Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-21 Butik
Dari kejauhan, Amora mencuri pandang apa yang dilakukan oleh Azka dan Damian sambil bekerja. Ia bersyukur karena hari ini Anggi libur. Kalau masuk, sudah pasti Anggi akan menggodanya habis-habisan.
Menit dan detik berlalu, Azka akhirnya selesai membuat sketsa wajah Damian. Tak lupa, ia membubuhkan namanya di atas buku gambarnya, menandakan jika itu karyanya.
Damian lalu kembali ke meja Azka. “Ini, Om. Semoga Om suka ya,” kata Azka seraya menyerahkan hasil karyanya.
Damian menerimanya. Lagi-lagi ia dibuat terpukau. Sungguh, Azka adalah salah satu keajaiban Tuhan yang ada di dunia ini. Rasanya memang mustahil tapi itu kelebihan yang Azka miliki.
“Wow! Amazing. Kamu luar biasa, Azka. Aku akan menyimpannya dan meletakkannya di kamarku.”
“Terima kasih ya, Om.”
“Aku yang harusnya terima kasih.” Damian lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari kantong celananya.
“Ini untukmu, Azka. Karyamu sangat patut untuk dihargai.”
“Om, tidak usah. Simpan saja uang Om Damian. Nanti, saat aku sudah sukses, aku akan meminta Om untuk membayarnya,” tolak Azka dengan cara halus. Karena ia benar-benar melakukannya dengan ikhlas.
“Terima saja. Simpan uang ini. Kamu bisa membeli buku sketsa dan perlengkapan menggambar yang lebih bagus untuk menunjang bakatmu.”
Azka mendadak menjadi bingung. Ia sendiri memang sangat ingin punya perlengkapan alat menggambar yang bagus dan lengkap. Tapi, Amora melarangnya menerima uang dari orang asing dengan cuma-cuma. Kakaknya tidak mengizinkan adiknya dikasihani dan dianggap remeh oleh banyak orang. Mata Azka berlarian mencari dimana Amora. Padahal Amora sendiri sedang menerima tawaran pekerjaan aneh dari Damian. Ya, setidaknya cukup dirinya saja.
Damian mengikuti gerakan mata Azka. Ia tahu apa yang sedang Azka pikirkan. “Jangan bilang kakakmu. Anggap saja kamu menjual karyamu, Azka. Kamu tidak meminta-minta dan mengharap belas kasihan orang lain kok. Pelukis ternama sekalipun juga menjual karyanya dan mereka menghasilkan uang dari sana. Hobi yang menghasilkan, kenapa tidak? Aku membayarmu karena kamu punya karya bukan karena kasihan, Azka.” Damian berusaha meyakinkan Azka. Ia tahu apa yang ada di pikiran remaja itu.
“Baiklah, Om. Aku menerima upah pertamaku sebagai seorang pelukis dadakan,” kata Azka dengan senyum lebarnya.
“Nah, itu baru keren.”
Azka menerima uang pemberian dari Damian lalu memasukkannya ke dalam tas. “Aku akan membeli buku dan peralatan baru, Om.”
“Oke. Kembangkan terus bakatmu ya. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan sukses dan bisa membanggakan Kakakmu.”
“Aamiin … Terima kasih ya, Om.”
“Oke, sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu ya.”
“Iya, Om.”
Damian kemudian pergi meninggalkan kafe. Tak lupa ia meninggalkan tip dibawah cangkir kopi.
**********
Pukul enam sore. Kafe mulai lengang, pelanggan terakhir telah pergi. Amora keluar dari ruang ganti dengan tas selempang murahan dan jaket lusuh yang sudah mulai pudar warnanya. Azka berdiri di sisi pintu, menggenggam buku gambarnya erat.
Saat mereka melangkah keluar dari kafe, mata Amora langsung membelalak. Seseorang bersandar di mobil hitam dengan jaket coklat dan wajah datarnya yang khas. Damian. Amora menoleh ke Azka sejenak, memastikan adiknya juga melihat apa yang ia lihat. Azka justru tersenyum kecil, seolah sudah menebak.
