NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wasiat Kedua

"Saya juga anak Lalu Wiradana."

Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Mentari menangis keras di lengan kiri Raka. Tangisan bayi perempuan itu memecah keheningan di bawah pohon ketapang. Lelaki berlesung pipi itu tersentak, lalu mengayun putrinya perlahan tanpa melepaskan pandangan dari perempuan asing di depannya.

Aina bergegas mendekat dan mengambil Mentari dari pelukan suaminya. Perempuan bertubuh mungil itu menepuk-nepuk punggung bayinya sambil memperhatikan Baiq Laila dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Perempuan berkerudung hitam itu bertubuh tinggi dan kurus. Kulitnya sawo matang, seperti sering terbakar matahari. Matanya cokelat terang, dan ada sesuatu pada bentuk alisnya yang membuat dada Aina berdesir. Alis itu tebal dan melengkung, persis seperti alis Raka.

"Mbak," ucap Aina pelan. "Kita tidak bisa membicarakan hal sepenting ini di pinggir jalan. Mari masuk ke dalam."

Baiq Laila ragu sejenak, lalu menoleh ke arah mobil abu-abu di belakangnya. Kaca mobil itu gelap. Aina tidak bisa melihat siapa yang duduk di balik kemudi.

"Saya tidak lama, Bu," jawab perempuan berkerudung hitam itu. "Saya hanya ingin menyampaikan surat ini secara langsung. Saya tidak ingin Bapak mendengarnya pertama kali dari surat pengadilan."

"Surat pengadilan?" ulang Raka.

Baiq Laila mengangguk. "Pengacara saya akan mengajukan gugatan minggu depan."

Mereka akhirnya duduk di ruang kecil di belakang ruang pelayanan. Rini membawakan tiga gelas teh, lalu buru-buru keluar lagi setelah melihat wajah-wajah tegang di ruangan itu. Pak Sahnan menawarkan diri menjaga Fajar dan Mentari di teras, bersama kereta dorong bayi yang dibawa Raka.

Baiq Laila meletakkan map merah di atas meja. Tangannya tidak berhenti gemetar.

"Ibu saya bernama Baiq Nurmala," katanya. "Ibu bertemu ayah saya di Sumbawa Besar dua puluh enam tahun yang lalu. Ayah sering ke sana untuk urusan dagang tembakau. Mereka menikah di bawah tangan. Pernikahan itu tidak tercatat di mana pun."

Raka memejamkan mata. Lelaki beralis tebal itu menunduk lama, seolah setiap kalimat itu adalah pukulan yang tidak bisa dihindari.

"Ayahku mengulanginya lagi," bisiknya. "Setelah semua yang terjadi pada Ibu Sumi."

Aina menggenggam tangan suaminya di bawah meja.

"Saya tidak banyak mengenal ayah," lanjut Baiq Laila. "Ayah datang beberapa kali dalam setahun. Membawa mainan, membawa uang, lalu pergi lagi. Waktu saya berumur sepuluh tahun, ayah tidak pernah datang lagi. Ibu bilang ayah sudah meninggal." Perempuan berkerudung hitam itu menyeka sudut matanya. "Setelah itu, ibu tidak pernah mau bercerita apa-apa lagi."

Perempuan muda itu mengeluarkan KTP dari dompetnya dan meletakkannya di samping map. Aina meliriknya dengan kebiasaan seorang petugas pelayanan. Baiq Laila. Lahir di Sumbawa Besar. Usianya dua puluh lima tahun.

"Lalu bagaimana Mbak tahu tentang surat wasiat ini?" tanya Aina.

"Enam bulan lalu, seorang pengacara datang ke rumah kami di Sumbawa. Katanya, ayah saya meninggalkan wasiat untuk saya. Katanya, saya berhak atas sebidang tanah di Lombok." Baiq Laila mendorong map merah itu ke tengah meja. "Awalnya saya tidak percaya. Tapi ibu saya sedang sakit parah. Ibu harus cuci darah dua kali seminggu. Kami butuh biaya. Jadi saya ikut."

