Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pagi harinya, udara segar akhir musim semi di Edinburgh menyambut langkah Aisha di pelataran parkir apartemennya. Sisa-sisa hawa dingin winter sudah memudar, digantikan hembusan angin hangat yang menandakan musim panas akan segera tiba.
Aisha mengenakan jaket tipis berwarna krem yang dipadu dengan jilbab nuansa dusty pink dan celana kain longgar yang nyaman untuk perjalanan jauh.
Di pelataran parkir, mobil hitam milik Anton sudah terparkir rapi. Anton sendiri tampil kasual namun elegan dengan trench coat tipis berwarna beige dan kemeja santai, sementara Tania mengenakan jaket denim bergaya khas anak muda.
"Good Morning, Sir, Miss!" sapa Aisha hangat.
"Morning, Aisha. Sini kopermu, biar saya masukkan ke bagasi," ujar Anton lembut, mengambil alih koper milik Aisha dengan sigap.
"Thank you, Sir!," balas Aisha tulus.
Anton lalu membukakan pintu penumpang depan untuk Aisha. "Kamu duduk di depan saja ya, Aisha? Supaya ada teman ngobrol dan saya nggak mengantuk menyetir sendirian perjalanan jauh begini."
Aisha tersentak pelan. Ia melirik ke arah kursi depan, lalu berpindah menatap Anton dengan mengulas senyum ramah yang tetap sopan.
"Anu... terima kasih banyak atas tawarannya, Pak," ujar Aisha halus.
"Tapi... kalau Bapak khawatir mengantuk atau butuh teman ngobrol di depan, sebaiknya Miss Tania aja yang duduk di depan. Jadi kalau misal Pak Anton haus atau butuh sesuatu selama menyetir, Miss Tania bisa langsung bantu. Saya lebih nyaman duduk di belakang."
Tania yang menyimak perbincangan itu dari dalam mobil langsung terkekeh geli.
"Makanya, Pak. Wajahnya jangan galak-galak banget, Aisha nggak nyaman jadinya." Ledek Tania.
"Eh-b-bukan gitu, Pak. Saya orangnya suka tidur kalau diperjalanan, jadi...sama aja, bapak bisa ngantuk juga nanti."
Anton menatap Aisha lebih lama. Ia melihat betapa halusnya Aisha menjaga jarak dan prinsip kesopanannya tanpa menyinggung perasaan siapa pun.
Meski ada sedikit rasa kecewa karena tak bisa duduk berdampingan, Anton tidak ingin terlalu memaksakan kehendak.
Anton mendengus pelan seraya menyunggingkan senyum tipis menghargai. "Ya sudah kalau begitu... Tania, kamu pindah duduk di depan saja."
"Yes, Sir!" seru Tania seraya membuka pintu depan dan berpindah posisi.
Begitu mobil mulai melaju membelah jalanan Edinburgh, Aisha yang duduk santai di kursi belakang mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Ngomong-ngomong, sebenarnya di mana letak perusahaan cabang yang mau kita tuju, Pak?" tanya Aisha penasaran.
"Di Isle of Skye," jawab Anton tenang dari balik kemudi. Anton lalu melirik cermin tengah.
"Kamu... sudah pernah ke sana?"
Aisha menggeleng pelan. "Belum pernah sama sekali, Pak. Tapi saya pernah dengar namanya beberapa kali."
Penasaran, Aisha merogoh ponselnya dari dalam tas dan langsung mengetik nama pulau itu di pencarian Google. Matanya seketika membelalak bulat, binar kagum terpancar jelas dari raut wajahnya saat deretan foto lanskap Isle of Skye memenuhi layarnya.
"Masya Allah... tempatnya indah sekali, Pak!" seru Aisha takjub.
"Iya, dan pemandangan aslinya jauh lebih indah daripada yang ada di internet," sahut Tania dari kursi depan.
Perjalanan panjang melintasi jalur Scottish Highlands menyuguhkan pemandangan musim semi yang amat memanjakan mata.
Pohon-pohon dan bukit batu yang dulunya gundul kini diselimuti hamparan rumput hijau segar dan bunga-bunga liar berwarna-warni yang bermekaran di sepanjang tepi jalan.
Danau-danau jernih memantulkan langit biru yang cerah, serta gugusan lembah purba dipayungi awan putih yang berarak lembut.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dan melintasi jembatan Skye Bridge, mobil Anton akhirnya memasuki kawasan Isle of Skye dan membelok ke area pemberhentian favorit wisatawan di Sligachan.
Anton mematikan mesin mobil di dekat sebuah kedai kecil. "Kita istirahat sebentar di sini. Pemandangan di Sligachan ini sayang banget kalau cuma dilewati begitu saja."
"Wah, setuju banget! Punggungku sudah pegal semua," seru Tania riang seraya melangkah turun terlebih dahulu.
"Saya ke kedai dulu ya, mau beli minuman hangat."
