"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celetukan Jujur Sang Tuan Muda
Ketukan pelan berturut-turut terdengar dari balik pintu kayu kamar bermain Elzard. Sandra yang sedang menganyam balok-balok susun menjadi sebuah benteng mainan mendongak pelan, sementara Elzard menghentikan laju mobil-mobilannya dan menoleh penasaran.
"Masuk," panggil Sandra lembut.
Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pelayan wanita paruh baya membawa baki perak berukuran besar. Di atas baki tersebut tersaji sepiring steak daging empuk dengan saus beraroma menggoda, nasi hangat, mangkuk berisi potongan buah-buahan segar, serta secangkir teh herbal yang masih mengepulkan uap tipis.
Pelayan itu tersenyum sangat sopan, lalu melangkah masuk dan meletakkan baki hidangan tersebut di atas meja kecil tak jauh dari karpet bermain.
"Nona Sandra, ini sarapan untuk Anda," tutur sang pelayan dengan nada bicara yang penuh rasa hormat.
Sandra tertegun sejenak, mengamati hidangan mewah yang disajikan khusus untuknya. "Untuk saya? Tapi... saya belum sempat memesannya, Bik."
Pelayan itu terkekeh pelan dengan tatapan hangat. "Tuan Dante sendiri yang memerintahkan dapur utama untuk menyiapkannya, Nona. Tuan menyadari Anda belum menyantap apa pun sejak pagi dan sibuk mengurus Tuan Muda Elzard."
Mendengar penjelasan itu, dada Sandra berdesir hebat. Senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibirnya, memunculkan perasaan hangat yang asing di ulu hatinya. Pria bernama Dante itu—meski pembawaannya dingin, kaku, dan penuh kewaspadaan—ternyata memiliki kepedulian yang begitu halus dan penuh perhatian. Sangat berbeda jauh dari Anton yang selama bertahun-tahun selalu menuntut pelayanannya tanpa pernah memedulikan kondisinya.
"Wah! Makanan Ibu Baru banyak sekali!" seru Elzard riang, melompat mendekati meja kecil itu. "Ibu Baru harus makan yang banyak ya, biar bisa main mobil-mobilan lagi sama Elzard!"
"Iya, Pangeran Kecil," jawab Sandra lembut seraya mengusap rambut halus Elzard. Ia menatap pelayan itu dengan tulus, "Terima kasih banyak ya, Bik."
"Sama-sama, Nona. Selamat menikmati. Saya permisi dulu," pamit pelayan tersebut seraya membungkuk dan berbalik keluar.
Tepat saat pintu akan menutup kembali, sosok Dante muncul di ambang pintu. Pria berkemeja hitam itu berdiri tegap menyandarkan bahunya di kening pintu, menatap Sandra yang masih terpaku menatap hidangan di meja.
"Kenapa tidak dimakan?" suara berat Dante memecah keheningan, terdengar datar namun tersirat kehangatan di dalamnya. "Kamu butuh energi jika ingin mengimbangi tingkah anak itu seharian."
Sandra mendongak, menyambut tatapan mata tajam Dante yang kini terasa menenangkan. "Terima kasih, Dante. Kamu sangat perhatian."
Dante berdehem pelan, mengalihkan pandangannya sedikit ke arah Elzard untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang dadanya. "Aku hanya tidak ingin 'ibu baru' putraku pingsan karena kelaparan di hari pertamanya," sahut Dante gengsi, walau bibirnya samar-samar menyunggingkan garis senyum tipis.
"Apa iya? Bukankah ibu-ibu sebelumnya tidak pernah Ayah antarkan makanan ke kamar?"
Celetukan polos yang meluncur begitu saja dari bibir mungil Elzard seketika bagaikan petir kecil yang menyambar keheningan di kamar bermain tersebut. Bocah lima tahun itu menengadah polos dengan mata bulatnya yang berkedip-kedip santai, tanpa menyadari dampak dahsyat dari kata-katanya.
Suasana ruangan yang hangat mendadak membeku total dalam sepersekian detik.
Dante yang tadinya berdiri angkuh bersandar di kening pintu dengan raut wajah sok jual mahal, seketika membeku di tempat. Wajah tegasnya yang biasanya selalu terlihat tenang dan tak tersentuh mendadak kaku. Tenggorokannya terasa menyempit, dan untuk kedua kalinya dalam dua hari ini, Tuan Besar yang ditakuti banyak orang itu terbatuk-batuk kecil menutupi rasa salah tingkah yang amat hebat. Rona tipis yang sangat langka merambat perlahan di sekitar telinganya.
Di sisi lain, Sandra yang sedang memegang cangkir teh hangat ikut tersentak kaget. Pegangannya pada cangkir porselen itu sempat gemetar pelan. Wajahnya yang mulus seketika memerah padam hingga ke leher, bagaikan buah tomat yang matang sempurna. Ia menundukkan pandangannya secara refleks, berpura-pura sangat sibuk meniup uap teh hangat di tangannya agar tidak beradu tatap dengan pria di depan pintu.
Elzard yang melihat reaksi aneh dari kedua orang tuanya hanya miringkan kepala bingung. "Ayah kenapa mukanya merah? Ibu Baru juga merah mukanya, seperti kepiting rebus!" tambah Elzard polos tanpa dosa, justru memperkeruh suasana salah tingkah di ruangan itu.
"Elzard... makan mainanmu—maksud Ayah, lanjutkan bermainmu," potong Dante dengan suara yang mendadak sedikit lebih tinggi dari biasanya, sangat kentara berusaha mengalihkan pembicaraan. Pria itu menyapu belakang lehernya yang mendadak terasa panas.
Sandra menahan senyum dan kekehan geli di balik cangkir tehnya. Rasa canggung yang menyergap tadi perlahan meleleh berganti dengan rasa hangat yang menggelitik di dada. Siapa yang menyangka bahwa Tuan Besar yang begitu dingin, tegas, dan mendominasi seperti Dante bisa dibuat tak berkutik hanya oleh kalimat polos putra kecilnya sendiri?
Dante berdehem keras berulang kali, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh seketika. "Ehem! Aku... aku ada rapat penting di kantor pagi ini. Habiskan makananmu, Sandra. Dan kamu, Elzard, jangan nakal pada Ibu Baru," ujar Dante cepat-cepat sambil merapikan lengan kemeja hitamnya yang sebenarnya sudah sangat rapi.
Tanpa menunggu balasan dari Sandra maupun Elzard, Dante berbalik badan dengan terburu-buru dan melangkah pergi menyusuri koridor megah dengan langkah kaki yang jauh lebih cepat dari biasanya.
Sandra akhirnya tidak sanggup lagi menahan tawanya. Kekehan renyah meluncur dari bibir cantiknya. Ia menatap kepergian Dante, lalu beralih memandang Elzard yang menatapnya polos.
"Ibu Baru kenapa tertawa?" tanya Elzard heran.
Sandra berlutut dan mengacak rambut halus Elzard dengan gemas. "Tidak apa-apa, Pangeran Kecil. Ayahmu ternyata menggemaskan sekali kalau lagi panik ya?"
Elzard tertawa geli ikut-ikutan, meski tak paham sepenuhnya. Sementara itu, di lantai bawah, Dante yang baru saja menuruni anak tangga mengusap dadanya yang berdegup kencang, merutuki celetukan jujur putranya yang telah membongkar perhatian khusus yang secara tak sadar ia berikan pada Sandra.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati