Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerinduan seorang anak kecil
Latifah bergegas meninggalkan ruang keluarga dengan hati yang terasa begitu sesak. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya. Namun, begitu memasuki kamar, pertahanannya runtuh seketika.
Bruk!
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, kenapa harus seperti ini?" lirihnya dengan suara bergetar.
Air mata mulai membasahi pipinya. Ia tidak pernah menyangka kedua orang tuanya akan menjodohkannya dengan pria yang bahkan belum pernah ia kenal. Lebih menyakitkan lagi, keputusan itu seolah memaksanya untuk mengubur perasaan yang selama ini ia simpan terhadap seseorang.
"Ustaz Firman, apa benar kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama?" bisiknya lirih.
Latifah memejamkan mata. Bayangan wajah Firman kembali memenuhi pikirannya. Pria itu pernah menjadi alasan mengapa ia bertahan menjaga hatinya, meskipun tidak pernah ada kepastian mengenai hubungan mereka.
Namun, sekarang semuanya terasa berbeda.
Ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah memilihkan seorang pria untuk menjadi pendamping hidupnya.
Sementara itu, di ruang keluarga, Umi Aisyah menatap pintu kamar putrinya dengan wajah sendu.
"Abi, apa kita tidak terlalu memaksakan kehendak kepada Ifah?" tanyanya pelan.
Abi Umar menghembuskan napas panjang.
"Abi tahu Ifah pasti kecewa. Tapi, Aisyah, ini bukan keputusan yang Abi ambil tanpa pertimbangan. Abi sudah berjanji kepada almarhum Pak Ibnu untuk melaksanakan wasiatnya."
"Tapi, bagaimana kalau Ifah benar-benar tidak mencintai pria itu?"
Abi Umar terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir Allah bekerja. Siapa tahu, pria itu justru menjadi seseorang yang mampu membahagiakan Ifah."
Umi Aisyah menunduk, merenungkan perkataan suaminya.
"Semoga saja, Abi. Umi hanya tidak ingin melihat putri kita terluka."
"Biarkan dia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Kita tidak perlu mendesaknya malam ini."
Umi Aisyah mengangguk pelan. Keduanya sepakat membiarkan Latifah menyendiri, berharap putri bungsu mereka bisa menerima keputusan tersebut dengan hati yang lebih tenang.
*
*
Keesokan paginya, suasana Pondok Pesantren Darussalam kembali ramai seperti biasanya.
Suara para santri yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar merdu dari mushola. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan aroma tanah basah dan semilir angin yang melewati pepohonan di halaman pesantren.
Latifah yang sudah mengenakan gamis berwarna biru muda dan kerudung senada melangkah memasuki mushola dengan membawa beberapa kitab.
Seolah tidak terjadi apa-apa, ia kembali menunjukkan senyum ramahnya kepada para santri.
"Assalamualaikum, anak-anak!"
"Waalaikumsalam, Bu Ifah!" jawab mereka serempak.
"Masyaallah, semangat sekali pagi ini. Sudah siap belajar mengaji?"
"Sudah, Bu!"
Latifah tersenyum.
"Kalau begitu, mari kita mulai dengan membaca doa sebelum belajar. Semoga Allah memberikan kita kemudahan dalam memahami ilmu dan menjadikan kita anak-anak yang berakhlak mulia."
Para santri mengikuti ucapan Latifah dengan khusyuk.
Setelah selesai berdoa, kegiatan mengaji pun dimulai. Latifah membimbing mereka satu per satu dengan penuh kesabaran. Ia membetulkan bacaan yang kurang tepat, memberikan pujian kepada santri yang berhasil membaca dengan baik, serta sesekali melontarkan candaan ringan yang membuat anak-anak tertawa.
Namun, di antara sekian banyak santri yang terlihat bersemangat, perhatian Latifah justru tertuju pada seorang bocah perempuan yang duduk di sudut ruangan.
Kahiyang Ayudia.
Bocah berusia enam tahun itu tampak menunduk lesu. Tidak seperti biasanya, ia tidak banyak bicara dan hanya memandangi kitab kecil di pangkuannya tanpa benar-benar memperhatikan tulisan di dalamnya.
Padahal, Kaning termasuk salah satu anak yang paling bersemangat ketika belajar bersama Bu Ifah.
Biasanya, setiap kali Latifah memasuki mushola, gadis kecil itu akan berlari menghampirinya sambil memamerkan sesuatu yang baru ia pelajari.
Namun, pagi ini berbeda.
Latifah mengamati Kaning selama beberapa saat sebelum akhirnya menghampiri bocah itu. Ia berjongkok di hadapannya agar wajah mereka sejajar.
"Kaning..."
Bocah itu mengangkat wajahnya perlahan.
"Iya, Bu Ifah?"
Latifah tersenyum lembut, kemudian mengusap kepala Kaning.
"Kenapa, Nak? Kok, dari tadi diam saja? Biasanya Kaning paling semangat kalau belajar mengaji. Hari ini kenapa murung?"
Kaning menggeleng pelan. Ia berusaha tersenyum, tetapi bibir mungilnya justru bergetar.
