Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-10 Tawaran Diterima
Amora mengendarai motor bututnya dengan penuh semangat, meskipun kondisi hatinya tak seceria biasanya. Malam itu, ia sudah bertekad untuk menemui Damian. Ada satu hal yang harus ia lakukan—memanfaatkan tawaran dokter itu. Bukan karena ia tiba-tiba ingin menjadi istri pura-pura, tapi karena situasinya semakin sulit.
Kafe tempat mereka bertemu berada di pusat kota, tampak elegan dengan pencahayaan redup yang hangat. Amora parkir di depan, lalu menatap sekilas bayangannya di kaca motor. Bibirnya masih sedikit bengkak dan ada bekas luka di sudutnya. "Ah, bodo amat! Yang penting duit," gumamnya, lalu masuk ke dalam dengan percaya diri.
Amora duduk di salah satu sudut kafe, memainkan sedotan dalam gelas kopinya sambil menunggu Damian. Motor bututnya diparkir agak jauh supaya tidak terlalu mencolok di tengah kendaraan-kendaraan mewah di area parkir. Beberapa orang sempat meliriknya dengan tatapan aneh, tapi Amora cuek saja. Yang penting, malam ini ia harus mendapatkan kepastian.
Tak lama kemudian, Damian datang. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, membuatnya terlihat semakin tajam dan berkarisma. Tatapannya tetap dingin seperti biasa, tapi matanya sedikit menyipit saat melihat bibir Amora yang bengkak dan ada bekas darah kering di ujungnya.
“Kamu berantem sama siapa?” tanyanya datar begitu ia duduk.
Amora menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan lalu tertawa. “Oh ini? Cuma latihan sparing melawan rentenir. Sayangnya, saya kalah ronde pertama.”
Damian mengangkat alis. “Kamu serius?”
“Tidak. Tapi, ya, ada rentenir yang datang ke rumah, dan saya kebetulan sedang promosi program cicilan bebas bunga, tapi mereka tidak tertarik,” jawab Amora dengan nada bercanda.
Damian hanya menghela napas. Gadis di hadapannya itu tidak pernah serius. “Jadi, kamu sudah mempertimbangkan tawaranku?”
Amora meneguk kopinya sebelum menyeringai. “Oh, saya sudah mempertimbangkan matang-matang. Dan jawabannya... saya setuju, Dok.”
Damian menatapnya tajam. “Kamu yakin?”
“Seumur hidup saya, saya nggak pernah seyakin ini.”
Damian menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Amora dengan ekspresi datar. "Tiga bulan, 700 juta."
Amora yang baru saja menyesap minumannya langsung tersedak. Batuk-batuk kecil terdengar sebelum akhirnya ia menatap Damian dengan mata membulat tak percaya. "700 juta?! Serius? Tidak ada jebakan Batman, kan?"
Damian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir aku main-main?"
Amora mengelus dadanya, mencoba meresapi angka fantastis itu. Rasanya seperti Tuhan langsung mengirimkan jawaban atas semua penderitaannya. 700 juta! Itu lebih dari cukup untuk melunasi hutang bapaknya yang 500 juta. Masih ada sisa untuk pengobatan Azka, dan bahkan untuk modal usaha kecil-kecilan.
"Ya Tuhan, ini beneran mukjizat!" Amora bergumam pelan, kedua tangannya mencengkeram meja seperti takut Damian tiba-tiba berubah pikiran.
Damian menghela napas. "Aku tidak suka mengulang kesepakatan. Aku butuh seseorang yang bisa berakting sebagai tunangan sempurna di depan ibuku, dan aku tidak ingin banyak drama. Aku membayarmu untuk itu."
Amora menepuk dadanya. "Jangan khawatir, Pak Dokter. Saya ini aktris berbakat! Percaya deh, mama Dokter bakal langsung sayang sama saya."
Damian menatapnya tajam, menilai ucapannya. "Pastikan kamu tidak menarik diri di tengah jalan. Jika kamu menerima uangnya, maka kesepakatan ini tidak bisa dibatalkan."
Amora mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Damian dengan mata berbinar. “Tapi, ada satu syarat.”
“Apa?”
“DP dulu dong, Dok. Masa langsung kerja tanpa uang muka?” Amora mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, ekspresinya santai tapi matanya penuh harap.
Damian mengerutkan kening. “DP?”
“Iya, Down Payment. Uang muka. Saya ini tidak bisa digaji di belakang, soalnya kondisi finansial sedang genting, kalau kata berita-berita, sedang paceklik.”
Damian memijat pelipisnya, terlihat setengah frustasi. “Berapa yang kamu mau?”
“Hmm... anggap saja ini jasa eksklusif ya. Soalnya saya tidak mungkin dapat job begini setiap hari. Jadi, bagaimana kalau—” Amora mengetikkan angka di ponselnya lalu menunjukkan layar itu ke Damian.
