Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Lampu-lampu jalanan Tol Jagorawi membiaskan cahaya jingga di atas kap mesin sedan hitam yang melaju menembus gerimis tipis malam.
Di dalam kabin, keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang kaku dan penuh prasangka seperti beberapa hari lalu, melainkan sebuah ketenangan yang sarat akan kesiapsiagaan dan saling percaya.
Naya duduk menatap flashdisk besi berukir nama ayahnya yang kini ia genggam erat di atas pangkuannya. Sementara itu, Raka fokus mengendalikan kemudi dengan tangan kirinya, sebab lengan bawah kanan pria itu sudah terbalut kain kassa rapi setelah sempat mereka obati secara darurat di klinik dekat gerbang tol tadi.
"Raka," panggil Naya pelan, memutar kepalanya menatap profil samping sang suami. "Setelah ini, apa langkah pertama kita? Apakah kita langsung menyerahkan flashdisk dan buku harian Ayah ini ke kepolisian?"
Raka menggeleng pelan, matanya tetap menatap lurus ke jalanan malam yang mulai memadat. "Tidak semudah itu, Naya. Paman Hendra sudah menanamkan pengaruh dan uangnya di Mahendra Group, bahkan di beberapa oknum aparat, selama belasan tahun. Jika kita melangkah tanpa persiapan yang matang dan terburu-buru, dia bisa dengan mudah memutarbalikkan fakta atau menghilangkan barang bukti sebelum persidangan dimulai."
Naya mengerutkan dahi, merasa cemas. "Lalu?"
"Kita harus memancingnya keluar," sahut Raka dengan nada suara yang tenang namun amat dingin. "Hendra adalah tipe musuh yang arogan. Saat dia tahu rencananya merebut kotak kayu di Bogor gagal, dia pasti akan panik. Dan orang panik selalu membuat kecerobohan besar."
Belum sempat Naya membalas, ponsel pintar Raka yang terpasang di dasbor mobil mendadak bergetar keras. Nama kontak kepala tim pengawal pribadi yang bertugas menjaga rumah sakit tempat ayah Naya dirawat berkedip-kedip di layar.
"Komandan Bagas"
Raka menekan tombol panggil di roda kemudi. "Ya, Bagas. Ada laporan?"
Suara Bagas terdengar terburu-buru dan tertahan dari balik pengeras suara mobil.
"Lapor, Pak Raka! Lima menit yang lalu, Pak Hendra Mahendra terlihat tiba di Rumah Sakit Medika Utama bersama tiga orang pria berbadan tegap. Mereka saat ini sedang berjalan menuju lorong ruang rawat inap Pak Surya Kanindita!"
Deg!
Darah Naya seketika menyurut dari wajahnya. "Ayah!" jeritnya tertahan seraya mencengkeram lengan jaket Raka.
Wajah Raka mengeras seketika. Mata elangnya berkilat berbahaya. "Bagas, jangan izinkan Hendra atau anak buahnya menyentuh atau memasuki kamar rawat Surya Kanindita sedikit pun. Gunakan wewenang penuh."
"Siap, Pak Raka! Tim kami sudah memblokir pintu masuk kamar rawat. Namun Pak Hendra bersikeras mengaku sebagai perwakilan manajemen Mahendra Group yang hendak melakukan 'kunjungan donasi sosial'!"
"Tahan mereka sampai aku tiba di sana tenangkan suasana tanpa kekerasan dulu," perintah Raka tegas. "Aku tiba dalam sepuluh menit."
Raka mematikan sambungan telepon, lalu tanpa ragu menginjak pedal gas lebih dalam. Sedan hitam itu meraung keras, melesat membelah kemacetan kota Jakarta dengan kecepatan tinggi.
"Raka ... Ayah ..." Naya bernapas memburu, matanya mulai berkaca-kaca oleh rasa panik yang tak tertahankan. "Kenapa dia mengincar Ayah?! Ayah sedang sakit dan tidak tahu apa-apa!"
Raka mengulurkan tangan kirinya, menggenggam erat jemari Naya yang dingin dan gemetar di atas pangkuannya. "Tenang, Naya. Paman Hendra sengaja mendatangi Ayahmu untuk menggertak kita. Dia mau menunjukkan bahwa dia punya kartu As untuk menekanmu. Tapi aku tidak akan biarkan hal itu terjadi. Percaya padaku."
