Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.
Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.
Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Terasa Hangat.
...Haii semua.....
...Karna sdah lulus review awal, jadi up lagi deh....
^^^Dan lagi aku kangen sehari aja gak baca koment kalian.^^^
...kangen jempolnya juga sih....
****************************************
"Nak," Akhirnya tangan Lukman menepuk pundak Damaresh setelah dua kali di panggil lelaki yang tengah tertidur lelap itu tak merespon.
Terlihat kini sepasang matanya mengerjap dan lalu terbuka dengan sempurna.
"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Lukman.
Ia yang hendak keluar untuk melaksanakan sholat subuh di masjid terheran mendapati menantu barunya itu tidur meringkuk di sofa ruang tamu.
Damaresh segera duduk mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan menyugar rambutnya dengan jemarinya. Hanya dengan dua hal tersebut muka bantalnya langsung hilang dan kembali pada mode awal, seorang Damaresh yang tampan menawan.
Sayangnya yang berdiri di depannya kini adalah Lukman, bukan putrinya.
Lukman hanya melihat itu dengan pandangan biasa.
Tapi jika Aura yang ada di sana, mungkin ia akan terkagum dengan pesona lelaki di depannya.
"Kenapa kau tidur di sini?" Lukman mengulang pertanyaannya.
"Iya. Saya ketiduran di sini,"
Lukman duduk tak jauh di samping lelaki itu.
"Apa Aura tidak memperlakukanmu dengan baik, nak?"
Mendapati Damaresh tertidur di kursi yang ukuran panjangnya tak sepadan dengan postur tubuh lelaki itu
hingga membuatnya harus tertidur meringkuk, membuat Lukman curiga kalau putrinya yang telah mengusir suaminya itu keluar dari kamar.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu,
Damaresh menatap Lukman seperti terkejut, bukan karna pertanyaannya tapi karna sebutan yang disematkan Lukman untuknya.
"Nak?" Damaresh mengulang tanya.
"Iya nak, ee maaf apa kau tidak suka aku memanggilmu begitu?" Lukman menatap Damaresh dengan perasaan tak nyaman.
"Tidak, tidak apa-apa," Damaresh menggeleng cepat.
"Awalnya kau memang atasan putriku, tapi karna kini kalian sudah menikah, maka aku sudah menganggapmu sebagai anakku juga seperti pula terhadap Aura. Jadi aku memanggilmu, nak." Lukman menjelaskan maksud panggilannya itu.
Damaresh terdiam, pandangannya lurus menerawang,
ada banyak memori yang kemudian terputar dalam benaknya. Namun bagi Lukman diamnya Damaresh seakan menyiratkan kalau dia tak senang Lukman memanggil seperti itu padanya.
"Jika kau tidak suka, aku akan mengubahnya," Lukman berkata dengan senyum tanpa rasa tersinggung.
Keramahan sikapnya sudah kembali setelah kemarin sempat menghilang.
"Tidak apa-apa. Kalau kau suka memanggilku begitu,
tidak usah dirubah," ucap Damaresh, tampak keseriusan di wajahnya.
"Baiklah," Lukman mengangguk.
"Jika kau masih ingin lanjut tidur, sebaiknya di kamar saja, aku mau sholat subuh ke masjid,"
Terlihat Damaresh mengangguk, Lukman pun segera meneruskan langkahnya ke luar.
Sebenarnya Lukman berharap kalau menantunya itu akan bersedia mengikutinya ke masjid, tapi sepertinya untuk saat ini, harapan itu masih sangat jauh dari nyata. Semoga suatu saat nanti, doa Lukman dalam hati.
Sedangkan lelaki itu masih duduk diposisi semula memikirkan apa yang diucapkan Lukman.
Panggilan "Nak" itu terasa asing dalam pendengaran Damaresh, namun disaat bersamaan juga terasa hangat. Seingatnya dirinya pernah di panggil "nak" dulu ketika kecil oleh Nyonya Laura Dewi. iya, hanya neneknya saja yang memanggilnya demikian tiap kali Aresh kecil merajuk atas hal yang tak disukainya.
Sebuah panggilan yang disadarinya sebagai ungkapan
rasa sayang dari sang nenek terhadapnya. Lama sudah
dan terlalu lama tak pernah ia mendapatkan panggilan seperti itu lagi, tepatnya setelah Laura Dewi meninggal.
Dan kini ia mendapat panggilan itu dari Lukman,
terasa aneh dalam pendengarannya, namun juga terasa hangat di jiwanya. Hingga lelaki itu masih terpekur dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar
dan melanjutkan tidur.
***
Aura meletakkan segelas teh hangat di atas meja di depan Lukman. Gadis itu segera hendak berlalu, namun Lukman menahan langkahnya.
"Duduk dulu, Aura! ayah ingin bicara,"
"Iya, Ayah." Aura segera duduk tak jauh di samping ayahnya.
Lukman menyesap teh nya seteguk sebelum menyampaikan apa yang menjadi keperluannya pada Aura. "Kenapa tadi malam suamimu tidur di luar, Aura?"
