Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Li Zie tidak perlu menggunakan Mata Dewanya karena ia sendiri yang membuat racunnya. Dengan gerakan yang terlihat sangat sakral dan penuh wibawa, Li Zie mengeluarkan dua jarum perak yang telah ia celupkan ke dalam Air Spiritual encer dari ruang dimensinya.
Wush!
Wush!
Jarum itu melesat cepat, menusuk titik syaraf di belakang telinga Selir dan Li Mei. Seketika, sensasi dingin yang menyejukkan mengalir ke seluruh wajah mereka, memadamkan rasa panas membakar yang menyiksa.
"Hah..." Li Mei mendesah lega, matanya membelalak. "Ibu... gatalnya... gatalnya hilang! Ini ajaib!"
Selir pun terpana. Rasa gatal yang tadinya seperti ribuan semut api menyengat kini hampir tak terasa sama sekali. "Luar biasa! Anda benar-benar Dewa Penolong, Tabib Agung!"
"Hm... ini bukan sekadar penyakit kulit biasa," suara Li Zie keluar dengan nada serak, berat, dan dalam, persis seorang kakek petapa yang telah hidup ratusan tahun. Ia mengelus janggut ekor kudanya dengan gerakan lambat yang penuh wibawa, membuat Selir dan Li Mei menahan napas ketakutan.
Di sampingnya, Ji Yu berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya yang tampan terlihat sangat arogan, matanya menatap Selir dan Li Mei dengan pandangan merendahkan.
"Kalian beruntung Guru sedang ingin menerima tamu hari ini," cetus Ji Yu dengan nada angkuh yang dibuat-buat. "
Selir dan Li Mei hanya bisa menunduk, tak berani membantah pria muda yang terlihat seperti pendekar sakti.
Begitu rasa dingin menjalar dan gatal itu mereda, Li Zie tidak langsung membiarkan mereka pergi. Ia mencondongkan tubuhnya, membuat aura tekanannya terasa begitu berat hingga Selir dan Li Mei merasa sesak napas.
"Dengar," suara serak Li Zie terdengar seperti bisikan dewa yang menggelegar di telinga mereka. "Rasa gatal ini adalah peringatan dari langit. Ini adalah kutukan. Jika bukan Aku. Tidak akan ada tabib yang mampu mengobati kalian."
Selir gemetar mendengar ucapan sang tabib Agung, "Ku... kutukan, Tabib Agung?"
"Benar," lanjut Li Zie dengan nada dingin yang berwibawa. "Jangan pernah lagi kalian berani mengganggu wanita yang sedang sekarat di paviliun belakang kediaman menteri itu. Keberadaannya dilindungi oleh alam. Jika kalian berani menyentuhnya lagi atau bahkan sekadar mengganggu tidurnya, bintik-bintik ini tidak hanya akan merusak wajah kalian, tapi akan membusukkan daging hingga ke tulang."
Mata Li Mei membelalak horor di balik cadarnya. "Bagaimana kakek ini bisa tahu soal Li Zie dan paviliun belakang?!" batinnya menjerit.
Li Mei dan ibunya saling pandang dengan wajah pucat pasi. Di mata mereka, kakek petapa ini benar-benar sakti karena bisa melihat rahasia rumah tangga mereka tanpa pernah berkunjung.
"Wajah kalian perlahan akan kembali pulih. Tapi ingat kataku tadi tentang wanita itu. Karena aku tidak akan pernah sudi menolong kalian dengan bayaran seribu keping emas pun, " ujar Tabib Agung menatap kedua ibu dan anak itu yang sedang ketakutan.
"Sekarang pergi!" Ji Yu membentak kasar sambil mengibaskan tangannya, seolah mengusir lalat. Ji Yu melakukan itu karena dendam kesumat, lalu kembali berkata dengan dingin,"Jangan sampai kalian membawa sial di lapak Guru lebih lama lagi!"
Selir dan Li Mei membungkuk hormat lalu pergi dengan perasaan lega.
Setelah bayangan mereka hilang, Li Zie langsung menyandarkan punggungnya ke kursi kayu tua. Suara seraknya hilang, berganti dengan kekehan kecil yang nakal.
"Kerja bagus, Ji Yu. Akting aroganmu tadi boleh juga," puji Li Zie sambil mengusap kotak emasnya dengan sayang.
"Tentu saja, Guru. Karena Aku juga punya dendam pada ibu dan anak itu. Lalu Guru apakah mereka benar-benar akan berhenti mengganggumu setelah mendengar peringatan mistis tadi?" tanya Ji Yu sambil tersenyum miring.
Li Zie menyeringai licik dan berkata dengan sombong, "Aku rasa mereka akan ketakutan untuk kembali membuat ulah. Tapi jika berani berulah lagi bukan hanya wajah. Tapi seluruh tubuh yang akan menanggungnya. "
Selir dan Li Mei benar-benar kapok. Begitu sampai di kediaman, mereka langsung memerintahkan semua pelayan untuk menjauhi area paviliun belakang. Tak ada lagi pengawal yang datang menendang pintu.
Mereka bahkan memerintahkan untuk mengirimkan jatah makanan terbaik, meski hanya diletakkan di depan gerbang paviliun tanpa berani masuk, karena takut kutukan dari kakek petapa itu kembali membakar kulit mereka.
Li Zie pun akhirnya bisa menikmati tidur siangnya dengan sangat tenang.
"Guru, lihat ini," bisik Ji Yu sambil membawa nampan berisi ayam panggang dan sup jamur mahal yang ia temukan di depan pintu pagi itu."Mereka sepertinya benar-benar menganggapmu sebagai dewi yang dilindungi langit," ujar Ji Yu dengan puas.
Li Zie yang baru saja bangun dan meregangkan tubuh di bawah selimut bulu rubahnya hanya menyeringai puas.