Tahap revisi.
⚠️ JANGAN COPY PASTE WOI !! KREATIF DIKIT YEEE! – Mengandung kata-kata kasar.
________________________
"Hai guys, gue Zia Amanda."
"Gue Brivant Alexand."
"Kalau gue manusia paling ganteng, Aska Radiansyah."
"Kami bertiga akan menghibur kalian di cerita iniiii" - Ivan.
"Jangan sampe ketinggalan yaa!" - Zia.
"Jangan lupa like," - Ivan.
"Jangan lupa coment," - Zia.
"Dan jangan lupa subscribe," - Aska.
"Subscribe ndasmuu!" - Ivan, Zia.
"Hehe, ye maapp." - Aska.
"Jangan lupa vote ya guys!" - Ivan, Zia, Aska.
"Ikuti terus cerita gue sama temen-temen guee." - Zia.
"Oiyaa, bakal ada kejutan nantinya untuk kalian di setiap episodenya." - Ivan.
"Jangan sampe ketinggalan yaa!" - Aska.
"Kalau gitu sampai jumpaaaa di setiap chapter! Bye~" - Ivan, Zia, Aska.
~ Adapun kesalahan atau kesamaan dalam cerita ini saya minta maaf, karena saya buatnya murni dari pikiran dan hasil kegabutan saya 🙏🏻
Fyi, nama Hitler diubah menjadi Adler setelah revisi.
Selamat membacaaa <33
📍200308 - 201106
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Aulia Agustin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan [2]
"Acieekkk. Ada yang berflower-flower nih gengss!" Qiara tidak menanggapi apa-apa. Masih berusaha stay cool biar gak malu. "Mau sok cool yah? Mana bisa deckk."
"Aughh. Shut upp!" Mereka malah tertawa. "Lama kali btw, ngapain kalian berdua? Gak mungkin kannnnnn...?" Ica menatap curiga Qiara dan Samuel yang sudah berada di sana.
"Nggak woilahh, ada-ada aja dahh. Ini tu tadi perut gue sakit," kata Qiara ngeles. "Mantap. Alasan yang cukup bagus," ledek Ivan.
"Oas—"
"Ssstt! Btw villanya bagus, kayaknya gue harus sering-sering kemari dah," ujar Ivan mengganti topik. "Bivan kampret. Lu gak inget apa gimana? Kita kan dulu sering kemari sih. Hadeh, gini nihh, kebanyakan mikirin Ica jadi pelupa."
"LAHHH? Kok gue? Gue kalem anteng gak ribut, kenapa gue yang kena sasaran?" protes Ica sok polos. "Alisya Yudhistira, makanya lu tu jangan kalem amat jadi orang. Masa iya lu gak tau, si Ivan tu suka sama lu?"
"Ngawur kamu manusia, kebanyakan minum bir ini anak!" kata Ica tidak percaya. "Makin error ni si Ica. Emang dari tadi ada bir apa? Gak ada egee."
Sejujurnya Ica sedikit salting. Tapi hanya sedikit, sedikit sekali. Ia tidak menjawab perkataan Zia lagi setelahnya. Ivan sendiri hanya diam seperti orang goblokk yang gak tau apa-apa. Ivan cuma pura-pura gak tau aja sih sebenarnya.
"Lu deket banget sama si Ivan, tapi sama Sam kok kayak orang gak kenal sih?" tanya Alya penasaran.
"Bukan gak kenal sih. Muel itu pendiem banget dulu, beda sama gue sama Bivan yang lasaknya luar biasa. Gue juga baru inget, gue jago bela diri tu berawal dari Bivan. Kami bedua sering main pukul-pukulan. Yaaa beda bangetlahh sama si Muel, dia kerjaannya diem di rumah. Kalem banget, no lasak-lasak clubb."
