Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: FAJAR DI PUNCAK GUNUNG KEMBAR
Tak terasa malam kemenangan yang panjang itu pun cepat berlalu.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di langit Kerajaan Mataram Baru, Klaten. Kabut tipis masih menyelimuti atap-atap joglo istana. Bima Samudra sudah bangun lebih awal. Kebiasaan lamanya selama tinggal di Padepokan Puncak Gunung Lawu bersama gurunya, Ratu Ayu Kirana, membuatnya selalu bangun sebelum matahari terbit untuk bermeditasi.
Ia menatap kedua wanita di sampingnya, Amelia dan Intania, yang masih tampak tertidur dengan sangat pulas dan damai. Wajah mereka yang biasanya tegang karena memikirkan perang, kini terlihat begitu tenang dan cantik di bawah cahaya lampion yang temaram. Rambut mereka terurai indah di atas bantal sutra.
Bima tersenyum tipis. Ia tidak ingin mengganggu tidur mereka. Dengan sangat pelan, ia menyelimuti mereka kembali dan berbisik, "Tidur yang nyenyak, putri-putri ku."
Lalu, Bima pun berteleportasi pelan menggunakan Teknik Langkah Bayu menuju gunung di belakang istana untuk mencari udara segar dan menenangkan pikirannya. Gunung itu adalah Gunung Kembar, dua bukit yang berdampingan di belakang Istana Mataram Baru.
Sampai nya di puncak gunung, Bima melihat pemandangan yang begitu indah dan menakjubkan yang tidak akan pernah ia lupakan.
Di antara celah kedua gunung itu, terdapat sebuah air terjun yang sangat indah dan tinggi, airnya jernih seperti kristal, mengalir turun ke sebuah telaga alami yang sangat segar dan dikelilingi oleh bunga-bunga liar berwarna-warni. Di tambah lagi, sebentar lagi matahari akan terbit dari balik Gunung Merapi, cahayanya keemasan.
"Subhanallah, indah sekali... Pasti kedua wanita itu akan sangat senang jika melihat pemandangan seperti ini. Mereka pasti belum pernah melihat sunrise seindah ini setelah perang besar kemarin," gumam Bima dalam hatinya dengan penuh kekaguman.
Sebuah ide usil namun romantis muncul di kepala Bima.
Ia lalu mengeluarkan ranjang mewahnya dari Cincin Semesta, ia letakkan di atas bukit yang paling tinggi yang menghadap langsung ke arah air terjun dan tempat matahari terbit. Ranjang itu ia hiasi dengan kelambu tipis agar tidak dimasuki angin pagi.
Setelah itu, ia kembali ke kamar istana dengan teknik teleportasi miliknya. Dengan sangat hati-hati dan lembut, ia memindahkan Amelia dan Intania yang masih tertidur pulas itu ke atas ranjang yang ada di atas bukit tinggi yang indah itu. Bima memindahkan mereka beserta selimutnya, jadi mereka tetap tertidur dengan hangat dan tidak kedinginan, tetap dengan pakaian tidur mereka yang sopan dan lengkap.
Kedua wanita itu masih saja tidur dengan lelap, tidak menyadari kalau mereka sudah berpindah tempat dari kamar istana yang megah ke puncak gunung yang indah.
Perlahan-lahan, cahaya matahari pagi yang hangat keemasan mulai menyinari wajah kedua wanita cantik itu, membuat bulu mata mereka yang lentik terlihat berkilau.
Sinar matahari pagi itu membuat mereka perlahan terbangun dari tidurnya.
Begitu membuka kedua matanya, Amelia dan Intania kaget dan kebingungan setengah mati. Bagaimana tidak, mereka yang tadinya tidur di dalam kamar istana yang tertutup, tiba-tiba sekarang sudah berada di puncak gunung yang terbuka, dengan pemandangan air terjun yang sangat indah di depan mata, dan udara pagi yang sangat sejuk.
Mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah yang memerah karena kaget dan malu, lalu langsung merapatkan selimut mereka.
"Kalian sudah bangun rupanya...?" kata Bima yang tiba-tiba muncul dari balik pohon sambil membawa dua cangkir teh jahe hangat.
"Bagaimana tidur kalian semalam, apakah mimpi indah...?" tanya Bima sambil tersenyum hangat dan penuh arti.
"Kenapa kami ada di sini, Bima...? Bagaimana kami bisa sampai di puncak gunung ini...?" tanya kedua wanita itu hampir bersamaan dengan wajah bingung.
"Tadi pagi-pagi sekali saat kalian masih tertidur pulas seperti dua putri duyung yang kelelahan, aku jalan-jalan mencari udara segar ke belakang istana dan tidak sengaja menemukan tempat seindah surga ini. Karena tempatnya cukup indah dan sayang jika dinikmati sendirian, jadi aku mengajak kalian ke sini. Tapi karena kalian masih tidur dengan sangat pulas, jadi aku bawa saja sekalian dengan ranjangnya. Anggap saja ini kejutan sunrise pertama setelah kemenangan kita," jelas Bima dengan santai.
"Sungguh penculik yang hebat, menculik dua gadis yang sedang tidur," timpal Intan dengan nada manja, sebelum Bima selesai menjelaskan, sambil melempar bantal kecil ke arah Bima.
"Kenapa aku harus menculik milik ku sendiri...? Kalian kan sudah menjadi bagian dari keluarga Perguruan Anggrek Putih yang sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri," kata Bima tidak mau kalah, dengan senyum nakalnya yang khas.
Mendengar itu, kedua wanita itu tersenyum bahagia dengan wajah yang memerah. Hati mereka berdebar kencang mendengar kata-kata Bima yang begitu tulus.
"Di bawah sana ada telaga yang airnya sangat segar dan jernih. Ayo kita cuci muka dan menikmati pagi bersama," ajak Bima kepada kedua wanitanya sambil menunjuk ke arah telaga di bawah air terjun.
Ketika kedua wanita itu mau berdiri dari ranjang, terdengar suara kecil, "Aduhhhh..."
"Kalian kenapa...?" tanya Bima dengan khawatir, langsung menghampiri mereka.
"Kenapa kenapa, ini salah mu yang kemarin membuat kami seharian naik turun Phoenix dan berjalan terus tanpa henti. Kaki ku jadi pegal semua, susah berdiri," kata Intan dengan wajah cemberut manja, mencari alasan untuk dimanja.
Mendengar itu, Bima jadi tertawa kecil dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena merasa bersalah.
"Ya sudah, sini, biar aku bantu."
Akhirnya Bima dengan lembut membantu menuntun kedua wanita itu turun dari bukit untuk mencuci muka dan berendam kaki di tepi telaga. Air telaga itu terasa sangat sejuk dan segar sampai kedua wanita itu melupakan rasa pegal dan lelah di kaki mereka setelah seharian berperang kemarin.
Kedua wanita itu bermain air di tepi telaga sambil tertawa bahagia, mencipratkan air satu sama lain seperti anak kecil.
Sementara Bima terus menyelam ke dalam telaga untuk menangkap ikan segar untuk sarapan mereka. Ikan-ikan di telaga itu adalah Ikan Nila Gunung yang besar-besar dan segar.
Setelah mendapatkan cukup banyak ikan, sekitar sepuluh ekor yang besar, Bima keluar dari air dan menyalakan api unggun kecil dengan Api Nirvana nya yang hangat.
Tak lama kemudian, kedua wanita itu juga sudah selesai bermain air dan sudah merapikan pakaian mereka yang sedikit basah. Mereka menghampiri Bima yang sedang sibuk membakar ikan di atas batu datar.
Aroma masakan Bima begitu wangi, campuran antara ikan segar, bumbu rempah, dan madu hutan, hingga perut kedua wanita itu berbunyi keroncongan karena lapar.
Mendengar bunyi perut mereka, Bima hanya tersenyum hangat sambil memberikan masing-masing tiga ekor ikan bakar yang besar dan sudah matang sempurna.
"Makanlah yang banyak agar kalian punya tenaga yang cukup untuk menghadiri pesta besar nanti malam. Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang," ucap Bima sambil terkekeh, memberikan ikan itu dengan penuh perhatian.
Mendengar itu, kedua wanita itu saling memandang dengan wajah memerah karena malu ketahuan lapar, lalu memakan ikan bakar itu dengan sangat lahap.
Saat kedua wanita itu sedang sibuk makan dengan bahagia, Bima tiba-tiba terdiam dan menatap jauh ke arah utara, ke arah Gunung Lawu yang terlihat samar-samar dari puncak Gunung Kembar ini.
Pikiran Bima melayang, ia teringat dengan guru serta ketujuh kakak seperguruannya yang tersebar di kota-kota besar.
