"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Ampun, Mayor! (Revisi)
Terik matahari siang di atas kompleks Batalyon serasa membakar aspal hitam pelataran parkir hingga mengepulkan gelombang hawa panas yang menyengat mata. Di tengah sengatan sinar mentari yang memantulkan kilau garang di atas kap-kap mobil militer, Vina melangkah cepat dengan dada naik turun menahan kepedihan yang memuncak.
Air matanya tumpah deras, melintasi pipinya yang memerah, jatuh membasahi kerah gaun katun biru mudanya. Dengan jemari tangan yang gemetar hebat akibat luapan emosi dan amarah murni, Vina mencengkeram stang sepeda motor matic merah tua milik satu-satunya aset pribadi yang ia beli dari tabungan kecilnya sebelum menikah.
Ia meraih helm merah dari spion, menyarungkannya ke kepala, lalu menarik kacanya ke bawah. Di balik visor bening yang buram oleh embun napas dan lelehan air mata, Vina menangis tersedu-sedu. Tangannya yang dingin dan bergetar berusaha memasukkan kunci ke lubang sakelar. Dua kali kunci itu terlepas karena gemetar jemarinya, sebelum akhirnya mesin motor matic tua itu meraung pelan, memecah keheningan pelataran parkir yang membakar.
Vina memutar tuas gas kencang-kencang. Motor matic merah tua itu melesat cepat membelah aspal jalanan kompleks yang sepi, meninggalkan jejak panas yang mengepul di udara siang.
Rasa muak dan trauma pengkhianatan membakar seluruh ingatan Vina saat motornya melaju menembus gerbang utama Batalyon. Bayangan suaminya yang membiarkan Tanti melumat bibirnya di ruang kerja resmi terus berputar di benaknya bagaikan mimpi buruk yang menyiksa. Di bawah sengatan terik matahari yang menusuk kulit, Vina membatin lantas bersumpah di dalam dadanya yang sesak: ia tidak akan pernah sudi lagi melangkahkan kaki ke rumah dinas itu. Ia tidak akan pernah sudi bertekuk lutut memohon belas kasihan pada pria yang menganggap status pernikahan mereka hanya sebagai beban moral. Biarlah ia kembali menjadi gadis panti sebatang kara yang tak punya apa-apa, daripada harus mengemis cinta di bawah kaki seorang perwira kaku yang tak berhati.
***
Sementara itu, di lantai dua gedung utama markas, keheningan mencekam masih menguasai ruang kerja Komandan Batalyon.
Kuah gulai ayam yang kuning kental mengering di atas ubin putih, meninggalkan noda berminyak di dekat pintu kayu jati yang masih terbuka. Beberapa perwira dan prajurit piket di koridor luar masih berbisik-bisik dengan wajah tegang, shock oleh aksi dua kali tamparan keras yang menumbangkan wibawa sang Mayor di siang bolong.
Di dalam ruangan, Tanti yang masih terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang memar akibat tamparan Vina, mendongak dengan raut wajah gusar yang dibuat-buat.
"Mas Yudhana," ratap Tanti dengan suara merajuk, berusaha bangkit sambil memegang tepi meja jati. "Kamu lihat sendiri, kan? Perempuan anak panti itu benar-benar tidak tahu diri! Dia menamparmu di depan anak buahmu sendiri! Harusnya kamu panggil provos untuk menangkap perempuan barbar itu—"
"DIAM!"
Sentakan suara bariton Yudhana menggelegar dahsyat, memotong kalimat Tanti seperti tebasan pedang tajam. Udara ber-AC di dalam ruangan seketika terasa membeku hingga minus derajat. Yudhana memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, menatap Tanti dengan manik mata pekat yang menyala oleh kilatan amarah murni dan rasa jijik yang luar biasa.
Wajah tegas sang Mayor memerah padam. Pipi kanannya masih menyisakan bekas kemerahan pekat bekas hantaman jemari Vina, namun sorot matanya kini begitu mematikan hingga membuat Tanti tersentak mundur satu langkah dengan bibir gemetar.
"Keluar dari ruang kerja saya sekarang, Tanti!" ancam Yudhana, suaranya rendah, dingin, namun dipenuhi intonasi yang tak menerima bantahan. "Sebelum saya benar-benar memerintahkan provos untuk menyeret kamu keluar dari kompleks markas ini!"
