Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Dera bangkit dari bangku taman dengan gerakan lambat. Langit di atas Jakarta sudah berubah menjadi oranye keunguan. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan deru kendaraan di jalan raya terdengar semakin ramai. Ia merapikan tali tasnya, siap melangkah menuju trotoar untuk memesan ojek online.
Tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal lembut oleh Mario.
“Kamu mau ke mana?” tanya Mario.
Dera menoleh, terkejut. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Mario sudah berdiri di belakangnya. Wajah pria itu tenang, tapi matanya menatapnya dengan serius. Dera menarik napas, mencoba menarik tangannya pelan, tapi Mario tidak melepaskan.
“Aku harus pulang. Sebentar lagi malam,” jawab Dera singkat. Suaranya terdengar lelah.
“Kalau begitu biar aku antar,” tawar Mario tanpa ragu.
Dera menggeleng cepat. “Tidak usah. Aku bisa naik ojek online.” Ia tidak mau merepotkan. Apalagi setelah semua yang ia alami, menerima tawaran dari laki-laki, meski terlihat baik masih terasa menakutkan. Jarak yang ia jaga selama ini adalah satu-satunya cara agar dirinya tetap aman.
Mario tidak melepaskan genggamannya. Ia malah sedikit menunduk agar sejajar dengan wajah Dera. “Tidak apa-apa. Biar aku antar saja.”
Nada suaranya tenang, tapi ada ketegasan di baliknya. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Mario menarik tangan Dera pelan menuju mobil hitam mengkilap yang terparkir di pinggir jalan, tidak jauh dari taman. Dera terpaksa ikut melangkah, langkahnya ragu dan kaku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia ingin menolak lebih keras, tapi kata-kata seolah tersangkut di tenggorokan.
Di bangku kemudi, David sudah standby. Ia segera turun dan membuka pintu belakang untuk mereka. Wajah asisten itu datar, tapi matanya sempat melirik Dera dengan sedikit heran sebelum kembali profesional.
“Silakan naik,” kata Mario lembut, masih memegang pergelangan tangan Dera seolah khawatir perempuan itu akan kabur.
Dera akhirnya masuk ke dalam mobil dengan gerakan kaku. Bau kulit dan parfum mahal langsung menyambutnya. Ia duduk di pojok, menempelkan tubuh ke pintu, menjaga jarak sejauh mungkin. Mario masuk di sampingnya, menutup pintu dengan lembut.
David kembali ke kursi kemudi dan menyalakan mesin. “Ke mana, Tuan?”
Mario menoleh ke Dera. “Dimana alamat kosanmu?” tanya Mario.
Dera ragu sejenak, lalu menyebutkan alamatnya dengan suara pelan. David mengangguk dan segera mengemudikan mobil keluar dari sisi taman.
Di dalam mobil yang sunyi, hanya terdengar suara nafas mereka bertiga. Dera menatap keluar jendela, jari-jarinya menggenggam tali tas erat-erat. Di benaknya, rasa tidak nyaman bercampur dengan kelelahan. Ia tidak terbiasa menerima kebaikan tanpa curiga. Setiap tawaran, setiap senyuman, selalu membuatnya ingat pada Galih, yang dulu juga terlihat peduli sebelum mengkhianatinya.
Mario tidak memaksa percakapan. Ia hanya duduk tenang di sampingnya, sesekali melirik ke arah Dera yang terus menatap keluar. Di dalam hatinya, ia tahu perempuan ini masih penuh tembok. Tapi setidaknya, malam ini ia bisa memastikan Dera sampai di rumah dengan aman.
Mobil hitam itu melaju stabil di antara lalu lintas sore Jakarta yang mulai padat. Lampu-lampu kendaraan saling bersinar di balik kaca gelap. Di bangku belakang, Dera tetap duduk menempel di pintu, tubuhnya kaku, pandangan tertuju ke luar jendela. Ia menghitung detik dalam hati, berharap perjalanan ini segera berakhir.
Mario tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali melirik ke arah Dera, memastikan perempuan itu baik-baik saja. Di depan, David fokus mengemudi, sesekali mengecek navigasi di layar mobil. Suasana di dalam mobil terasa sunyi, tidak ada obrolan sama sekali.
