NovelToon NovelToon
Lelakimu

Lelakimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Dikelilingi wanita cantik / Cinta beda status / Tamat
Popularitas:154.3k
Nilai: 5
Nama Author: syafridawati

Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.

Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.

Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.

Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.

Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....

Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerinduan

Lili sudah menjejakkan kakinya di Kota Jakarta, ia kembali pulang ke rumahnya. Sudah lebih dari sepuluh hari ia di Kota Jakarta, pekerjaan perusahaannya menyita banyak waktu hingga ia terlambat pulang, seperti yang ia janjikan pada suaminya, Mak Upik dan para guru. Sudah enam bulan, ia tidak pulang pekerjaannya menumpuk.

Lili menandatangani berkas-berkas penting, kontrak-kontrak kerja yang butuh tanda tangannya, peninjauan proyek. Belum lagi rapat dengan kolega-koleganya yang membuat pusing kepala.

Walaupun, ia tidak terlalu banyak berperan, yang banyak berperan adalah Mang Kardi dan Om andrian.

"Lili ... Apakah kamu ingin kembali lagi, ke pedalaman itu? Apakah empat tahun tidak cukup bagimu untuk mengabdi?" tanya Om Andrian.

"Aku senang di sana, Om. Di sini ada Om dan Mang Kardi, kalian sudah lebih dari cukup." Jawab Lili.

"Akh, Om. Andaikan Om tahu, aku sudah menikah. Apakah engkau akan marah? Aku mencintai Ucok dan aku ingin pulang, aku sudah rindu pada suamiku." Batin Lili termenung.

"Lili ... Defri sudah lama pergi, mulailah hidupmu yang baru. Cobalah dekat dengan pria, Nak." Saran Andrian.

"Iya, Om. Aku ... Aku lagi dekat dengan seorang pria, Om. Tapi seorang pria biasa, yang punya banyak kelebihan dan aku sangat bahagia, Om." Ucap Lili.

"Benarkah? Syukurlah! om senang mendengarnya. Kenalkanlah pada om kamu ini." Andrian menegakkan tubuhnya, ia melihat binar kebahagiaan di wajah Lili di jari manis Lili, sudah melingkar seutas cicin emas.

"Apakah Lili sudah menikah? Hingga enam bulan ini ia baru kembali? Semoga pria yang bersamanya, adalah pria yang baik, seperti Defri." Harapan Andrian, ia tidak ingin Lili terluka lagi.

"Bila kalian akan menikah, katakanlah pada om! Jangan selalu merasa sendiri." Ucap Andrian.

Andrian Munthe, seorang pria berdarah Batak. Ia seorang pengusaha sukses dengan berbagai bidang usaha, salah satunya adalah perhotelan dan perkebunan kelapa sawitnya, hampir di seluruh pulau di Indonesia. Pria bijaksana walaupun, berwajah sedikit sangar tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Ia hanya memiliki seorang putra tampan yang sedang ia hukum dan putranya adalah Dylan Andrian Munthe.

Andrian tahu, diam-diam istri cantik nan lembutnya selalu menangis di dalam setiap sujudnya. Namun, Azizah istrinya, tidak berani membantah ataupun mengatakan bahwa ia merindukan putra semata wayang mereka.

Andrian juga merindukan Dylan. Namun, ia tidak ingin Dylan menjadi pria yang selalu bermain-main dan tidak bertanggung jawab. Ia tahu putranya memiliki segudang prestasi dan kepintaran, hingga ia selalu bermalas-malasan. Ia tahu putranya memiliki situs online game tersendiri, bahkan putranya seorang gamer dunia.

Tapi bukan itu, yang diinginkan Andrian. Ia ingin putranya berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat, bukan hanya hidup di dunia maya dan gamenya saja.

Andrian yakin, di bawah kendali putranya semua bisnisnya akan maju. Untuk itulah ia menghukum putranya dengan membuangnya jauh ke pedalaman. Di mana Dylan tidak akan bisa menggunakan internet, tidak bisa menggunakan hand phone, tidak bisa menggunakan mobil, apa pun itu. Andrian ingin putranya merasakan bagaimana susahnya kala hidup menjadi orang di pedalaman, belajar bagaimana cara mereka hidup?

Walaupun, Dylan tidak tahu bahwa Andrian membuangnya ke perkebunan miliknya sendiri. Begitu juga dengan seluruh stafnya, tidak ada yang tahu sama sekali, selain Andrian dan Azizah.

