NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030: Tingkat 4 - Melampaui Batas

"Cukup banyak."

Jawaban Arga membuat Nadira diam.

Di gerbang utara, kepala Monyet masih bergoyang pelan tertiup angin. Darahnya menetes ke tanah, bercampur dengan lumpur dan abu sisa Hujan Zombie.

Nadira tidak mengalihkan mata.

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban yang bisa kamu terima hari ini."

"Dan sisanya?"

"Akan kuberitahu saat waktunya membuatmu lebih kuat, bukan lebih berat."

Nadira menatap Arga lama.

Ia tidak puas.

Tetapi ia juga bukan orang bodoh yang memaksa membuka pintu saat rumah masih terbakar.

"Saya tidak suka bekerja dengan angka kosong."

"Kamu sudah bekerja denganku sejak awal."

"Itulah masalahnya."

Untuk pertama kalinya sejak perang malam itu, sudut bibir Arga bergerak sedikit.

"Kalau aku ingin mencelakakan kalian, kalian sudah mati sebelum masuk Kota Harapan."

"Saya tahu."

"Kalau aku ingin memakai kalian sebagai alat, aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu."

Nadira menarik napas pelan.

Ia tahu itu juga.

Arga menyimpan terlalu banyak hal. Tetapi sejauh ini, setiap rahasia yang ia simpan selalu berubah menjadi makanan, tembok, Kristal, atau nyawa yang terselamatkan.

"Baik," kata Nadira akhirnya. "Saya tidak akan bertanya lebih jauh malam ini."

"Bagus."

"Tapi saya akan terus menghitung."

"Itu sebabnya kamu Nadira."

Keesokan paginya, gudang utama ditutup.

Tidak ada anggota biasa yang boleh masuk.

Di dalam, hanya Arga, Kiara, Nadira, Dara, Meiling, dan dua pencatat yang dipercaya.

Lantai gudang dipenuhi kantong Kristal.

Cahaya biru, hijau, dan merah samar memantul di dinding beton. Bau darah di luar belum hilang, tetapi di ruangan ini, yang paling terasa adalah dingin energi yang menumpuk.

Meiling membuka buku besar.

"Hasil perang malam dan Airdrop Box setelah digabung dengan stok lama."

Ia menunjuk kolom pertama.

"Tingkat 1 Kristal, sekitar tiga ribu."

Kolom kedua.

"Tingkat 2 Kristal, delapan ratus lebih."

Kolom ketiga.

"Tingkat 3 Kristal, lima belas."

Dara bersiul pendek.

Kiara duduk di kursi, satu tangan menahan perut yang masih dibalut.

"Berapa totalnya?"

Meiling menatap Nadira.

Nadira menjawab tanpa melihat catatan.

"Jika dikonversi kasar, sekitar dua belas ribu Tingkat 1. Cukup untuk tiga peningkatan Tingkat 4 dan cadangan operasional terbatas."

Dara langsung mengangkat tangan.

"Kenapa tiga?"

Arga menjawab, "Aku, Kiara, Nadira."

Dara menurunkan tangan perlahan.

"Aku tidak masuk daftar?"

"Belum."

Ruangan menjadi tenang.

Dara bukan tipe yang mudah tersinggung. Tapi ia juga petarung. Petarung selalu ingin naik lebih dulu, berdiri lebih depan, memukul lebih keras.

Arga menatapnya.

"Ketangguhanmu di Tingkat 3 masih cukup untuk garis depan. Tubuhmu baru menerima tekanan besar dari dua pertempuran. Jika dipaksa naik sekarang, risiko kerusakan dalam terlalu tinggi."

Dara menggertakkan rahang.

"Aku bisa tahan sakit."

"Tahan sakit tidak cukup. Salah langkah berarti mati percuma."

Nadira menambahkan, "Cadangan Kristal juga harus tetap ada. Kita punya tujuh puluh tiga luka, jatah makan, air, perbaikan tembok, dan ancaman Serigala."

Dara menatap kantong Kristal, lalu mengumpat pelan.

"Aku benci kalau kalian benar."

Kiara berkata datar, "Kebiasaan burukmu memang ingin memukul matematika."

"Aku lebih suka matematika berdarah."

Meiling menutup buku satu halaman.

"Matematika berdarah tetap harus dihitung."

Dara tertawa pendek, akhirnya menerima.

Arga mengambil langkah ke tengah gudang.

"Aku dulu."

Tidak ada upacara.

Tiga ribu Tingkat 1 setara disusun di sekelilingnya. Kristal Tingkat 2 dan Tingkat 3 digunakan sebagai inti energi agar proses lebih cepat dan padat.

