Terlempar kembali pada saat ulang tahunnya yang ke 19 tahun, Deena Prameswari Bakara atau yang sering di sapa Deena itu harus menelan kenyataan yang membuat hatinya bagai tertusuk belati berkarat, perlahan tapi menyakitkan.
Penghianatan, hinaan, dan kehilangan orang terkasih membuat dendam dalam hati tertumpuk, gadis itu bersumpah akan membalas lebih menyakitkan pada mereka yang telah menyakitinya.
Bertemu dengan sosok Hanska Regantara Alzavier, seorang presdir sekaligus mafia kejam berdarah dingin yang dengan menatap matanya saja membuat musuh bergetar. Namun satu hal, Hanska itu bucin jika sudah cinta, possesive setengah mati, membuat yang baca pada ilfeel.
hati-hati gregetan,
mengandung beberapa bawang,
ingin jitak kepala pelakor,
bawaannya kesemsem..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ritsmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turn On
Mon maap saya hiatus sampe 10 hari sayang" kuu, dikarenakan kemarin menyambut Lebaran jadi biasalaah..😭😭
Oh iye, minal aidzin wal faidzin mon maaf lahir dan batin, maafin author bila ada salah kata sampe typo kebangetan. maapin juga sering php dan buat otak traveling yang berujung pen ngehujat🤭🥺😭
Happy Reading | Hati" typo 😚
________________
"Si*l gue cabut dulu ngurus nih bocah tengil. Sisain gue ntar gue nyusul." Belum sempat mereka menjawab, Hanska menjalankan mobilnya membelah malam.
"Dee!!" Bentak Hanska menjauhkan wajah Deena dari lehernya.
"Jangan gerak gerak Dee.." Geram Hanska mengetatkan rahangnya.
Gadis itu semakin mendusel-nduselkan kepalanya di ceruk leher Hanska, membuat pria itu hilang fokus.
"Panas.." Igau Deena, sambil menyingkapkan gaun keatas, semakin terpampanglah paha mulusnya.
Terlihat jakun Hanska turun naik.
Brak.
Terdengar pintu mobil di banting keras.
Hanska tak peduli, jika saat ini mobilnya terparkir menyimpang di luar gedung, yang Dia pikirkan saat ini, adalah dengan cepat memasuki kantor dan secepat mungkin menjauhkan tubuh Deena dari tubuhnya.
Kaki jenjang Hanska melangkah besar, saat menapaki lobby kantor. Beberapa karyawan yang lembur, menyapa bos mereka tanpa niat mengusik urusan pribadi sang raja rimba itu.
Satu hal yang pasti, tak sampai besok pagi, seluruh penghuni kantor sudah pasti menjadi heboh, dengan penampakan bos galak mereka sedang menggendong seorang gadis muda dengan pakaian acak-acakan.
Mati-matian Hanska menekan hasratnya.
Ting.
Bunyi dentingan lift menandakan mereka sampai di lantai tujuan.
Hanska sudah gerah melihat tubuh berlekuk Deena, ingin sekali rasanya Dia melahap habis gadis itu saat ini juga.
"Tuan, saya sudah menyiapkan semua, sesuai perintah anda." Ucap Arga menyambut Hanska saat pria itu tampak berjalan cepat keluar dari lift.
Pria itu mengangguk, sambil terus berjalan Dia bertitah.
"Panggilkan dokter keluarga sekarang."
"Baik tuan." Jawab Arga menunduk.
Tanpa melihat Arga menjawab, Hanska menghilang di balik pintu berpahat.
Brakk.
Lagi-lagi, pria itu membanting kuat pintu dengan kakinya. Entah karena tak sabar ingin melahap habis Deena, ataukah tak sabar ingin membanting gadis itu agar berhenti memancing hasratnya.
Hanska Membaringkan Deena ketengah ranjang king size miliknya.
Gadis itu meracau. "Mau ini." Ucapnya menunjuk bibir tebal Hanska.
Mata pria itu seketika menyipit. "Kau yakin?" Tanyanya menaikkan alis.
"Lama!" Bentak Deena kesal, langsung mendorong tubuh tak siap Hanska, membuat pria itu jatuh di ranjang dengan posisi telentang.
Deena yang tak sadar, tampak berani menaiki tubuh Hanska, duduk di perut pria itu.
Hanska tercengang melihat tingkah Deena, dimatanya gadis itu tampak sangat berani.
"Sudah mulai nakal hmm." Ledek Hsnska yang tak sampai kedalam pendengaran Deena akibat pengaruh obat. Hanska terkekeh geli.
Chupp Chupp.
Dengan wajah tanpa dosanya, Deena mengapit kedua pipi Hanska. Sangat jelas terasa berantakan ciuman yang di beri gadis itu.
Sesekali Hanska mengerutkan alisnya saat Deena tak sengaja menggigit bibir Hanska hingga berdarah.
