Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Realita
Malam terakhir di Bali itu terasa begitu magis. Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, dunia luar seolah lenyap. Hanya ada suara deru napas yang memburu dan deburan ombak di kejauhan yang menjadi saksi bisu puncak kerinduan dua insan ini.
Gairah yang menyelimuti Langit dan Senja kali ini terasa jauh lebih intens dan berani. Jika malam pertama adalah tentang perkenalan dan kelembutan yang penuh kehati-hatian, malam ini adalah tentang penyerahan diri seutuhnya tanpa ada lagi keraguan.
Pakaian keduanya terlepas dengan cepat, seolah kain-kain itu hanya menjadi penghalang bagi kulit mereka yang sudah merindukan sentuhan satu sama lain.
"Kamu cantik sekali, Senja... selalu," bisik Langit serak, matanya menatap lekat setiap lekuk tubuh istrinya di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.
Langit memulai dengan ciuman yang lebih dalam dan menuntut. Tangannya yang hangat bergerak lincah, menjelajahi setiap inci kulit Senja, memberikan sensasi terbakar yang membuat Senja tak henti-hentinya menggeliat. Ketika bibir Langit kembali menyentuh area-area sensitifnya, Senja tidak lagi meringis kesakitan seperti sebelumnya. Kali ini, rasa sakit itu telah berganti menjadi gelombang kenikmatan yang luar biasa.
"Langit... mmmh," desah Senja pecah saat ia merasakan sentuhan suaminya yang semakin berani. Jemarinya meremas bahu kokoh Langit, kuku-kukunya tanpa sadar menggores punggung suaminya sebagai tanda betapa ia sangat menikmati setiap detik keintiman ini.
Setiap lumatan, setiap hisapan, dan setiap gerakan Langit dilakukan dengan ritme yang penuh perasaan, membawa Senja menuju puncak pelepasan yang berkali-kali.
Langit seolah tidak ingin berhenti; ia ingin menanamkan ingatan tentang malam ini sedalam mungkin di benak istrinya. Suasana kamar itu memanas, penuh dengan aroma cinta yang pekat.
Ketika puncak itu tiba, keduanya bersatu dalam harmoni yang sempurna. Senja mendesah kencang, memeluk Langit seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.
Langit pun menyusul, membenamkan wajahnya di ceruk leher Senja sambil membisikkan kata-kata cinta yang tulus saat ia merasakan pelepasan yang melegakan.
Mereka terengah-engah dalam posisi saling mendekap erat, kulit mereka yang berkeringat saling menempel. Langit tidak langsung menjauh; ia tetap memeluk tubuh mungil Senja, memberikan ciuman-ciuman kecil di kening dan pipi istrinya yang masih merona hebat.
"Malam ini panjang, Ja... dan saya nggak mau sedetik pun terbuang tanpa kamu," bisik Langit sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, namun tangannya tetap aktif membelai lembut pinggang Senja di balik selimut.
Senja tersenyum lemah namun penuh kebahagiaan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit, mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berdetak cepat—sama seperti miliknya. Malam terakhir di Bali itu benar-benar mereka habiskan sebagai suami istri seutuhnya, sebelum besok mereka harus kembali ke pelataran pesantren yang penuh dengan sekat-sekat aturan.
Cahaya subuh yang bening mulai menyusup di antara celah gorden, namun kamar itu masih dilingkupi sisa-momen keintiman yang kental. Setelah memaksakan diri bangun untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah dalam keadaan masih mengantuk dan lemas, Langit dan Senja langsung kembali merajut kehangatan di balik selimut tebal mereka.
Keduanya benar-benar tampak kelelahan. Bagaimana tidak? Langit benar-benar membuktikan ucapannya; ia seolah tidak membiarkan Senja bernapas lega sejak malam tadi. Keintiman yang berlangsung hingga jam tiga dini hari itu meninggalkan jejak kelelahan yang nyata namun manis di wajah mereka.
Langit menarik tubuh mungil Senja ke dalam dekapan dadanya yang bidang, memeluknya begitu erat seolah takut kehilangan. Senja sendiri sudah tidak memiliki tenaga untuk protes, ia hanya menyamankan kepalanya di ceruk leher Langit, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan wangi sabun setelah mandi wajib tadi.
