follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Salah Cinta
*siapin tissu, lap, atau kanebo ya guys*
Ddrrtttt...Ddrrttttt...Ddrrtttt...
Cinta terbangun karena suara ponsel yang terus bergetar. Dia celingukan mencari arah suara ponsel tapi tidak menemukannya, hingga suaranya sudah berhenti. Lantas, dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16:30. Matanya membulat, bisa - bisanya dia ketiduran di apartemen Rangga. Apalagi kini dia menyadari Rangga masih tertidur dengan menindih tubuhnya. Dia merasa pegal di seluruh badannya tapi, melihat Rangga yang masih terlelap membuatnya enggan membangunkan pria itu.
Cinta tersenyum memperhatikan wajah Rangga yang sedang terlelap di dadanya. Dia mengusap bibir Rangga dengan telunjuknya. Merasai bibir yang biasa menciumnya itu.
Merasa ada yang memainkan bibirnya, Rangga menggeliat. Matanya mengerjap pelan. Dia mengecup telunjuk Cinta yang memainkan bibirnya, lalu menengok ke arah Cinta yang sedang tersenyum menatapnya.
"Sudah bangun?" Cinta tersenyum menggodanya.
"Hm, jam berapa sekarang?" Rangga bertanya dengan suara serak, ciri khas orang bangun tidur.
"Tuh!" Cinta menunjuk jam di atas dinding.
Rangga melihat sekilas lalu kembali menyusupkan wajahnya ke leher Cinta dan memeluknya erat.
"Tubuhmu sangat hangat dan wangi Cinta. Aku menyukai aroma tubuhmu." Rangga ingin menghirup aroma tubuh gadis itu sebanyak - banyaknya.
"Apa kamu sedang menggodaku?" kelakar Cinta. "Udah ah, geli tahu!" Cinta merasa ada gelenyar aneh setiap hembusan nafas Rangga menyapu lehernya.
"Emang iya?" Rangga ikut terkekeh.
"He-eh," Cinta mengusap rahang Rangga.
"Kalau gini geli gak?" Rangga memainkan lidahnya di sana.
"Hei, udah dong," Cinta tergelak dengan kelakuannya.
Rangga menghentikan aksinya. Dia menumpukan kedua telapak tangannya pada sofa untuk menopang tubuhnya. Dirapikannya anak rambut yang menutupi wajah Cinta. Kemudian ditatapnya lamat - lamat wajah gadis itu.
"Aku mencintaimu!" Cinta menangkup kedua rahang Rangga.
Rangga membalas ungkapan cinta Cinta dengan senyuman. Senyuman yang berbeda dari yang biasa dilihat Cinta.
Cinta mengerutkan dahinya, "Ada apa?" Cinta menatapnya heran. Ini pertama kalinya dia melihat Rangga sekalem itu.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" goda Cinta. Untuk pertama kalinya Cinta menyatakan perasaannya tapi, Rangga hanya bergeming, tidak membalas ungkapan cintanya.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Rangga menjawab akhirnya. Dia mengecup keningnya, kedua matanya, hidungnya, dan bibirnya.
"Tapi, kenapa aku merasa kamu berbeda?" Cinta melihat guratan kesedihan di wajah pria itu. Ini pertama kalinya Cinta melihat Rangga yang seperti itu, berbeda dari biasanya yang selalu ceria.
Namun, lagi - lagi Rangga hanya tersenyum tipis. Kemudian terdengar suara ponsel bergetar kembali. Rangga bangkit dan mengambil ponsel dari saku jasnya.
"Oya lupa, daritadi ponsel kamu bergetar terus." Cinta berusaha menegakkan badannya. Dia merasakan pegal di seluruh badan.
"Halo Yah," Rangga mengangkat telpon yang ternyata dari Reyhan.
"....."
"Di apartemen Yah,"
"....."
"Iya, Cinta sama aku,"
"....."
"Hm, baik. Kami segera ke sana." Rangga mematikan ponselnya. Wajahnya seketika kembali muram.
"Siapa?" Cinta mengusap wajah Rangga.
"Ayah. Ayah meminta kita pulang ke rumahmu sekarang."
"Jadi, ayahmu ada di rumahku?"
"Hm," Rangga menghela nafas berat. "Boleh aku minta sesuatu? Mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya," wajahnya benar - benar terlihat sendu. Dia menatap Cinta dengan penuh permohonan.
"Apa?" tanya Cinta penasaran. Dia tidak mengerti, apa yang terjadi padanya. Rangga yang tadinya sangat ceria tapi, setelah bertemu Diana jadi berubah garang, dan sekarang, hanya nampak raut kesedihan di wajahnya.
"Dengar Cinta, apapun yang terjadi diantara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai, iya kan?"
Cinta hanya mengangguk.
Rangga menangkup kedua rahang Cinta. Dia mendekatkan bibir mereka dan meng*lumnya pelan. Dil*matnya bibir itu dengan lembut. Sangat lembut.
