Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Panggung Sandiwara Sang Serigala
Ujian kedua adalah Pertarungan Eliminasi. Para calon murid dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan harus bertarung di atas panggung kayu hingga tersisa satu orang. Tujuannya bukan hanya mencari yang terkuat, tapi juga yang paling memiliki insting bertahan hidup.
Boqin Tianzun—kini dikenal sebagai Qin Mo—berdiri di atas panggung bersama empat pemuda lainnya. Lawannya adalah anak-anak bangsawan yang mengenakan baju zirah ringan dengan senjata yang mengkilap.
"Lihat si gelandangan berbakat Kelas Dua ini," ejek salah satu lawan bernama Gao Feng. "Jangan salahkan aku jika pedangku meninggalkan bekas permanen di wajah tampanmu!"
Boqin menunduk, bahunya sedikit gemetar—bukan karena takut, melainkan karena ia harus menahan tawa melihat kesombongan mereka. Ia sengaja memasang ekspresi pemuda desa yang gugup.
Pertarungan dimulai. Gao Feng melesat dengan serangan pedang yang cepat. Boqin bisa saja menghancurkan kepala pemuda itu dalam satu detik, namun ia memilih cara yang lebih halus.
Ia bergerak dengan canggung, seolah-olah ia terpeleset oleh kakinya sendiri. Namun, saat ia terpeleset, tubuhnya justru menghindari tebasan pedang Gao Feng dengan selisih tipis. Secara tidak sengaja, sikunya menghantam ulu hati lawan lainnya yang sedang menyerang dari belakang.
Bugh!
"Maaf! Aku tidak sengaja!" seru Boqin dengan wajah panik, sementara lawannya langsung jatuh tersungkur sambil memegangi perut.
Di mata penonton, Qin Mo tampak seperti orang paling beruntung di dunia. Ia terus menghindar dengan gerakan-gerakan aneh yang terlihat kikuk, namun satu per satu lawannya justru saling bertabrakan atau terjatuh karena serangan mereka sendiri yang meleset.
Terakhir, Gao Feng yang marah besar mengayunkan pedangnya dengan membabi buta. Boqin melakukan gerakan panik, menyandung kaki Gao Feng tepat saat pemuda itu menerjang. Gao Feng terbang melewati kepala Boqin dan mendarat di luar panggung dengan sangat memalukan.
"Pemenang... Qin Mo!" teriak wasit dengan nada ragu.
Di balkon VIP, Han Ruoli tertawa terbahak-bahak. Ketertarikannya pada Qin Mo kini berubah menjadi obsesi ringan.
"Menarik," gumam Han Ruoli. "Dia beruntung, atau dia benar-benar ahli dalam berpura-pura bodoh. Aku belum pernah melihat seseorang menang dengan cara seaneh itu."
Ia berdiri dan melemparkan sebuah sapu tangan sutra ke arah panggung, tepat di depan kaki Boqin. "Hei, Qin Mo! Keberuntunganmu menghiburku. Setelah kau resmi menjadi murid luar, datanglah ke Paviliun Ungu. Aku butuh pelayan pribadi yang bisa menghiburku."
Seluruh kerumunan menatap Boqin dengan iri. Menjadi pelayan pribadi Han Ruoli berarti mendapatkan sumber daya kultivasi yang melimpah, meski harga dirinya harus diinjak-injak.
Boqin memungut sapu tangan itu. Ia menatap Han Ruoli dengan tatapan kagum yang dibuat-buat, namun di balik matanya, ia sedang menghitung berapa hari lagi sebelum ia mematahkan leher gadis itu.
"Tentu saja, Nona Muda," batin Boqin. "Aku akan datang. Dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa tertawa lagi seumur hidupmu."
Jauh di rumah danau, klon Boqin sedang duduk di teras bersama Sua Mei, menatap bulan yang sama.
"Boqin, kenapa kau menatap bulan seserius itu?" tanya Sua Mei sambil menyandarkan kepalanya di bahu klon tersebut.
"Aku hanya berpikir," jawab sang klon dengan suara yang menenangkan. "Bahwa bulan tetap cantik karena ia jauh. Jika ia terlalu dekat, orang-orang akan sadar betapa dingin dan gelapnya ia sebenarnya."
Sua Mei tertawa kecil, menganggap suaminya sedang berpuisi. Ia memeluk lengan klon itu, merasa sangat aman dan dicintai, tanpa pernah tahu bahwa bulan yang sesungguhnya sedang berlumuran niat membunuh di kaki gunung sekte besar.