"Capek ya, Sayang?" bisik Langit, suaranya parau dan berat, terdengar sangat seksi di telinga Senja.
Senja hanya mengangguk pelan dalam pelukan itu. "Mas Langit nakal... aku ngantuk banget tahu."
Langit terkekeh, getaran di dadanya merambat ke tubuh Senja. Ia mengecup kening istrinya lama sekali. "Ya habisnya, kamu kayak magnet. Saya mau berhenti, tapi bibir kamu kayak bilang 'jangan pergi dulu, Langit'. Jadi ya sudah, saya lanjut saja sampai subuh," gombal Langit dengan wajah tanpa dosa.
"Ih! Kapan aku bilang gitu? Aku kan cuma diam!" sahut Senja malu, wajahnya yang sudah merah padam semakin tersembunyi di dada Langit.
"Diamnya kamu itu artinya setuju bagi saya, Ja," Langit mulai lagi dengan jurus gombalan tengilnya. Ia memainkan jemari Senja, mencium ujung-ujung kuku istrinya satu per satu.
"Kamu tahu nggak bedanya kamu sama ombak di bawah sana?"
Senja mendongak sedikit, menatap mata suaminya yang masih sayu. "Apa?"
"Kalau ombak datangnya cuma musiman buat nyentuh pantai, tapi kalau kamu... setiap detik, setiap tarikan napas, selalu bikin 'badai' di hati saya. Apalagi kalau kamu lagi... ah, sudahlah, nanti kamu makin malu."
"Mas Langit!" Senja mencubit pelan perut Langit, membuatnya tertawa renyah.
"Duh, istri saya kalau lagi capek gini malah makin cantik. Kayak bidadari yang baru turun dari langit, terus lupa jalan pulang karena ketemu jodohnya yang namanya juga Langit," lanjut Langit lagi, semakin menjadi-jadi.
Senja tidak bisa menahan senyumnya. Meski tubuhnya terasa remuk karena "maraton" keintiman semalam, hatinya terasa begitu penuh oleh cinta. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Langit. "Gombal terus... nanti kalau di pesantren jangan begini ya, nanti ketahuan Abah."
"Di pesantren saya bakal jadi santri teladan, tapi kalau di kamar... saya bakal tetap jadi 'Singa' buat kamu," bisik Langit sambil mengecup telinga Senja, membuat Senja merinding sekaligus geli.
Keduanya akhirnya terlelap kembali dalam posisi yang sangat lengket, menikmati sisa beberapa jam terakhir di Bali sebelum kenyataan hidup di pesantren kembali memanggil mereka.
Pagi itu, meja makan di area terbuka vila sudah dipenuhi oleh keluarga besar Surya Agung. Pak Alistair sedang membaca koran digitalnya, sementara Liam dan Ian tampak sibuk membantu istri-istri mereka menyuapi anak-anak yang mulai rewel karena harus segera berkemas.
Suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi sesaat ketika Langit dan Senja muncul dari balik pintu. Keduanya berjalan pelan, hampir berseret. Senja terlihat sangat cantik namun wajahnya pucat karena kelelahan, sementara Langit—meski terlihat segar setelah mandi—tidak bisa menyembunyikan kantung mata hitam dan langkahnya yang sedikit lunglai.
Mami Retno yang sedang menuangkan jus jeruk langsung menghentikan gerakannya. Matanya yang jeli memindai penampilan anak bungsunya.
"Walah, walah..." celetuk Mami Retno dengan suara lantang yang khas. "Langit, kamu itu mau pulang ke Jawa Timur apa mau pingsan? Itu mata sudah kayak panda, kantung matanya sampai bisa buat naruh koin!"
Langit hanya menyengir malas sambil menarik kursi untuk Senja. "Ngantuk, Mi. Namanya juga menikmati malam terakhir di Bali."
Zizi yang sedang memotong croissant langsung menyahut tanpa ampun, "Menikmati sih menikmati, Lang. Tapi lihat tuh Senja, sampai pucat begitu. Lo kalau jadi suami jangan serakah-serakah banget kenapa? Kasihan tahu, dia itu manusia, bukan maraton yang lo gas terus sampai subuh."
"Zizi! Mulutnya," tegur Vicky sambil menahan tawa, sementara Senja sudah ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam mangkuk sereal karena malu yang luar biasa.
