NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Arkan

Seluruh pekerja seketika menundukkan kepala, kompak mengaku tak tahu menahu kepergian Zidan bersama bocah itu.

"Iya, Pak. Saya sudah melarang Den Zidan bawa Den Kenzi, tapi Den Zidan malah memecat saya. Katanya saya terlalu ikut campur." dalih pengasuh Kenzi dengan nada melas yang dibuat-buat. "Padahal saya cuma nggak mau Den Kenzi kenapa-napa soalnya udah malam. Saya takutnya Den Zidan bawa Den Kenzi balapan atau tawuran, kan bahaya, Pak." Perempuan itu melancarkan kebohongannya dengan sangat lancar.

Arkan menghela napas panjang, sebelah tangannya menempelkan ponsel di telinga, mencoba menghubungi Zidan usai mendengar laporan penuh sandiwara itu.

"Zidan sekolah, Ar." ucap Nathan mengingatkan.

"Nggak masalah. Zidan selalu pegang HP" jawab Arkan datar.

Si pengasuh Kenzi tampak mulai gugup, pelipisnya basah oleh keringat dingin. Dalam hati ia berdoa setengah mati agar Zidan tidak mengangkat panggilan Arkan. Dan, keberuntungan rupanya memihak, panggilan itu tak kunjung terjawab.

"Mommy di mana?" tanya Arkan sambil merogoh saku, menyimpan kembali ponselnya.

"Bu Rosa sedang berada di Bali, Pak." jawab salah satu pelayan senior yang sudah lama bekerja di rumah itu.

"Kenapa Kenzi nggak dibawa?"

Hening seketika. Para pekerja saling lempar pandang, ragu-ragu untuk membuka suara.

"Kamu pengasuhnya, jawab!" telunjuk Arkan terarah tepat ke wajah pengasuh Kenzi.

"Den Kenzinya nggak mau, Pak." jawab si pengasuh, berusaha tetap tenang di tengah tekanan.

"Sejak kapan kalian kalah sama pendapat anak kecil? Kalian tahu Zidan sibuk dengan dunianya sebagai remaja. Kalau Mommy ke Bali, Kenzi siapa yang ngurus?" Arkan benar-benar tersulut emosi.

Tak ada yang berani berkutik. Semua kepala tertunduk dalam. Bahkan sang pengasuh ikut membisu.

"Jam berapa Zidan keluar semalam?" Arkan beralih menatap satpam rumah.

"Den Zidan pulang sekitar jam sepuluh, Pak. Nggak sampai lima menit, dia pergi lagi. Tapi saya beneran nggak nyangka kalau Den Zidan bawa Den Kenzi, soalnya kaca mobil Den Zidan kan gelap." jawab satpam itu jujur.

Nathan menghela napas pendek. "Udah, Ar. Kita ke sekolah Zidan aja. Mungkin dia nekat bawa adeknya ke sekolah." usul Nathan, berniat meredam amarah Arkan agar tidak membuang waktu memarahi para pekerja.

Arkan mengangguk singkat. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik meninggalkan tempat itu disusul oleh Nathan. Seketika para pekerja bisa bernapas lega. Sementara itu, sang pengasuh Kenzi buru-buru merogoh ponselnya, menghubungi Rosa di Bali untuk melaporkan kepulangan Arkan.

...****************...

Di sisi lain, Rania tertegun hebat saat memandikan Kenzi. Tubuh mungil anak sekecil itu dipenuhi lebam di sana-sini.

"Kenzi, ini kenapa?" tanya Rania lembut penuh kehati-hatian.

Bocah itu menggeleng pelan, raut wajahnya menyiratkan ketakutan yang mendalam.

"Tante nggak akan marah, kok. Tante cuman nanya, mau nggak jujur sama tante?" bujuk Rania sabar.

Kenzi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbisik, "Kata Sus nggak boleh bilang-bilang. Kenzi jatuh karena nakal." jawabnya polos.

Rania mengepalkan tangan tanpa sadar. *'Anak sekecil ini disiksa sama suster setan, nggak bisa dibiarin nih,'* batin Rania geram.

Rania mengusap puncak kepala Kenzi lembut, lalu menggendong anak itu untuk dipakaikan pakaian. Niatnya sudah bulat, ia akan membawa Kenzi ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh, sekaligus memeriksakan demam yang sempat menyerang anak itu semalam.

"Apa nanti Kenzi disuntik lagi?" tanya anak itu polos, mendongak menatap Rania yang menggendongnya.

"Enggak, kok. Emang Kenzi takut disuntik?" tanya Rania sambil tersenyum menenangkan.

Kenzi menggelengkan kepala. "Kemarin Kenzi juga disuntik. Gak papa kata Bu Dokter."

"Ih, Kenzi hebat!" puji Rania bangga, melangkah cepat menuju ruang pemeriksaan umum. Ia sudah mendaftar secara online sebelumnya. Kebetulan pula dokter umum yang bertugas hari itu adalah sahabatnya sendiri.

"Gimana, Kir? Nggak mungkin karena jatuh, kan?" tanya Rania begitu Kirana selesai memeriksa Kenzi.

Kirana menghela napas berat. "Ra, orang bodoh sekalipun bakal tahu ini bukan lebam karena jatuh. Udah jelas banget ini bekas dicubit."

"Gue cuman mau mastiin, Kir, biar jelas. Terus ini lukanya kira-kira kapan?" selidik Rania, menuntut detail.

"Ada yang baru, ada juga yang lama." jawab Kirana. "Mungkin itu juga salah satu penyebab semalam dia demam."

