Cinta harus menghadapi bosnya yang super galak dan otoriter. Fakta lain adalah bosnya orang yang menyebabkannya hamil.
Dia terkejut ketika mengetahui kenyataan bahwa bosnya adalah tunangan kakaknya sendiri. Dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan kakaknya. Namun, kehamilannya tidak bisa ditutupi selamanya. Keputusan apa yang harus dia ambil nantinya? Berkata jujur atau pergi jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Buruk
"Aku baru menyadari jika kau menganggap ku seorang pria yang kasar,"
Cinta memalingkan wajahnya, melihat ke arah luar jendela mobil. Tangan Cristian meraih satu tangan Cinta.
"Jika aku berubah maukah kau memulai hubungan ini?" tanya Cristian. Cinta masih saja diam seribu bahasa. Dia lalu menarik tangannya dan menyembunyikannya. Sejenak mereka saling diam. Larut dalam pikiran masing-masing.
"Tidak semudah itu melawan arus ombak, butuh keberanian dan nyali yang besar. Sayangnya, aku tidak punya keduanya."
Cristian memandang Cinta. "Kalau begitu naiklah ke mahligai cintaku dan kita lawan arus ombak itu sama-sama."
"Aku dan kamu dua orang yang berbeda. Kau belum mengenal siapa diriku dengan baik. Aku berada dalam tekanan hidup yang belum kau ketahui dan aku tidak bisa melewati garis api hanya untuk sampai padamu. Kenapa? Karena aku sendiri tidak percaya padamu sepenuhnya. Lalu, bagaimana aku bisa mempercayakan diriku pada seseorang yang aku ragukan?"
"Kau meragukan diriku Cinta?" kata Cristian dia memegang stir dengan kuat untuk mengatasi kemarahannya.
Cinta terdiam, enggan untuk menjawab pertanyaan Cristian.
"Kau benar? Kau butuh suatu pembuktian bukan kata-kata," kata Cristian kemudian.
"Tetaplah menikah dengan kakakku anggap ini hanya sebuah kesalahan semata," ucap Cinta lagi.
"Aku pastikan kau akan menyesal dengan permintaanmu itu," ucap Cristian dengan mengetatkan rahangnya.
"Aku akan lebih menyesal jika melihat air mata keluargaku keluar hanya karena ulahku," jawab Cinta.
"Dan biarkan aku sendiri yang menahan sakitnya?"
Akhirnya Cristian mengantarkan Cinta hingga ke rumahnya. Bella yang menyambut kedatangan Cristian heran melihat kebersamaan mereka. Riska menatap dua sejoli ini dengan pandangan curiga.
"Kak," panggil Cinta.
"Kenapa kalian datang bersama dan ini juga hampir petang," tanya Bella menyambut Cristian dengan pelukan dan ciuman di pipi Cristian.
"Mobil Cinta tadi bermasalah jadi aku menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Lalu, aku membawanya ke rumah untuk makan siang karena ibu menungguku. Sebenarnya ibu menunggu kita berdua hanya kau tidak bisa datang," terang Cristian melihat ke arah Cinta yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf tadi aku mempunyai pertemuan penting dengan klien. Dia menginginkanku sendiri yang datang menemuinya dan menerangkan tentang desain baju milik perusahaan. Jika dia cocok maka dia ingin bekerja sama dengan perusahaan milik kami," jelas Cinta.
"Dan dia menjelaskannya dengan baik," tambah Riska tersenyum.
"Aku tahu jika kau memang yang terbaik," jawab Cristian.
Seorang pelayan masuk membawa minuman. Bella lalu mempersilahkan Cristian untuk minum.
"Sebenarnya aku merasa sedikit janggal?" kata Cristian.
Bella mengernyitkan dahinya, "Apa uang janggal?"
"Mengapa Cinta tidak bekerja di perusahaan milik keluarga saja?" tanya Cristian.
Bella menarik dua sudut bibirnya, tersenyum.
"Katanya dia ingin bekerja di tempat lain karena itu sebuah tantangan. Dia bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya, orang tidak melihat siapa dia tapi melihat cara kerja dan hasil.yang bisa dia berikan."
"Wow! Pemikiran yang hebat, dia tipe orang yang suka membuktikan bukan yang suka mencari kenyamanan," tanggap Cristian. Riska lalu pergi, membiarkan mereka berdua saling berbincang bebas.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Bella.
"Keadaan ibu lebih baik setelah tahu jika kita akan menikah?" jawab Cristian. Mereka berdua lalu memulai obrolan. Dari kaca jendela Cristian bisa melihat motor Ardi memasuki halaman rumah. Lalu dia melihat Cinta turun dari tangga dengan setengah berlari melewati dua orang itu dan keluar ke arah Ardi. Cinta lalu memeluk Ardi erat. Tangan Cristian mengepal berusaha menyembunyikan kemarahannya.
Satu ciuman mendarat di pipi Ardi membuat wajah Cristian merah padam. Pria itu memalingkan mukanya. Bella yang melihat kedua sejoli itu lalu tersenyum. Dia tidak sadar ekspresi tidak senang dari Cristian.
"Mereka sangat serasi bukan? Ayah sudah merestui hubungan keduanya. Sepertinya adikku akan menyusul kita menikah," celetuk Bella.
Cristian menatapnya tajam. Bella terkejut melihat kemarahan di wajah Cristian.
"Aku mau pulang dulu. Maaf aku ada pertemuan dengan teman-temanku jam tujuh malam nanti." Cristian lalu mencium pipi Bella dan melangkah pergi tanpa membiarkan wanita itu mengucap satu katapun. Bella sendiri bingung, ada apa dengan Cristian? pikirnya. Crishtian memakai kaca matanya lagi dan berjalan melewati dua sejoli yang sedang berbincang. Dia melirik mereka dengan tajam namun tidak terlihat oleh tampilan kaca mata itu.
Ardi tersenyum dan memberi hormat sewaktu Cristian melewati mereka. Namun, pria itu cuek dan terlihat angkuh, berjalan saja tanpa mau menoleh sedikitpun.
"Kau membelikanku pakaian, aku akan memakainya nanti biar kau bisa melihatnya," kata Cinta riang yang masih bisa terdengar di telinga Cristian.
Wanita itu sedang melihat ke dalam paper bag.
"Kau selalu tahu apa yang kusukai Ardi, aku menyayangimu," ucap Cinta lagi.
Cristian masuk ke dalam mobilnya dan menutup dengan keras sehingga menimbulkan suara yang mengagetkan semua orang. Cinta tetap cuek saja tetap berbincang dengan Ardi. Bella yang melihat Cristian bingung melihatnya.
Cristian melihat Cinta sedikit melompat bahagia dan memeluk Ardi lagi. Pria itu memukul stir mobilnya dengan keras. Harga dirinya sebagai seorang pria kini jatuh. Dia kalah dengan seorang Ardi yang hanya anak pembantu saja. Cristian tidak terima hal itu. Cinta dan anaknya hanya miliknya. Batin Cristian.
Pria itu lalu menyalakan mobilnya dan mulai pergi dari rumah itu. "Cinta aku berjanji, kau akan menderita karena menolak cintaku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut dan datang untuk mengemis cintaku."
Ardi sendiri terkejut dengan perlakuan Cinta yang berbeda dari biasanya tapi dia menyukainya. Ciuman pipi Cinta masih terasa panas di pipinya dan wanita itu mencium pipinya lagi untuk kedua kalinya. Namun melihat Cristian yang marah dan pergi dengan suara gas yang nyaring membuat dia curiga jika Cinta melakukan ini karena pria itu.
"Kau baru pulang Cristian?" sapa Bella. Cristian menganggukkan kepala dan memberi hormat.
"Adikku sangat merindukan dirimu, selama kau pergi dia mengurung dirinya di kamar saja." Ardi melihat ke arah Cinta.
"Aku sudah keluar dari pekerjaanku," jawab Cinta.
Ardi menatap curiga pada Cinta.
"Dan dia keluar karena Cristian memperlakukannya berbeda ketika tahu jika dia itu adikku? Aneh bukan?" tanya Bella tersenyum.
Cinta menarik dua alisnya ke atas sambil tersenyum.
Tidak dengan Ardi dia merasa janggal dan dia ingin menanyakan ini nanti pada Cinta.
"Ya, sudah aku masuk dulu. Kalian bisa saling melepas rindu berdua," ucap Bella lalu meninggalkan mereka berdua.
"Cinta ada apa? Aku tahu ada yang tidak beres?" tanya Ardi langsung. Mata Cinta merebak dan berembun. Dia kembali memeluk Ardi dan menangis dalam dadanya.
"Kau selalu tahu apa yang kurasakan," ucap Cinta.
Ardi mengelus punggung Cinta.
"Katakan apa yang terjadi. Mengapa kau menangis seperti ini?" tanya Ardi.
"Aku telah melakukan suatu kesalahan yang fatal dengan Cristian dan aku tidak tahu harus berbuat apa?" ucap Cinta.
"Apa maksudmu?" tanya Ardi gugup.
"Aku pernah melakukan hubungan lebih dengannya dan aku tidak tahu apakah hubungan itu menyebabkan ku hamil atau tidak?" isak lirih Cinta.
Perkataan Cinta bagai sambaran petir pada diri Ardi. Dia baru pulang dari luar kota dan mendengar berita buruk ini.
ibarat lagu "tanda tandanya" jatuh cinta