Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Bu Lina?
Malam itu Damar terlihat lebih pendiam, ibunya membuatkan ia bubur agar lebih mudah makannya, maklum wajahnya masih lebam dan ada perban di pelipisnya.
" Rania mana Neng?" tanya Pak Abdul
" Katanya pulang malam karena closing"
MJ makan tahu dan tempe saja karena tadi sore sudah makan di taman. Namun ia tak boleh terlalu ekstrim melakukan konfrontasi terhadap istrinya Pak Abdul. Menurut bu Nawang, ia jangan terlalu terlihat punya uang dihadapan ayahnya.
" Di sini itu perumahan lama yang sarat akan kekeluargaan, apalagi ayah adalah salah satu orang yang tinggal paling lama, jadi kamu tidak bisa abai dan acuh begitu saja.
Dulu kamu hingga di cluster yang semua penghuninya cuek saja, tapi itu tidak bisa diterapkan di lingkungan tempat tinggal mu yang baru. Kamu tau kan peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, jadi kamu harus bisa beradaptasi dengan orang-orang yang ada di sini" nasihat Pak Abdul
MJ menyimpan tawanya di dalam hati, ia tak mau di cap sebagai antagonis dalam peperangan ini. Baginya, melihat Damar seperti ini adalah hiburan penghilang penat.
" Dia pasti bersekongkol dengan preman itu! kamu nggak suka kan aku tingga di sini?" tuduh Damar dengan tatapan tajam seperti par4ng yang baru di asah
" Aku memang tidak suka kalian berdua menumpang tinggal di rumah ibuku, tapi aku tidak sekejam itu merencanakan hal itu padamu. Lagian kesalahan kamu jelas, ugal-ugalan dan hampir menabrak bayi. Jadi orang kok sukanya nyari kambing hitam, padahal dia yang salah " ujarnya tetap tenang
" Damar! Mama minta kamu jangan berulah lagi di sini! Ingat kita ini cuma penumpang, sudah bagus kita diperbolehkan tinggal di sini" ujar Bu Nia
" Sudah Nia, jangan di perpanjang. Aku harap anakmu sadar akan adab yang paling dasar di ajarkan sejak kecil. Lagipula si Aep itu orang lama juga, aku kenal sejak dia masih kecil" ujar Pak Abdul
Suasana langsung hening seketika, MJ malas bicara karena tak ada topik yang harus di bahas. Akhirnya ia pamit duluan ke kamarnya.
" Mau kemana kamu Neng?''
" Cuci piring!"
" Loh, kenapa kamu sudah selesai? Ayah lihat kamu hanya makan tahu dan tempe saja? ini ada sayur dan ikan bakar loh neng, nggak mau coba?"
" Enggak! Aku permisi!" jawab MJ langsung pergi meninggalkan meja makan begitu saja
" Mentari" panggil Bu Nia lemah lembut
MJ menghentikan langkahnya sejenak, namun ia enggan menengok karena ingin cepat-cepat pergi.
" Besok mau sarapan apa nak?" tanya Bu Nia
" Nasi tumpeng!"
" Mentari! Jangan minta yang aneh-aneh pada ibumu " ujar Pak Abdul
Mentari terpaksa menengok karena takut kena fitnah, maklum ia harus waspada dengan hasutan ibu tirinya.
" Siapa yang minta? Aku cuma jawab pertanyaan Baginda Ratu kok. Kalau emang nggak sanggup bikin tumpeng, aku beli nasi kuning aja dekat warung bu Oyoh "
Bu Nia mengusap tangan suaminya sambil memberikan kode untuk tenang.
" Kalau cuma nasi kuning, ibu bisa buatkan. Insya Allah ibu akan bangun lebih pagi untuk mempersiapkan keinginan mu itu"
" Nggak usah menyiksa diri mah, ngapain mama bela-belain bangun pagi untuk masakan yang belum tentu akan dihargai oleh dia" ujar Damar
" Cukup Damar! kamu itu bisa nggak sih bersikap baik sama saudara tiri mu?"
" Terserah saja mau masak apa, aku permisi mau belajar! Terima kasih atas makan malamnya" ujar MJ yang tak mau terlibat dengan kerusuhan itu
Bu Nia tersenyum tipis hampir tak terlihat, tak apa MJ masih ketus padanya. Kata terima kasih yang disematkan sebelum ia menghilang membuat bu Nia senang. Itu artinya MJ masih punya hati yang tulus untuk menyampaikan rasa terima kasih.
