Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN SENTUH SINTA
"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa punya nomor ini?"
Bisikan Sora meluncur lirih, hampir tak terdengar di dalam ruangan kedap udara tersebut. Tangannya gemetar hebat saat menempelkan ponsel kecil berukuran saku itu ke telinganya. Matanya terus melirik waspada ke arah pintu baja tebal yang terkunci dari luar.
Di ujung telepon, terdengar helaan napas terburu-buru yang bercampur dengan gemersik suara sinyal yang tidak stabil.
"Sora... ini Siska, mantan sekretaris Aris!" sahut suara wanita di ujung telepon. "Dengarkan aku baik-baik. Kamu tidak punya banyak waktu!"
"Siska?!" Sora terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. "Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini? Dan bagaimana ponsel ini bisa ada di selimutku?"
"Aku yang menyelipkannya saat Aris dan Danu membawamu masuk dari mobil dalam keadaan pingsan tadi!" terang Siska cepat. "Aku bekerja di tempat ini sebagai pengelola rumah aman Aris. Tapi aku tidak bisa tinggal diam lagi melihat kegilaan Aris dan Danu. Mereka sudah melampaui batas, Sora!"
Dada Sora naik-turun tak beraturan. Secercah harapan yang sempat mati di dalam jiwanya mendadak menyala kembali, membakar rasa takut yang menyelimutinya.
"Tolong aku, Siska..." cicit Sora dengan pendar air mata yang membasahi pipinya. "Bawa aku keluar dari tempat ini..."
"Pasti, Sora. Tapi kamu harus mengikuti instruksiku tanpa cela," tegas Siska. "Tempat persembunyian ini adalah sebuah bunker penthouse pribadi di kawasan pinggiran Bogor. Hanya ada satu jalur keluar darurat melalui ruang kontrol listrik di lantai bawah."
Sora mengangguk cepat, walau Siska tidak bisa melihatnya. "Apa yang harus kulakukan?"
"Tepat pukul dua belas malam nanti, aku akan mematikan daya listrik utama bunker ini selama sepuluh menit," instruksi Siska dengan nada tegang. "Saat listrik padam, pengunci otomatis pada pintu bajamu akan terlepas selama tiga ratus detik. Kamu harus lari keluar, belok kiri menuju koridor belakang, dan temui aku di dekat tangga darurat. Paham?"
"Paham... aku paham, Siska," balas Sora mantap.
"Sembunyikan ponsel itu sekarang! Aris bisa kembali kapan saja," bisik Siska sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Sora dengan cepat menyembunyikan ponsel kecil itu di dalam lipatan kaus kakinya. Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan gaun tidurnya, lalu kembali berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi pintu, berpura-pura tertidur lelap akibat kelelahan.
Ruangan itu mendadak hening kembali. Waktu terasa berjalan begitu lambat, setiap detik berdetak bagaikan siksaan yang mendebarkan di dalam dada Sora.
Pukul sebelas malam.
Suara langkah kaki yang tegas mendekat dari luar. Pintu baja berderit pelan saat kunci otomatisnya terbuka.
Sora menahan napasnya, memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan bayangan seseorang berdiri di samping ranjangnya. Aroma parfum kayu cendana yang tajam tercium jelas—Aris.
Aris membungkuk pelan, jemarinya yang hangat dan tegap mengusap lembut helai rambut Sora yang tersebar di atas bantal. Usapan itu begitu halus, namun di kulit Sora terasa bagaikan belitan ular yang siap meremukkan tulangnya.
"Tidurlah yang nyenyak, sayangku..." bisik Aris intim di dekat telinga Sora. "Mulai besok, dunia luar tidak akan pernah bisa mengganggumu lagi."
Aris memberikan ciuman singkat di kening Sora, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan, menutup pintu baja itu kembali hingga terdengar bunyi klik pengunci otomatis.
Sora membuka matanya dalam kegelapan. Ia mengusap keningnya dengan kasar, menahan kepanikan dan amarah yang bergolak di dadanya.
Pukul satu kurang lima menit menuju tengah malam.
Sora sudah berdiri di balik pintu baja. Ia melepaskan sandalnya agar langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Jemarinya yang dingin memegang erat gagang pintu besi, bersiap untuk setiap kemungkinan yang akan terjadi.
Jantungnya berdebar begitu kencang, menghantam rongga dadanya berkali-kali.
Empat menit... Tiga menit... Dua menit... Satu menit...
CEKLEK!
Tepat pukul dua belas malam, seluruh lampu di dalam ruangan mendadak padam total! Suara sirine sistem keselamatan darurat berbunyi pendek sebelum mati sepenuhnya. Lampu indikator merah di atas pintu baja berubah menjadi padam.
Sora langsung mendorong gagang pintu baja itu dengan seluruh tenaganya. Pintu besi tebal itu bergeser terbuka!
Tanpa membuang detik, Sora menerobos keluar menuju koridor yang gelap gulita. Hanya ada pendar cahaya bulan yang menyusup tipis dari celah ventilasi atas. Sora berlari kencang tanpa alas kaki, menyusuri lorong dingin sesuai instruksi Siska.