"Sepertinya setelah pesta perjamuan di Kerajaan Mataram Baru ini selesai, aku harus pulang. Aku sangat merindukan Guru Ayu Kirana dan kakak-kakak seperguruanku di Jakarta, Surabaya, dan Bandung," gumam Bima dalam hati dengan sedikit rasa sedih.
"Aku harus memberitahukan rencana ini kepada Amelia dan Intan. Mereka berhak tahu," pikir Bima dengan mantap.
Tak lama kemudian, Amelia dan Intan yang sudah selesai makan dengan kenyang menghampiri Bima yang sedang melamun.
Melihat mereka datang, Bima bertanya dengan lembut, "Apakah sudah kenyang...?"
Keduanya mengangguk bersamaan sambil mengelus perut mereka yang kenyang.
"Intan, Amelia, ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan kalian berdua," kata Bima dengan nada yang tiba-tiba menjadi serius.
"Apa itu, Bima...?" tanya Amelia dan Intan serentak, wajah mereka langsung berubah menjadi cemas melihat keseriusan Bima.
Bima menarik napas dalam-dalam.
"Hemmm, sepertinya setelah pesta perjamuan di Kerajaan Mataram Baru ini selesai nanti malam, aku akan pulang dulu ke tempat asal ku, ke Gunung Lawu. Aku harus kembali ke padepokan ku untuk menemui Guru ku," kata Bima dengan pelan namun jelas.
Mendengar Bima yang akan pergi meninggalkan mereka, mata kedua wanita itu langsung memerah dan bulir-bulir air mata mulai menetes di pipi mereka yang cantik.
"Apakah harus secepat ini, Bima...?" tanya Intan sambil tersedu-sedu, suaranya bergetar. "Baru sesaat kita merasakan kebahagiaan dan kedamaian setelah perang, kenapa harus berpisah secepat ini...?" kata Amelia yang juga sudah menangis dengan air mata yang mengalir deras.
Melihat kedua wanita yang sangat ia sayangi itu menangis karena dirinya, membuat Bima yang biasanya sangat kuat dan tidak takut pada ribuan iblis pun menjadi panik dan bingung harus berbuat apa.
Meskipun Bima sendiri belum tahu pasti, setelah dia kembali ke Gunung Lawu, apakah dia masih bisa dengan mudah kembali ke Klaten dan ke Perguruan Anggrek Putih ini atau tidak, karena jaraknya sangat jauh dan ia harus mencari jejak ketujuh kakaknya, Bima tetap berusaha membujuk kedua wanitanya dengan penuh kasih sayang.
"Tentu ini bukan kebahagiaan sesaat, Intan, Amelia. Kalian adalah bagian penting dalam perjalanan hidup ku. Walaupun aku kembali ke Gunung Lawu, aku pasti akan tetap mencari cara agar bisa sering mengunjungi kalian dan Perguruan Anggrek Putih. Aku janji, ini bukan perpisahan selamanya," bujuk Bima sambil memeluk kedua wanita itu dengan lembut, satu di kiri dan satu di kanan.
"Sungguh kau akan sering mengunjungi kami, Bima...? Kau tidak akan melupakan kami...?" tanya Intan dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Tentu saja, bagaimana mungkin aku bisa lama-lama jauh dari dua gadis secantik dan sebaik kalian yang sudah menyelamatkan hidup ku dari kesepian," kata Bima sambil tersenyum untuk menghibur mereka.
"Apakah kau sudah puas menatap kami dengan tatapan sedih mu itu...?" tanya Intania dengan nada manja, mencoba menghapus air matanya.
Bima tertawa kecil.
"Sepertinya aku tidak akan pernah puas menatap keindahan sunrise pagi ini, apalagi kalau sunrise nya ditemani oleh dua bidadari dari Ngargoyoso," jawab Bima dengan gombalannya yang khas.
"Bukankah tadi malam kau sudah melihat kami terus...? Apakah itu belum membuat mu puas...?" gerutu Intan dengan wajah cemberut namun sudah tidak menangis lagi.
Mendengar itu, Bima hanya bisa terkekeh.
"Hehehe, lain semalam lain sekarang. Keindahan pagi ini berbeda. Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal aneh-aneh sekarang. Aku hanya ingin menikmati momen terakhir kita di puncak gunung ini sebelum kembali ke keramaian istana."
