"Aku bukan orang baik buat kamu."
Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.
Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.
Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.
Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.
Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Return
"Mengapa kembali ketika sudah memutuskan pergi?"
🔥🔥🔥
Andara menggeliat dari tidur nyenyak. Badannya terasa masih lemas dan pegal. Saat kelopak matanya terbuka, dia mendapati Buana ada di samping, bersama dalam satu selimut. Cowok itu sepertinya sudah terbangun dari tadi. Mata tajam itu memandangi dia dan kali ini tersenyum setelah melihatnya sudah terbangun.
"Gimana tidurnya? Nyenyak?"
Buana mengusap pelan kepala dan rambutnya, membuat Andara kembali memejam. Sikap Buana terlalu hangat, dan terlalu peduli. Sejak semalam bibir cowok itu seperti ditaburi gula, ucapannya manis-manis semua. Kenapa coba Buana mesti seperti ini?
"Masih ngantuk?" Andara dapat merasakan jemari Buana menelisip di sela-sela rambut. Cowok itu seakan sangat tahu kalau dia suka sekali dibelai-belai seperti itu. "Cari makan, yuk? Udah siang."
Andara mendadak duduk. Siang? Gawat! Dia harusnya kuliah pagi.
"Aku sudah titip absen buat kita. Tadi juga yang masuk cuma Asdos," ujar Buana kembali tersenyum. "Kayaknya ada yang kecapekan karena semalam."
"Diam, deh." Andara merapatkan selimut agar tidak ada bagian tubuhnya yang dapat dilihat Buana.
"Galak." Cowok itu ikut duduk, selimut yang menutupinya turun sebatas pinggang. Roman-roman mukanya terlihat usil. "Tapi aku suka kok yang galak-galak, apalagi di ranjang."
Refleks tangan Andara menonjok lengan Buana. "Dasar mesum!"
Buana menyibak selimut, membuat Andara mengalihkan pandangan. Meski semalam mereka beberapa kali melakukannya, tetap saja Andara merasa canggung melihat Buana polos secara langsung di saat-saat normal.
Cowok itu tertawa merdu menyadari sikap Andara. Dia meraih celana yang terserak di bawah ranjang dan mengenakan. "Mesumnya sama kamu doang, Ra," pungkasnya tersenyum tengil sambil mengambil sebuah handuk bersih di lemari lalu hilang di balik pintu kamar mandi.
Sedangkan Andara kembali terdiam, memikirkan kesalahan semalam. Dia merutuki kenapa Buana sering kali datang di saat-saat dia memerlukan seseorang. Seperti tadi malam, dia sangat memerlukan pelukan dari seseorang yang meyakinkannya kalau semua baik-baik saja dan Buana ada, datang, juga selalu di sekitarnya. Coba kalau Kin yang ada, akan lebih enak mungkin?
Andara langsung memukul kepalanya sendiri. Pikiran kotornya sudah meracuni otak. Memang benar kata orang, seks itu bukan buat coba-coba. Seperti narkoba, seks juga bisa membuat ketagihan. Namun, bagaimanapun ada hal yang tidak bisa ditampik dari aktivitas itu. Ada hubungan antara seks dan penurunan tingkat stres di tubuhnya. Mungkin benar kata orang, saat penetrasi ada hormon positif yang lepas dalam tubuh. Jujur saja saat berhubungan intim, Andara merasa dipuja, disayangi, dan diinginkan.
Dia berdecak lagi, merutuki kelakuan jalangnya semalam. Tidak masuk akal jika dia menyalahkan rum, toh semalam dia masih sadar sama sekali. Hanya saja sisi impulsifnya benar-benar dominan. Dia melakukan semua sesuai kemauan yang terbersit tanpa berpikir panjang. Gila ya, dia berhubungan badan dengan pacar orang lain! Andara meremas selimut dengan kencang.
"Ra," panggil Buana memunculkan sedikit kepala dari balik pintu. Muka cowok itu sudah basah dan Andara dapat melihat ada busa-busa di sekitar lehernya. "Nggak mau bantuin sabunin punggung?"