Walau begitu, Hanska terus membiarkan Deena melakukan kegiatannya sampai gadis itu puas. Hanska malah terkekeh geli dan menyelipkan tangannya menjadi bantalan kepala. Deena bahkan sempat kehabisan napas akibat ulahnya sendiri.
"Sudah puas?" Tanya Hanska jenaka saat Deena duduk diatas perutnya.
Wajah Deena tampak memerah Dan itu membuat Hanska terkesiap saat melihat wajah imut gadisnya. Oke, sebut saja gadisnya.
"Tolong.. panas." Rengek Deena dengan suara serak merengek.
Kemudian mata Hanska membelalak, saat retinanya menatap sajian pemandangan yang di ciptakan Deena, diatas tubuhnya.
Lagi-lagi gadis itu membuatnya turn on dengan mudah.
Deena meloloskan gaun robeknya melalui kepala, dilemparkan kesembarang arah.
Tangan nakalnya menyingkap kemeja Hanska, menyajikan roti sobek yang membuat wanita manapun rela di tiduri pria itu dengan cuma-cuma.
Jari lentiknya mengelus dada pria itu bagai anak-anak yang bermain kereta api. Hanska menikmati itu, tapi hal itu tak benar jika membiarkan Deena mengambil alih di saat seperti ini.
Dia akan mengajari gadis itu terlebih dahulu.
Hanska menghembuskan napas berat.
"Ssshh.." Desis Hanska saat Deena menggigit dagunya gemas, sudah bisa di pastikan, keesokan harinya muncul tanda-tanda kebiruan.
"Sudah cukup Dee!" Ucap Hanska menjauhkan wajah Deena dari dadanya.
Gadis itu terlihat tak senang. "Disini dingin.. mau ini!" Racaunya menempelkan pipi didada bidang Hanska.
Pria itu meneguk salivanya susah payah.
"Ingat ini, kau yang memintanya, kau harus di hukum." Geram Hanska membalik posisi mereka, kini Dia yang mengambil alih.
Hanska mulai membalas dendam dengan Deena, pria itu geram menghajar pipi gempal Deena yang berisi. Seolah pipi Deena adalah n*kotin yang membuatnya candu, tak puas hanya menoel, gantian menggigit.
Bibir Cherry itu terus perotes, kenapa hanya pipi yang digigit Hanska.
"Hihii Te..terus, ga mau udah." Kikik Gadis itu merasa pipinya di gigit gemas.
Membuat naluri kelelakiannya semakin bangkit.
Bukannya memberontak seperti saat Deena sadar, kali ini gadis itu malah meminta lebih.
"Si*l Dee." Pekik Hanska geram.
"Lo masih kecil bisa bisanya godain gue." Geram Hanska bangkit berdiri membuka kemejanya.
Hingga menyisahkan celana bahan yang siap di tanggalkannya.
Tok tok tok.
Kegiatannya berhenti saat terdengar ketukan dari pintu besar.
Hanska, dengan cepat membelit tubuh hampir polos Deena, dengan bed cover miliknya bagai lemper.
Walau itu Arga, Dia tak rela pria lain melihat tubuh mulus Deena yang sungguh memancing hasrat.
"Masuk." Titahnya.
"Permisi tuan." Ucap Arga, hormat kedua orang itu, si dokter dan Arga.
Salsa mengerutkan alis, melihat kondisi Deena yang terbelit selimut dengan peluh membanjiri wajahnya.
"Langsung diperiksa aja tan." Ucap Hanska melipat tangan didepan dada.
"Baik tuan."
Walau Hanska adalah ponakannya, namun, wanita setengah baya itu tetap berlaku profesional, tapi, hanya di saat tertentu. Ingat itu.
Hanska berdehem. "Gimana tan kondisinya? Tan?" Tanya pria itu saat Salsa melepas stetoskop nya, tatapan garang langsung menghunus Hanska dengan cepat.
"Tan tan, kamu pikir aunty setan? panggil aunty." Ralat Salsa.
"Kenapa sih tante?" Tampak Salsa memicing tak suka, dengan panggilan Hanska padanya.
"Iya deh Onty, iyain biar cepet."
Wajah wanita itu semakin terlihat jengkel. Namun masih ada hal yang lebih penting.
"Hans! kamu ini gimana sih? Kalau nak Deena ndak mau, yaa ndak usah pakai obat obatan segala dong, bahaya tahu!" kesal Salsa mengomeli ponakan kesayangannya.
Hanska mengernyit sebal. "Tante, kok malah Hans yang di tuduh sih?" Protes pria itu tak senang dirinya di tuduh.
"Terus ini apa? kamu mau aunty adukan pada mamamu?" Tanya wanita itu menunjuk Deena, dan menelisik penampilan Hanska dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.
Hanska sadar itu. "Dia di culik lalu diberi obat." Jelas Hanska singkat.
To Be Continue >>>
Astaghfirullah baru juga mon maap buat ga php 😭 udah gantung aja nih cerita.
Triple baby belum lahir