Aina membuka map itu. Di dalamnya ada selembar surat bermaterai. Kertasnya menguning. Tanda tangan di bagian bawahnya memang terlihat seperti tanda tangan Lalu Wiradana.

Perempuan bermata sayu itu membaca isinya pelan-pelan. Isinya singkat. Lalu Wiradana mewariskan sebidang tanah kebun di Tanak Awu kepada putrinya, Baiq Laila. Surat itu bertanggal tiga bulan setelah surat wasiat yang disimpan Bidan Rohani.

Ada yang aneh. Aina belum tahu apa. Namun, sepuluh tahun memeriksa berkas warga membuat matanya terbiasa mencium kejanggalan.

Huruf-huruf pada baris yang menyebut letak tanah terlihat sedikit lebih tebal daripada baris lainnya. Seolah diketik pada waktu yang berbeda.

Perempuan bertubuh mungil itu tidak mengatakan apa-apa. Belum. Aina hanya memotret halaman itu dengan ponselnya, lalu menutup map.

"Mbak Laila," ucap Aina lembut. "Kami tidak akan mengusir Mbak. Kalau Mbak benar anak Lalu Wiradana, Mbak juga keluarga kami. Tapi kami perlu waktu untuk memeriksa semuanya."

Baiq Laila menatap Aina dengan heran. Perempuan berkerudung hitam itu jelas tidak menyangka akan diperlakukan seramah itu.

"Ibu tidak marah?"

"Saya pernah berada di posisi orang yang tiba-tiba tahu bahwa hidupnya dibangun di atas rahasia orang lain," jawab Aina. "Saya tidak akan memperlakukan Mbak dengan cara yang dulu menyakiti saya."

Raka mengangkat wajahnya. Matanya merah, tetapi suaranya tenang.

"Kalau Mbak benar adikku, aku tidak akan pura-pura tidak mendengar," katanya. "Tapi tanah itu sekarang tempat tinggal ibuku. Ibu yang sudah menunggu lebih dari tiga puluh tahun. Aku harus memastikan kebenarannya sebelum apa pun terjadi."

"Saya mengerti, Pak." Baiq Laila mengangguk pelan. "Saya juga tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hak saya."

Aina memperhatikan wajah perempuan muda itu. Kalimat tadi terdengar tulus. Namun, mata perempuan berkerudung hitam itu terus melirik ke arah jendela, ke arah mobil abu-abu yang masih terparkir di depan gerbang.

"Siapa yang menunggu di mobil itu, Mbak?" tanya Aina.

Baiq Laila tersentak. "Pengacara saya, Bu. Pengacara yang datang ke Sumbawa enam bulan lalu."

"Boleh kami tahu namanya?"

Perempuan berkerudung hitam itu ragu sebentar. "Pak Lalu Arman."

Nama itu tidak dikenal Aina. Namun, Raka tiba-tiba berdiri dan berjalan ke jendela. Lelaki berlesung pipi itu menyibakkan tirai.

Pintu mobil abu-abu itu terbuka. Seorang lelaki turun dan bersandar di kap mobil. Rambutnya klimis, disisir rapi ke belakang. Tubuhnya dibalut jas hitam meskipun siang itu sangat panas. Lelaki itu mengangkat kepala, menatap ke arah jendela, lalu tersenyum tipis, seolah tahu sedang diperhatikan.

Aina ikut berdiri di samping suaminya. Napas perempuan bermata sayu itu tertahan.

Aina pernah melihat lelaki itu. Di ruang kunjungan rumah tahanan. Duduk di samping Lalu Mustiadi, membuka tas kerja, lalu mengeluarkan dua buah amplop.

"Mas," bisik Aina. "Itu kuasa hukum Lalu Mustiadi."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!