Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pertemuan Keluarga Berakhir Gaduh
Adji, sosok yang menjadi wajah dari Atmasena yang orang sebut sebagai salah satu pemegang ekonomi negara ini. Keterikatan dengan para pemegang pemerintahan dilakukanya demi mempermudah berjalanya bisnis. Saat ini pemerintah sangat membatasi apapun yang berbau asing demi memegang penuh kendali perekonomian. Begitupun Keluarga Atmasena yang sangat menjaga garis keturunannya.
Harus selalu patuh membuat Adji harus menjalani pernikahan hanya karena kepentingan bisnis. Hingga dia melakukan keputusan paling beresiko sebagai Atmasena untuk memperjuangkan seorang wanita berdarah asing. Pernikahan kedua yang tidak pernah diketahui siapapun. Hingga para tetua Atmasena mengetahuinya dan mereka memutuskan untuk merahasiakan garis keturunan ini selamanya. Sebagai hukuman untuk Adji, identitas dari garis kedua tidak pernah tercatat di negara, nama lengkap mereka hanya tertulis pada buku silsilah keluarga.
Kala dan Ardito terdiam melihat sosok tersebut diambang pintu. Ardito membungkukan badanya, lalu beranjak memberi ruang, agar bapak dan anak itu berbicara.
“Malam ini datanglah ke rumah utama, Bapak sudah atur pertemuan dengan Sabreena” ucap Adji.
Kala hanya diam menunggu Adji menjelaskan soal maksudnya.
“Eyang setuju kamu dengan Sabreena. Setelah pernikahan kalian, kamu, mommy dan Kirana akan tinggal di Amerika”
“Baiklah. Kalau memang rencana kalian sudah matang.”
“Bapak lakukan ini demi kebaikan kamu”
“Iya pilihan Bapak selalu yang terbaik untuk kami. Termasuk memilih agar dunia tidak mengenal siapa kami.”
“Kala akan datang. Silahkan! Bapak pasti sibuk banyak urusan” ucap Kala dengan membuka tangan kanan yang terlipat diatas meja ke arah pintu.
Adji menatap getir anaknya itu yang mengusirnya. Anaknya yang paling patuh, yang paling bisa diandalkan, bisa bersikap kasar seperti itu. Dia sudah melukainya begitu dalam kah?
***
“Mas Kala, Ibunya juga asal Belanda ya?”tanya Sabreena, pertanyaan terakhir yang terpikir olehnya.
“Iya” ucap Kala singkat.
“Hmm, Mas memang sediam ini ya?” tanya Sabreena lagi, kehabisan pertanyaan setelah segala topik lain hanya mendapat jawaban singkat.
“Tidak.”
“Saya tidak menyandang nama Atmasena. Lalu apa alasan kamu menerima lamaran keluarga saya?” tanya Kala. Bukan bertujuan mengakrabkan diri melainkan melancarkan maksudnya.
“Ah, aku diceritakan semua tentang Mas, oleh Pak Adji. Saya setuju karena sejauh ini tujuan hidup Mas Kala tidak ada yang bertentangan dengan tujuan hidup saya.” jawab Sabreena bersemangat.
Meski tidak menyandang nama Atmasena, tapi jiwa sebagai kelas atas tetap mengalir di darahnya. Bagaimana orang bersikap dan memanggilnya sama dengan para Atmasena dihormati.
“Bapak sudah menceritakan tentang keinginan saya untuk hanya menikahi wanita yang murni pribumi?”
“Ah, Pak Adji bilang justru Mas memilih aku karena latar belakang kita–sama” suaranya tercekat.
“Hmm” gumam Kala.
Kala sengaja menciptakan keheningan diantara mereka. Cukup lama agar Sabreena bisa meredakan gejolak yang terjadi, akibat fakta yang dia lontarkan.
“Apa yang kamu harapkan dalam sebuah pernikahan?”
“Cinta kasih untuk melewati rintangan hidup bersama selamanya. Kalau Mas?”
“Saya tidak merasakan cinta seperti yang kamu maksudkan, mungkin orang menyebut saya aromantik” jelas Kala.
“Lalu?”
“Hal yang mendasari hidup saya, dari pikiran saya bukan dari perasaan. Bukan berarti saya tidak merasa kasih sayang atau rasa sakit, tapi saya tidak merasakan jatuh cinta. Bagaimana jika setelah menikah dengan saya, saya tidak mencintai kamu?” tanya Kala
“Bagaimana jika saya menikahi kamu atas dasar Bapak saya yang menginginkan pernikahan ini?” lanjut mempertegas pertanyaanya.
“Sedih, aku pasti sedih, jika mengetahui itu setelah kita menikah.”
Sabreena benar-benar seperti terjebak dengan pilihanya sendiri. Jika waktu bisa diputar kembali dia akan meminta waktu untuk mengenal dahulu sebelum langsung menerima. Bagaimana Pak Adji menceritakan semuanya begitu yakin dia akan cocok, akhirnya dengan mudah menerima lamaran begitu saja. Tapi akan jauh lebih menyakitkan jika fakta ini dia ketahui lebih lambat lagi.
“Aku akan bicara lagi dengan Keluarga Mas, karena apa yang aku setujui ternyata tidak seperti kenyataan di sini.”
“Saya yang akan bicara, ini kesalahan saya karena pribadi ini yang kurang sempurna untuk mendampingimu”
“Tidak perlu Mas, aku yang akan bicara. Aku–memahami bagaimana posisi Mas Kala di keluarga Atmasena. Aku hiks… ah maaf.” isak Sabreena tanpa sadar keluar saat bicara.