Dera menghela napas dalam-dalam. Bau parfum Mario yang samar-samar tercium membuatnya semakin gelisah. Setiap kali mobil berhenti di lampu merah, ia sempat berpikir untuk membuka pintu dan turun saja. Tapi akal sehatnya menahan. Malam sudah mulai turun, dan berjalan kaki di jalanan Jakarta sendirian bukan pilihan yang aman.
Setelah sekitar dua puluh menit, mobil akhirnya berbelok ke jalan kecil yang lebih sepi. Deretan kos-kosan dan rumah tinggal mulai terlihat. David memperlambat kendaraan, lalu berhenti tepat di depan sebuah bangunan dua lantai yang sederhana. Pagarnya berwarna hijau tua, dan di depan ada beberapa motor yang terparkir rapi.
“Sudah sampai,” ucap David dari depan.
Dera langsung mengangkat wajahnya. Ia mengenali bangunan itu.
Mario membuka pintu di sisinya lebih dulu, lalu berjalan mengelilingi mobil membukakan pintu untuk Dera. Ia mengulurkan tangannya, tapi Dera hanya menggeleng kecil dan turun sendiri dengan cepat.
“Terima kasih sudah mengantarku,” kata Dera pelan, suaranya formal. Ia segera melangkah menuju pagar kosan tanpa menoleh terlalu lama.
Mario berdiri di samping mobil, tangan di saku celana. “Selamat malam. Kalau ada apa-apa, bilang saja.”
Dera hanya mengangguk singkat. Ia membuka pagar, lalu masuk ke halaman kecil di depan kosan. Langkahnya cepat, seolah ingin segera menghilangkan jarak. Di ambang pintu kosan, ia sempat berhenti sejenak, menarik napas, lalu masuk tanpa menoleh ke belakang.
Mario masih berdiri di tempat sampai pintu kosan tertutup sepenuhnya. Setelah itu ia kembali masuk ke mobil.
David menoleh lewat cermin spion. “Langsung pulang, Tuan?”
Mario menghela napas pelan, masih menatap bangunan kosan yang sederhana itu. “Iya. Pulang saja.”
Mobil kembali melaju, meninggalkan gang kecil itu. Di dalam kamar kosannya, Dera langsung mengunci pintu, melempar tas ke sudut, lalu merebahkan tubuh di kasur. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menutup mata, mencoba menenangkan diri.
Dera baru saja merebahkan tubuh di kasur ketika pintu kamar terbuka. Rere masuk sambil membawa dua gelas teh hangat, wajahnya langsung berubah khawatir begitu melihat sahabatnya yang terbaring dengan mata terpejam dan wajah pucat.
“Kamu kenapa, Der?” tanya Rere pelan, meletakkan gelas di meja kecil lalu duduk di tepi kasur.
Dera membuka matanya perlahan, menatap wajah Rere. Ia memaksakan senyum tipis. “Aku tidak apa-apa, Re. Cuma lelah,” jawabnya bohong. Suaranya terdengar serak.
Rere tidak langsung percaya. Matanya menyipit, lalu menoleh ke arah jendela yang menghadap gang depan kosan. “Kamu pulang naik apa? Kok tidak kedengeran suara motornya?” tanyanya curiga.
Dera terdiam sejenak. Jari-jarinya secara tidak sadar menggaruk kepala yang tak gatal. “Tadi diantar orang,” jawabnya akhirnya, nada suaranya pelan dan enggan.
Rere langsung mendekati Dera, lalu duduk di sisi kasur dengan wajah penuh pertanyaan. “Orang siapa?”
Dera menghela napas, menatap langit-langit kamar sebentar sebelum menjawab. “Mario”
Rere membelalakkan mata. “Hah? Mario siapa?" tanya Rere, dia belum pernah melihat Mario.
Dera menggeleng pelan, masih terbaring. “Teman Gio, psikolog ku. Waktu itu kami bertemu di klinik”
Rere menghela napas panjang, "Oh...aku kira siapa" ucap Rere. "Dia tampan tidak? Lebih tampan mana sama Galih?" goda Rere.
Dera mendelik kesal. "Tentu saja tampan Mario" jawabnya sedikit berteriak.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa