Ruhi amat sangat mencintai uang, karena itulah ia dipilih kakek Bizar untuk menikah dengan cucunya, Asraf.
Dua manusia berbeda generasi, mampukah mereka bersatu? atau malah berhenti ditengah jalan.
Kisah Ruhi dan Asraf di mulai...
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Merasakan Ada Yang Aneh
Ruhi sedikit berlari untuk meninggalkan area parkiran, dengan mulut menggerutu ia mulai masuk dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Tak lama kemudian, Ruhi sampai di kamar Randu. Matanya membulat ketika melihat Rina dan Randu yang sedang menyantap makanan mewah di meja sofa ruangan itu.
Ia mendekat dan menatap curiga pada kedua orang ini.
"Ibu dapat makanan enak begini darimana?" tanya Ruhi menyelidik, di atas meja sudah tersaji hidangan 1 paket seafood lengkap dengan 1 bakul nasi dan juga lalapan.
"Memangnya Randu boleh makan ini?" tanya Ruhi lagi yang merasa tak terima, tidak diajak makan enak. Kan jahat sekali.
"Randu boleh makan ini, tadi dokternya sendiri yang bilang. Makanan ini Asraf yang mengirim. Tak berselang lama setelah kamu pergi, makanan ini datang," jelas Rina, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ruhi, tangannya sedang sibuk menyuapi Randu.
Mendengar penjelasan sang ibu, kemarahan Ruhi sampai ke ubun-ubun. Dia saja hanya diberi makan ayam goreng tepung, sementara ibu dan Randu makanan mewah begini.
Dasar tidak adil! kesalnya dalam hati.
"Kamu sudah makan?" tanya Rina dan Ruhi makin cemberut.
"Udah!" jawabnya kesal sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar.
Rina melirik anak gadisnya ini, tiap ketemu calon suami kok mukanya cemberut gitu, batinnya.
"Sini ibu suapi, Aa." ucap Rina sambil mengulurkan tangannya yang berisi daging udang, tanpa pikir panjang lagi Ruhi langsung menerima suapan sang ibu.
"Mbak makannya jangan banyak-banyak, nanti gendut," ucap Randu sambil mengunyah makanan.
"Masa calon pengantin gendut," timpalnya lagi.
Dengan gerakan cepat, Ruhi langsung menjitak kepala adiknya itu.
Lama-lama kenapa Randu terlihat seperti Asraf, suka mengejek, menghina dan mencela, pikir Ruhi yang merasa kesal.
"Aw! sakit mbak."
"Ruhi! adiknya masih sakit kok di jitak-jitak."
"Kan, malah aku yang dimarahi, jelas-jelas Randu duluan yang gangguin aku."
"Aku kan cuma bilang yang sejujurnya Mbak."
"Randuu!" Rina menatap tajam pada anak bungsunya ini, mendadak Randu menciut dan ujung-ujungnya meminta maaf juga.
"Iya iya, maaf Mbak." ucap Randu seperti tidak ihklas.
Ruhi hanya menjulurkan lidahnya sebagai jawaban, lalu makan sendiri menggunakan tangannya.
Plak!
"Aw! sakit Bu." keluh Ruhi sambil memegang tangannya sendiri.
"Cuci tangan dulu," ketus Rina setelah memukul tangan Ruhi.
"Sakit tau Bu." Keluhnya lagi, meski begitu Ruhi tetap menurut, ia bangkit dan mulai mencuci tangannya di kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari demi hari telah berlalu, sebelum hari pernikahan tiba Asraf dan Ruhi selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Asraf juga selalu meminta pada Ruhi untuk selalu merawat diri ke salon.
"Lihat aku? pria tampan sepertiku harusnya bersanding dengan gadis cantik paripurna. Jadi aku mohon, lakukan perawatan kecantikan. Walaupun kamu tidak akan berubah menjadi cantik, tapi setidaknya harus bersih dan putih mulus."
Kata-kata jahat itu selalu keluar dari mulut tajam Asraf. Tapi untunglah, Ruhi selalu bisa menjawab.
"Lihat aku? gadis muda sepertiku harusnya mendapat pasangan yang muda dan masih segar. Bukan pria tua seperti Om. Jadi tolong kurangilah umur Om itu minimal 10 tahun, biar pantas bersanding denganku," jawab Ruhi dengan sombongnya.
Sedari masa sekolah ia sudah sering di bully, jadi kata-kata jahat Asraf itu tidak ada apa-apanya.
Mendengar jawaban Ruhi, Asraf buru-buru mengejar gadis kecil yang sudah jauh berjalan didepannya.
"Kenapa kamu tidak sopan sekali, aku ini calon suamimu." tanya Asraf, tak terima. Ia manahan tangan Ruhi dan menatap tajam sang calon istri.
