Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
_____🌺
Uhukkk!
Uhukkk!
Nisa hampir saja tersedak udara mendengar kebohongan mertuanya yang begitu mulus tak bercela. Bisa-bisanya kecap obralan dari minimarket, diubah statusnya menjadi kecap impor premium, demi menyelamatkan harga diri di depan ibu-ibu arisan.
"Oh, gitu ya, Jeng. Pantesan rasanya agak hambar. Lidah saya emang belum levelnya makan masakan bule kali ya," balas Bu Tejo merasa kalah gengsi.
"Makanya, Jeng Tejo. Kalau mau makan enak dan sehat itu harus modal dikit. Jangan bisanya cuma protes doang padahal lagi makan gratisan di rumah orang," sentilnya dengan senyum manis namun kata-katanya sangat berbisa.
Bu RW yang tidak terima melihat sekutunya dikalahkan, kembali menyerang dengan topik andalannya.
"Ngomong-ngomong soal sehat, Nisa kok kelihatan pucat banget hari ini? Lingkar matanya hitam banget. Kurang tidur ya, Nis? Atau kepikiran terus ya gara-gara belum isi-isi juga? Kasihan loh badan kurus kering gitu, disuruh mikirin nasib mandul tiap hari."
Suasana ruang tamu mendadak hening tegang. Nisa meremas nampan kosong di tangannya dengan kuat. Ia sudah berjanji tidak akan menangis, tapi kata-kata Bu RW kali ini benar-benar menusuk langsung ke hatinya.
Bu Ratna yang melihat perubahan wajah Nisa, langsung meletakkan gelas tehnya dengan kasar ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara bantingan yang cukup keras. Brak!
"Heh! Bu RW! Kalau ibu ke sini cuma mau pamer congor dan menghina menantu saya, mending ibu pulang sekarang juga! Nggak usah ikut arisan di rumah saya!" bentak Bu Ratna dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
"Loh, Jeng Ratna kok marah sih? Saya kan cuma nanya baik-baik karena peduli sama kesehatannya Nisa," bela Bu RW pura-pura terkejut.
"Peduli matamu! Denger ya, ibu-ibu sekalian!" Ibu Ratna berdiri dan berkacak pinggang, menatap tajam satu per satu tamu di depannya.
"Menantu saya ini, Nisa, kelihatan pucat dan kurang tidur bukan karena mikirin omongan sampah kalian! Dia kurang tidur karena semalam suntuk sibuk ngurusin pembukuan aset suaminya! Ngitungin saham, deposito, sama investasi properti Dimas yang baru cair dari luar negeri! Kalian pikir ngitungin duit miliaran itu nggak capek? Mata sampai keriting tahu nggak!"
Nisa membulatkan matanya dengan sempurna.
Saham? Deposito miliaran? Sejak kapan Dimas punya investasi properti dari luar negeri?
Suaminya itu hanya karyawan kantoran biasa yang masih sering merengek minta dibelikan kuota internet bulan lalu.
"Miliaran?" gumam Bu Tejo takjub dengan mulut setengah terbuka.
"Iya! Miliaran! Makanya menantu saya ini nggak ada waktu buat mikirin gosip murahan kayak kalian! Sibuk ngitung duit! Anak kalian aja yang sibuk ngurus bayi hasil bunting duluan, paling mentok ngitungin recehan sisa uang belanja pasar kan? Jangan berani-berani ngerendahin menantu saya lagi di rumah saya sendiri! Paham kalian?!" sembur Bu Ratna dengan emosi meledak-ledak.
Bu RW menelan ludah kasar. Nyalinya langsung menciut melihat amukan singa betina yang sedang menjaga anaknya.
"Iya, iya, Jeng Ratna. Maaf. Saya nggak bermaksud gitu kok. Ya udah, kita mulai aja kocok arisannya sekarang, yuk. Biar cepat selesai."
"Nggak usah dikocok! Hari ini arisannya saya batalin! Uang arisan bulan ini biar saya yang bayarin lunas buat kalian semua! Anggap aja saya lagi sedekah buat ibu-ibu kurang mampu yang mulutnya kurang ajar! Sekarang kalian semua pulang! Bawa pulang itu piring semurnya sekalian!" usir Bu Ratna sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan gaya sangat dramatis.