Damian melirik angka yang tertera di layar. Mata tajamnya sedikit menyipit sebelum ia menegakkan duduknya. “Kamu pikir aku ini mesin ATM berjalan?”
Amora tersenyum cerah. “Kan saya pacar pura-pura Dokter, jadi boleh dong minta uang pacar? Itu baru DP loh, belum gaji bulanannya.”
Damian menghela napas panjang. “Aku tidak percaya aku benar-benar melakukan ini.”
“Sama, saya juga tidak percaya saya bisa mendapat pacar sekaya ini, meski pura-pura. Jadi, bagaimana, DP-nya cair malam ini juga, atau saya pindah klien?” Amora mengangkat alis menantang.
Damian menatapnya lama sebelum akhirnya merogoh ponsel dari sakunya. “Nomor rekeningmu?”
Amora hampir melompat kegirangan, tapi ia menahannya agar tetap terlihat profesional. “Nah, begitu dong, Dok! Kerja sama yang baik itu harus didukung finansial yang baik juga.” Ia segera menyebutkan nomor rekeningnya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Amora melihat notifikasi transfer masuk dan nyaris menjerit senang.
“Oh, Tuhan. Aku merasa seperti menang undian.”
Amora hampir pingsan di tempat. 350 juta langsung masuk rekeningnya. Ini lebih dari sekadar berkah. Ini jackpot kehidupan! Padahal ia hanya minta lima puluh juta tapi Damian memberikan setengah dari kesepakatan.
Damian hanya menggelengkan kepala. “Mulai sekarang, kita buat aturan main. Aku tidak mau ada kejadian memalukan.”
“Santai, Dok. Saya professional kok,” jawab Amora sambil menyeringai. “Oke, bos. Apa langkah kita selanjutnya?”
Damian menatap Amora dengan ekspresi datarnya yang khas, lalu menyodorkan ponselnya, menampilkan sebuah foto seorang wanita paruh baya yang tampak berkelas dan anggun.
"Ini Mamaku,namanya Diana. Dia ini sangat bawel dan cerewet," katanya dengan nada tanpa emosi.
Amora memperhatikan foto itu dengan saksama. "Oh, oke. Terus?"
Damian menarik napas sebelum akhirnya berkata, "Aku ini seorang duda."
Amora yang sedang menyesap minumannya hampir saja menyemburkannya ke wajah Damian. Ia langsung terbatuk-batuk, menepuk dadanya sendiri. "Batuk, batuk, batuk...! APA?! Duda?!"
Damian tetap santai, hanya menaikkan alisnya. "Kenapa? Kaget?"
"Ya jelas! Astaga! Saya pikir Anda itu pria workaholic yang terlalu sibuk untuk menjalin hubungan, bukan mantan suami orang!" Amora menatapnya dengan penuh keterkejutan. "Duda anak berapa? Jangan-jangan tiga!"
Damian menghela napas panjang. "Nol. Aku tidak punya anak. Dan tolong jangan berlebihan."
Amora mengusap wajahnya dengan ekspresi masih setengah syok. "Jadi... doaku selama ini terkabul? Aku akhirnya bisa menikah dengan duda kaya? Ya Tuhan, meskipun ini status palsu, tapi setidaknya statusnya tetap duda!" Amora menatap Damian penuh arti, lalu berdeham. "Tapi tunggu dulu, kenapa cerai?" Ia menyipitkan mata curiga. "Anda ketahuan selingkuh ya? Atau Anda impot—"
"Jaga mulutmu, Amora," Damian memperingatkan dengan suara tajam, membuat Amora langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Aku cerai karena perbedaan prinsip. Sudah, itu saja."
Amora masih ingin menggali lebih dalam, tapi tatapan dingin Damian membuatnya mengurungkan niat. "Oke, oke, saya tidak akan tanya lebih jauh. Tapi ini bikin perjanjian kita semakin menarik." Ia bersedekap, tersenyum penuh arti. "Duda kaya yang butuh calon istri bohong-bohongan. Hmm... aku harus mulai menetapkan tarif lebih tinggi."
Damian menatapnya tajam. "Jangan serakah. Kamu butuh aku lebih daripada aku butuh kamu."
Amora mendengus pelan, lalu terkekeh. "Kita lihat saja nanti, Tuan Duda."
Damian lalu mengeluarkan sebuah map berisi surat perjanjian dan meletakkannya di atas meja. Amora menatap benda itu dengan kening berkerut. "Kita benar-benar harus ada perjanjiannya ya, Dok?" tanyanya.
"Tentu saja. Ini bukan main-main," jawab Damian tenang, menyilangkan tangan di dada.
Amora menghela napas lalu mengambil map itu dan mulai membacanya. Matanya membesar saat melihat beberapa poin yang tertulis di sana. Amora mengambil map itu dan membuka lembaran pertama. Matanya menelusuri setiap pasal dengan seksama. Meski otaknya agak berkabut karena masih terkejut dengan angka yang ditawarkan Damian, ia tetap berusaha memahami isinya.