Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PGM 02
Zee meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Ia baru sampai dirumah saat subuh menjelang.
Beginilah kesehariannya. Ia sudah seperti kelelawar saja. Berkeliaran di malam hari, dan akan tidur saat siang.
"Aahh.. sudah siang ternyata. Pantes aja aku lapar". Zee mengusap perut datarnya, merasakan cacing-cacing didalam perutnya sudah berdemo.
Zee menggelung rambutnya, kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Sebelum ia keluar, ia membereskan tempat tidurnya yang terlihat berantakan.
" Cuci muka dulu, neng". Baru saja ia mendarat kan pantatnya dikursi meja makan sederhana didalam rumahnya itu. Namun suara seorang wanita menginterupsi nya.
"Aaah.. Zee lapar mak. Nanti saja cuci mukanya kalau mau mandi sekalian". Malas kalau harus bangkit lagi dan pergi ke kamar mandi.
" Pamali neng, anak gadis belum cuci muka belum gosok gigi masa sudah mau makan".
"Iih.. emak mah.. " Meskipun begitu, ia menuruti perintah wanita yang ia panggil dengan sebutan emak tersebut.
Tak lama Zee kembali, wajahnya terlihat lebih segar setelah mencuci wajahnya. Membuat wanita yang tadi menyuruhnya itu tersenyum.
"Harus dibiasakan neng. Nanti kalau emak udah nggak ada, neng Zee___"
Suaranya menggantung karena Zee sudah lebih dulu memeluk wanita tua didepannya itu.
"Jangan ngomong gitu dong mak. Zee tinggal punya emak doang.. Nanti Zee mau sama siapa.." Gadis ceria itu langsung murung, wajahnya memancarkan kesedihan mendalam.
Emak menghela nafas, kasihan pada nasib malang gadis cantik yang kini tengah memeluknya itu.
Gadis cantik berusia 22tahun itu selalu terlihat ceria. Namun dibalik keceriaan nya tersimpan begitu banyak kesedihan yang begitu mampu mengoyak batinnya.
___
Kala itu hujan turun cukup deras. Sepasang suami istri tengah duduk di dalam mobil dengan seorang sopir yang tengah mengemudikan mobil yang membawa mereka.
"Kita akan terlambat pa.. " Ucap sang istri risau. Ia membayangkan wajah cantik putrinya yang tengah menunggu kedatangannya dan sang ayah.
"Tenang, sayang.. kita akan segera sampai". Si suami menenangkan istrinya yang terlihat tidak tenang.
" Percepat kendaraannya. Putriku menunggu kami". Perintah si suami pada sang supir. Membuat supir mengangguk dan menginjak pedal gas semakin dalam.
Hingga saat di persimpangan jalan, sebuah truk besar terlihat kehilangan kendali. Sang supir berusaha sekuat tenaga menghindar dan menguasai kendaraannya.
Namun karena jalanan yang licin sebab hujan, mobil yang mereka tumpangi ikut kehilangan kendali dan akhirnya beguling sebelum akhirnya terbalik.
Tak ada yang selamat didalam mobil, bahkan supir juga dinyatakan meninggal ditempat.
Sementara di sebuah rumah megah, tampak seorang gadis yang sudah cantik menggunakan gaun pesta berwarna peach. Wajah nya memberengut, bibirnya maju beberapa inch.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya, namun kenapa kedua orang tuanya tak kunjung datang. Berulang kali ia mengecek ponselnya. Namun tetap tak ada berita dari kedua orang tuanya.
"Non.. sini duduk dulu". Panggilan lembut itu mengalihkan perhatiannya dari pintu utama.
Seorang wanita berusia 60tahun lebih tampak menatap teduh dirinya. Ia adalah Sutini, pembantu dirumah itu.
" Papa sama mama kenapa lama banget sih, mak". Tanya gadis cantik dengan gaun yang juga sama cantik nya itu.
"Sabar non.. mungkin macet. Diluar sedang hujan.. " dengan sabar ia menuntun anak majikannya untuk duduk.
Belum juga pantat itu menyentuh kursi, bel rumah berbunyi. Membuat gadis cantik itu langsung kembali berdiri tegak dengan wajah yang berubah ceria.
"Itu pasti mereka.. " Soraknya kegirangan.
Dengan langkah ringan sedikit berlari ia menuju pintu utama rumah itu. Dengan penuh semangat membuka pintu.
Namun senyum yang menghiasi wajahnya berubah menjadi kebingungan saat melihat bukan orang tuanya yang berdiri didepan pintu. Namun dua pria berseragam yang tak ia kenali.
"Maaf, om cari siapa ya? ". Tanya Zee sopan. Diam-diam ia mengamati pakaian dua pria didepannya ini.
" Kepolisian? ". Gumam Zee nyaris tak terdengar.
Melihat nona muda nya tak kunjung masuk, Sutini menyusulnya keluar untuk melihat siapa yang datang. Jika nyonya dan tuannya yang datang mengapa tak kunjung masuk.