"Baguslah jika kamu masih punya perasaan dan tahu diri," kata Intan dengan ketus namun di balik ketusnya itu ada rasa sayang yang besar.
Setelah suasana kembali cair, Bima bertanya untuk mengalihkan pembicaraan,
"Malam ini kan ada pesta perjamuan besar di Istana Mataram Baru, apa saja sih yang ada dalam acara itu...?" tanya Bima penasaran.
"Mungkin akan ada tarian tradisional dari Keraton, seperti Tari Bedhaya, atau permainan alat musik tradisional seperti gamelan dan siter, atau mungkin juga ada sayembara kecil," jelas Amelia dengan pengetahuan luasnya sebagai putri ketua perguruan.
"Owh, begitu," timpal Bima sambil mengangguk-angguk.
"Sekarang kita jalan-jalan sebentar di sekitar sini. Kelihatannya di sebelah sana ada padang bunga edelweis yang indah. Ayo kita lihat," jelas Bima sambil menunjuk ke arah padang bunga.
"Ayo...!" kedua wanita itu langsung berlari-lari kecil melewati kumpulan-kumpulan bunga liar yang indah, mereka tertawa bahagia sambil mengejar kupu-kupu kuning yang beterbangan di antara bunga edelweis Gunung Kembar. Tawa mereka menggema di lembah yang sepi.
Tak lama kemudian, terdengar suara berisik dari balik semak-semak. Bima yang pendengarannya sangat tajam karena kultivasi Nirvana nya pun langsung berteleportasi menuju sumber suara itu untuk memeriksa.
Ternyata itu adalah sekumpulan Rusa Raksasa Jawa yang sangat langka, yang sedang diburu oleh seekor Harimau Jawa yang besar.
Bima sempat berpikir, "Di Gunung Lawu tidak ada hewan sebesar ini. Jika aku bawa pulang ke Alam Jiwa ku, pasti akan seru. Bisa menjadi penghuni baru di hutan Alam Jiwa ku dan bisa menjadi persediaan makanan segar yang alami."
Tanpa pikir panjang, Bima melompat ke depan rusa-rusa raksasa itu dan membuka Gerbang Alam Jiwanya.
"Wussshhh..."
Dalam sekejap, ratusan Rusa Raksasa itu berpindah tempat ke dalam Alam Jiwa milik Bima yang luasnya seperti sebuah benua kecil. Di sana mereka akan hidup dengan aman dan damai.
Setelah itu, Bima kembali berteleportasi menuju Intan dan Amelia yang menunggu dengan cemas.
"Dari mana saja kamu, Bima...? Kami khawatir," tanya Intan dengan napas terengah-engah karena berlari mencarinya.
"Hanya berburu kecil-kecilan untuk menambah penghuni kebun ku. Lumayan, dapat rusa," jawab Bima dengan santai.
"Oh, lalu mana hasil buruan mu...? Kok tidak ada...?" tanya Intan penasaran.
"Aku simpan di tempat yang sangat aman, di rumah kedua ku," jawab Bima sambil menunjuk ke arah dadanya, tempat Alam Jiwanya berada.
"Apakah kalian masih mau makan...? Aku masih ada sisa ikan bakar," tanya Bima.
"Tidak, tidak, perut ku rasanya mau meledak karena kebanyakan makan ikan bakar tadi pagi. Enak sekali sih," kata Intan sambil mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit karena kenyang.
"Ayok, sekarang kita kembali ke Kerajaan Mataram Baru. Pesta nya sebentar lagi akan dimulai," ajak Bima kepada kedua wanitanya.
"Pejamkan mata kalian berdua," kata Bima dengan lembut.
"Wuuusssshhht..."
Bima membawa mereka berteleportasi kembali ke kamar tempat awal mereka tidur di dalam Istana Mataram Baru.
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Di luar kamar, sudah banyak orang berkumpul di aula utama kerajaan. Terlihat semua kekuatan-kekuatan besar dari seluruh Jawa, dari Surabaya, Malang, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta, sudah berkumpul dengan keluarga besar mereka masing-masing untuk menghadiri pesta perjamuan kemenangan yang akan diadakan nanti malam.
Dan di tengah keramaian itu, Bima Samudra, sang Pendekar Sang Penakluk, telah kembali, dengan dua bidadari di sisinya dan sebuah janji untuk segera pulang ke Gunung Lawu.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?