Genggaman hangat Raka memberikan sedikit ketenangan di tengah badai kecemasan yang melanda jiwa Naya.
Rumah Sakit Medika Utama berdiri megah di kawasan Jakarta Selatan. Di lantai empat, suasana lorong ruang perawatan VIP terasa amat tegang dan mencekik.
Empat orang pria berjas hitam dari tim pengawal pribadi Raka berdiri tegap memblokir pintu kayu tebal nomor 402, kamar tempat Surya Kanindita terbaring. Di hadapan mereka, Hendra Mahendra berdiri dengan tongkat bertatahkan perak di tangannya, didampingi oleh tiga pengawal pribadi berbadan tinggi besar.
"Kalian tahu siapa saya?!" bentak Hendra dengan suara berat yang dipenuhi amarah. "Saya adalah Direktur Utama Mahendra Group! Saya datang ke sini untuk niat baik, memberikan bantuan pengobatan pada mantan karyawan kami! Atas dasar apa kalian melarang saya masuk?!"
Bagas, kepala tim pengawal Raka, membungkuk sopan namun posisinya tetap kokoh tak bergeming di depan pintu. "Mohon maaf, Pak Hendra. Ini adalah perintah langsung dari CEO Mahendra Group, Bapak Raka Mahendra. Hanya keluarga inti dan tim medis yang diizinkan memasuki ruangan ini."
"Raka?!" Hendra tertawa sinis, wajahnya yang berkerut tampak amat licik. "Raka hanyalah anak muda yang belum paham tata krama bisnis! Minggir kalian sebelum saya pecat!"
"Siapa yang mau Anda pecat, Paman?"
Sebuah suara dingin, berat, dan penuh wibawa yang menggelegar mendadak memotong perdebatan itu dari ujung lorong.
Hendra dan pengawalnya memutar tubuh mereka. Raka melangkah lebar menelusuri koridor rumah sakit, didampingi oleh Naya yang berjalan tegap di sisinya. Aura kepemimpinan Raka yang begitu menekan membuat para pengawal Hendra secara refleks mundur setengah langkah.
Hendra menyipitkan matanya tajam, memandang Raka dan Naya bergantian. Tatapannya sempat tertahan pada lengan kanan Raka yang terbalut kassa rapi di balik jaketnya, sebuah bukti bahwa rencananya di Bogor tadi sore telah menemui kegagalan telak.
"Raka..." Hendra menyunggingkan senyum palsu yang memuakkan. "Kebetulan sekali kamu ada di sini. Paman baru saja mau menjenguk mertuamu. Bagaimanapun juga, sebagai keluarga Mahendra, kita harus menunjukkan rasa kepedulian pada ayah dari 'istrimu', bukan?"
Raka menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Hendra. Kedua tangannya terbenam di saku celana, matanya menatap paman kandungnya itu dengan pandangan jijik yang tak disembunyikan.
"Kepedulian?" Raka terkekeh dingin, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk orang-orang di lorong itu meremang. "Atau Paman datang ke sini karena panik setelah suruhan Paman pulang dengan tangan kosong dan tulang rahang bergeser dari Bogor?"
Wajah Hendra seketika berubah sangat pucat. Senyum palsunya luntur tak berbekas, digantikan oleh kilatan dendam yang amat pekat.
Naya melangkah maju setengah badan, menatap Hendra dengan keberanian yang membara di dadanya. "Pak Hendra Mahendra ... jangan pernah sekali-kali Anda melangkahkan kaki Anda mendekati kamar Ayah saya lagi. Kebusukan Anda delapan tahun lalu sudah berakhir hari ini!"
Hendra menatap Naya dengan pandangan meremehkan. "Wanita kecil ... kamu pikir hanya karena kamu berhasil masuk ke dalam keluarga Mahendra dengan identitas palsu kakakmu, kamu bisa menggertakku? Kamu dan ayahmu hanyalah serangga kecil yang bisa kuhancurkan kapan saja!"
"Cobalah kalau Paman berani," potong Raka dengan suara rendah yang amat berbahaya. Raka melangkah satu jengkal lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit ke arah Hendra. "Seluruh rekaman CCTV malam kebakaran, salinan transaksi rekening rahasiamu di Swiss, dan buku catatan harian Pak Surya ... semuanya sudah ada di tanganku."