Entah kenapa air mata Cinta menetes, dia ingin menangis tanpa tau sebabnya. Mungkin dia terharu dengan ucapan Rangga barusan. Dia menutup matanya, menikmati ciuman lembut dan hangat yang Rangga berikan dengan sedikit rasa asin karena bercampur air mata keduanya.
Sementara Rangga hanya ingin menyalurkan hasratnya, menyentuh Cinta dengan perasaan menjijikan yang menggrogoti jiwanya. Dia merasa menjadi pendosa sekarang. Dia ingin marah dan mengutuk dirinya sendiri atas kekurang ajarannya ini.
Rangga melepas p*nggutannya dari bibir Cinta, dia sadar dia tidak bisa berlama - lama menyentuh Cinta. Jika tidak, dia bisa melakukan dosa yang lebih besar nantinya.
"Cukup!" Rangga menyatukan kening mereka. "kita harus pulang sekarang. Ayah dan Ibu sudah menunggu."
Rangga mengelus rambut Cinta, dia tersenyum miris, hatinya kini menjerit. Banyak hal yang ingin dia ungkapkan, banyak perasaan yang ingin dia luapkan, dan banyak air mata yang ingin dia tumpahkan. Namun, tidak di depan Cinta. Sekuat mungkin dia berusaha mengendalikannya. Dia tidak mau membuat Cinta merasa hancur seperti dirinya.
...****************...
Setibanya di rumah Cinta, Rangga meminta Cinta untuk masuk lebih dulu sedangkan dirinya akan pergi membeli sesuatu sebentar. Cinta mengiyakan dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Reyhan langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Cinta begitu melihat gadis itu memasuki ruangan tempat dirinya bersama Diana dan Bella berada.
"Ayah sangat merindukanmu Sayang, maafkan ayah karena tidak mengenalimu selama ini." Reyhan terisak di bahu Cinta.
"Ayah?" Cinta menatap heran ke arah Diana.
Diana mengangguk sembari meneteskan air mata bahagia. Akhirnya dia bisa melihat putrinya bertemu Reyhan, ayah kandungnya.
"Jadi maksudnya, Tuan adalah ayah kandungku?" tanya Cinta harap - harap cemas.
Reyhan melonggarkan pelukannya, "Iya Sayang. aku adalah ayah kandungmu dan kamu adalah putri kandungku." Reyhan tersenyum sumringah sembari memegang kedua pundak gadis itu.
Nafas Cinta terasa sesak, dadanya bergemuruh hebat. Keringat dingin mengucur dari dahinya, dia merasa lemas. Seluruh badannya terasa kaku untuk digerakkan.
Ayah? Tuan Reyhan adalah ayahku? Lalu...Adipati....
Matanya kini berkaca - kaca. Ucapan Reyhan barusan bagaikan gemuruh ombak yang datang menerjangnya dengan tiba - tiba, lalu menghempaskannya kembali ke tengah lautan. Sehingga, Cinta kini merasa terombang - ambing. Dia tidak mampu berkata apapun. Hanya air mata yang mulai menetes di wajahnya.
Sementara itu,
Rangga berlari menuju pantai. Hatinya terasa kosong. Dia terguncang saat mengetahui kebenaran kalau Cinta adalah adiknya, anak dari ayahnya juga. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
Seharusnya dia tidak perlu bertemu Cinta. Seharusnya mereka tidak harus saling mengenal. Seharusnya mereka tidak harus saling mencintai.
Rangga memegangi dadanya dengan bibir yang bergetar menahan rasa sesak di dada. Dia ingin menangis sekarang. Sungguh.
"Aarrrggghhh!"
Rangga berteriak, meluapkan emosinya pada alam semesta. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Dia berlutut sembari menangis sejadinya.
"Kenapa ini harus terjadi padaku?" teriaknya.
"Kenapa ini harus terjadi di saat aku benar - benar mencintai seseorang?"
"Kenapa harus aku? Kenapa?"
"Kenapa aku harus diciptakan untuk mendapat takdir seburuk ini?"
Rangga meluapkan rasa frustasinya. Dia terisak sembari menunduk. Jika saja dia punya keberanian lebih, pasti dia sudah menenggelamkan dirinya ke laut sekarang.
Dadanya terasa nyeri.
Apakah mencintai sesakit ini?
Bolehkah jika mereka tetap bersama?
Tidak apa jika dia harus dihukum atas dosa dari tindakan yang akan dia lakukan. Sungguh. Tidak.
Langit sudah mulai gelap, sang fajar sudah kembali ke peraduannya. Ditemani semilir angin dan deburan ombak, Rangga terduduk di atas pasir dengan memeluk kedua lututnya. Dia sedang bergulat dengan pikiran - pikiran kotor dan jahat yang ada di otaknya sendiri. Pikiran dan hasrat yang ingin memiliki adiknya sendiri.
*bersambung....
Mewek gak guys😭😭😭
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir. Ikutin terus ya kelajutannya😁
Jangan lupa dukungannya, vote , like ,n coment.😊
Makasih🤗*
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat