Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya aku menemukanmu
Dafa yang begitu bahagia tanpa berpikir panjang langsung menghubungi maskapai penerbangan dan akan menggunakan pesawat pribadinya menuju ke Kota S. Wajah Dafa yang tampak bahagia, tidak berhenti mengulaskan senyum yang menghiasi wajah tampannya itu.
Kring.. kring.. kring..
Ponsel Dafa berdering di tengah-tengah perjalanannya menuju Bandara.
"Halo. Ada apa Yo?" tanya Dafa setelah mengangkat telepon yang ternyata dari Ryo, sahabatnya.
"Bengsek, kemana aja sih, hah?! Ponsel susah di hubungi, email juga tidak di balas," kata Ryo marah-marah setelah teleponnya diangkat oleh Dafa.
"Woi, sudah kayak mamak-mamak saja sekarang. Banyak bacotnya. Katakan saja ada apa?" sergah Dafa memotong semburan amarah Ryo.
"Kamu sudah ketemu Risma belum?" tanya Ryo kepada Dafa.
"Hahaha. Kamu ngingau atau apa? Ini aku baru mau ke Kota S. Nanti tugasmu jemput aku di bandara ya. Awas kalau telat, aku lempar ke Afrika nanti," gelak tawa bahagia sudah bisa di dengar oleh Ryo. Sedikit bingung Ryo di buatnya, karena Risma sekarang ada di Jakarta, mengapa Dafa malah mau ke Kota S?
"Hah. Apa kamu belum ketemu Risma di Jakarta?" tanya Ryo karena terkejut mendengar Dafa yang akan pergi ke Kota S.
Ckiiiiittttt...
Dafa mendadak mengerem mobilnya dan berhenti di tepi jalan.
"APA?! RISMA DI JAKARTA!" sahut Dafa terkejut.
"Makanya kalo diberi info itu di baca, begoo. Ini malah di abaikan. Untung aku mempunyai nomer ponselmu yang ini, kalo tidak aku..." kata Ryo, heran karena ponselnya dimatikan oleh Dafa.
Tut... tut... tut...
Dafa mematikan ponselnya setelah mendengar kata-kata Ryo tadi. Karena Dafa tidak mau mendengar ocehan Ryo lebih lanjut. Dan Dafa langsung menghubungi Serly untuk menanyakan kebenaran hal tersebut.
"Serly, kenapa kamu tidak melaporkan padaku kalo sekarang Risma ada di Jakarta?" sembur Dafa dengan kesal setelah panggilannya diterima oleh Serly.
"Maaf Tuan Muda, Nona melarang saya untuk memberi tahu Tuan Muda. Katanya, Nona Muda sendiri yang akan bilang ke Tuan muda," jawab Serly dengan takut-takut menyelimuti kata-katanya.
"SEJAK KAPAN KAMU MENJADI BODOH? HAH!? TUGAS KAMU MELAPORKAN SEMUANYA KEPADAKU, TIDAK ADA BANTAHAN!" Dafa berteriak marah kepada Serly.
"Ma.. Maaf Tuan," Serly merepet mendengar teriakan marah Dafa kepadanya.
"Kapan Risma berangkat ke Jakarta?" tanya Dafa lebih lanjut.
"Kemarin ikut penerbangan pagi, Tuan." Serly menjawab pertanyaan Dafa dengan jujur, takut menerima kemarahan Dafa muncul kembali.
"Kirimkan padaku nomer ponsel Risma sekarang! Gak pake lama!" perintah Dafa karena Dafa memang tidak memiliki nomer ponsel Risma.
"Baik, Tuan," bergegas Serly mengirimkan nomer ponsel Nona Mudanya tersebut kepada Dafa.
Dafa pun menutup teleponnya dan tak lama kemudian Dafa mendapat pesan masuk dari Serly yang mengirimkan nomer ponsel Risma. Sebenarnya Serly juga sedikit cemas, karena dari nada bicara bossnya tadi, belum bertemu dengan Risma. Kemana sebenarnya nona mudanya itu?
Tuuuuutttt... Tuuuuttt...
Suara sambungan telepon Dafa yang sedang menghubungi Risma. Dafa tampak cemas, takut kalau-kalau Risma akan benar-benar meninggalkannya. Karena tidak ada jawaban dari Risma, Dafa memutar balik mobil sportnya menuju ke rumahnya.
Sebelumnya Dafa sudah mengkonfirmasi ke maskapai penerbangan kalau Dafa membatalkan kepergiannya. Beberapa kali Dafa mengacak kasar rambutnya pertanda Dafa sedang frustasi. Dafa begitu panik memikirkan dimana sebenarnya Risma berada.
"Dimana kamu Ris? Kenapa tidak menjawab panggilan teleponku? Kamu gak boleh tinggalin aku kayak gini. Gak boleh, Risma!!" kecemasan tampak di raut wajah Dafa.
"Aaarrrgggghhhhtt!!" teriak Dafa sambil memukul-mukul kemudi mobilnya.
"Aku akan mencarimu walaupun harus membuat seisi Jakarta ini kacau balau," janji Dafa kepada dirinya sendiri.
Dafa pun menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Risma setelah Dafa mengirim foto Risma. Dan meminta Danang--salah satu anak buahnya--untuk melacak keberadaan nomer ponsel Risma. Karena Danang adalah salah satu kepercayaannya di bidang itu.
Dafa yang sudah berada di rumahnya, berlari menuju ke kamarnya, di bukanya laptop yang berada di meja kerjanya dan benar saja ada beberapa email masuk dari Ryo. Selain mengatakan kalau Risma berada di Jakarta, Ryo juga mengatakan kalau berkas-berkas pengajuan cerai dari Risma telah di kembalikan oleh pengacaranya. Itu artinya bahwa permohonan cerai Risma telah berhasil di gagalkan oleh Ryo, pikir Dafa.
Mommy Dafa yang bingung melihat kepulangan anaknya yg terburu-buru itu, tidak berani menegurnya, dia hanya melihat dari kejauhan.
Ting...
Sebuah pesan muncul di layar ponsel Dafa, dengan terburu-buru Dafa membuka pesan itu yang ternyata berasal dari Danang.
"Hotel Rajawali. Oke oke. Hotel Rajawali. Tenang Dafa, tenang," Dafa yang panik itu buru-buru keluar kamar, berlari keluar menuju garasi mobil dan melajukan mobilnya kembali. Dia menuju alamat yang dikirimkan oleh Danang kepadanya. Dengan kecepatan tinggi Dafa mengendarai mobilnya. Bahkan dia sudah menghubungi anak buahnya yang terdekat dengan hotel untuk memantaunya.
Risma yang baru selesai mandi, mengelap rambut basahnya dengan handuk kecil. Risma pun segera bersiap untuk menuju kantor Dafa di Jakarta. Dia memutuskan untuk ke kantor Dafa saja dari pada harus ke rumahnya. Karna tidak menutup kemungkinan pagi ini Dafa sudah berangkat ke kantornya, pikir Risma.
Salahnya Risma dia tidak meminta nomer ponsel Dafa ke Serly, sehingga Risma tidak tahu harus menghubungi kemana.
"Banyak banget panggilan yang masuk. Kok nomer baru semua sih?" tanya hati Risma yang baru saja memegang ponselnya, ada 30 panggilan tak terjawab di sana.
Kring... kring... kring...
Ponsel Risma kembali berbunyi, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Risma mengangkat ponselnya.
"Halo. Ini dengan siapa?" tanya Risma setelah mengangkat deringan teleponnya.
"Kamu jangan kemana-mana. Aku sebentar lagi sampai," kata suara yang berada di seberang teleponnya.
"Iisshh, kamu tuh siapa? Salah sambung gak tuh? Kenal juga kagak," kata Risma lalu mematikan panggilannya sepihak.
"Siapa sih? Orang aneh," gerutu Risma dan kembali mengeringkan rambutnya.
Setelah selesai bersiap, dengan celana jeans panjang, kemeja biru lengan panjang, sepatu kets putih, serta rambut panjangnya dibiarkan tergerai karena memang masih lembab dan wajahnya dipolesi make up tipis, setelah di rasa cukup, Risma meraih tas ransel kecilnya dan memasukkan ponsel ke saku celananya, bersiap untuk keluar.
Tok.. tok..tok..
Tok.... tok .. tok...
Suara ketukan pintu yang terus menerus membuat Risma heran, karena Risma merasa tidak mempunyai teman di sini, jadi tidak mungkin ada tamu yang mencarinya pikirnya.
Risma pun berjalan untuk membuka pintu kamar hotel tersebut.
Ceklek...
Bruukk...
Risma terkejut melihat kedatangan Dafa yang langsung memeluknya itu.
"Akhirnya aku menemukanmu," kata Dafa di pelukan Risma.
"Kenapa Mas bisa kesini?" gumam Risma lirih tanpa membalas pelukan Dafa.
"Aku mencarimu, Sweety," Dafa melepas pelukannya dan memegang bahu Risma.
Deg.. deg.. deg...
Mendengar Dafa menyebut kata sweety, jantung Risma berdetak seratus kali lebih kencang, seakan-akan meloncat keluar dari tempatnya..
"Oh. eh. Silahkan masuk Mas." Risma gugup mendapati Dafa berada di depan kamar hotelnya.
"Kenapa kamu tidak menghubungi Mas kalau mau ke Jakarta, Sweety?" tanya Dafa dengan lembut. Dan lagi-lagi jantung Risma berdetak kencang karena panggilan itu.
"Risma gak ada nomer ponsel Mas Dafa," jawab Risma dengan lirih.
Dafa pun masuk ke kamar tersebut, setelah menutup pintu, Risma berjalan dan duduk di kursi dekat meja rias, sedangkan Dafa duduk di pinggir ranjang.
Bersambung
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