Nadira mengunci pintu.

Kiara berdiri meski lukanya belum aman.

"Kamu duduk," kata Arga.

"Aku mau lihat."

Arga tidak membuang waktu berdebat.

Ia mulai menyerap.

Cahaya Kristal masuk ke kulitnya seperti air dingin yang berubah menjadi api.

Detik pertama, otot menegang.

Detik ketiga, tulang mulai berbunyi.

Krek.

Suara itu membuat Meiling pucat.

Krek.

Lebih keras.

Seolah tulang Arga dipatahkan satu per satu, lalu disusun ulang oleh tangan tak terlihat.

Arga tetap duduk.

Keringat turun dari pelipisnya.

Urat di lehernya menonjol.

Di Tingkat 3, rasa sakit seperti tubuh dibakar dari dalam.

Di Tingkat 4, api itu punya gigi.

Ia menggigit tulang, mencabik saraf, menekan jantung sampai setiap denyut terasa seperti ledakan kecil.

Meiling hampir melangkah maju.

Nadira menahan lengannya.

"Jangan."

"Tapi..."

"Dia tahu."

Arga memang tahu.

Di kehidupan sebelumnya, banyak Evolver mati saat mencoba melewati batas ini. Mereka mengira Kristal cukup. Mereka salah. Untuk menembus Tingkat 4, tubuh harus sanggup menahan pembongkaran total.

Serum Evolusi Tingkat Tinggi miliknya menjadi fondasi.

Kehendaknya menjadi paku.

Setengah jam kemudian, semua Kristal di sekelilingnya berubah menjadi debu kusam.

Arga membuka mata.

Udara di gudang seperti ditekan turun.

Dara mundur setengah langkah tanpa sadar.

"Gila."

Arga berdiri.

Lukanya di bahu kanan terasa seperti bekas goresan lama. Ototnya penuh tenaga baru. Setiap suara di luar gudang menjadi lebih jelas. Detak jantung orang-orang di ruangan ini bisa ia bedakan satu per satu.

Tingkat 4.

Empat puluh delapan kali tubuh manusia biasa.

Ruang di sekelilingnya terasa lebih lunak.

Seperti pintu yang dulu hanya terbuka sedikit, sekarang bisa ia dorong dengan bahu.

"Teleportasi?" tanya Nadira.

Arga mengangkat tangan.

Ia menghilang.

Satu detik kemudian, ia muncul di balik pintu gudang yang terkunci.

Meiling terkejut sampai buku catatannya jatuh.

Arga muncul lagi di tengah ruangan.

"Tembok tidak lagi menghalangi."

Nadira segera mencatat.

"Jarak?"

"Seratus meter."

"Batas harian?"

"Sekitar tiga puluh kali tanpa kelelahan berat. Jeda aman lima detik."

Kiara menatapnya.

"Bisa bawa orang?"

Arga berjalan mendekat.

Tanpa peringatan, ia meraih pinggang Kiara.

Kiara baru sempat menarik napas.

Dunia bergeser.

Mereka muncul di atap villa utama.

Angin pagi menghantam wajah.

Kiara memegang lengan Arga refleks. Wajahnya sedikit memerah, bukan karena takut sepenuhnya.

"Bilang dulu."

"Kamu yang bertanya."

"Aku bertanya, bukan minta diculik."

Arga melihat jarak dari gudang ke atap.

Seratus meter kurang sedikit.

Akurat.

Ia membawa Kiara kembali ke gudang.

Nadira menatap mereka dengan alis terangkat.

"Romansa pakai anggaran tim?"

Kiara langsung memalingkan wajah.

Arga berkata, "Tes kemampuan."

"Tentu. Sangat ilmiah."

Dara tertawa keras.

Giliran Kiara naik.

Karena lukanya belum pulih penuh, Arga hanya memberi energi tepat batas aman. Tetap saja, proses Tingkat 4 membuat wajah Kiara kehilangan warna.

Bayangan di bawah kakinya meronta seperti hidup.

Ia menggigit kain, tidak mau mengeluarkan suara.

Ketika energi terakhir masuk, seluruh tubuhnya lenyap dari pandangan.

Bukan menghilang sepenuhnya.

Lebih seperti cahaya menolak mengingat bentuknya.

Sepuluh detik.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Kiara muncul di belakang Dara dengan dua belati menempel di lehernya.

Dara mengangkat kedua tangan.

"Aku tidak suka punya teman seperti ini."

Kiara bernapas cepat, tetapi matanya bersinar.

"Sepuluh menit."

Arga mengangguk.

"Dan kecepatan?"

Kiara bergerak.

Bayangan hitam melesat dari satu sisi gudang ke sisi lain. Debu di lantai terangkat terlambat setelah tubuhnya lewat.

"Lima kali dorongan saat aktif," kata Arga.

Kiara memutar belati.

"Sekarang aku bisa membuka tenggorokan Tingkat 3 sebelum ia menoleh."

"Jika tidak sombong."

"Aku terluka sekali dan kamu akan mengingatkanku seumur hidup?"

"Ya."

Kiara mendecak, tetapi tidak marah.

Giliran Nadira.

Ia duduk di lingkaran Kristal dengan wajah paling tenang di antara mereka.

Lalu proses dimulai.

Ketenangan itu retak pada menit kelima.

Nadira menekan telapak tangan ke lantai. Kuku jarinya menggores beton. Napasnya berubah pendek, tetapi matanya tetap terbuka.

"Angka," bisiknya.

Meiling bingung.

Nadira melanjutkan sendiri.

"Denyut... seratus dua puluh. Napas... tiga puluh. Nyeri... tidak relevan."

Dara menatapnya.

"Dia menghitung sakitnya sendiri."

Kiara berkata, "Itu sangat Nadira."

Saat Kristal terakhir hancur, pedang di samping Nadira bergetar.

Ia mengambilnya.

Pembelah menyala.

Cahaya tipis menyelimuti bilah. Gelombang halus berdenyut di sekeliling pedang, membuat udara di dekatnya pecah seperti kaca tipis.

Nadira mengayun ke tiang besi latihan.

Tiang terpotong.

Tiga peti kosong di belakangnya ikut retak oleh gelombang tak terlihat.

Meiling langsung mundur sambil memeluk buku.

Nadira menatap hasilnya.

Matanya yang biasanya dingin tiba-tiba menyala.

"Jarak efek sekitar tiga meter."

Ia hampir tersenyum terlalu lebar, lalu cepat-cepat meluruskan wajah.

"Saya tetap lebih cocok mengurus manajemen."

Dara menunjuk peti yang hancur.

"Manajemen macam apa yang memotong tiga peti sekaligus?"

"Manajemen risiko."

Kali ini Kiara ikut tertawa kecil.

Setelah tiga peningkatan selesai, gudang seperti baru selamat dari badai kecil.

Kristal berkurang drastis.

Tapi kekuatan inti berubah total.

Arga Tingkat 4.

Kiara Tingkat 4.

Nadira Tingkat 4.

Dara duduk di atas peti, masih sedikit kesal, tetapi matanya tidak iri lagi. Ia melihat ketiganya dan tahu keputusan itu benar.

Jika semua Kristal habis untuk naik tingkat, mereka akan kuat selama sehari dan lapar seminggu.

Arga berjalan ke meja.

Serum Bakat dari Airdrop Box kemarin tetap berada di Cincin Dimensi.

Tidak ada yang menyentuhnya.

Belum.

Sore hari, Meiling masuk membawa laporan baru.

Wajahnya lelah, tetapi matanya hidup.

"Bos Arga, saya sudah memeriksa arus barang di Kota Harapan."

Arga duduk di kursi, tubuh baru Tingkat 4-nya masih menyesuaikan dengan kekuatan.

"Hasilnya?"

Meiling membuka halaman.

"Beras, garam, obat, bahan bakar, semuanya mahal. Tapi ada satu barang yang belum disadari nilainya oleh banyak orang."

Nadira langsung melihat Arga.

Ia sudah tahu ekspresi itu.

Ekspresi orang yang bukan menebak.

Orang yang mengingat.

Meiling bertanya, "Anda tahu sekarang barang paling berbahaya untuk pasar Kota Harapan apa?"

Arga tersenyum tipis.

"Rokok."

Meiling berhenti setengah detik.

Lalu matanya menyala.

"Karena orang yang kecanduan mulai kehabisan stok pribadi."

"Dan saat rasa takut tidak bisa dibayar dengan nasi, mereka akan membayar dengan Kristal untuk asap."

Nadira menutup mata sebentar.

"Anda bahkan mau memeras kebiasaan buruk manusia."

"Aku mau membeli murah sebelum semua orang sadar."

Meiling mencondongkan tubuh.

"Berapa banyak?"

Arga berdiri.

Di luar jendela, Kota Harapan masih berduka, masih menghitung korban, masih menambal tembok.

Pasar sedang lengah.

"Semua."

Meiling menahan napas.

Arga menatapnya.

"Mulai besok, beli seluruh stok rokok di Kota Harapan."

Ia berhenti sebentar.

"Diam-diam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!