Ian ikut menimpali sambil mengedipkan mata pada Langit. "Sabar, Zi. Langit kan lagi ngejar setoran sebelum balik ke asrama yang isinya cuma sarung sama kitab. Di sana mana bisa dia sebebas ini?"
Pak Alistair akhirnya menurunkan korannya, menatap Langit dengan tatapan tajam namun penuh arti. "Langit, ingat pesan Papa. Jaga kondisi. Nanti sampai di pesantren kamu malah sakit karena kurang tidur, malah bikin repot Kyai Danardi."
"Aman, Pa. Langit kuat kok," jawab Langit sok tangguh, padahal ia baru saja menguap lebar.
Mami Retno kemudian beranjak ke tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan pekat. "Nih, minum! Jamu khusus dari Mami. Biar kamu nggak loyo di pesawat. Senja juga harus minum madunya, biar badannya hangat lagi."
"Apa ini, Mi? Pahit nggak?" tanya Langit curiga.
"Sudah, minum saja! Biar nanti pas sampai di Mambaul Ulum, kamu tetap tegak pas salim ke Abah!" titah Mami Retno telak.
Setelah sarapan penuh godaan itu selesai, mereka semua pun bersiap menuju bandara. Di dalam mobil menuju Ngurah Rai, Langit kembali menarik kepala Senja untuk bersandar di bahunya. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Senja mencubit lengannya pelan.
"Nanti di pesawat tidur ya, Ja. Biar pas sampai pesantren, muka kamu nggak kelihatan habis 'dikerjain' saya semalaman."
Senja hanya memejamkan mata, tersenyum dalam kantuknya, merasa bahwa meski liburan telah usai, cinta mereka justru baru saja dimulai dengan babak yang jauh lebih indah.
Pesawat pribadi keluarga Surya Agung mendarat dengan mulus di Bandara Juanda. Perjalanan darat dilanjutkan menuju Kediri, dan tak lama kemudian, gerbang besar Pesantren Mambaul Ulum pun terlihat. Suasana tenang dan lantunan ayat suci yang sayup-sayup terdengar dari arah asrama langsung menyambut mereka.
Langit menghela napas panjang. Begitu mobil mewah Pak Alistair berhenti di depan kediaman ndalem, Langit langsung menggenggam tangan Senja erat-erat di bawah jok mobil, seolah enggan melepaskan sisa-sisa kebebasan mereka di Bali.
"Balik ke realita, Ja," bisik Langit dengan nada yang tiba-tiba lesu.
Begitu turun dari mobil, aura mereka langsung berubah. Senja kembali menjadi putri Kyai yang anggun dan santun, sementara Langit berusaha menekan sifat tengilnya. Mereka disambut hangat oleh KH. Danardi dan dr. Siti Aminah.
Setelah sesi bersalaman dan menyerahkan oleh-oleh, Pak Alistair dan Mami Retno berpamitan untuk langsung kembali ke Surabaya karena urusan bisnis. Kini, tinggallah Langit dan Senja berdiri di hadapan sang Kyai.
"Alhamdulillah kalau kalian senang di sana. Sekarang, liburan sudah usai," ujar KH. Danardi sambil tersenyum tenang. "Langit, kamu bisa kembali ke asrama putra untuk menaruh barang-barangmu. Jam wajib belajar akan dimulai satu jam lagi."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Langit. Ia melirik Senja dengan tatapan memelas. Baru beberapa jam yang lalu mereka berpelukan erat di bawah selimut, sekarang mereka harus dipisahkan oleh dinding asrama dan aturan pesantren yang ketat.
"I-iya, Abah. Langit pamit ke asrama dulu," jawab Langit dengan suara yang diberatkan, berusaha tetap terlihat sopan.
Senja hanya bisa menahan tawa melihat wajah lesu suaminya. Saat Langit melewati Senja untuk mengambil koper, ia sengaja berjalan sangat dekat hingga bahu mereka bersentuhan.
"Jangan kangen ya, Nyonya Sterling. Nanti malam saya cari cara buat lewat depan kamar kamu," bisik Langit sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh siapapun kecuali Senja.
Senja hanya membalas dengan anggukan kecil dan tatapan mata yang seolah mengatakan, 'Sabar ya, suamiku.'