"Sora! Di sini!"
Sebuah bisikan terdengar dari sudut koridor belakang. Sora menoleh dan melihat siluet Siska yang memegang sebuah senter kecil, melambaikan tangan di dekat pintu darurat.
"Siska!" panggil Sora dengan suara tertahan.
Mereka berdua bergegas melangkah turun menyusuri tangga darurat yang curam dan gelap. Suara langkah kaki mereka beradu dengan gema di dalam lorong semen.
"Mobilku terparkir di belakang gerbang samping," bisik Siska terengah-engah saat mereka tiba di lantai dasar. "Polisi sudah diberi tahu titik koordinat tempat ini oleh tim hukum keluargamu yang baru!"
Harapan Sora melambung tinggi. Ia memegang lengan Siska, melangkah cepat menuju pintu keluar belakang yang mengarah langsung ke area taman luar yang lebat.
Namun, baru saja jemari Siska menyentuh gagang pintu keluar belakang—
KLIK!
Sorot lampu sorot berdaya tinggi mendadak menyala terang dari arah belakang mereka, menyinari tubuh Sora dan Siska hingga menyilaukan mata!
Sora refleks memicingkan matanya, menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.
Di dalam keremangan cahaya lampu sorot yang menyilaukan itu, dua sosok pria tegap berdiri tenang di tengah koridor utama, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
Aris berdiri di sana, mengenakan setelan serba hitam dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celananya. Di sampingnya, Danu berdiri memegang sebuah sakelar kontrol darurat yang rupanya telah dinyalakan kembali secara manual dari ruang genset privat.
Senyuman dingin yang mengerikan terukir sempurna di bibir Aris.
"Mau pergi ke mana malam-malam begini, Siska?" tanya Aris dengan suara baritonnya yang mengayun tenang, seolah ia sedang menyapa seorang tamu di pesta makan malam.
Siska gemetar hebat, refleks melangkah mundur di belakang tubuh Sora. "Ar-Aris... bagaimana bisa..."
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menyelipkan ponsel itu di selimut Sora?" potong Danu dingin dari samping Aris. "Kami membiarkan kalian berpura-pura lari... hanya untuk melihat seberapa jauh usaha kalian."
Darah di tubuh Sora seketika terasa membeku. Seluruh harapannya runtuh menembus dasar bumi dalam sekejap mata. Semuanya adalah jebakan... sebuah permainan kucing dan tikus yang sengaja diciptakan Aris untuk menghancurkan mentalnya secara perlahan!
Aris melangkah maju secara perlahan, mengikis jarak di antara mereka. Langkah sepatunya di atas lantai semen terdengar begitu mantap, gaungnya memenuhi seluruh lorong yang sempit.
"Kamu membuatku sangat kecewa, Sora..." bisik Aris ketika ia berhenti tepat satu meter di hadapan Sora.
Jemari Aris terulur, mencengkeram rahang Sora secara mendadak dengan cengkeraman yang sangat kuat dan dominan, memaksa Sora untuk menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelapnya yang membara oleh gairah gila.
"Aku sudah memberimu kehangatan, kemewahan, dan rasa aman... tapi kamu malah memilih bersekongkol dengan pengkhianat ini?"
Sora meringis kesakitan, matanya menatap Aris dengan kebencian yang amat sangat mendalam. "Aku lebih baik mati daripada harus hidup sama monster kaya kamu, Aris!"
Aris menyunggingkan senyuman miring, mendatangkan hawa dingin yang mencekik dada Sora.
Aris mengalihkan pandangannya ke arah Siska yang berdiri ketakutan. Dengan satu isyarat tangan dari Aris, Danu langsung melangkah maju dan mencengkeram kedua lengan Siska secara kasar, menarik wanita itu menjauh dari Sora.
"Bawa Siska ke basement bawah, Danu," perintah Aris dingin tanpa berpaling dari wajah Sora. "Biar dia paham apa konsekuensi dari mencampuri urusanku."
"Tidak! Jangan sentuh Siska!" teriak Sora histeris, berusaha meronta dari cengkeraman Aris. "Aris, lepas! Dia tidak bersalah!"
Aris tidak mengindahkan teriakan Sora. Ia justru menarik tubuh Sora dengan satu hentakan kuat, merengkuh pinggang wanita itu dan memeluknya makin rapat ke dalam dada tegapnya. Sora memukul-mukul dada dan bahu Aris dengan sisa tenaganya, namun pria itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun.
Suara jeritan dan tangisan Siska yang diseret oleh Danu perlahan menghilang di balik lorong bawah tanah yang gelap.
Aris menundukkan kepalanya, membisikkan kata-kata dalam nada bariton yang amat sangat tajam dan sarat akan dominasi mutlak di samping telinga Sora yang menangis pasrah.
"Sekarang... tidak ada lagi orang yang bisa membantumu, Sora," bisik Aris dengan kehangatan napas yang membakar kulit leher Sora.
"Malam ini, aku akan memastikan kamu mengandung anakku... agar kamu tidak akan pernah punya pikiran untuk lari dariku lagi."