Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Yang tersembunyi.
"Sejak kapan Bang Oscar dan Pitta dekat." Tanya Bang Satria saat dirinya dan Abang pertamanya kembali ke mess.
"Setau Abang dari jaman Abangmu melatih bela negara dua tahun lalu." Jawab Bang Yudhis.
"Dunia ini memang sempit." Gumamnya.
Bang Satria menyulut rokok lalu menguarkannya perlahan. Ia bersandar, menengadah menatap langit-langit teras mess.
Flashback Bang Satria on..
"Ada apa di depan??" Tanya Bang Satria karena mobil dinas yang di tumpanginya terkena macet parah.
"Ijin, Dan. Informasi dari anggota di truk yang ada di belakang, di depan sana ada tawuran." Jawab 'ajudan' Bang Satria.
"Turun..!!" Tanpa pikir panjang, Bang Satria turun dari mobil dinas dan langsung berjalan lurus ke depan, kurang lebih lima ratus meter.
Disana Bang Satria melihat ada seorang gadis di tengah keramaian dan teriakan orang‑orang. Gadis belia itu terkejut sendirian di tengah keributan, dia adalah Pitta. Ketika para anggota menahan para pelaku tawuran, ia pun mengamankan gadis itu juga.
Para pemuda yang terlibat tawuran itu mendapat hukuman push‑up berulang kali, sedangkan Pitta sendiri, ia dihukum mencari semut merah lima puluh ekor di bawah pohon. Sambil memungut semut‑semut itu dengan tangan kecilnya, air mata Pitta menetes ke tanah, ia tak berani mengeluh hanya sesenggukan pelan.
Bang Satria saat itu hanya berdiri mengawasi dari kejauhan, belum menyangka gadis yang dihukum sore hingga malam nantinya akan menjadi bagian besar dari kehidupan kakak kandungnya, Bang Oscar.
Saat itu.. Jantungnya mulai berdebar kencang, jauh di dalam lubuk hatinya.. Ia mulai menaruh rasa, namun melihat gadis itu masih 'terlalu kecil', ia hanya bisa memendam rasa itu, pasrah dan menunggu.
'Kalau adek jodohnya Abang, suatu saat nanti, di manapun kita berada.. Kita akan bertemu lagi.'
Flashback Bang Satria off..
"Ternyata, kamu istri Abangku. Mungkin di titik ini Abang harus menyerah." Gumamnya lirih.
Bang Satria mematikan batang rokoknya di wadah abu, tatapannya tampak sayu menatap ke arah halaman mess yang gelap. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan dalam hati saat melihat Pitta di bawah pohon itu dulu, tapi ternyata takdir justru mempertemukan gadis itu dengan kakak kandungnya sendiri.
'Amalan apa yang kau pakai, Bang. Bisa-bisanya kau tikung cewek yang dulu ku ceritakan sama kau. Bahkan sampai Samuel saja gagal memilikinya.'
Seulas senyum tersungging di bibirnya, tapi sarat akan kepahitan. Bertahun-tahun mencari keberadaan gadis itu, satu tahun terakhir kehilangan jejak dan kini kenyataan harus ia terima, gadis itu bukanlah 'gadis' yang dulu lagi.
Tak berapa lama Bang Yudhis menepuk bahu adiknya perlahan. Pria itu sudah berganti pakaian santai. "Kau ini mikir apa?? Kenapa dari tadi belum ganti pakaian??"
Bang Satria menoleh pelan, ia tersadar dari lamunannya. "Dari awal saya tau dia masih terlalu muda, jadi saya hanya simpan saja di hati. Saya tunggu sampai dia dewasa… tapi ternyata takdir membawa dia ke sisi Bang Oscar."
"Maksudmu???" Kening Bang Yudhis berkerut. Ia terus menatap wajah adiknya mencari jawaban, namun kemudian ia tersadar. "Tunggu..!!!! Apa jangan-jangan.. Perempuan yang kamu maksud, yang kamu ceritakan, si anak ayam kate.... Itu Pitta?????" Tanya Bang Yudhis lagi.
"Iya.. Dia Pitta." Jawab Bang Satria.
"Gendeeeengg.. Eehh.. Jangan aneh-aneh kau, ya..!!!! Kau tau kan bagaimana kalau Abangmu itu sedang mengamuk??????" Omel Bang Yudhis.
"Bang Oscar yang mulai nggak sih, Bang. Saya sudah kasih clue, semua sesuai saja.. Pitta gadis yang saya suka."
"Kau mungkin suka, tapi yang kau suka sudah jadi milik orang. Orang itu Abangmu, kau mau ribut sama Abangmu sendiri???? Apa dalam keluarga kita ada yang begini???" Ujar Bang Yudhis mengingatkan adiknya.
"Paham saya, Bang. Pitta sudah menjadi istri kakak saya, dia juga sedang mengandung calon keponakan saya. Tidak ada gunanya lagi saya menggenggam perasaan itu." Ia menarik napas panjang. "Saya hanya berharap Bang Oscar benar‑benar bisa menjaganya dengan baik, tidak menyakiti hati gadis itu, sampai kehilangan lagi. Karena kalau tidak, sekalipun Pitta menjadi jandanya, saya akan ambil alih."
Bang Yudhis menepuk bahunya lagi, memberi semangat. "Kalau begitu, bantu kakakmu besok di sidang etik. Bantu dia membuktikan bahwa dia sungguh‑sungguh ingin bertanggung jawab pada Pitta."
Bang Yudhis tidak pernah tau apa yang terjadi di masa lalu, tapi ia tidak pernah ingin Oscar tau tentang masalah ini. Ia hanya menganggap semua yang terjadi hanya kebetulan semata, sebab ia pun sangat paham bagaimana sifat kedua adiknya itu.
"Okee.. Saya akan bantu dia besok. Tapi ingat, jangan sampai Bang Oscar buat Pitta nangis."
Bang Yudhis menghela napas panjang, lalu mengangguk setuju. "Baik. Ini rahasia kita. Yang penting sekarang, kita fokus bantu Abangmu menyelesaikan sidang etik dan menjaga Pitta serta janinnya."
Malam semakin larut, angin berembus melewati teras mess. Kedua pria itu pun masuk ke dalam untuk beristirahat, bersiap menghadapi sidang keesokan harinya.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