Damian berdiri tegak saat keduanya mendekat, pandangannya langsung pada Amora. "Mau pulang?"
"Eh... iya. Tapi—" Amora ragu. "Kok... dokter di sini?"
Damian tidak menjawab. Ia justru membuka pintu belakang mobil. "Makan malam dulu. Aku sudah reservasi tempat."
Azka menoleh ke kakaknya dengan mata penuh tanya. Amora berdeham pelan, lalu melipat tangannya. “Dokter, saya habis shift. Laper sih, tapi nggak biasa ditraktir senior rumah sakit.”
"Anggap saja bentuk apresiasi," kata Damian tanpa senyum. “Lagi pula aku tidak suka menunggu terlalu lama. Jadi sekalian saja.”
Damian lalu mengarahkan pandangannya pada Azka yang berdiri disamping Amora. “Azka, kamu ingin malam dengan apa? Atau makanan apa yang ingin kamu makan?”
“Mmmm … Aku ingin sekali makan steak, Om.”
“Oke, kita makan steak,” jawab Damian bersemangat.
“Jangan, Azka! Kita makan di rumah saja,” kata Amora mencegah adiknya. Ia tidak ingin adiknya menjadi santapan tatapan maneh jutaan manusia. Ia ingin melindungi Azka dari tatapan itu.
“Kakak malu ya jalan sama aku? Atau Kak Amora khawatir orang melihatku aneh?” tanya Azka dengan senyum cerianya. Ia sudah berdamai dengan keadaannya.
“Bukan begitu, Kakak capek saja. Kita beli nasi padang saja nanti dan makan di rumah seperti biasanya,” kata Amora berusaha membantah pikiran adiknya itu.
“Aku mau makan sama Om Damian. Biarkan mereka menatapku aneh karena kenyataannya seperti itu. Aku tidak peduli, Kak. Aku pastikan suatu saat nanti mereka menatapku dengan penuh kekaguman,” ujar Azka dengan penuh rasa percaya yang tinggi bersamaan dengan perasaan kesalnya karena merasa kakaknya membatasi dirinya.
Damian tersenyum, merasa bangga dengan rasa percaya diri Azka yang luar biasa. Ia lalu membukakan pintu mobil bagian depan untuk Azka. “Baiklah, ayo masuk! Aku akan membawamu makan steak terenak.”
“Terima kasih ya, Om.”
“Sama-sama,” ucapnya seraya menutup pintu mobilnya.
Damian lalu membukakan pintu penumpang untuk Amora. “Ayo masuklah! Biarkan saja, Azka. Kamu jangan mengurungnya. Itu justru membuat rasa percaya dirinya hilang dan dia semakin takut bersosialisasi, Amora. Dengan cara memperkenalkannya dengan dunia luar, itu bisa membangun rasa percaya diri dan keberanian Azka. Aku tahu kamu ingin melindunginya. Tapi, caramu salah. Jadi, masuklah.”
Amora terdiam dan meresapi setiap kalimat yang terucap dari mulut Damian. Apa yang dikatakan oleh Damian memang ada benarnya. Hanya saja, Amora tidak sanggup dan merasa perih setiap kali melihat adiknya diperlakukan berbeda oleh orang-orang sekitar. Amora benci tatapan meremehkan mereka pada adiknya. Ia tidak punya pilihan dan akhirnya ikut masuk. Ia tidak mungkin meninggalkan Azka hanya bersama dengan Damian.
*********
Saat Amora baru saja memasang seatbelt, Damian berbicara, masih menatap jalan.
“Kita mampir dulu.”
“Mampir ke mana?” tanya Amora curiga.
“Butik.”
“Ha?”
Damian melirik ke arah Azka. “Adikmu kelihatan lelah dan kamu bau kopi. Kalau kita ke restoran steak, minimal kamu nggak kelihatan seperti baru keluar dari shift 24 jam di rumah sakit.”