"Ti..tidur di luar?" Aura nampak terkejut, padahal seingatnya Damaresh tidur di kamar depan.
"Iya. Aku memergokinya tadi tidur di sofa ruang tamu."
"Ohh itu, .... " Aura memutus ucapannya begitu saja, karna tak mungkin ia menyampaikan pada Lukman perihal rumah tangga tak lazim yang kini sedang dijalaninya bersama Damaresh.
"Nak, sesungguhnya dalam hati kecilku, aku percaya kalau kau tak mungkin berbuat hal yang tak pantas dengan bosmu itu. Walau pada kenyataannya ada bukti seperti itu dan akalku tak bisa menampik hal buruk yang telah terjadi pada kalian. Tapi hatiku percaya kalau kau akan selalu menjaga dirimu, Aura."
"Ayah," Aura langsung menubruk tubuh Lukman dan memeluknya erat-erat, hatinya campur aduk dalam rasa haru, antara senang, lega, sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Sesaat kemudian terdengar isak tangisnya. Lukman menepuk-nepuk pelan pundaknya.
"Terima kasih Ayah, aku hanya takut ayah kecewa padaku," ucap Aura di antara isak tangisnya.
Lukman mengangguk, ia mengurai pelukan Aura dan mengusap air mata putrinya itu lembut.
"Aura, aku memutuskan agar kau menikah dengan pak Damaresh, adalah untuk menjaga namamu dan melepasakanmu dari fitnah. Aku tau bukan lelaki seperti dia yang kau inginkan untuk menjadi imam-mu,
seperti aku juga menginginkan hal yang sama."
Lukman sejenak terdiam menatap putrinya yang menunduk.
"Tapi ini memang sudah menjadi garisan Tuhan untukmu, Aura. Dan pernikahan adalah tetap sebuah pernikahan, terlepas karna alasan apa pernikahan itu terjadi. Ketika dua orang sudah berikrar dalam sebuah pernikahan maka mereka wajib menjalankan hak dan kewajiban dalam ikatan pernikahan seperti yang telah di atur dalam hukum Syariat. Kau paham maksud ayah?"
Aura sebenarnya paham bahkan sangat paham dengan maksud ayahnya tapi gadis itu merasa berat untuk segera menganggukkan kepalanya.
"Apa aku perlu menyebutkan dengan rinci apa saja kewajibanmu sebagai seorang istri?" pertanyaan sekaligus sindiran diucapkan Lukman untuk putrinya yang masih tetap terdiam.
"Tidak perlu, Ayah. Aku faham semuanya," Pungkas Aura.
***
Dilihatnya pintu kamar depan itu sedikit terbuka, Aura melongokkan kepalanya ke dalam. Tampak Damaresh berdiri di depan jendela menghadap keluar.
"Boleh saya masuk?"
Damaresh menoleh dan mengangguk.
Aura masuk membawa segelas teh hangat yang di letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Memang hanya ada satu ranjang dan satu meja kecil di kamar yang ukurannya lebih kecil dari pada dua kamar yang lain itu.
"Silahkan diminum pak, mumpung masih hangat!"
Aura menyilahkan dengan isyarat tangan.
"Untukku?" Damaresh masih bertanya. Aura mengangguk. Lelaki itu segera duduk di tepi ranjang meraih gelas tehnya dan menyeruputnya pelan.
Terasa hangat, itulah yang ia rasakan.
"Kalau butuh apa-apa, kasih tau saya! saya akan siapkan," terdengar ucapan Aura yang membuat Damaresh mengerutkan keningnya lalu menoleh menatap Aura seksama. Sepertinya Aura yang pembangkang itu sudah tidak ada lagi sekarang, gadis itu bersikap lebih lembut kepadanya. Biasanya Aura masih akan banyak tanya bila diperintah oleh Damaresh sebelum mematuhinya. Tapi kini gadis itu malah menawarkan diri untuk patuh. Entah apa yang terjadi pada gadis ini, batin Damaresh.
Tuan besar ini sudah lupa rupanya, kalau ia sudah menikahi Aura, sehingga wajar bila Aura kini bersikap lebih lembut terhadapnya. Tapi di atas segala keheranannya, hati lelaki itu menghangat dengan sikap yang di tunjukkan Aura saat ini padanya.
"Kita kembali ke Jakarta satu jam lagi, Aura!"
Ternyata Damaresh mengeluarkan titah yang jauh dari perkiraan Aura. Tadinya Aura mengira kalau Damaresh akan meminta dipersiapkan air hangat untuk mandi atau disiapkan sarapan.
"Apa tidak bisa ditunda sampai besok?" Aura bertanya penuh harap karna ia masih ingin bersama ayahnya.
"Kalau kau masih ingin di sini, aku kembali lebih dulu."
putus Damaresh. Aura langsung terdiam.
Tak ada pilihan lain bagi Aura selain patuh. Bukan hanya dalam kapasitasnya sebagai anak buah yang harus patuh pada atasan, tapi terlebih sebagai seorang istri yang patuh pada suaminya. Meskipun dalam tanda kutip, hanya istri rahasia.