Kehidupan kecil Arthur yang penuh kebahagiaan lenyap dalam waktu singkat, saat kedua orang tua dan juga neneknya menghilang dalam sebuah kecelakaan.
Arthur kecil yang tak lagi mendapat kasih sayang, kini tumbuh menjadi sosok Arthur yang tak berperasaan
Dan yang paling menonjol dalam dirinya adalah, sikap Playboynya.
Namun, Pertemuannya dengan seorang murid cewek baru disekolahnya, merubah hampir keseluruhan sikap buruk Arthur, dan membantunya mengungkap masalah yang sudah tertutup rapat selama hampir 6 tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Setelah taxi yang ditumpangi Dara melaju, Arthur pun bergegas menghampiri Ratih, yang juga hendak pergi.
"Sorry, lo temennya Dara kan?"
Ratih yang hendak melangkah pun seketika menoleh ke arah suara.
Ia sempat tertegun, mendapati sosok Arthur dengan jarak sedekat itu.
"Eh iya, saya temennya Dara, kenapa ya?"
"Apa tadi Dara disini, bareng elo?"
Ratih mengangguk.
"Terus tadi dia lihat gue nggak, kalau gue ada disini."
Ratih kembali menganggukan kepalanya, membuat Arthur mengacak rambutnya Frustasi.
Damn! umpatnya dalam hati.
"Ok thanks."
Tanpa menunggu jawaban dari Ratih ia pun segera melesat dari hadapannya, berlari menuju dimana motornya terparkir.
Dengan perasaan berkecamuk Arthur mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, berulang kali ia mengumpat, dan merutuki kebodohannya, seharusnya dari awal ia menyadari keberadaan Dara.
Ia yakin, saat ini pasti gadisnya sudah salah paham, dan berpikiran bahwa ia kembali seperti dulu.
"Ra?" Arthur menarik tangan Dara, ketika gadis itu hendak membuka pintu gerbang rumahnya.
Dara menoleh, namun tak bersuara, ia menatap benci pada sosok Arthur yang berdiri di hadapannya.
Ia berusaha mengatur degup jantungnya yang tak beraturan, marah kesal, dan benci menjadi satu dalam hati Dara.
"Sayang, tadi itu nggak seperti yang kamu lihat."
Wajah Dara yang awalnya menegang, kini perlahan mulai mengendur, apa katanya, kamu? dalam hati dara bertanya-tanya.
Dara lalu kembali bersikap acuh, mendengarkan kelanjutan ucapan Arthur.
"Yang, tadi itu si Mella sepupu aku, sumpah!" Arthur mengangkat dua jari tangannya ke atas, dengan wajah polosnya, yang seketika membuat Dara hampir tertawa.
"Terus lo pikir gue percaya." balas Dara, dengan suara yang dibuat sejudes mungkin.
"Tanya aja tante Anna kalau nggak percaya."
"Ok, terus kenapa dari pagi lo diemin gue?"
"Kangen ya?" ucapnya dengan senyum menggoda.
Dara mendengus, "Pede banget sih lo."
"Sorry Ra, tadi aku sempet nyuekin kamu, tadi itu aku lagi nyoba melewati hari tanpa kamu, dan ternyata nggak bisa, aku udah terlalu sayang sama kamu Ra."
"Gue pikir lo nyuekin gue karena masalah sore itu."
"Itu juga salah satu alasannya sih!" ucapnya sambil terkekeh.
"Nyebelin!"
"Jadi udah di maafin belum nih?"
"Nggak!"
"Kalau lagi ngambek gini, kamu malah kelihatan lebih cantik tahu nggak?"
"Lo emang pantes di juluki playboy, pinter gombal!"
Arthur kembali terkekeh, "Kapan sih nganggep ucapan aku ini serius."
Dara menggidikan bahu.
"Ini kan masih siang Ra, jalan yuk!" tanpa menunggu persetujuan darinya, Arthur menarik tangan Dara untuk membawanya menaiki motor miliknya.
Dara memberengut kesal, dengan kelakuan Arthur yang menurutnya terkesan memaksa.
"kok ke sini lagi sih?" Dara memandang Arthur dengan tatapan tak terbaca.
Pasalnya, kini Arthur membawanya kembali ke tempat yang tadi ia kunjungi.
"Soalnya disini tuh satu-satunya tempat paling enak buat ngobrol."
"Emang lo mau ngomong apaan?"
Arthur mengambil sebelah tangan Dara, kemudian digenggamnya, lalu detik kemudian ia menciumnya dengan penuh kelembutan.
"Ra, kamu percaya nggak, kalau dari sekian banyak cewek yang pernah aku pacarin, cuma kamu yang buat aku segila ini, aku beneran cinta sama kamu Ra, dan demi apapun aku nggak mau kehilangan kamu."
Blush!