Rania mengangguk paham. "Gue udah curiga, sih. Kalau obat yang semalam gimana? Aman?"

"Aman. Obatnya dilanjut aja."

Rania kembali mengangguk. "Oke, thanks, Kir." ujarnya sambil melirik Kenzi yang sudah pulas tertidur di pangkuannya.

"Btw, beneran ini adeknya Zidan? Bukan anak dari duda yang diam-diam lu taksir?" selidik Kirana penuh curiga.

Rania melotot sebal. "Sejak kapan gue naksir duda, Kir? Kayak nggak ada cowok single aja di dunia ini!" tukasnya.

"Ya kali aja lu frustasi karena ngebet nikah sampai duda juga lu pepet." kekeh Kirana.

Sudah menjadi rahasia umum di antara mereka berdua kalau Rania memang ngebet ingin nikah, tapi pacar saja tidak punya. Sekalinya didekati cowok, dia langsung ilfil, tapi permintaannya ingin langsung menikah.

"Udahlah, gue balik aja." ketus Rania sambil beranjak dari duduknya.

"Beneran bukan duda?" Kirana masih penasaran.

"BUKAN, KIR, BUKAN!" seru Rania kesal.

Namun, Kirana justru terbahak. "Kalau duda juga nggak papa. Selama lu bahagia, gue siap jadi bridesmaid-nya." goda Kirana.

Rania tak menjawab. Sebelum melangkah pergi, ia melotot tajam ke arah sahabatnya, yang justru membuat Kirana semakin ngakak.

Di tengah perjalanan pulang, Rania mengetik pesan singkat untuk Galang. *"Lang, kalau bisa pulang cepet. Ada yang mau tante kasih lihat ke kamu sama Zidan."* ketiknya.

Sementara itu, Arkan sudah tiba di sekolah Zidan. Sialnya, kelas Zidan sedang mengadakan outing class ke Bandung dan baru akan kembali ke Jakarta sore nanti. Kenyataan itu membuat Arkan semakin frustasi.

"Suruh orang lu cari tahu ke mana Zidan semalam, Nat" titah Arkan sambil memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. Niatnya pulang lebih awal demi segera bertemu dengan putra kecilnya justru berbuah kekecewaan bocah itu malah entah berada di mana, sementara putra sulungnya mendadak sama sekali tidak bisa dihubungi.

"Oke, gue juga udah hubungi Axel." jawab Nathan. "Tapi yang pasti Zidan ikut outing class dan dia nggak bawa Kenzi."

"Itu yang bikin gue tambah pusing, Nat. Gue nggak ada keluarga selain mommy di Jakarta. Jadi, di mana anak gue, Nat?" desahnya lelah.

Nathan ikut menghela napas, sama lelahnya. "Sebenarnya ada yang mau gue laporin ke lu, Ar." ucap Nathan serius.

"Apa?"

"Beberapa minggu terakhir Zidan bukannya nggak bikin ulah. Anak sulung lu itu selalu bikin ulah, cuman dia punya orang yang beresin kekacauannya. Dari panggilan sekolah sampai masalah lain, Zidan punya wali,m" jelas Nathan.

"Nyokap gue?" tanya Arkan, menebak.

Sayangnya Nathan menggelengkan kepala. "Bukan. Kalau dari keterangan wali kelasnya, calon bini lu yang selalu beresin tingkah Zidan. Bahkan pernah anak lu bikin puluhan motor di parkiran rusak karena ditendang dan harus ganti rugi puluhan juta." tambah Nathan.

"Dia nggak ada minta duit ke gue." sahut Arkan cepat.

"Calon bini lu katanya yang urus." jawab Nathan, sambil mengangkat bahu.

"Nat, apa menurut lu masuk akal, gue sendiri nggak tahu kalau punya calon istri?" tanya Arkan, mendesah kecil.

"Mungkin calon istri lu, gaib. Makanya lu sendiri nggak tahu." canda Nathan yang langsung mendapat pelototan tajam dari Arkan.

"Siapa?" gumam Arkan lebih ke bertanya pada dirinya sendiri.

"Yang jelas Zidan sama wali kelasnya ngaku kalau yang selalu datang wali murid beresin masalahnya itu calon mommynya." ujar Nathan, menambahkan informasi yang ia dapat sebelumnya.

"Mungkin Luna." pikir Arkan. Hanya wanita itu yang diterima dengan baik oleh Rosa. Bisa saja Rosa sengaja mendekatkan Luna pada Zidan makanya memberikan tugas pada Luna untuk mengurus masalah Zidan.

"Mungkin." Nathan mengangguk tipis. "Kalau memang Luna, apa yang mau lu lakuin? Terima perjodohan yang diatur nyokap lu?"

Arkan menggeleng tegas. "Lu tahu itu nggak akan mungkin. Luna nggak akan pernah bisa jadi istri gue." jawabnya, penuh penekanan.

"Kalau dia udah terlanjur dekat sama anak-anak lu? Nggak bisa juga?"

"Nggak."

"Oke, solusi?" tanya Nathan, mendadak serius.

"Cariin gue istri yang bisa nurut. Syaratnya akur sama Kenzi dan Zidan, dan mau fulltime jadi mommy buat Kenzi!"

Nathan mengerutkan dahi. "Ini cara lu nolak perjodohan yang diatur nyokap lu?" tebaknya, membaca pikiran Arkan.

"Ya. Setelah gue balik, nyokap gue pasti bakal ribut soal nikah lagi. Lu harus dapetin istri yang gue butuhin sebelum nyokap gue bikin acara sendiri." ujar Arkan, dengan pertimbangan penuh.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!