"Dia istriku."
"Tapi dia milikku, Kak."
---------
Menggantikan sang Adik dalam sebuah pernikahan tak pernah menjadi mimpi dalam hidup Dirgantara Avgian. Sebuah kejutan yang disusun sebaik mungkin untuk sang adik nyatanya menyeret Gian dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak dia inginkan.
Bagaimana mungkin ia mencintai gadis yang sudah bertahun–tahun menjadi kekasih adiknya, dan bagaimana mungkin ia menjalani pernikahan dengan gadis kecil yang masih sibuk dengan pelajaran Matematika, sungguh tidak dapat dipercaya.
ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku, Kak (Haidar)
Gemericik air terdengar samar, mata indah itu kini mengerjap pelan. Kepalanya terasa pening, begitu berat rasanya menggerakkan tubuhnya yang kini terasa lemas. Ia pandangi sekeliling kamar, tak begitu familiar namun ia pernah mengunjungi tempat ini.
"Aaaarrrgggh ...."
Suara serak khas bangun tidur itu berusaha bangkit, mengumpulkan nyawa sembari menatap meregangkan otot-ototnya. Matanya masih begitu berat, namun cahaya yang menelusup melalui jendela kaca kamar itu sungguh menyilaukan mata.
Kesadarannya belum terkumpul seluruhnya, Haidar merasa perutnya di aduk-aduk, dengan kepala yang tak jua reda. Haidar segera berlalu keluar kamar, mencari tempat untuk memuntahkan habis isi perutnya.
Sepeninggal Haidar pergi, Gian telah menyelesaikan mandinya. Pria itu keluar dengan dan kini terlihat begitu segar. Ini hari minggu, jadi ia memang tidak bekerja dan berencana akan menghabiskan waktu di Apartemen sementara.
Dan Radha? Ia tak peduli, bahkan untuk memikirkan malam pertama pun Gian enggan. Benar-benar tidak berarti sama sekali, Gian tak pernah berpikir kapan ia akan tidur bersama wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Kemana lagi anak itu?"
Pria itu justru mengkhawatirkan adiknya, sengaja ia tak membangunkan Haidar meski jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. Ia bahkan telah usai membentuk ototnya selama beberapa jam sejak pagi, bahkan sarapan pagi telah ia siapkan untuk Tuan muda kedua dari keluarga Wijaya itu.
___
Dengan pakaian yang santai yang begitu pas di tubuhnya, Gian berlalu menuju ke ruang makan. Mungkin Haidar berada disana, pikir Gian.
Wajah pucat dan keringat yang kini membasah membuat rambut Haidar semakin berantakan. Gian menghela napas kasar menatap keadaan adiknya, kebodohan yang Haidar lakukan benar-benar tidak dapat di terima akal.
Entah berapa banyak ia menegak minuman itu hingga membuatnya bolak balik kamar mandi beberapa kali mengeluarkan semua isi perutnya.
BRUK!!
Dengan mata yang terpejam, Haidar mendudukkan tubuhnya kasar. Bersandar usai menegak segelas air mineral yang Gian sodorkan beberapa saat lalu.
"Bagaimana? Kau menikmatinya, Haidar?"
Sembari menatap tajam wajah pucat pasi Haidar, melipat tangannya di dada, netra tajamnya seakan hendak menghajarnya lagi dan lagi. Namun, Gian sadar saat ini Haidar di posisi sulit.
Namun, jelas saja ini belum berakhir. Bagaimana jika ia tahu siapa pengantin wanita yang ia tinggalkan pada hari pernikahan itu, mungkin Haidar akan lebih hancur lagi.
"Kenapa aku berada di sini, Kak?"
Haidar masih mengelili Apartemen sang Kakak yang tak berubah sejak 2 tahun terakhir. Masih sama, bahkan beberapa figura dengan fotonya sejak masih kecil hingga dewasa tersusun rapih di Apartemen sang Kakak.