"M-Mas Yudhana ... tapi aku kan cuma—"
"SAYA BILANG KELUAR!" bentak Yudhana sekali lagi, menunjuk pintu yang terbuka lebar dengan jarinya yang kaku.
Tanti memucat pasi seketika. Untuk pertama kalinya, ia melihat sang Mayor memancarkan aura membunuh yang begitu kental padanya. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun lagi, Tanti menyambar tas mewahnya dari atas meja dan berlari tergesa-gesa keluar dari ruangan dengan rasa malu yang membakar di hadapan para prajurit yang bersiap apel siang.
Setelah Tanti pergi, Yudhana membalikkan badan, berjalan kaku menuju pintu, lalu menutup daun pintu kayu jati itu hingga terkunci rapat. Pria itu berdiri mematung membelakangi ruangan, menarik napas panjang untuk menata kekacauan di dalam dadanya.
Ia melangkah pelan mendekati tumpahan gulai kotor di lantai. Matanya tertuju pada sebuah lingkaran perak kecil yang tergeletak sunyi di tengah genangan kuah minyak—cincin pernikahan Vina yang tadi dilemparkan tepat ke dadanya.
Yudhana berlutut kaku, meraih cincin perak dingin itu dengan jemari tangannya yang kekar. Ia menggenggam logam kecil tersebut rapat-rapat, merasakannya menancap di telapak tangannya. Pipi kanannya masih terasa panas menyengat bekas tamparan istrinya, dan bisik-bisik prajurit di koridor luar masih terngiang di telinganya, merobek-robek harga diri serta ego keperwiraannya.
Namun, alih-alih dilanda ketakutan atau rasa bersalah yang mendalam, ego serta kesombongan seorang komandan tinggi mendadak mengambil alih jalan pikirannya.
Yudhana bangkit berdiri, menyapu seragam dinas hariannya yang sedikit kotor, lalu berjalan menuju meja kerja besarnya. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit komando, menatap cincin perak di genggamannya dengan tatapan kaku yang dingin.
Di dalam benaknya, logika keangkuhan seorang Mayor mulai merajai. Baginya, Vina hanyalah seorang gadis yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Vina tidak memiliki sanak saudara, tidak memegang uang belanja dalam jumlah besar, dan tidak memiliki tempat mengadu selain rumah dinas yang ia fasilitasi. Kemarahan Vina siang ini, menurut penilaian kaku Yudhana, hanyalah letupan emosi sesaat dari seorang wanita muda yang terbakar cemburu akibat salah paham.
'Dia cuma anak panti sebatang kara yang emosi sesaat,' batin Yudhana dengan nada dingin dan penuh percaya diri. 'Nanti kalau perutnya sudah lapar, kalau terik matahari siang ini sudah membakar kepalanya, dan kalau amarahnya mereda, dia pasti bakal sadar posisi dan pulang sendiri ke rumah dinas.'
Mana mungkin seorang Vina yang serba pasrah dan tergantung padanya selama satu tahun ini berani benar-benar meninggalkannya? Ke mana lagi wanita itu bisa pergi jika bukan kembali bertekuk lutut di hadapannya sore nanti?
Yudhana meletakkan cincin perak itu di meja kerjanya dengan angkuh di tengah benderangnya cahaya siang, menyakini bahwa seorang Vina yang tak punya siapa-siapa di dunia ini pasti akan bertekuk lutut dan kembali padanya sore nanti.
Dengan sikap dingin itu, Yudhana menekan tombol interkom di mejanya. "Piket, panggilkan petugas kebersihan untuk membersihkan ruang kerja saya sekarang. Dan persiapkan dokumen laporan mingguan di meja."
"Siap, Komandan!" sahut suara di interkom.
Yudhana menyandarkan kepalanya, membuka lembaran berkas laporan Batalyon di hadapannya, dan memilih untuk kembali bekerja. Ia sengaja mengabaikan fakta bahwa di luar sana, di bawah sengatan terik matahari siang yang membakar aspal jalan raya utama, istrinya sedang memacu motor matic tua dengan hati yang hancur lebur menuju takdir yang tak pernah ia sangka-sangka.
bersambung...
Alhamdulillah 🤲