Andara melirik dengan ekspresi judes. Dia tahu benar apa yang akan terjadi jika dirinya masuk ke dalam sana. Nanti bukan punggung saja yang disabuni, yang lain-lain juga. "Nggak," tolaknya.
"Ayolah," pinta Buana. Cowok itu bahkan seperti mengambil ancang-ancang akan keluar dari kamar mandi.
"Setop! Jangan keluar lo! Basah nanti kamar gue," ancamnya sambil membungkus seluruh tubuh pakai selimut. Dia mengambil handuk dan bajunya lalu segera menghilang. Lebih baik menumpang mandi di kamar Natha, daripada akan terjadi ronde yang kelima atau keenam di hari ini. Dia sendiri lupa ke berapa tepatnya tapi kalau itu terjadi lagi dalam waktu dekat dipastikan tubuhnya benar-benar nggak kuat untuk berjalan lagi.
Sambil membasuh badan, Andara memejamkan mata. Dia teringat Kin. Bahkan ada saat-saat di mana dia membayangkan Kin-lah yang bersamanya semalam. Untung saja tidak sampai kelepasan menyebut nama cowok itu di sela-sela desahan.
Matanya terasa hangat lagi. Kenapa sih dia jatuh hati sama Kin? Padahal sikap cowok itu juga nggak manis-manis banget kepadanya. Kalau masalah bicara, Buana tentu lebih menang. Tapi kenapa masih saja dia ingat Kin? Seharusnya dia bersikap selayaknya teman, seperti Kin juga bersikap kepadanya. Berteman dengan tanpa membawa perasaan sama sekali.
Orang bilang dia rebel. Orang bilang dia tomboi. Memang orang seperti dia memiliki banyak teman lelaki, tetapi seharusnya pertemanannya tidak boleh pakai hati. Ya, seharusnya memang begitu dan Andara sudah seharusnya berusaha mengembalikan semua pada tempatnya sebelum terlambat. Apa yang ada di dalam perasaan cukup menjadi rahasia dia saja, bila perlu dimatikan.
Saat Andara menyelesaikan mandi dan membuka pintu kamar mandi dengan menggosok rambut pakai handuk. Dia dikejutkan oleh sesosok orang yang sudah duduk di ranjang. "Anjir, bisa nggak lo nggak usah nongol tiba-tiba kayak ninja? Untung jantung gue masih sehat!"
Natha yang sudah berada di kamarnya tampak memperhatikan Andara. "Gue pikir lo nggak pulang semalam, makanya gue nginep tempat Putra."
Andara dapat merasakan Natha sedang berusaha untuk mencari tahu sesuatu. "Buana nginap di sini?" tanya cewek itu.
Dengan mempertahankan ekspresi santai, Andara mengangguk.
"Ngapain aja kalian tadi malam?"
Bola mata Andara sudah berputar. "Kami membuat peta kekuatan perairan Indonesia, diskusiin baiknya ibu kota negara pindah ke mana, sama menelaah kira-kira apa penyebab manifesto Papua Merdeka," jawabnya, "masuk akal nggak menurut lo?"
"Nggak."
"Ya, makanya. Udah tahu, nanya." Andara mengerling pelan sambil kembali menggosok-gosok kepala dengan handuk. Dia dapat mendengar Natha berbisik mengumpat sebelum menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Bukannya lo udah suka sama Kin? Ya, maksud gue ngapain berhubungan sama dia lagi?" protes Natha. Cewek itu dari awal memang mendukung Andara move on seutuhnya tanpa sedikit pun tersentuh Buana. "Dan lo malah ngulangin ... Ah, shit!"
"Sssttt..." Andara meminta Natha tidak usah membahas itu dahulu. Buana masih ada di kamarnya, bisa saja pembahasan ini terdengar oleh cowok itu. "Keluar, yuk."
Benar saja, saat mereka keluar, Buana sudah duduk di ruang makan. Cowok itu sedang menyeduh kantong teh dengan air panas. "Hai, Nath. Baru pulang?"