"Apa Om tidak sad_"
"Mas!"
"Apa Mas tidak sadar, Mas duluan yang tidak sopan padaku. Jangan selalu minta dihargai, kalau Mas sendiri tidak bisa menghargai aku." jawab Ruhi lancar.
Ya, sudah beberapa hari ini Ruhi selalu memanggil Asraf dengan sebutan Mas, hanya saja saat sedang kesal kadang ia keceplosan kembali memanggil Om.
"Aku bukannya tidak menghargai kamu, lagipula saran ku kan bagus, menyuruhmu untuk selalu perawatan ke salon. Tapi kamu malah meminta aku mengurangi umurku, mana bisa?" kesal Asraf.
"Lihat ini, kulitmu sudah semakin putih, padahal baru 5 hari kami rutin ke salon, bayangkan kalau tiap hari kamu perawatan, pasti akan terlihat lebih pantas bersanding denganku."
Ruhi terdiam, pria tua ini memang tidak bisa diajak bicara.
"Sudahlah, kita batalkan saja rencana pernikahan ini." jawab Ruhi asal, lalu membuang mukanya menghadap ke arah lain.
Asraf tercenung.
Membatalkan pernikahan? Oh tidak! mana bisa, Ruhi adalah tiket ku untuk mendapat harta warisan.
Jika Ruhi tidak menikah denganku, bisa saja kakek meminta Aksa yang menikah dengannya. Lalu semua harta itu jatuh ke tangan Aksa.
Ah sial!
"Jangan asala bicara, kita akan tetap menikah." Asraf mulai buka suara dengan nada yang terdengar lebih lembut.
"Baiklah, maafkan aku, aku salah." jelasnya lagi sambil memegang kedua tangan Ruhi.
"Aku akan menerima mu apa adanya."
Ruhi menoleh, ingin melihat kesungguhan pria tua ini.
"Ayo kita saling menerima," ucap Asraf lagi dan terdengar begitu manis di telinga Ruhi.
Ruhi tidak langsung menjawab, ia menarik kedua tangannya agar terlepas dari genggaman Asraf.
"Aku sudah biasa mendapat kata-kata manis dari Om_"
"Mas!" potong Asraf cepat.
"Iya Mas," kesal Ruhi, "Mas sudah terlalu sering berkata manis lalu besoknya berubah lagi, lama-lama kan aku kesal juga." Ruhi mulai menyampaikan semua keluh kesahnya.
"Lebih baik kita tidak usah bertemu dulu sampai hari pernikahan kita, 2 minggu lagi kan?" tanyanya dan Asraf diam saja.
"Jadi ini pertemuan terakhir kita sebelum hari pernikahan, Mas tidak usah datang ke rumah sakit lagi, Randu juga sudah sembuh kok," jelas Ruhi panjang lebar.
Entah kenapa, Asraf merasa sedih mendengar penuturan Ruhi itu. Seolah ia merasa kehilangan jika sehari saja tidak bertemu Ruhi, tidak mengejek Ruhi membuatnya merasa ada yang kurang.
"Sekarang Mas pulang saja, aku akan masuk sendiri," ucap Ruhi lagi karena Asraf hanya terdiam.
Asraf baru saja mengantar Ruhi ke salon kecantikan, setelahnya ia membelikan beberapa baju baru untuk Ruhi. Baju yang sesuai dengan seleranya. Bukan celana jeans dan kaos polos seperti yang selalu Ruhi kenakan selama ini.
"Sana pulang," usir Ruhi, tadi Asraf mengejarnya hingga didepan pintu masuk rumah sakit.
"Jahat sekali." Akhirnya Asraf buka suara dan 2 kata itulah yang keluar dari mulutnya.
Ruhi mengerutkan dahinya bingung,
Jahat apanya? Mas itu yang jahat!
"Baiklah aku akan pulang, aku juga tidak akan menemui mu lagi. Tapi ingat, kita akan tetap menikah," ucap Asraf.
Ruhi terdiam, mendadak hatinya pun tak nyaman ketika mendengar Asraf tidak akan menemuinya lagi. Padahal tadi ia begitu lancar berkata untuk tidak menemuinya.
"Sampai bertemu 2 minggu lagi, pengantin kecilku." Asraf mendekat, lalu menarik tengkuk Ruhi dan mencium dahi gadis kecil ini sekilas.
"Assalamualaikum." ucap Asraf, kemudian berlalu kembali ke parkiran.
Beberapa saat setelah perpisahan itu, keduanya sama-sama memegangi dada, merasakan ada yang aneh di sana. Rasa berdebar.
Krik.. kriik.. 🤣🤣😅😅