"Kau lupa?"
Anggukan polos Haidar masih sama, di mata Gian anak itu masih bocah, bahkan takkan pernah dewasa. Karena itu, meski semarah-marahnya, Gian begitu khawatir tentangnya.
Tak bisa pungkiri, memar di wajah sang Adik cukup membuatnya menyesal. Hanya saja, emosi yang terlampau batas membuat Gian lupa dataran kala itu.
"Ehm, tidak."
Haidar mengingat sedikit demi sedikit apa yang terjadi padanya, kenapa dan bagaimana ia bisa berada di tempat ini. Meski tak semuanya ia ingat, Haidar hanya mengingat terakhir ia berperang dengan minuman di botol-botol itu usai bertemu Gian.
"Makanlah, kau butuh tenaga."
Pria tampan itu beranjak, ia memilih sofa sebagai tempat bersantainya. Takkan mungkin ia duduk di depan Haidar demi memastikan dia makan dengan benar.
"Kak," panggil Haidar sebelum Gian menjauh.
"Apa? Kau merasa aku kurang baik?"
Pertanyaan Gian membuat Haidar sejenak tertunduk lemas, ia tahu maksud sang Kakak saat ini. Jelas saja ia menyinggung banyak hal, di tatapnya wajah pias Haidar yang kini menatapnya sendu.
"Maafkan aku, ci-cin itu ...."
Haidar tahu betul, makna cincin di sana. Ia hanya ingin meminta maaf karena tela menyeret Gian dalam masalah ini.
Tak ada jawaban dari Gian, pria itu kini mengangkat jemarinya. Menarik sudut bibir sembari menggeleng pelan, tak ia duga dalam waktu singkat statusnya berubah tanpa ia rencanakan.
"Tak apa, mungkin memang dia jodohku," ujar Gian begitu saja, lolos tanpa rencana dan kini pusing memikirkan apa maknanya di mata Haidar.
"Kata Mama," sambungnya kemudian, tak ingin Haidar salah mengartikan jawabannya.
Haidar tersenyum sembari menghela napas lega, setidaknya keributan yang ia lakukan dapat mereka ambil sisi positifnya.
"Syukurlah jika kalian berpikir demikian," ujar Haidar mulai menikmati sarapan yang hampir rangkap makan siang itu.
"Sebelumnya Kakak ingin tau, apa yang menjadi alasanmu melakukan hal gila 3 hari yang lalu?"
Meski hanya ingin mendengar lebih jelas alasan Haidar, meski sedikit banyak itu pasti tentang karir, pikir Gian.
"Karierku dan ..."
"Kekasihmu?" tanya Gian melanjutkan ucapan Haidar, anggukan Haidar membuat Gian lagi-lagi menghela napas panjang.
"Ah lupakan, yang terpenting aku tidak jadi menikah."
Haidar kembali fokus pada makanannya, baginya hal terpenting saat ini adalah itu. Untuk kali ini ia harus egois, pikirnya.
"Ah iya, mana istrimu? Kenapa dia tidak berada di sini?"
Sejak tadi Haidar bertanya-tanya, jujur ia sangat penasaran siapa wanita yang kini menjadi istri Gian.
"Dia di ...."
Ucapan Gian terpotong kala bel berbunyi, baru saja ia hendak menceritakan dimana Radha sekarang, tentu saja sementara ia takkan memberitahu jika istrinya adalah kekasih dari pria berambut coklat itu.
"Siapa bertamu pagi-pagi di hari minggu? Apa mungkin ...."
Gian segera melangkah maju, ia tak memiliki janji temu. Mana mungkin ada rekan kerja berani menemuinya tanpa janji terlebih dahulu, pikir Gian.
"Sabar astaga!!"
Merasa kesal lantaran bel yang berbunyi tak henti-hentinya, seakan orang yang berada di luar sana menuntut dirinya harus cepat.
Tbc