Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Sandiwara Selama Setahun
Tiga hari setelah mediasi, Bik Inah menata dua mangkuk bubur ayam di meja makan Puri Teratai.
Ia bahkan meletakkan dua cangkir teh berdampingan dan menambahkan cakwe di piring kecil, seolah sarapan yang rapi dapat memperbaiki perkawinan yang retak.
Renata turun lebih dulu. Ia sudah mengenakan celana panjang hitam dan kemeja biru muda, bukan seragam Angkasa.
“Nyonya ada penerbangan?” tanya Bik Inah.
“Nggak, Bik. Ada pertemuan kerja.”
Nathan muncul saat Renata baru menelan dua suap. Ia berhenti melihat meja, lalu duduk di kursi seberangnya.
Bik Inah tersenyum lebar. “Pas sekali. Saya ambilkan telur untuk Tuan.”
“Nggak perlu,” kata Nathan.
Senyum perempuan itu langsung turun.
Renata mengangkat mangkuknya. “Saya makan di teras saja, Bik.”
Nathan menatapnya. “Kenapa pindah?”
“Supaya Bik Inah nggak salah paham.”
“Kita memang diminta tinggal bersama.”
“Tinggal bersama, bukan sarapan romantis.” Renata berdiri. “Ini sandiwara, Kapten. Nggak perlu repot.”
Ia membawa buburnya keluar tanpa melihat wajah Nathan.
Di teras, ponselnya menampilkan pesan terenkripsi dari Tania. Sebuah perusahaan besar mengirim permintaan penilaian awal tentang kebocoran data lintas negara. Nama klien baru akan dibuka jika JK menerima tahap verifikasi.
Tania: Bayarannya bagus. Mereka minta tatap muka sama konsultan utama.
Renata: Jadwalkan. NDA dulu, identitas profesional terpisah.
Tania: Siap, Bos Misterius.
Renata menutup percakapan ketika Nathan keluar membawa teh.
“Pertemuan apa?” tanyanya.
“Kerja.”
“Angkasa?”
“Perjanjian kita melarang saling memeriksa pekerjaan pribadi.”
Nathan duduk di kursi seberang. “Aku hanya bertanya.”
“Dan aku memilih nggak menjawab.”
Nada Renata tidak marah. Justru sikapnya yang seperti sedang berbicara kepada orang asing membuat Nathan kehilangan selera minum.
Sebelum ia sempat berkata lagi, voice note Opa William masuk ke ponselnya.
Nathan, cari tahu semuanya. Jangan pakai mata yang selama ini cuma melihat apa yang Cheryl tunjukkan. Pakai otakmu. Mulai dari hari kecelakaan di gunung.
Pesan kedua menyusul.
Dan jangan ganggu Rena pagi-pagi. Kalau dia mau pergi kerja, biarkan.
Renata mendengar karena volume ponsel terlalu keras. Sudut bibirnya bergerak tipis.
“Opa mengenalmu dengan baik.”
Ia menghabiskan bubur, membawa mangkuk ke dapur, lalu pergi sebelum pukul delapan.
Nathan menatap kursi kosong di depannya. Di atas meja, Bik Inah masih meninggalkan dua cangkir teh yang kini sama-sama dingin.
Siang itu, ia mendatangi ruang kerja lama Opa di Kediaman Halim. Lemari kayu di dinding menyimpan arsip tahun-tahun awal Prima Aeroteknik, ketika Nathan belum memiliki kantor besar dan masih terbang sambil membangun perusahaan.
Reno sudah mengirim kotak berisi agenda, laporan kecelakaan, kuitansi rumah sakit, dan salinan korespondensi lama.
Nathan menemukan map dari tahun ketika ia mengalami kecelakaan di jalur pegunungan. Laporan resmi hanya mencatat kendaraan keluar jalur akibat hujan, korban ditemukan beberapa jam kemudian, dan seorang perempuan muda memberi pertolongan sebelum tim penyelamat tiba.
Nama perempuan itu tidak tercatat.
Nathan menutup mata, mencoba memaksa ingatan yang sudah bertahun-tahun kabur. Ia hanya mengingat tanah basah, rasa darah di mulut, dan suara perempuan yang terus menyuruhnya tetap sadar. Setiap kali ia berusaha melihat wajah, yang muncul selalu bayangan rambut menempel karena hujan.
Cheryl mengatakan ia pergi sebelum tim datang karena takut dan panik. Nathan dulu menerima alasan itu tanpa bertanya kenapa orang yang berani menekan luka selama berjam-jam justru pergi saat bantuan tiba.
Ia menemukan catatan perawat rumah sakit. Di sana tertulis seorang perempuan datang keesokan malam dan meminta informasi kondisi korban. Tidak ada keterangan bahwa perempuan tersebut mengantar korban atau berada di lokasi penyelamatan.
Nathan mengetuk ujung kertas dengan jari.
Selama ini ia mengisi setiap ruang kosong dengan cerita Cheryl sendiri.
Selama ini, ia tidak pernah menganggap kekosongan itu penting. Cheryl datang ke rumah sakit membawa kain bernoda darah dan mengetahui luka di rusuknya. Baginya, itu sudah cukup.
Ia membuka agenda perjalanan lama.
Pada minggu kecelakaan, Cheryl tercatat mengikuti program singkat di Singapura. Ada surel darinya dua hari sebelum kejadian, mengeluh penerbangan pulang mungkin tertunda karena badai.
Nathan mengernyit.
Ia mencari pesan setelah kecelakaan. Cheryl baru mengirim kabar malam berikutnya.
Maaf aku baru bisa menghubungi. Aku masih syok setelah menolongmu. Kainmu masih ada padaku.
Tidak ada pesan dari hari kejadian. Tidak ada foto lokasi. Tidak ada penjelasan bagaimana ia meninggalkan Singapura, menemukan Nathan di jalur pegunungan, lalu menghilang sebelum petugas datang.
Mungkin jadwal penerbangannya berubah. Mungkin arsip tidak lengkap.
Nathan mengulang kemungkinan itu beberapa kali, tetapi untuk pertama kalinya kata mungkin terasa seperti alasan.
Ia menelepon Reno.
“Cari manifes penerbangan Cheryl minggu itu.”
“Sudah lama sekali.”
“Cari jalur resminya. Jangan beri tahu dia.”
Reno terdiam sesaat. “Kamu mulai meragukannya?”
“Aku memeriksa fakta.”
“Setelah tiga tahun memperlakukan Rena seperti terdakwa, akhirnya kamu ingat fakta juga.”
Nathan memutus sambungan.
Di tempat lain, Renata duduk di ruang rapat sewaan bersama Tania. Layar di depan mereka memperlihatkan pola akses mencurigakan dari calon klien. Ia menandai dua titik yang menunjukkan kebocoran bukan sekadar serangan luar.
“Ada orang dalam,” katanya.
Tania mengangguk. “Kalau tahap awal lolos, mereka minta kamu datang ke kantor pusat.”
“Kirim temuan ini tanpa membuka metode. Tagihan konsultasi dibayar sebelum pertemuan.”
“Kamu yakin mau ambil proyek baru di tengah urusan pengadilan?” tanya Tania.
“Justru karena ada urusan pengadilan.” Renata memasukkan token keamanan ke kotak kecil. “Aku butuh hidup yang tetap berjalan setelah nama Halim nggak lagi menempel.”
Tania memiringkan kepala. “Nama itu sekarang sedang menempel di semua akun gosip.”
“Biar. Klien ini mencari JK, bukan istri siapa pun.”
Renata memeriksa draf NDA, memastikan pembayaran melalui jalur perusahaan konsultasi dan tidak menyentuh rekening pribadinya. Ia juga meminta ruang pertemuan tanpa perangkat rekam aktif. Kemampuan tidak berarti ia boleh ceroboh.
Jika calon klien menerima syarat itu, pertemuan berikutnya akan berlangsung di Purnama International.
Renata menutup laptop. Saat bekerja, ia tidak perlu menjadi istri Nathan Halim, perempuan yang dikasihani media, atau cucu menantu kesayangan Opa.
Ia hanya perlu menjadi orang yang paling mampu di ruangan.
Menjelang sore, Nathan masih duduk di antara arsip lama. Hujan mulai memukul jendela ruang kerja.
Ia menatap surel Cheryl, tanggal perjalanan, dan laporan penyelamatan yang tidak menyebut nama siapa pun.
Jarinya berhenti pada satu baris jadwal penerbangan.
Jika catatan itu benar, Cheryl belum berada di Indonesia saat ia ditemukan.
Nathan membaca tanggal tersebut sekali lagi.
Kini ia harus memeriksa semuanya dari awal.
Cheryl, hari itu kamu benar-benar ada di sana?