“Aku tidak ingin Mas semakin sulit di sini” lanjutnya setelah menenangkan diri beberapa saat.
“Kata-kata saya begitu menyakiti kamu ya? Maafkan saya. Apa yang saya bisa lakukan untuk menenangkan kamu? Sebelum kembali menemui semua”
“Peluk? Apa bisa? Sebagai teman tentu saja” pinta Sabreena.
Bahkan tanpa menjadi yang utama di keluarganya pun, para wanita dengan mudahnya ingin menjadi pendampingnya. Tak sedikit juga yang datang dengan cara murahan.
Tanpa menjawab Kala langsung membawa Sabreena kepelukanya. Pelukan seorang teman, seperti yang dia minta.
Sabrena wanita yang baik, juga dari keluarga terhormat. Kala jelas tidak ingin menghancurkan hubungan yang terjalin baik denga Atmasena. Yang pasti langkahnya sampai saat ini berjalan lancar.
***
“Dari awal hadirnya kamu ke dunia itu memang sudah salah” tunjuk Eyang Atmasena.
“Kami membangun ini semua dari nol, kamu seenaknya membuat kita malu di hadapan keluarga Sabreena” ucap Roso, salah satu tetua yang turut hadir di sana.
“Kamu itu sudah dipilihkan calon yang terbaik, disiapkan kebutuhanmu, tanpa harus susah payah bekerja. Kakakmu yang akan… . “ ucap Ratna istri pertama Adji.
Semua menoleh ke arahnya. Para perempuan Atmasena biasanya akan mundur dari pembicaraan laki-laki tapi hanya Ratna yang begitu beraninya ikut dalam pembicaraan mereka.
“Mungkin semua lupa peran saya sebelum dilengserkan. Hasil pemikiran saya bahakan membantu usaha adik-adik saya membuka bisnis mereka. Setelah saya dilengserkan lihat ini. Saya punya banyak bukti dan nama-nama yang terlibat disini. Bahkan ada diantaranya pelaku pelecehan seksual.” jelas Kala sambil mengeluarkan kertas dan flashdisk dari jasnya.
“Ini saya juga punya salinan rekaman tidak pantas bagi kerabat dari orang yang menyandang nama belakang Atmasena.” ucap Kala tegas. Menunjukan rekaman video mesum Pak Kadir, kepada Ratna.
“Posisi saya di bawah pun saya tetap bisa mendukung usaha keluarga saya dengan membrantas kerabat kita yang korup.” dengan lantang sorot matanya ditujukan ke Eyangnya.
“Maaf Eyang, Kala lancang. Kala berhak memutuskan apapun di hidup Kala, termasuk pendamping hidup Kala. Eyang tidak perlu khawatir Kala mencoreng nama Atmasena, karena sampai sekarang pun yang teradi sebaliknya”
“Kamu! Beraninya kamu bicara banyak! Kamu diajarkan budaya membangkang oleh ibumu itu?” ucap Ratna.
Ratna kembali bersuara namun tak satupun laki-laki di sana yang menanggapi
“Maaf Eyang, Rakha lancang. Tapi Mas Kala memang banyak membantu kami. Kami bahkan membutuhkan Mas Kala di sini untuk membimbing kami.” ucap Rakha
"Kita yang muda ini tidak bermaksud membangkang, tapi kami hanya ingin usaha yang Eyang wariskan ke kami akan berlanjut sampai generasi-generasi berikutnya. Sebab itu Aksara pribadi tetap menginginkan Mas Kala yang akan mengayomi kami." ucap Aksara.
"Entah, apakah memang sudah diatur sedemikian, hingga Mas Kala harus dijodohkan dengan Sabreena? Kalau bisa dengan wanita asli sini saja, setidaknya pemerintah tetap bersimpati saat Mas Kala menggantikan Pakde Adji." ucap Ringga.
“Keluar kamu dari rumah ini!” Adji mengusir dengan keras, hingga semua yang ada di sana terdiam.
Kala bangkit lalu membungkukan badanya hormat, lalu segera keluar dari rumah utama.
“Adji sudah pastikan keluarga Sabreena tidak akan memutus hubungan baik dengan kita. Keputusan Sabreena membatalkan pertunangan ini murni karena berubah pikiran, agar berfokus melanjutkan studi di luar negeri.” bela Adji.
“Tetap saja, itu semua tidak akan menghapus kesalahanmu di masa lalu.”
“Nasihati istrimu untuk tidak lagi ikut dalam pembicaraan kami” ucap Eyang menatap Adji, kemudian meninggalkan ruangan makan. Tanpa Adji sampaikan pun Ratna sudah mendengar itu.
***
“Lo ngapain tadi di taman? bisa segitunya Sabreena membela lo?”
“Nggak melakukan apapun, bicara saja”
Ardito memutar bola matanya jengah. Huh, manusia satu ini.
“Lo udah gila ya? Kalo semua aset Atmasena ditarik lo mau gimana?” tanya Ardito menuangkan whisky ke gelas Kala.
“Semua masih dalam kendali gue”
Ting
Denting dua gelas beradu. Whiskey satu shot tandas.
“Kalo lo jatuh miskin gimana?
“Gak perlu gimana-gimana. Faktanya kan gak miskin”
“Besok pagi lo siapkan uang pesangon Nareya. Bawa cash seratus juta”
“Lo udah kontak dia? Lah seratus jutanya buat apa?”
“Tuang lagi…” pinta Kala agar Ardito menuangkan whisky kembali