"Terus juga gue susah banget nebak sikap Samuel, dia berubah-ubah macem bunglon. Kalau sama Bivan mah gue udah tanda bangettt. Dari cara dia natap Ica aja gue tau dia suka sama Ica. Ya walaupun ngeliatnya jarang-jarang, tapi kalau ngeliat Ica tu beda gituuu. Agak dalamm," jawab Zia panjang lebar.
"Lu bisa gak, gak usah buka kartu gue?" Zia cengengesan melihat Ivan. "Panggilan lu ke Ivan kok Bivan? Lu juga van, manggil Zia kok Cici?" tanya Jimmy gantian.
"Gue dulu susah bilang r. Jadi keseringan manggil nama dia Bivan, bukan Brivant."
"Kalau gue manggil Zia cici karena gue dulu manggil dia Zizi juga. Karena rada susah, yaudah gue panggil Cici, gak jauh bedalah sama namanya."
"Terus lu gak pernah gitu suka sama si Ivan ?" tanya Jimmy lagi. "Kagak sih. Bagi gue sahabat ya sahabat. Gak ada suka-sukaan. Suka ya suka sebagai sahabat gitu doang."
"Kalau lu, Van?" Mereka menatap Ivan yang terlihat seperti orang prenjon. "Nggak juga dengan alasan yang sama. Sahabat ya sahabat, gak pake perasaan. Meskipun suka ya pasti sebatas sahabat, lagian Zia mah udah kayak adek gue sendiri."
"Nah udahh, Q&A di tutup!"
"Cepet banget," kata Eza yang masih tertarik dengan masa kecil Zia. "Capek gue jawabnya. Gue kebelet, ke kamar mandi dulu ye bentar."
"Mau abang temenin?" Zia menatap kesal Eza. "Mimpi aja sana lu di paret-parett!" Zia pun pergi ke kamar mandi setelahnya.
"Astaga. Ivan yang udah sering sama dia ajaa dia gak ada rasa. Apalah daya gue seonggok remahan rengginang yang baru kenal dia beberapa hari."
"Alay banget tolilll!" cibir Joshua. "Eh, ini Aska mana Aska? Dia jadi ikut gak sih?" tanya Joshua mengganti topik.
"Ikut tadi, Jo, barengan sama gue dia mah. Sekarang sih gak tau di mana," jawab Ivan. "Kemana anaknya, yakaliii ngilang."
"Di kamar mungkin, lelah dia," sahut Jimmy. "Oiya, Van, lu kemaren kan nanya boleh gak ngajak tetangga, terus mana anaknya?"
"Kagak jadi, dia ada urusan."
"Emang siapa?" tanya Qiara kepo. "Dimas, anak kelas sebelah, gebetannya Tania."
"Wihh, kok gue? Gue diem aja daritadi, jadi sasaran juga jadinyaa." Teman-temannya tertawa melihat ekspresi Tania.
Malam pun semakin larut, mereka masih bercerita. Tertawa bersenda gurau, sampai akhirnya mereka ngantuk dan masuk ke kamar untuk beristirahat.
Sebelum tidur tenang, kurang lengkap tanpa pertikaian. Seperti sekarang. Ivan dan Zia yang sibuk berebut tempat. Yhh, mereka berdua sebenarnya tom and jerry.
"Pindah sono dahhh ah," suruh Ivan.
"Dih ogah. Lu aja sono."
"Nggakk. Lu aja sanaa," dumel Ivan masih teguh pendirian. Mereka menghela nafas melihat keduanya. "Lu lakikk gak, Van? Ngalah."
Ivan terdiam dan memilih ngalah setelah Aska bersuara. "Yaudah iyaa, gue yang ngalah."
Zia tersenyum senang. "Hahaa, gitu dong! I'm win. Thank you, brooo!" kata Zia pada Aska. Aska membalas dengan senyuman tipis, "You're welcome, pretty."
"ALIG. ASKA KERASUKAN!"
^^^Revisi, 2021.^^^