Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
POV: Rendra
Aku Rendra Bramantyo. Setelah kakakku meninggal, aku menjadi satu-satunya pewaris Grup, salah satu grup kesehatan terbesar di negeri ini. Sebelum pergi, aku berjanji pada Raditya bahwa aku akan menjaga seluruh keluarga. Aku lelaki yang menepati janji.
Senin itu aku bangun dengan kepala berdenyut dan jadwal padat. Perusahaan sedang direstrukturisasi, upacara duka belum benar-benar selesai, dan para pengacara yang mengurus warisan Raditya menungguku pukul sebelas. Aku meyakinkan diri bahwa aku sedang melakukan yang benar untuk semua orang. Untuk perusahaan, untuk Eyang, untuk janda kakakku, untuk putriku, untuk Kirana. Dalam urutan itu, meski aku tak mau mengakui urutannya pada diriku sendiri.
Karena itulah, ketika Laras masuk ke ruanganku dengan sebuah amplop di tangan, aku sudah tahu aku tak akan membiarkannya.
"Ini surat pengunduran diriku," katanya, matanya tertunduk. "Alasan pribadi. Lebih baik buat semua orang kalau aku pergi. Aku cuma membawa masalah buat kamu dan Kirana."
Kuambil amplop itu dan kurobek di depannya, jadi dua, jadi empat.
"Kamu tidak ke mana-mana," kataku. "Bukan ke luar negeri, bukan keluar dari perusahaan. Selama aku di sini, kamu keluarga. Aku sudah janji pada Raditya."
Ia mengangkat mata yang basah dan tidak berkata apa-apa, dan diam itu terasa lebih berat bagiku daripada tangisan mana pun. Dengan rasa bersalah aku teringat bahwa hari Kamis aku tidak mengajaknya ke jamuan keluarga. Janda kakakku, sendirian di rumah, sementara kami makan di meja Eyang.
Pintu diketuk. Tuti, karyawan lantai itu, berantakan, rambutnya lengket di wajah.
"Bu Laras, Ibu harus membantu saya," perempuan itu masuk tanpa dipersilakan. "Bu Kirana menyiram kopi ke saya, mempermalukan saya di depan semua orang, sekarang saya mau dibawa ke HRD..."
Laras menguasai dirinya dalam sedetik. Suaranya keluar tegas dan kering.
"Itu urusan HRD, bukan urusanku. Aku tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan. Kalau kamu salah, kamu bertanggung jawab." Lalu ia memalingkan muka.
Aku mengaguminya saat itu. Seorang janda baru, diserang dari segala arah, tapi tetap profesional dan menolak memakai jabatannya untuk melindungi sekutu. Tak terpikir olehku saat itu bahwa dingin dan profesional bisa punya wajah yang sama.
Tuti keluar sambil menggerutu bahwa ia akan menemui HRD. Laras menunggu pintu tertutup, baru setelah itu bahunya merosot, seperti orang yang diam-diam memanggul dunia. Kuambil sebotol air dan kuulurkan padanya.
"Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian," kataku. "Aku sudah janji pada Raditya."
"Kamu sudah terlalu banyak berbuat, Rendra." Suaranya mengecil. "Akulah yang seharusnya tidak ada di sini, mengganggu hidupmu, keluargamu."
Itu mencengkeram dadaku dengan cara yang waktu itu kusebut kewajiban. Sekarang aku tahu menamainya dengan kata lain.
Sore harinya aku baru keluar dari rapat ketika terdengar teriakan dari laboratorium formulasi. Laras pingsan di lantai, di antara meja-meja kerja, pucat, dahinya berkeringat.
Aku tidak berpikir. Kuseberangi koridor, membungkuk, dan mengangkatnya dalam gendonganku. Ia ringan, terlalu ringan, kepalanya jatuh di bahuku. Kubawa ia seperti itu, digendong, sepanjang koridor sampai ke lift, dengan separuh lantai berhenti menonton.
Butuh waktu lama bagiku untuk mengerti apa yang sebenarnya sedang diukur oleh separuh lantai itu. Semua pura-pura memandang janda yang pingsan dalam pelukanku; sebenarnya mereka sedang menghitung seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkan pemandangan itu bagi pernikahanku.
Di dalam lift, dengan Laras yang lunglai di dadaku, muncul sepotong ingatan. Api unggun, bertahun-tahun lalu, seorang gadis tujuh belas tahun yang tertawa di antara aku dan kakakku, nyaris jatuh, dan aku menahan lengannya. Kudorong ingatan itu ke dasar, tempat yang semestinya. Bukan saatnya.
Dari rumah sakit, aku menelepon Kirana.
"Jemput Nindy dari sekolah hari ini," kataku. "Aku menemani Laras, dia dalam observasi."
"Lagi," suara Kirana terdengar tenang, bukan bertanya.
"Lagi. Dia pingsan di tempat kerja." Lalu keluar begitu saja apa yang kupendam sejak rapat. "Kirana, kamu bikin keributan besar hari ini. Laras sedang tidak sehat, dan kamu menyerang proyeknya, menyerang timnya. Dia bekerja dalam keadaan sakit dan pingsan. Pikirkan itu."
Di seberang, hening sebentar.
"Akan kupikirkan," katanya. Dan ia menutup telepon lebih dulu.
Aku memegang ponsel, terganggu, tak tahu persis kenapa. Kirana tak pernah menutup telepon lebih dulu. Ia selalu menunggu aku mengakhiri, selalu bertanya apa aku sudah makan siang, apa aku akan pulang untuk makan malam. Sore itu ia tidak bertanya apa-apa. Hanya "akan kupikirkan", lalu hening.
Seharusnya aku merasa janggal. Alih-alih, kusingkirkan kejanggalan itu dan kembali ke kamar rumah sakit tempat Laras menungguku.
Bayu datang membawa berkas-berkas rumah sakit. Bayu asisten kepercayaanku, orang yang menyelesaikan apa yang harus diselesaikan tanpa membuat keributan, dan ia memandangku dengan cara yang tak bisa kubaca.
"Apa Bu Kirana sudah menjemput Nindy, Pak?" tanyanya.
"Sudah."
Ia ragu.
"Anak itu pakai jam di pergelangan tangannya, kan? Yang untuk memantau jantung." Ia berhenti sejenak. "Pagi tadi pihak sekolah menelepon, katanya Nindy datang tanpa jam itu. Ada yang lupa memakaikan."
Akulah yang mengantar Nindy ke sekolah pagi itu. Aku. Aku terburu-buru karena telepon dari Laras, kupasang tas anak itu di bahunya, dan kutinggalkan jam itu di atas nakas.
"Suruh seseorang antarkan jam itu ke sekolah sekarang," kataku pada Bayu, dan suaraku keluar lebih keras daripada niatku.
"Sudah saya suruh," jawabnya. "Bu Kirana juga sudah menelepon meminta hal yang sama. Beliau sampai di sana sebelum jam istirahat."
Tentu saja Kirana sudah menelepon. Kirana tak pernah lupa. Dan itu, alih-alih melegakan, menggangguku dengan cara yang hari itu tak bisa kuberi nama.
Aku tidak menjawab. Kudorong itu ke dasar, bersama sepotong api unggun, ke tempat aku menyimpan hal-hal yang tak mau kuhadapi. Laras mengerang di ranjang dorong, memanggil namaku pelan, dan aku berbalik padanya.
Satu orang sedang sakit dan membutuhkanku di sana. Yang lain bisa mengurus diri sendiri. Itulah yang kukatakan pada diriku, dan aku meyakininya tanpa kesulitan sedikit pun.