Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Seperti Semula
Ravindra tidak berniat ke mana-mana sore itu. Kakinya saja yang berbelok sendiri, berhenti di depan rumah Yunika. Ia berdiri sebentar, merasa bodoh—lalu pintu terbuka.
Yunika ada di sana.
Rasa lega itu datang terlalu cepat, terlalu jujur. Ravindra langsung melangkah dan memeluknya, seolah tubuhnya tahu lebih dulu apa yang ia butuhkan.
"Maafin aku, maaf. Aku mencari kamu kemana-mana. Aku kangen, aku khawatir. Aku mau kita kembali. Aku mau memperbaiki semuanya, sungguh. Ak-aku senang banget lihat kamu lagi di sini. Ini bukan mimpi kan?"
Celoteh itu keluar bertubi-tubi dari bibir Ravindra, tidak rapi, seperti anak kecil yang menemukan hal yang didambakannya sejak lama. Sejenak nama Tafana menghilang dari kepalanya.
“Ayo makan bareng aku,” katanya tiba-tiba. “Kamu lagi pengin apa?” merangkul pinggang Yunika seolah takut wanita itu hilang dalam sekejap mata.
Yunika tidak menolak. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan Ravindra berjalan setengah langkah di depannya, memilih tempat makan seolah itu hal paling wajar di dunia.
Restoran pertama terlalu ramai, yang kedua terlalu bising. Mereka akhirnya berhenti di kafe sederhana di sudut jalan, dengan jendela besar dan lampu kuning hangat.
“Kamu masih nggak suka tempat ribet,” ujar Yunika sambil duduk.
Ravindra tersenyum. “Kamu juga masih suka yang nggak banyak tanya.”
Ia memesan tanpa bertanya menu Yunika. Aneh, tapi tepat.
Yunika mengangkat alisnya, lalu tertawa kecil. “Kok kamu masih hapal?”
“Masa lupa,” jawab Ravindra ringan, padahal dadanya terasa longgar.
Mereka makan pelan. Cerita mengalir tanpa diarahkan. Tentang kerja sama kantor mereka, rekan kerja yang dulu sok idealis, tentang hujan sore yang selalu bikin Yunika terlambat pulang.
Ravindra tertawa lebih lepas dari yang ia sadari. Yunika menyimak, menyela seperlunya, tidak pernah menggurui.
Satu tempat selesai, mereka pindah. Menikmati kopi setelah makan. Lalu camilan di gerobak kaki lima yang dulu sering mereka datangi.
Yunika menggoda cara Ravindra meniup minuman panas, Ravindra membalas dengan cerita konyol yang sudah berkali-kali ia ceritakan, tapi tetap membuat Yunika tertawa.
Langit menggelap tanpa mereka sadari. Lampu jalan menyala satu per satu. Ravindra mengecek jam sekilas, lalu menyimpannya lagi. Ponselnya sunyi, atau ia yang tak memperhatikannya.
Bersama Yunika, waktu tidak mendesak. Ia tidak ditagih.
“Aneh ya,” kata Yunika pelan, memandang trotoar basah. “Rasanya kita kayak nggak pernah putus.”
Ravindra mengangguk, tanpa menyaring. “Iya. Kayak pulang.”
Kata itu meluncur begitu saja. Yunika tidak menanggapi, hanya tersenyum tipis. Ia membiarkan Ravindra membayar, membiarkan ia memilih rute pulang yang lebih jauh. Di sela tawa dan cerita remeh, ada sesuatu yang diam-diam berpindah tempat.
Sementara di kejauhan, ponsel Ravindra tetap tak disentuh. Bukan karena tak ada pesan—tapi karena ia sedang tidak ingin diingat. Ia lupa—atau memilih lupa—bahwa ada rumah lain yang menunggu.
-oOo-
Di sisi lain kota, Tafana berdiri di dapur dengan tubuh yang masih belajar kuat. Tumis kangkung, jamur goreng tepung, sambal cumi—ia memasak dengan hati-hati, bangga.
Sebelumnya sebuah pesan sudah ia kirim ke suaminya: "Jangan beli makanan ya."
Ketika Ravindra pulang, Tafana tersenyum lebar. “Tadaa!”
Ravindra melihat meja itu. Senyumnya terasa bersalah. “Duh maaf sayang… Barusan aku udah makan. Tadi ditraktir rekan kantor yang ulang tahun. Maaf ya, lupa kasih kabar.”
Ia mengecup kening Tafana singkat, lalu berjalan ke kamarnya.
Tafana duduk, makan sendiri ditemani sunyi yang tidak menuduh.
Ia membungkus sisa lauk dalam kotak, lalu menelepon adiknya.
“Darren, bisa kesini? Ada makanan nih. Lumayan kan, biar kamu hemat.”
Tidak ada tangis. Tidak ada marah. Hanya sesuatu yang pelan-pelan tidak lagi pulang.
-oOo-
Pagi itu butik belum sepenuhnya hidup ketika Sierra sudah mondar-mandir di antara rak kain. Ponsel menempel di telinga, satu tangan mencatat di buku, kepalanya miring menahan suara vendor yang berlapis-lapis alasan. Mesin jahit di sudut berdengung tidak sinkron. Ada benang yang habis, ukuran yang meleset setengah sentimeter, dan tenggat yang tidak mau berkompromi.