Amora menganga. “Maaf nih, saya kerja, bukan tidur di AC kayak dokter!”
Azka menutup mulutnya menahan tawa. Damian justru mengangguk pelan. “Makanya aku bawa ke butik. Pilih baju yang nyaman. Untuk kalian berdua.”
“Tunggu, kita nggak mau ngerepotin—”
“Ssst.” Damian mengangkat telapak tangannya. “Anggap saja ini bagian dari kesepakatan kerja sama kita.”
Azka menoleh ke Amora dengan mata berbinar. Tapi, ia masih menyimpan tanya soal ‘kesepakatan’. “Kak… steak dan baju baru. Please... jarang-jarang...”
Amora menghela napas panjang. “Yaa udah... Tapi jangan nyesel kalau aku milih yang paling murah.”
Damian menoleh. “Kalau milih yang mahal, aku juga tidak keberatan.”
Azka membisik, “Terima kasih, Om Damian. Jujur, ini pertama kalinya aku naik mobil bagus. Maaf, kalau aku norak dan terlalu berlebihan.”
“Tidak masalah, Azka. Aku dan kakakmu sudah berteman baik.” Damian pun melajukan mobilnya menuju butik.
Butik itu mewah, dari luar saja Amora sudah merasa ciut. Begitu masuk, hawa dingin dari AC dan aroma parfum mahal langsung menyambut mereka. Rak-rak tertata rapi, bajunya berjejer cantik—dan menggantung dengan angkuhnya seolah berkata: “Jangan sentuh aku kalau dompetmu tipis.”
Azka langsung semangat, melihat rak-rak baju dan sepatu. Tapi Amora, lain cerita. Ini pertama kalinya Azka pergi ke tempat mewah seperti itu, begitu pula dengan Amora.
“Masuk sini aja aku udah deg-degan,” gumam Amora lirih.
Damian yang berjalan di depan, cuek saja. Ia menoleh sebentar. “Pilih yang kamu suka. Jangan lihat harga.”
Amora melirik label di salah satu blouse yang paling sederhana. Dua juta.
“Buset…” desisnya. “Bajunya aja bisa buat bayar listrik satu tahun.”
Damian melihat ekspresinya dan berkata datar, “Kalau kamu terus-terusan hitung itu, bisa-bisa makan malam kita batal karena kamu keburu pingsan di rak diskon.”
Amora mendelik. “Diskon aja nggak ada di sini!”
Azka tergelak. “Kak, pilih saja yang bagus. Aku ingin melihat Kakak beda malam ini. Kakak pasti cantik.”
Amora hanya menghela mendengar ucapan adiknya itu. Amora menyeret kaki ke area baju wanita. Matanya terus melirik harga. Ia memilih satu dress sederhana warna nude, bahan katun, dan memantapkan diri membawanya ke kasir.
Damian mengerutkan dahi. “Yang itu?”
Amora mengangguk cepat. “Iya, ini aja. Simpel, nyaman. Dan paling… hemat.”
Damian menatap label harganya. Ia mengambil dress itu dari tangan Amora, lalu meletakkannya kembali ke rak. “Ikut aku.”
“Loh?!”
“Dress itu seperti baju seragam resepsionis,” celetuk Damian sambil melangkah ke arah rak lain. Ia menarik satu dress warna maroon, bahannya mengalir dan potongannya pas tubuh. “Coba ini.”
Amora mematung. “Harga segitu bisa buat modal jualan kopi keliling, tahu nggak?”
“Makanya jangan jadi pedagang kopi terus,” balas Damian tenang. “Sekarang ke ruang ganti.”
Azka yang melihat semua adegan itu menutup mulutnya menahan geli. “Om Damian kayak papa di sinetron. Dingin tapi royal.”
Amora akhirnya masuk ruang ganti, sambil mengomel pelan, “Ini orang bener-bener…”