Wajah Dara memanas seketika, bahkan saat ini rasanya ia tak bisa bernafas dengan baik.
Jantungnya terpompa cepat, seakan hampir keluar dari tempatnya.
"Udah ah, gombal mulu dari tadi." ucap Dara di sela kegugupan yang tengah melandanya.
"Kayanya susah ya Ra, buat kamu percaya sama aku, apa kamu mau bukti nyata, yang bukan sekedar kata-kata."
Dara terdiam mencerna kata-kata yang di ucapkan oleh Arthur padanya, namun detik kemudian ia memilih tak peduli, dan membuka percakapan lain untuk mengalihkan.
"Ar?"
"Hmmm."
"Lo beneran nggak penasaran gitu sama kampung mati?"
Arthur memandangnya dengan sebelah alis yang terangkat.
"Kenapa sih Ra, bahasnya itu-itu terus hm?"
"S-sebenernya kemarin itu gue pergi kesana."
Arthur terperangah, lalu menatapnya dalam.
"Ar, gue yakin disana masih ada orang, karena gue sempet denger obrolan mereka."
Arthur terdiam, kembali dengan memandangi gadisnya, apa mungkin orang yang dimaksud Dara adalah orang yang sama yang pernah ia lihat, batin Arthur.
"Waktu itu gue sempet denger mereka ngomongin soal harta, dan tanda tangan, dari orang yang saat ini mereka sekap."
Deg!
"Kita bisa coba kesana lagi untuk memastikan Ar, lo percaya sama gue, gue nggak salah denger."
Arthur tersenyum, "Udah ya sayang, nggak usah mikirin yang aneh-aneh." ucap Arthur, ia tak ingin kekasihnya berlarut-larut memikirkan hal tersebut.
"Tapi Ar?" Dara bersikukuh.
"Entar aku akan coba cari tahu sendiri."
"Ar?" Dara menatapnya dengan tatapan memohon.
Arthur menghela nafas, bingung bagai mana cara menjelaskannya, karena kalau sampai dugaannya tentang Rafael benar, ia yakin semuanya tidak akan baik-baik saja.
"Sayang dengerin aku." Arthur kembali menggenggam tangan Dara, "Kamu itu seorang perempuan, nggak baik bahas kaya ginian yang." Arthur berbicara selembut mungkin, berharap Dara bisa mengerti.
"Tahu." Dara menepis kasar tangan Arthur.
"Pacarnya siapa sih ngambekan banget." goda Arthur, menjawil dagunya.
"Nggak usah ngerayu, gue masih kesel."
"Gemesin banget sih kamu sayang." ujarnya tak henti-hentinya menggoda Dara.
.
.
Setelah puas mengobrol yang berakhir dengan Dara yang ngambek padanya, kini Arthur membawa Dara pulang kerumahnya.
"Kok sepi, tante Anna kemana?" ucap Dara ketika sampai di rumah Arthur, dan tidak mendapati sosok tante Anna disana.
"Tante Anna kerja sayang, sini duduk, aku mau mandi dulu." Arthur menarik tangan Dara lalu mendudukannya diatas sofa.
10 menit sejak Arthur meninggalkannya di ruang tamu, laki-laki itu tak kunjung kembali, membuatnya kini merasa jenuh, dan memutuskan untuk berkeliling.
Dara melihat-lihat beberapa lukisan dan juga foto yang terpajang disana, hingga tatapannya tertuju pada foto terakhir yang berukuran besar dari yang lain.
Dara terdiam, mengingat-ingat orang yang berada didalam foto itu yang seperti tidak asing baginya.
Hingga suara Arthur yang baru saja datang, memecah konsentrasinya.
"Lihatin apa sayang?" Arthur menghampiri Dara yang masih berdiri didepan foto tersebut.
"I-ini F-foto siapa Ar?" ucapnya sedikit tergagap, pasalnya Arthur memeluk tubuhnya dari belakang, dengan wangi parfum yang menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
Rupanya setelah mandi, Arthur sempat menyemprotkan sedikit parfum di bajunya.
"Itu foto orang tua aku Ra." balasnya yang suaranya terdengar sendu.
"Papa kamu punya kembaran?" tanyanya, yang membuat Arthur sontak mengerutkan keningnya.
"Nggak ada sayang, tapi kalau sodara dia banyak, tapi setahu aku nggak ada yang mirip kek nya."
"Emangnya kenapa sayang?"
"Aku pernah lihat, tapi mungkin perasaan aku aja yang ngelihatnya sedikit mirip." lanjut Dara, yang kemudian diangguki oleh Arthur..
.
.
Apapun tq ya thor,aku suka smua karya mu sampai saat ke 3 karya mu yg ku baca ,semua cowok/suami begitu menghargai cewek/istri mereka,, bagus ,aku akan lanjut baca kisah si kembar Satya dan Satria deh setelah ini,,⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