firman, ponsel kecil bergetar dengan layar peta.
Hendra mendengar bisikan dari belakang ketika Firman mengira ia sudah masuk mobil.
"Ikuti saja. Begitu dia ambil uang tunai atau pindah barang, kabari saya."
"Kalau dia bawa pengawal?"
Firman tertawa pelan. "Orang seperti itu cuma punya uang. Nyali belum tentu."
Hendra menutup pintu mobil.
Kaca gelap memantulkan wajahnya.
Tidak ada marah.
Tidak ada panik.
Hanya senyum yang sangat tipis.
Di bawah rangka mobil, pelacak itu masih menyala, mengirim titik kecil ke layar musuh.
Bagus.
Biarkan mereka mengikuti.
Kali ini, jejak itu menempel pada umpan.