Natha yang baru duduk hanya mengangguk kaku. Matanya menatap Andara dan Buana bergantian, seperti menagih penjelasan.
"Mau teh juga?" tanya Buana ke Natha setelah cowok itu memberikan satu gelas teh untuk Andara.
"Boleh," jawab Natha singkat. "Kalian kok sama-sama baru mandi? Baru bangun, nih? Panjang banget kayaknya semalam."
Sindiran Natha sudah berhasil membuat Andara menyemburkan sedikit teh dan terbatuk. Dia melirik Natha penuh kode supaya cewek itu berhenti membahas hal tersebut, tetapi Natha masih cuek dan bertingkah seolah tidak mengerti arti gerakan pelan bola mata Andara.
Buana terkekeh lirih dari balik punggung. Cowok itu berbalik sembari menyodorkan segelas teh ke arah Natha, dengan pandangan lurus membalas tatapan penghakiman Natha. "Iya gitu. Tahu aja lo, Nath."
Kali ini, sebuah sinyal Andara kirimkan ke cowok di seberangnya agar diam. Namun, baik Buana maupun Natha tetap saling serang. Andara dapat pastikan kalau Buana mendengar keberatan yang Natha utarakan di kamar.
"Udah, deh. Nggak usah dibahas," potongnya. Dua orang kepala batu ini akan tetap tidak mau kalah sampai kiamat nanti. "Gue lapar, makan apa nih kita?"
Waktu mulai merambat tengah hari dan cacing-cacing yang tidak diberi asupan dari tadi malam sudah berontak.
"Kamu mau makan apa, Yang?" tanya Buana manis. Andara membalas pertanyaan itu dengan muka datar menahan makian. Buana sengaja sekali memanaskan keadaan.
"Piza," jawab Natha cepat. "Dari kemarin, Sayang lo ini pengin piza." Natha bahkan menekankan kata 'Sayang' dengan tujuan mengejek Buana.
Buana kembali memandangnya. "Iya, Yang? Pesan piza kita?"
"Terserah." Sejak kapan dia pengin piza? Itu sih bisa-bisanya Natha saja. Ya Tuhan, Natha ini bisa sekali ya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Jangan gitu, dong. Kalau mau makan piza ya bilang sama aku. Jangan sampai anak kita nanti ngences." Cowok itu tersenyum penuh makna sambil mengutak-atik ponselnya, sedangkan dalam hati Andara sudah melayangkan sumpah serapah kepada mereka berdua, baik Buana maupun Natha.
***
"Racun tikus mana racun tikus? Gue tuangin juga nih di minuman dia," desis Natha mangkel ketika Buana keluar untuk menerima kiriman piza dari layanan pesan antar.
Andara menyentil telinga Natha. "Lo juga ngapain diladenin, sih?! Pokoknya gue minta lo diam."
"Ngeselin banget, sumpah!" bisik Natha sambil mengepalkan tangan.
"Pokoknya lo diam," perintahnya dia ulangi sekali lagi agar Natha paham. Api dengan api nggak akan pernah padam. Kalau Natha selalu menyerang dan Buana juga menyerang, nggak akan habis sindir-sindirannya. Apalagi semakin disindir, Buana semakin menjadi-jadi, menunjukkan kemesraan mereka kepada Natha.
Cowok itu sudah masuk dengan membawa dua kotak besar piza, membuka dan mengangsurkan di meja. "Ayo, makan. Makan Yang biar cepat gede."
"Apanya yang gede?" timbal Natha sok cuek dan meraih piza. Meski sudah diperingatkan, Natha masih saja melawani ucapan Buana. Sementara Andara yang berusaha menahan diri memilih makan tanpa komentar.
Buana tersenyum iseng sambil memandang Andara. "Apa kek, apa kek yang mau digedein."
"Size doesn't matter kali," desis Natha menampilkan muka malas.
"Iya, dong. Yang penting kan goyangannya," balas Buana sambil menggigit pinggiran piza.