Ibu-ibu arisan itu langsung panik dan buru-buru membereskan tas mereka masing-masing. Mereka tak berani melawan lebih jauh karena tahu Bu Ratna bisa bertindak lebih nekat jika amarahnya sudah di atas ubun-ubun.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, ruang tamu mewah itu kembali sepi dari tamu-tamu tak diundang tersebut.
Bu Ratna duduk kembali di sofa sambil memijat pelipisnya perlahan, napasnya masih terengah-engah sisa peperangan barusan.
Nisa mendekat perlahan, duduk di sebelah mertuanya. Ia menyodorkan segelas air putih hangat. "Ma, minum dulu. Jangan emosi banget, nanti darah tingginya kumat lho."
Mertuanya menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Ia menatap Nisa lama.
"Kamu nggak apa-apa kan, Nis? Omongannya si RW gila tadi nggak usah dimasukin ke hati. Dia itu cuma syirik aja lihat keluarga kita lebih kaya dari dia."
Nisa tersenyum tulus, rasa sakit di hatinya tadi mendadak menguap entah ke mana. "Nisa nggak apa-apa kok, Ma. Nisa malah salut sama Mama. Tadi akting Mama soal saham miliaran itu dapet banget loh, Ma. Bu Tejo aja sampai mangap gitu mulutnya."
Wanita tua itu tertawa pelan. "Ya harus dong! Itu namanya teknik bluffing, gertak sambal tingkat tinggi! Biar mereka tahu rasa. Enak aja ngatain kamu kurus gara-gara mandul. Badan kamu kurus begini kan gara-gara kamu tiap malam begadang ngetik novel, nyari duit halal! Bukan nyari dosa!"
Mata Nisa seketika berkaca-kaca mendengar ucapan mertuanya barusan. "Mama tahu ... kalau Nisa begadang ngetik novel?"
"Ya tahulah! Mama ini mertua kamu, satu atap sama kamu. Mama sering ngintip kamu ngetik di kamar kalau Dimas udah tidur pules. Walaupun kerjaan kamu cuma depan laptop, tapi Mama tahu kamu kerja keras cari uang tambahan. Makanya Mama marah banget kalau ada orang luar berani ngerendahin kerja keras kamu," ucapnya dengan nada suara yang tak lagi melengking, melainkan terdengar sangat keibuan.
Nisa tak sanggup lagi menahan perasaannya. Ia memeluk erat lengan mertuanya itu. "Makasih banyak ya, Ma. Makasih udah selalu belain Nisa dari depan. Walaupun Mama sering marahin Nisa soal kecap atau sapu rumah, tapi Nisa tahu Mama sayang banget sama Nisa."
Bu Ratna menepuk punggung Nisa pelan dengan kikuk, tak biasa menunjukkan adegan melankolis seperti ini.
"Udah, udah, nggak usah lebay peluk-peluk begini. Awas aja kalau air mata kamu nempel di baju sutra Mama ini, harganya mahal tahu!" omel Bu Ratna mencoba kembali ke mode mertua julid andalannya, meski senyum kecil tak bisa disembunyikan dari bibirnya.
"Sekarang kamu beresin piring kotor bekas mereka tadi. Terus malam ini pesen makanan dari restoran aja pakai uang suamimu. Gara-gara mereka, Mama jadi hilang selera makan semur kecap obralan buatanmu ini!"
Nisa tertawa lepas sambil melepaskan pelukannya. "Siap, Mah! Malam ini kita pesen makanan paling enak se-Jakarta. Mas Dimas pasti nangis lihat tagihan kartu kreditnya nanti malam."
"Biarin aja dia nangis! Laki-laki harus banyak bayar tagihan biar nggak gampang masuk angin lagi badannya!" sahut Bu Ratna sambil melangkah ke kamarnya dengan gaya angkuh yang kembali terpasang sempurna.
biar dy mikir klo km udh gx da 😒😒😒
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh