"WHAT?! QUEEN MAFIA!!!"
MAFIA, satu kata yang tak pernah terlintas dalam pikiran seorang gadis berparas cantik yang mendapat julukan badgirl di sekolahnya. Lalu, apa yang membuatnya terjerumus dalam dunia bawah? Bahkan harus menjadi Queennya.
Apa yang kalian pikirkan tentang seorang Tentara? Datar? Cuek? Serem? atau Sangar? Ohh... Salah besar, Karena tentara satu ini cukup humoris tapi jika saat di depan musuh, seketika sifat humorisnya hilang dan berubah menjadi dingin serta memiliki aura yang sangat kuat dengan sorot mata yang tajam.
Tentara tampan itu di perintahkan untuk menjalankan misi tertentu dan membuat kehidupannya berubah drastis karena dirinya terpaksa harus menyamar, Sungguh cobaan yang sangat berat baginya.
"Aku tidak akan berubah, karna ini jalan hidupku." Seru sang badgirl
"Sungguh diluar pemikiranku. Misi ini membuatku rasanya ingin mati." Kesal tentara tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Diwaktu yang sama namun berbeda tempat...
Kini terlihat beberapa mobil melaju dengan kecepatan standar sedang memasuki sebuah hutan. Iringan mobil tersebut tak lain adalah iringan dari Jendral Buana beserta anggota tentaranya yang saat ini sedang menjalankan sebuah misi. Mobil yang di tumpangi Jendral Buana berada di urutan kedua, sedangkan mobil yang membawa tahanan ada di posisi ke empat.
"Waspadalah, jangan sampai lengah. Mungkin akan ada jebakan di depan." Seru Jendral Buana lewat earphone yang sudah tersambung di setiap anggota tentaranya, kini dia duduk di samping kursi kemudi.
"Siap Jendral." Balas mereka serempak
Dwwaaarr...
"Aggkkhh..."
Tiba tiba saja, mobil paling depan terbalik karena adanya ledakan dari bawah tanah. Hal itu tentu membuat beberapa pengemudi mobil di belakangnya langsung membanting setir dan juga mengerem secara mendadak agar tidak bertabrakan dengan mobil tersebut.
Dengan gerak cepat, Jendral Buana dan yang lainnya segera turun dari mobil dengan memakai perlengkapan khusus untuk berperang. Helm pelindung, baju anti peluru serta senapan yang sudah di siapkan sedari tadi.
"Selamatkan mereka." Titah Jendral Buana dingin
"Siap Jendral." Balas beberapa tentara
Beberapa tentarapun membantu tentara yang berada didalam mobil yang terbalik. Untung saja tentara tersebut tidak mengalami luka yang berat dan mobil itu juga hanya terbalik saja, tidak meledak. Jadi mereka pun selamat dalam kecelakaan itu. Setelah berhasil menyelamatkannya, tiba tiba saja....
Dorr..
Dorr..
Dorr..
"Awaass..." Seru Jendral Buana saat di hujani peluru yang entah berasal darimana
Dengan segera Jendral beserta pasukannya berjalan sembari berjongkok untuk berlindung di balik mobil yang terparkir disana dan langsung melakukan serangan balik dengan menembaki beberapa orang yang terlihat sedang bersembunyi di balik pohon dari arah kejauhan karena bisa di pastikan jika merekalah yang sudah menghujani pasukan Jendral Buana dengan banyak peluru.
Dorr..
Dorr..
Cukup lama mereka saling menyerang satu sama lain. Tanpa di duga, salah satu musuh melemparkan sesuatu ke arah tempat Jendral dan pasukannya berada.
"Tiarap... " Seru salah satu tentara dengan lantangnya karena dia yang pertama kali melihat benda itu
Dwaarr....
Benda tersebut yang tak lain adalah bom meledak. Tapi untungnya tidak terlalu besar dan juga berada cukup jauh dari mobil para tentara. Jadi semua tentara pun selamat, meski tadi sedikit terkejut karena adanya bom.
Saat semua tentara berlindung, musuh pun melempar bergerak cepat untuk mendekat ke pasukan tentara berada, setelah itu salah satu dari mereka melempar benda lagi dan kali ini benda tersebut terjatuh tepat di hadapan semua tentara yang masih berlindung di balik mobil
Uhuk... uhuk... uhuk....
Ternyata kali ini mereka melemparkan bom asap yang seketika membuat para tentara batuk-batuk dan juga mengalami kesulitan dalam penglihatannya karena saat ini disana penuh dengan asap tebal. Meski saat ini adalah siang hari, tapi tetap saja asapnya begitu tebal, apalagi ternyata ada tiga bom asap yang musuh lempar ke arah mereka.
"Uhukk... Apa semuanya aman?" Tanya Jendral Buana dengan lantangnya sembari terus berusaha untuk menetralkan pandangannya
"Aman Jendral." Balas semuanya serempak
Tak lama kemudian asap disana mulai menghilang dengan sendirinya, selain itu juga disana tidak lagi terdengar suara tembakan. Seketika Jendral dan para pasukannya keluar dari tempat persembunyiannya untuk melihat keadaan sekitar. Tiba tiba saja adal salah satu tentara yang menghampiri Jendral Buana dengan langkah yang tergesa gesa.
"Lapor Jendral. Tahanan berhasil melarikan diri." Lapor salah satu tentara dengan paniknya sembari memberi memberi hormat sejenak kepada Jendral Buana
"APA?! Bagaimana bisa?" Pekik Jendral Buana, sedangkan tentara yang lain saling tatap satu sama lain dengan tatapan penuh ketekejutan
"Maaf Jendral. Anggota kita yang bertugas menjaganya terkena serangan secara diam-diam." Seru tentara tersebut
Dengan segera, Jendral Buana beserta yang lainnya bergegas ke arah belakang mobil tahanan untuk melihat keadaan disana. Seketika mereka semua mendapati dua tentara yang saat ini terlihat sedang di papah oleh tentara yang lainnya kerena keadaan mereka cukup lemah dan mereka juga baru sadar dari pingsannya.
Memang benar, saat dua tentara yang bertugas menjaga tahanan agar tidak kabur dari dalam mobil terkena tembakan dari senjata berjenis sumpit yang musuh tembakkan secara diam-diam dan itu mereka lakukan saat sudah melemparkan bom asap. Jadi semua tentara disana tidak ada yang mengetahui serangan tersebut, apalagi serangan itu tidak menimbulkan suara sama sekali.
"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Jendral Buana kepada kedua tentara itu
"Kami baik baik saja Jendral." Balas kedua tentara yang masih dipapah oleh temannya
"Syukurlah. Kita kembali sekarang." Titah Jendral Buana
"Tapi Jendral, bagaimana dengan tahanan yang kabur?" Tanya salah satu tentara
"Kita akan bahas nanti." Jawab Jendral Buana dengan nada tegasnya
"Izin lapor Jendral." Ucap tentara yang lainnya secara tiba tiba sembari memberi hormat sejenak pada Jendral Buana
"Ada apa?" Tanya Jendral Buana datar
"Kapten Sean tadi melapor, jika telah terjadi ledakan di Sma Garuda Bangsa." Lapor tentara itu membuat semua yang disana terkejut bukan main
"Mereka benar benar tidak punya hati." Kecam Jendral Buana penuh amarah
"Apa insiden itu memakan korban?" Tanya Jendral setelah berhasil menetralkan amarahnya
"Iya Jendral. Insiden itu menewaskan tiga orang, dan juga ada beberapa orang yang mengalami luka di bagian tubuhnya. Saat ini mereka sedang dirawat di rumah sakit zzz. Untung saja petugas damkar cepat datang kesana, jadi api dari ledakan itu tidak merambat ke gedung sekolah." Jelas sang tentara dengan nada tegasnya
"Dimana Kapten Sean dan anggotanya saat ini?" Tanya Jendral Buana lagi
"Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit untuk mengetahui keadaan para korban."
"Hmm... Kita kembali sekarang. Kapten Sean pasti bisa mengatasi semuanya." Titah Jendral
"Siap Jendral." Balas mereka serempak
Kemudian merekapun memasuki mobil masing masing untuk segera pergi dari sana. Sedangkan mobil yang tadi terjungkal, mereka hanya meninggalkannya saja, tapi mereka juga akan menyuruh orang lain untuk mengurusnya.
Di rumah sakit...
Kini di sebuah ruangan rumah sakit terlihat beberapa orang sedang di periksa oleh sang dokter disana. Ada yang kepalanya di perban, ada yang tangan atau kakinya yang di perban dan ada juga yang hanya di plester saja karena hanya mengalami luka kecil.
"Selamat siang semuanya." Sapa seseorang tiba tiba memasuki ruangan tersebut dan berdiri dengan tegap di dekat ambang pintu
"Siang." Balas mereka semua sembari menatap orang yang menyapa barusan
"Bagaimana keadaan kalian semua?" Tanya orang itu dengan nada ramahnya. Dia tak lain adalah Kapten Sean beserta keempat anggotanya
"Kami baik baik saja." Balas mereka serempak lagi sembari tersenyum tulus
"Syukurlah. Saya selaku kapten disini mewakili semua anggota saya untuk meminta maaf kepada kalian semua karena telah terlambat datang untuk menyelamatkan kalian. Sungguh, kami meminta maaf yang sebesar besarnya." Ujar Sean yang merasa bersalah atas insiden itu
"Tidak apa apa kapten. Kami disini bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan kami yakin jika kapten bersama dengan anggota lainnya sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi..." Ucap salah satu pria disana dengan sengaja menggantungkan ucapannya karena ia bingung harus mengatakannya bagaimana
"Tapi kenapa?" Tanya Nicko penasaran yang berdiri di sebelah kiri Sean
"Kami bisa ikhlas karena hanya mengalami luka kecil saja. Tapi kami sendiri tidak tahu bagaimana dengan keluarga korban yang kehilangan keluarganya karena insiden tersebut." Ujar pria itu sedikit sendu
"Kami akan mengurus masalah itu secepatnya. Kami juga berniat akan menemui keluarga korban secara langsung." Balas Sean tanpa keraguan sedikitpun
"Hmm... Kalau begitu, kami mohon pamit. Semoga kalian semua lekas sembuh." Lanjut Sean dan langsung mendapat anggukan dari mereka semua
Seketika Kapten Sean beserta anggotanya sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Setelah itu, merekapun segera pergi keluar ruangan tersebut.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...
Salam manis dari author**...
Playboy abal abalan,udah kepergok juga masih gak mau ngaku 😏😏
masa iy dh tamat aj critanya
ngk seru lu mah 🙄🙄