"Kaning enggak apa-apa, Bu."
Latifah mengernyitkan keningnya.
"Benarkah? Coba lihat wajah Bu Ifah."
Kaning mengangkat wajahnya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.
"Kalau memang tidak apa-apa, kenapa mata Kaning seperti mau menangis, hmm?"
Pertanyaan lembut itu rupanya menjadi akhir dari pertahanan bocah kecil tersebut.
Tanpa berkata apa-apa, Kaning langsung merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk Latifah erat-erat.
"Bu Ifah..."
"Iya, Sayang. Ada apa?"
"Kaning kangen sama Papah!" serunya di sela isak tangis. "Kaning ingin ketemu Papah!"
Hati Latifah seketika mencelos. Ia membalas pelukan Kaning dengan erat, kemudian mengusap punggung kecil itu berulang kali.
"Masyaallah, Nak..." bisiknya penuh kasih. "Kaning kangen sekali sama Papah, ya?"
Kaning mengangguk di dada Latifah.
"Papah sudah lama enggak pulang. Kaning ingin dipeluk Papah. Kaning ingin tidur sama Papah. Kaning juga ingin Papah temani Kaning belajar mengaji."
Tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Kenapa Papah enggak pulang-pulang, Bu Ifah? Apa Papah sudah enggak sayang sama Kaning?"
Deg!
Latifah tertegun mendengar pertanyaan itu.
Ia segera menjauhkan tubuh Kaning sedikit agar bisa menatap wajah mungilnya.
"Astaghfirullah, Sayang. Siapa yang bilang Papah tidak sayang sama Kaning?"
"Enggak ada, Bu..." jawab Kaning dengan suara lirih. "Tapi, Papah enggak pernah ada di sini. Kalau Kaning bangun tidur, Papah enggak ada. Kalau Kaning sakit, Papah juga enggak ada."
Air mata kembali mengalir di pipi bocah itu.
"Kaning tahu Papah sedang kerja. Tapi, Kaning tetap kangen. Kaning ingin Papah pulang..."
Latifah merasakan dadanya ikut sesak.
Ia tahu Abimanyu adalah seorang tentara yang sedang menjalankan tugas negara jauh dari keluarganya. Namun, bagi seorang anak sekecil Kaning, memahami arti pengabdian dan kewajiban seorang ayah tentu bukanlah perkara mudah.
Yang Kaning tahu hanyalah bahwa ia merindukan sosok yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Latifah kembali memeluknya.
"Dengarkan Bu Ifah, Sayang. Papah Kaning sangat menyayangi Kaning. Papah sedang menjalankan tugas yang penting, supaya bisa menjaga banyak orang. Bukan berarti Papah melupakan Kaning, ya."
"Benarkah, Bu?"
Latifah mengangguk mantap.
"Benar, Sayang. Papah pasti juga merindukan Kaning. Mungkin sekarang Papah sedang memandangi langit yang sama dengan Kaning sambil berharap bisa segera pulang dan memeluk putri kecilnya."
Kaning terdiam, mencerna perkataan itu.
"Kalau begitu, Kaning mau berdoa supaya Papah cepat pulang."
Senyum lembut terbit di wajah Latifah.
"Itu baru putri pintar. Kita doakan bersama-sama, ya. Semoga Allah selalu melindungi Papah Kaning di mana pun beliau berada, diberikan kesehatan, keselamatan, dan bisa segera berkumpul kembali dengan Kaning."
Kaning mengangguk, lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Latifah.
"Bu Ifah..."
"Iya, Sayang?"
"Kalau Papah pulang nanti, Kaning boleh minta Papah jangan pergi lagi?"
Latifah terdiam sesaat.
Ia tidak ingin memberikan janji yang belum tentu bisa ditepati. Namun, ia juga tidak tega membiarkan bocah kecil itu terus larut dalam kesedihan.
Latifah mengecup puncak kepala Kaning dengan penuh kasih.
"Nanti kalau Papah pulang, Kaning boleh menyampaikan semua yang Kaning rasakan kepada Papah, ya. Bilang kalau Kaning sangat merindukannya. Bu Ifah yakin Papah akan mendengarkan."
Kaning mengangkat wajahnya.
"Bu Ifah juga mau ikut bilang sama Papah?"
Latifah terkekeh pelan, kemudian mencubit gemas pipi bocah itu.
"Tentu saja. Bu Ifah nanti akan bilang kalau ada seorang gadis kecil yang sangat pintar, tetapi setiap hari merindukan Papahnya."
Kaning akhirnya tersenyum kecil.
"Kaning sayang Bu Ifah!"
"Bu Ifah juga sayang Kaning. Sangat sayang."
Latifah kembali memeluknya, membiarkan bocah itu menumpahkan seluruh kerinduannya.
Namun, di balik senyum yang ia berikan kepada Kaning, pikirannya justru melayang pada peristiwa setahun silam, ketika pertama kali bocah itu menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Darussalam.
Bersambung...
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
mungkin ustadz firma mau ngasih selamat x atas pernikahan km Ifah