"Lili ... Jenguklah Tantemu, di rumah. Ia sedang sakit merindukan putranya" Ucap Andrian.

"Memang ... Dylan tidak pulang-pulang, Om? " Tanya Lili.

"Enam bulan yang lalu, om menghukumnya. Ia terjerat narkoba walaupun, hasil test urine mengatakan ia bersih dari narkoba dan om sudah menyelidiki, ia hanya dijebak teman-temannya." Andrian mengubah posisi duduknya.

"Jadi ... Aku menghukumnya, dengan membuangnya jauh di pedalaman agar dia bisa belajar, bagaimana dia bisa bertahan hidup di pedalaman? Masa Dylan kalah denganmu? " Ucap Andrian tersenyum.

"Tetapi, Om. Bukankah Dylan tidak pernah bekerja? Bagaimana ia bisa bertahan hidup, Om?" Lili merasa khawatir walaupun, ia sendiri tidak mengenal siapa Dylan sebenarnya.

"Dylan, pada dasarnya anak yang pintar, baik, om yakin. Ia akan cepat belajar! " Ucap Andrian

" Jadi Om ... Berapa lama Om, menghukumnya? " Tanya Lili.

"Sampai dia sendiri merasa cukup layak, untuk pulang. Aku mengenal putraku, Nak." Jawab Andrian.

"Baiklah, Om. Nanti aku mampir ke rumah, besok aku akan pulang ke pedalaman lagi. " Ucap Lili.

"Menginap saja di rumah, besok ... Biar om dan Tantemu yang mengantar ke bandara." Usul Andrian.

"Baik, Om! " Lili tersenyum girang.

Lili sudah mengepak seluruh barang-barangnya, yang akan ia bawa pulang ke Puak.

Ia membelikan beberapa setel pakaian untuk suaminya, Mak Upik dan berbagai peralatan sekolah, makanan, minuman, juga obat-obatan.

"Ucok, pasti sangat membutuhkan semua obat-obat ini, ohh ... Aku sangat rindu dengan suamiku. Akh, kami tidak memiliki satu foto pun." Batin Lili, mengepak semua obat-obatan, yang direkomendasikan teman sekolahnya yang sekaligus seorang dokter.

Lili di antar Mang Kardi, ke rumah Andrian. Walaupun, posisi Mang Kardi sudah menjadi Wakil CEO, tapi ia selalu saja mengantar Lili ke mana pun. Karena Mang Kardi selalu berpikir, Lili masih kecil.

"Non, hati-hatilah di sana! Jangan terlalu lama di sana terus, Non. Ingat ... Perusahaan! Almarhum Tuan, begitu gigihnya membangun perusahaan itu, Non." Nasihat Mang Kardi.

"Iya, Mang. Sabar ya, Mang!" Balas Lili.

Lili memandang ke luar jendela mobil, hiruk-pikuknya kepadatan kota. Jalanan penuh debu, suara ribut klakson mobil maupun sepeda motor yang ingin berebut waktu.

"Hah, terlalu bising. Aku rindu Puak dengan segala kedamaian dan kenyamanannya. Aku rindu penduduknya,

aku juga rindu suamiku dan Emak." Lili menyandarkan tubuhnya di jok penumpang.

Pikirannya, menerawang mengingat suaminya. Wajah Dylan, saat ia tersenyum, rambutnya yang selalu berantakan, pakaiannya selalu awut-awutan. Walaupun, memakai apa pun ia selalu tampan.

"Akh, aku rindu Ucok!" batin Lili merasa hampa berjauhan dengan Dylan.

Lili mengingat malam-malam panjang yang indah yang mereka lewatkan bersama, lengan kokoh yang selalu menjadi bantal tidurnya mereka tidur saling berpelukan.

Lili mengingat semua perhatian, kasih sayang dan cinta dari suaminya.

"Akh, aku ingin cepat pulang .... " batinnya sudah tidak sabar, hanya jarak dan waktu yang harus membuat ia bersabar.

Lili rindu Mak Upik, yang selalu menemaninya, menepuk punggungnya, atau sekedar menggenggam tangannya, bila Lili sedang gelisah atau galau.

Lili melirik Mang Kardi, pria ini menemaninya sejak ia masih di dalam rahim maminya.

"Papi, Mami, walaupun kalian meninggalkanku lebih dulu, tapi kalian juga sudah memilih Mang Kardi yang baik ini untuk menemani putrimu." Batin Lili.

Mang Kardi tidak banyak bicara namun, memahami segala hal tentang Lili.

"Mang, apakah Angga sudah selesai kuliahnya? " Tanya Lili. Ingin mengetahui kabar putra Mang Kardi yang sudah seperti adiknya sendiri.

"Sudah, Non. Tapi ia diminta perusahan M, jadi untuk sementara ia di Bangkok dulu, Non." Ucap Mang Kardi.

"Ooo ... Syukurlah!" Ucap Lili.

Laju mobil sedikit melambat, memasuki rumah sebuah yang terletak sedikit jauh ke pinggir kota.

Rumah besar bak istana, berpagar besi stainles. Dengan berbagai ragam bunga anggrek kesukaan Tante Azizah. Kolam renang yang luas, pohon mangga dan berbagai pohon buah kecil berbaris di halaman samping rumah. Belum lagi ART yang berjumlah puluhan orang.

"Padahal penghuni rumah hanya tiga orang, apa lagi putranya Dylan juga jarang pulang." Ucap Lili di dalam hati.

Pertama kali ia datang ke rumah ini, bersama dengan Defri. Defri ingin mengenalkan Lili kepada keluarga Tantenya.

"Lili, cantik! Aku akan mengenalkanmu kepada saudara kembarku yang beda rahim. " Ucapnya sambil tertawa.

"Memang ada yang begituan? " Ucap Lili, mengenang sepenggal kisah masa lalunya.

Sejak ada Dylan, Lili sedikit demi sedikit mulai ikhlas melepas Defri.

Pertama kali, ia menginjakkan kakinya di Istana Om Andrian. Ia begitu terpesona, melihat keindahan rumah ini. Hanya sayangnya, sampai detik ini pun,

Lili tetap tidak pernah mengenal putra

Andrian. Dylan tidak pernah di rumah, kuliahnya belum kelar juga ia selalu bermain-main di luaran.

Di rumah bak istana itu, hanya menyimpan foto lama Dylan. Saat ia masih bayi, belajar berjalan, saat TK, SD, SMP, SMU, hanya itu. Selain itu, setiap ia berpose selalu tidak pernah rapi atau fokus. Ia selalu menoleh ke kiri atau ke kanannya. Terkadang ia membelakangi kamera.

Setelah ia lulus SMU, ia tidak memiliki satu foto pun lagi.

Lili mengenang saat pertama kali, ia datang ke istana megah ini.

Bersambung ....

Terima kasih, jangan lupa like, comen dan vote-nya.🤗🤗

1
Suyatno Galih
ceritanya kampung terisolir jadi heboh dg dtgnya toke sawit yg mau mbangun kampung, semangat
Vita Anggraini
ditunggu thor..... kelanjutannya okeeee
syafridawati: insya Allah kak
total 1 replies
Vita Anggraini
gank Kabir kreennn aku udah baca samai tamat happy ending.... pulau kematian
syafridawati: makasih kak
total 1 replies
Vita Anggraini
hahaha aku yg baca aja ketawa....
syafridawati: hahaha
total 1 replies
Vita Anggraini
papa Andrian kreeennn
syafridawati: ya aku juga suka kisah ini sebenarnya
total 1 replies
Vita Anggraini
kreennnn jln cetitanya
syafridawati: terima kasih kak, tapi itu pun nggak selesai season keduanya belum buat juga
total 1 replies
Vita Anggraini
edan Rawin
Tyara Lantobelo Simal
Lanjut Thor
menarik
syafridawati: mungkin suatu saat nanti aku buat sekuelnya. sekarang lagi sibuk
total 1 replies
Auditor
hm gk bisa brkata kata ih 😊
Hiatus
semangat kak
PanggilsajaKanjengRatu
Hy kak, yuk mampir di novel baruku "Lihat Aku, Dan buka Hatimu"
Nm@
"My Brother" hadir, Kak!
Juefioritah Fun Min Wah
semangat sis..saya like..
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
4 like+rate 5 dan komen sudah mendarat kaka😘😘
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
like
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
😍😘
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
Hai kaka, aleena mampir nih😍
Hiatus
aku mampir kak
Nona Kos Anjani
like😍
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
Tante kesayangan tuan muda mampir, semangat up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!