" Sudah Nia, tidak udah buat nasi kuning. Biarlah untuk sarapan besok aku beli saja nasi kuning di warung " ujar Pak Abdul
" Tak apa Kang, biar aku yang buatkan sendiri. Mungkin sebentar lagi si Neng akan luluh dan menerimaku jika aku berusaha" ujar Bu Nia optimis
Pak Abdul tersenyum sambil mengangguk,
" Yasudah aku akan bantu kamu mempersiapkannya"
Damar pergi tanpa pamit, ia naik ke atas membawa kesal. Semenjak mama dan papanya bercerai, hidupnya seakan runtuh tak tentu arah. Ia berada dalam kondisi terhimpit sana sini, parahnya lagi mama nya sudah mulai baik pada MJ.
" Damar, minum obatnya dulu nak. Kalau besok masih sakit, izin tidak masuk sekolah saja" ujar Bu Nia
" Mah, sebenarnya kita mau sampai kapan begini terus? Aku ngga mau terus-terusan tinggal di rumah ini dengan segala aturan yang tidak masuk akal " geram Damar
" Kamu ini bicara apa Damar? Kita ini memang bukan pemilik rumah ini, jadi harus bisa menempatkan diri dengan baik untuk tuan rumah"
" Mama nggak benar-benar mau berbuat baik sama si MJ kan?" tanya Damar seraya menyipitkan matanya
" Kenapa tidak? Mama tidak mau jadi orang jahat nak, teringatnya Cyla ada bersama papamu dan wanita ular itu. Bagaimana jika dia di perlakukan tidak baik oleh ibu tirinya? itulah yang mama terapkan pada Mentari, mama tidak mau jadi ibu tiri yang jahat"
" Terserah mama aja lah, tapi kalau mama dijadikan babu sama dia, aku nggak ikut-ikut ya" ujar Damar
Bu Nia tau jika kehadirannya memang sulit diterima oleh anak sambungnya, tapi ia akan berusaha lebih baik lagi untuk mendekatkan diri.
Keesokan harinya, Bu Nia benar-benar merealisasikan niatnya membuat nasi kuning lengkap dengan kondimen nya. Dapur sudah ramai sejak subuh tadi, Pak Abdul membantu istrinya hingga tidak sempat pergi ke Masjid untuk sholat berjamaah.
Rania sudah bertugas mengepel lantai sementara MJ mencuci baju. Mereka tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, yang penting tidak saling menganggu satu sama lain.
Aroma rempah yang berpadu dengan santan segar menyapa halus indra penciuman MJ. Sepertinya Bu Nia memang berbakat jualan, mungkin setelah ini ia akan mengelar dagangan di depan rumah untuk bantu-bantu suaminya.
" Assalamualaikum! Assalamualaikum!"
Suara perempuan terdengar mengucap salam di depan pagar depan, siapa gerangan yang bertamu jam setengah 6 pagi? Langit saja masih gelap dan gerimis tipis turun samar-samar.
Rania langsung menghampiri pagar karena dia sedang mengepel teras rumah. Nampak seorang wanita berusia 40 tahunan dengan penampilan yang mencolok sedang berdiri di sana.
" Waalaikumsalam, cari siapa bu?"
" Pak Abdul ada? bilang padanya Bu Lina mau bertemu"
" Bu Lina dari mana ya?"
Wajah Bu Lina yang di hiasi lipstik warna pink fushia langsung mendadak judes kek rentenir.
" Kamu ini pembantu jangan banyak tanya! Buka kan pintu saja, aku mau masuk ke dalam!" bentaknya seperti nyonya Belanda
" Maaf Bu Lina, saya tidak bisa....."
" Siapa yang bertamu pagi-pagi Ran?" tanya Pak Abdul yang sudah ada di ambang pintu
" Ini Mang, ada yang mau ketemu sama mamang. namanya bu Lina...."
" Kang Abdul! Kita perlu bicara!" potong Bu Lina sambil berjinjit dan melambaikan tangan pada Pak Abdul
" Kamu.....!"
" Iya Kang, ada hal yang harus aku beritahukan...!"
" Tunggu disitu! jangan berani-beraninya masuk ke dalam!"
Rania bingung sendiri karena wajah Pak Abdul terlihat tegang seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Siapa Bu Lina? Apa hubungan mereka berdua?
" Ran, jangan bilang siapa-siapa kalau mamang keluar sebentar bersama dia" ujar Pak Abdul
" Dia siapa mang? dia bukan selingkuhan mamang kan?" selidik Rania
" Astaghfirullah Rania, dia bukan siapa-siapa mamang! sudah kamu selesaikan saja ngepel nya, mamang tidak akan lama"
Rania melihat mereka berjalan menjauh dari rumah, body language mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kedekatan yang intens sebagai pasangan selingkuh.Tapi kenapa mamang melarangnya untuk bicara pada orang rumah?
mungkin di platform ini saya bisa menulis dengan tema yang beda dari sebelah.
Jadi para reader sekalian, kalau mau cerita happy dan ringan bisa mampir di tetangga ya.😍