" Benar ini kediaman pak Dani? ". Seorang polisi mengajukan pertanyaan. Zee mengangguk pelan sebagai jawaban
" Adek dirumah sama siapa? ". Tanya salah seorang anggota yang lain.
" Ada apa non? siapa? ". Zee berbalik, menatap emak yang sudah berdiri di belakang nya.
" Nggak tau, Zee nggak kenal". Emak akhirnya maju, menemui dua orang berseragam itu.
"Maaf, kalau boleh tau. Bapak-bapak ini mencari siapa ya? ". Kedua polisi saling pandang sesaat.
" Ibu ini.. "
"Saya pembantu disini. Pengasuh anak pak Dani.. " Emak menjelaskan.
"Ada apa ya pak? " Perasaan emak mulai tak tenang dengan kedatangan dua polisi didepannya ini. Apalagi tuan dan nyonya nya tak kunjung sampai.
Dan inilah jawaban dari perasaan tak tenang nya itu. Didepannya ada dua manusia yang sudah terbujur kaku. Ia mengenal mereka, tuan dan nyonya nya.
"Aaaaaahhh.. nggak mau. Mamaaaa... papaaaaa.. " Jerit tangis memenuhi kamar jenazah itu
Malam sepi itu pecah dengan suara tangisan yang sangat menyayat hati. Tangisan dari seorang anak remaja yang kehilangan kedua orang tuanya.
"Aaaaaaa.. mamaaaaaa!!! Mama udah janji mau rayain ulang tahun aku.. jangan tinggalin Zee mamaaaaaa".
" Papaaaaa.. " Jerit pilu Zee didepan jenazah kedua orang tuanya. Tak lama tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Gadis itu terlalu muda untuk bisa menerima semua ini. Dan semua ini terlalu mendadak untuk bisa diterima.
Berulang kali Zee jatuh pingsan. Dirumah sakit, dirumahnya, bahkan Di pemakaman kedua orang tuanya, ia kembali pingsan.
Emak hanya bisa ikut menangis melihat gadis ceria itu berulang kali ambruk tak sadarkan diri. Semua ini memang terlalu mengejutkan, dirinya saja merasa seperti kehilangan arah.. apalagi Zee yang kala itu masih berusia 15tahun.
Kepahitan tak berakhir sampai di sana. Teman, sahabat bahkan kerabat mulai menjauh dari Zee yang kala itu sedang butuh seseorang untuk bersandar. Namun semua orang justru pergi meninggalkan dirinya.
Emak adalah saksi betapa berat nya hidup seorang gadis muda. Bahkan gadis itu harus kehilangan semua kemewahan peninggalan kedua orang tuanya.
Semua kekayaan, perusahaan, rumah peninggalan, bahkan perhiasan yang menempel pada tubuh Zee kala itu disita oleh bank.
Zee yang masih belum paham hanya bisa pasrah saja saat semua aset peninggalan orang tuanya disita oleh bank karena perusahaan papa nya dinyatakan bangkrut.
Beruntung Zee memiliki emak. Saat semua orang meninggalkan dirinya, emak adalah satu-satunya orang yang bertahan disisi nya. Karena itu pula lah Zee sangat menyayangi emak.
Kedua orang tua Zee seperti sudah memiliki firasat sejak jauh hari. Mereka menitipkan harta yang tidak sedikit pada emak.
Rumah, perhiasan, juga sejumlah uang yang jumlahnya tidak sedikit. Beruntung semua itu diatasnamakan emak, jika tidak mungkin saat ini Zee dan emak tak memiliki tempat tinggal.
"Tolong jaga Zee. Kami titipkan Zee pada emak.. karena kami percaya Zee akan baik-baik saja kalau emak yang menjaga". Itu adalah pesan terakhir dari ibunda Zee. Karena tak Ada lagi percakapan setelahnya. Nyonya dan tuannya kembali dalam kondisi tak bernyawa.
Emak tersadar dari lamunan panjangnya saat suara Zee memanggilnya. menggoyang sedikit tubuhnya yang saat ini masih dipeluk oleh gadis malang itu.
" Emak? Emak kenapa? ". Tanya Zee menatap manik mata teduh itu.
Emak sudah terlihat sangat tua saat ini. Apalagi dengan penyakit darah tinggi dan juga jantung yang dimiliki wanita sepuh itu.
Zee sangat takut jika suatu saat tiba waktunya dirinya akan benar-benar ditinggalkan selamanya oleh emak.
" Ayo makan dulu.. neng Zee sudah lapar kan? ". Emak memilih mengalihkan pembicaraan. Ia selalu tidak tega melihat bagaimana Zee menjalani hidupnya selama 7tahun terakhir ini.
Meskipun gadis itu tidak pernah mengeluh dan selalu terlihat ceria, namun emak tahu itu hanya sebuah topeng untuk menyembunyikan kesedihannya.
...¥¥¥¥°°°¥¥¥¥...
...Maafkan othor nya karena kemaren liburan dulu, jadi baru sempet nulis🤭...
...Semoga suka readers.. sarangheyo readers💋💋💋💋 ❤❤😍🫰🫰🫰...