"Okey, Sir!" sahut Aisha.
Aisha dan Tania melangkah turun terlebih dahulu, berjalan menuju tepi pembatas kayu untuk menikmati panorama Sligachan yang legendaris.
Di hadapan mereka, aliran sungai jernih mengalir melintasi bebatuan hitam dengan latar belakang kemegahan Pegunungan Cuillin yang menjulang gagah di bawah langit akhir musim semi.
Tak lama kemudian, Anton datang melangkah mendekati mereka. Ia langsung mengulurkan satu cup cokelat panas yang masih beruap ke arah Aisha.
"Ini buat kamu, Aisha," tutur Anton lembut.
Aisha menerima cup itu seraya tersenyum manis. "Thank you so much, Sir."
Tania yang berdiri di sebelah Aisha ikut mengulurkan tangannya seraya menyeringai lebar. "Where's mine?"
Anton menatap adiknya dengan raut wajah sangat polos tanpa dosa. "Masih di meja kedai. Tangan aku cuma dua, jadi satu lagi masih tinggal disana."
Mata Tania seketika membelalak tak percaya. "Astaga! Alasan! Lebih peduli orang lain daripada adek sendiri!" gerutu Tania pura-pura ngambek, lalu melangkah pergi. "Ya sudah, aku bisa bawa sendiri!"
Aisha terkekeh canggung melihat tingkah kakak-beradik itu, sementara Anton hanya tersenyum tipis, memanfaatkan momen berdua itu untuk berdiri bersisian dengan Aisha di tepi jembatan batu tua.
Anton menatap hamparan tebing dan aliran sungai di bawah mereka, lalu menoleh menatap Aisha. "Isle of Skye ini bukan cuma sekadar lanskap cantik, Aisha. Tempat ini punya filosofi yang mendalam."
Aisha menoleh, menatap Anton dengan rasa ingin tahu. "Filosofi apa, Pak?"
"Coba lihat Sungai Sligachan ini, airnya mengalir deras melintasi bebatuan hitam yang kasar dan keras. Tidak pernah memaksa untuk menghancurkan batu-batu tersebut. Dia mengalir lembut, mengikuti lekuknya, tapi lama-lama justru membuat sudut-sudut batu yang tajam jadi halus."
Aisha mengulas senyum lebar. Dalam hatinya, Aisha merasa benar-benar tak menyangka. Pria di sebelahnya ini adalah atasan yang di kantor terkenal sangat dingin, kaku, tegas, dan irit bicara. Siapa sangka sosok itu ternyata bisa bicara panjang lebar dan puitis seperti ini.
Aisha terkekeh kecil menahan geli, lalu menjawab santai, "Wah... bener juga ya, Pak. Kelembutan airnya bisa meluluhkan batu yang begitu keras."
"Persis," balas Anton ikut tersenyum tipis.
"Dan tebing Cuillin di sana itu... walau sering diterjang angin dan hujan dingin, dia tetap berdiri kokoh menjaga keindahannya. Sama seperti sosok yang punya keteguhan prinsip... berada di dekat orang yang punya ketenangan seperti itu, rasanya tenang sekali, Aisha."
Aisha mendengarkan setiap patah kata Anton dengan saksama. Ia sesekali mengangguk pelan seraya tersenyum manis, kembali menyembunyikan tawa kecilnya yang masih geli menyadari sisi lain sang atasan.
"Ternyata tempat seindah ini tidak hanya sekadar memanjakan mata, tapi menyimpan filosofi yang begitu bagus di baliknya." tutur Aisha seraya menatap hamparan pemandangan di depan mereka.
"Saya nggak menyangka Pak Anton bisa menceritakan keindahan tempat ini dengan seindah itu."
Anton terkekeh renyah.
'Filosofi tebing dan sungai...’ batin Anton seraya menghela napas panjang dalam hati, menyembunyikan senyum miris di balik raut wajahnya yang berusaha tenang.
‘Sebenarnya semua itu hanya karanganku saja, Aisha. Mana ada kiasan seperti itu? Aku hanya tak punya keberanian untuk mengatakannya secara langsung... bahwa sungai yang meluluhkan batu keras itu adalah kamu, dan ketenangan tebing yang aku kagumi itu sepenuhnya tentang dirimu.’
Anton melirik sekilas ke arah Aisha yang sedang tersenyum manis menikmati cokelat panasnya. Rasa gemas dan pasrah bercampur menjadi satu di dadanya.
‘Tapi kamu... kamu benar-benar tidak sepeka itu,’ lanjut Anton dalam hati, menggeleng pelan dengan rasa gemas yang tertahan.
‘Semua kalimat puitis dan ungkapan isi hatiku malah kamu makan mentah-mentah sebagai pelajaran keindahan alam. Bagaimanakah caranya agar logika polosmu itu bisa menangkap sinyal dari hatiku ini?’