"Shut up!" Andara menepuk meja. "Kayak anak kecil aja lo berdua. Udah deh, makan ya makan aja. Kalau mau bahas, bahas yang lain, kek. Makan aja masih pakai berantem."
Buana berdeham. Cowok itu bangkit dan meraih air putih dalam diam, menyodorkan segelas air putih juga untuk Andara. Matanya melihat tajam tepat ke arah Natha. Sambil kembali menggigit piza, dia berkata, "Kalau misalnya lo berpikir antara gue dan dia ada apa-apa, ya, kami memang ada apa-apa semalam. Lo jangan tanya kenapa, Nath. Tapi gue minta sama lo untuk rahasiain semua ini. Termasuk dari Putra ataupun cowok dia. Buat kebaikan bersama."
Natha menelan potongan terakhir miliknya dan menatap Buana tak kalah tajam. "Buana, gue juga nggak suka ikut campur urusan orang," ujarnya sambil berdiri dan merapikan kursi. "Gue cuma nggak mau lo jahatin Andara lagi. Lo pikir hati dia terbuat dari apa? Batako?!"
Cewek itu lalu berjalan meninggalkan ruang makan. "Udah, ah. Gue ada siaran siang ini. Thanks pizanya. Take care, Ra," tutupnya sambil bersiap pergi.
Antara Andara dan Buana melanjutkan makan dalam diam. "Mereka makin salah sangka sama aku." Buana membuka suara. "Kamu ada cerita apa sama mereka?"
"Lo pikir gue bikin-bikin cerita?" timpal Andara. "Gue juga nggak banyak cerita, kok. Cuma mereka tahu lo putusin gue dari sms, lo jalan sama Nina dan mereka lihat sendiri gimana lo di parkiran Splash. Mereka juga punya mata, kali."
Cowok itu melirik ke Andara sebelum teralih ke piza di tengah meja. "Aku udah pernah kasih tahu belum kalau kamu tambah cantik kalau lagi marah?"
Andara melengos. "Kalau sambil siram Coca-Cola lebih cantik, nggak?" tanyanya usil.
Yang tidak Andara perkirakan adalah cowok itu bangkit dan merapat ke sebelahnya. Buana menunduk dan sejajarkan muka dengan wajah Andara. "Lebih cantik, dong. Apalagi siram Coca-Cola-nya di atas ranjang," balas cowok itu dengan mengangkat alis dan tersimpul.
Demi menghindari rahang memesona yang pernah disanjungnya, Andara memundurkan kepala. Cowok itu meringis.
"Takut amat mau dicium. Kamu siaran jam berapa hari ini?" Buana sudah mengangkat muka kembali. Tangan cowok itu membereskan situasi meja makan, menyatukan sisa piza yang ada.
"Hari ini off."
"Ikut Marionette latihan, yuk?"
"Nggak, ah," tolaknya dengan mengoyangkan kepala.
"Ikut, Ra," tukas Buana setengah memaksa. "Penting. Nanti kamu juga tahu."
Andara kembali menggeleng. "Nanti kalian latihan, gue malah bengong bego. Bagus rebahan aja di rumah."
"Studio latihan nanti sore itu studio baru. Di lantai satunya ada kafe, ada buku-buku juga. Kamu duduk di sana aja biar nggak bosan."
Sebenarnya Andara masih menimbang-nimbang. Di rumah memang akan membosankan tetapi ikut bersama Buana bukan pilihan baik. Lagi pula menemani Marionette latihan itu lebih menjemukan. Dia menggeleng untuk yang ketiga kali.
Menyadari penolakannya, Buana lantas berjalan ke arah ruang tamu. Tak lama cowok itu datang dengan sebuah buket berisi snack yang tersusun manis. Buana mengusap kepala Andara sambil berkata satu kalimat yang membuat dunia Andara jungkir balik.
"Kamu lupa ya kalau kita harusnya anniversary di hari ini?"
🔥🔥🔥
**Buana itu manis, lho. Manisss!
Kalian tim siapa? Tim Buana atau Tim Kin**?
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)