“Besok harus jadi, ya. Nggak bisa mundur,” katanya tegas, lalu memutus panggilan. Ia menghela napas, menatap papan produksi yang penuh coretan. Nama Tafana tercoret di sana, digantikan sementara, ditambal seadanya.
Pintu kaca berdering.
Sierra menoleh sambil merapikan rambutnya. Lalu berhenti.
Tafana berdiri di ambang, rapi, rambutnya disanggul sederhana, tas kerja di bahu. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih. Siap.
“Lah—lo ngapain di sini?” Sierra melangkah cepat.
Kaget berubah jadi lega yang meledak. Ia memeluk Tafana, mencium pipinya sekali, dua kali, berkali-kali, tanpa malu. “Astaga, gue kira lo masih di rumah. Gila, gue keteteran.”
Tafana tertawa kecil. “Desainnya udah beres semua kan. Gue cuma mau kontrol produksi. Duduk manis di rumah malah bikin gue stres.”
Sierra menatapnya, menahan emosi yang naik. “Jangan sok kuat.”
“Bukan sok,” Tafana tersenyum. “Cuma mau balik ke ritme. Bosen tahu, di rumah makan tidur doang.”
Mereka bergerak bersama. Tafana memeriksa potongan, menggeser peniti, menyentuh kain seperti menyapa teman lama. Sierra memanggil penjahit, mengatur jadwal, menyodorkan kopi.
Suara mesin kembali selaras. Catatan berkurang. Alur yang dulu patah, pelan-pelan menyatu.
Di antara derap kerja itu Tafana berdiri tegak, melangkah maju. Tak ada yang melihat retakan kecil di bawah kakinya. Hanya ia, dan tanah rapuh yang ia pilih untuk dipercaya.
-oOo-
Mereka akhirnya duduk di warung kecil langganan, meja kayu panjang yang permukaannya penuh bekas gelas panas. Jam sudah lewat tujuh, lampu kuning menggantung rendah, dan kipas angin berdecit seperti ikut lelah.
“Gue pesan seperti biasa ya,” kata Sierra sambil melipat menu. “Lo jangan sok diet. Habis kerja seharian.”
Tafana tersenyum. “Hari ini gue nurut.”
Makanan datang bertahap. Teh manis hangat, nasi, lauk sederhana. Ada jeda sunyi yang nyaman, jenis diam yang muncul kalau dua orang sama-sama lelah tapi puas.
“Gue sampai lupa rasanya kerja bareng lo,” Sierra membuka, menyuap. “Tadi waktu lo atur potongan itu, reflek gue langsung mikir, oh iya… ini ritmenya.”
Tafana terkekeh. “Gue juga kangen. Ternyata badan gue masih hapal.”
Mereka makan. Cerita kecil mengalir tentang vendor yang drama, penjahit yang ngotot, pelanggan cerewet. Lalu Tafana menyandarkan punggung, suaranya mengendur.
“Eh, aku mau cerita sesuatu,” katanya ringan. “Gue punya sahabat baru.”
Sierra mendongak. “Sahabat? Sejak kapan?”
“Belakangan ini,” Tafana mengangkat bahu. “Orangnya baik. Enak diajak cerita. Kayaknya… nggak ribet.”
“Namanya?” tanya Sierra, santai, tapi sendoknya berhenti sepersekian detik.
“Yunika.”
Ada jeda, tipis, tapi nyata. Sierra tersenyum, senyum yang terlalu cepat dirapikan. “Oh.”
Tafana tidak menangkapnya. “Gue kepikiran… boleh nggak sesekali gue ajak dia ngumpul bareng kita? Makan bertiga, gitu.”
Sierra mengaduk minumnya, lama. “Hmm… kayaknya jangan dulu ya. Obrolan kita kan banyak yang confidential soal desain dan brand kita. Jadwal juga lagi nggak beres.”
“Oh,” Tafana mengangguk. “Iya juga. Gapapa.”
Keheningan turun lagi, tapi kali ini beratnya berbeda.
Sierra menatap piringnya, tidak melanjutkan.
Ia ingat sosok Yunika, wanita cantik yang datang di ulang tahun sahabatnya, Tafana. Bukan hanya datang, konon bantu mempersiapkan acara. Tapi ada yang aneh dengan kedekatan Yunika dengan Ravindra, suami sahabatnya, meski mereka menyebut diri mereka teman lama. Ia tidak bertanya, tidak menuduh. Ada sesuatu yang tidak nyaman, tapi ia simpan rapat, terlalu dini untuk diberi nama.
Tafana melirik, merasakan diam yang kepanjangan. Ia tersenyum, memilih tidak mengejar. Ada hari-hari yang cukup dilewati tanpa menggali.
Di meja itu, sebuah nama disebut dengan niat baik. Bahaya datang tanpa suara. Dan tidak semua yang tampak sebagai teman datang untuk menyelamatkan. Dan bahaya seringkali masuk ke hidup seseorang lewat pintu yang dibuka sendiri.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