-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
****
Kegelapan malam Kliwon kian merambat pekat memeluk perbukitan Desa Lemah Wungu. Angin malam berhembus dingin membawa aroma tanah basah dan samar-samar bau racun sangit yang belum sepenuhnya sirna. Di dalam rumah joglo yang megah, suasana terasa begitu hening. Mbok Sumi telah terlelap tidur di kamarnya usai meminum ramuan herbal penenang yang khusus diracik oleh Candra Kirana di dapur tadi malam.
Namun, di dalam kamar utama, lampu minyak kelapa masih menyala temaram, membiaskan cahaya keemasan yang redup di atas dinding-dinding kayu jati.
Candra Kirana sama sekali belum memejamkan mata sejak pagi hari. Berdiri di samping ranjang, wanita jelita yang sedang mengandung lima bulan itu melangkah mondar-mandir dengan napas yang bergejolak pelan. Kebaya katun longgar berwarna biru muda yang dikenakannya menyamarkan lekuk perutnya yang membusung indah. Jemari halusnya tak henti-hentinya meremas kain jarik yang menyelimuti pinggangnya, diliputi rasa gelisah dan kecemasan yang teramat membakar batin.
"Lindungilah Mas Bagas..." bisik Kirana parau, suaranya bergetar halus di tengah keheningan kamar.
Setiap kali angin malam menerpa jendela kayu, dada Kirana berdesir hebat. Sebagai mantan Ratu Ular yang pernah bertakhta ratusan tahun di Sendang Manten, Kirana dapat merasakan bahwa serangan ribuan taksaka yang melanda desa hari ini bukan sekadar musibah fana biasa. Kegelisahan bahwa masa lalunya kembali menghantui keselamatan warga dan suaminya terus mencengkeram sukmanya.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu depan diiringi derit gerendel kayu yang digeser memecahkan keheningan rumah.
Creeek...
Langkah kaki tegap yang amat dihafalnya terdengar memasuki ruang tengah. Kirana tersentak pelan, seketika bergegas membuka pintu kamar dan berlari kecil menyongsong sosok pria yang baru saja melangkah masuk.
Dialah Bagas. Pria tegap itu berdiri di pintu kamar dengan wajah yang tampak amat lelah. Rambut hitamnya agak acak-acakan dibasahi keringat dingin, dan beskap dinas hitamnya ternoda sedikit lumpur sawah usai seharian penuh menyisir rumah-rumah warga.
"Mas Bagas...!" jerit Kirana halus.
Tanpa memedulikan rasa pegal di pinggangnya, Kirana langsung menghambur ke dalam dekapan tegap suaminya. Kedua lengan halusnya merangkul erat leher Bagas, menyandarkan kepalanya yang bergetar di atas dada bidang pria yang amat dicintainya itu.
Bagas yang terkejut seketika membalas pelukan hangat istrinya. Tangan besarnya merengkuh pinggul berisi Kirana, merapatkan tubuh mulus istrinya seraya menghirup dalam-dalam aroma ronce melati yang membalut rambut Kirana.
"Dinda... Kamu belum tidur, Sayang?" bisik Bagas lembut seraya mengusap punggung anggun istrinya. "Kenapa masih terbangun malam-malam begini?"
Kirana mendongak pelan, menatap lurus ke dalam iris mata Bagas dengan pendar air mata keharuan dan cemas. "Bagaimana Kirana bisa tidur nyenyak, Mas... kalau pikiran dan jiwa Kirana sepenuhnya ikut berkelana bersama Mas Bagas di luar sana...?"
Bagas menyunggingkan senyuman hangat, meremas pelan jemari dingin Kirana seraya mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya. "Maafkan Mas yang membuatmu cemas, Dinda. Ayo masuk ke kamar."
Dengan kepatuhan dan kebaktian tiada tandingan, Kirana membimbing Bagas masuk ke dalam kamar utama dan mengunci pintu rapat-rapat. Kirana membimbing Bagas duduk di tepi peraduan kayu jati.
"Mas duduk sebentar ya... Biar Kirana bantu Mas," tutur Kirana halus.
Dengan ketelatenan seorang istri yang amat memuliakan suaminya, Kirana berlutut anggun di hadapan Bagas. Jemari halusnya yang lembut mulai membuka satu per satu kancing emas beskap dinas Bagas yang kotor. Kirana melucuti beskap tegap itu, meletakkannya di atas meja ukir, lalu mengambil cawan tanah liat berisi air hangat dan kain bersih yang telah disiapkannya sejak tadi.
Kirana membasuh wajah, leher, dan dada bidang Bagas dengan usapan kain basah yang hangat, menyapu bersih sisa-sisa keringat dan debu perjalanan. Setelah itu, Kirana berpindah berlutut di bawah, melepas selop kayu di kaki Bagas lalu merendam dan membasuh kedua kaki tegap suaminya di dalam baskom kayu berisi air hangat beraroma racikan rempah penawar lelah.
"Dinda... Kamu sedang hamil lima bulan, tidak usah sampai berlutut membasuh kaki Mas seperti ini..." tegur Bagas merasa tak tega melihat istrinya yang membungkuk di bawah.
Kirana mendongak, menyunggingkan senyuman manis nan manja yang amat menentramkan jiwa. "Membasuh kaki suamiku adalah kehormatan dan kebahagiaan terbesar bagi Kirana, Mas Bagas... Kaki ini sudah berjalan seharian melindungi seluruh warga desa. Biarkan Kirana yang memanjakannya malam ini."
Usai membasuh kaki Bagas hingga bersih dan mengeringkannya dengan handuk lembut, Kirana berdiri lalu mengambil cangkir tanah liat yang mengepulkan asap tipis dari meja.
"Ini Kirana buatkan wedang jahe hangat racikan sendiri... Minumlah dulu, Mas," sodor Kirana dengan kedua tangannya.
Bagas menerima cangkir tersebut, menyesap wedang jahe yang terasa hangat dan pedas manis membakar kerongkongannya. Rasa lelah yang menghimpit tubuhnya perlahan meluruh, berganti dengan rasa damai yang melimpah akibat pelayanan tulus istrinya.
Bagas menaruh cangkir di meja, lalu menarik lembut tangan Kirana hingga wanita jelita itu terduduk manis di atas pangkuan tegapnya. Bagas merangkul pinggang Kirana, menyandarkan dagunya di bahu mulus istrinya.
Kirana meremas lembut jemari Bagas di atas perut lima bulannya, menatap wajah suaminya dari dekat.
"Mas Bagas..." panggil Kirana pelan dengan nada suara yang bergetar penasaran. "Bagaimana... bagaimana kondisi warga desa di luar sana?"
Bagas menghela napas panjang, mengelus pelan perut membusung istrinya dari balik kain kebaya. "Banyak sekali warga yang terkena gigitan ular hari ini, Dinda... Mulai dari Pak Merto di Sawah Kidul, Joko anak Bu Lastri di tepi sungai, sampai Pak Sastro di kebun cengkeh. Ular-ular itu muncul serentak dan bergerak sangat agresif."
Dada Kirana berdesir kencang, tangannya semakin erat meremas jemari Bagas. " Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang, Mas?"
"Kamu tidak usah khawatir," jawab Bagas mantap seraya tersenyum tenang. "Semua korban sudah ditangani dengan baik. Minyak penawar sudah dibagikan, dan beberapa bekas gigitan yang parah sudah Mas bantu netralisir racunnya menggunakan sisa pendar pencerahan dari Rajah Pusaka Sisik Emas. Bengkak mereka sudah menyurut dan kondisi mereka semua sudah stabil."
Mendengar hal itu, helaan napas lega akhirnya keluar dari tenggorokan Kirana. " Kirana lega sekali mendengarnya..."
Namun, hening sejenak merayap di antara mereka. Wajah Kirana kembali diselimuti gurat ketakutan yang dalam. Pikirannya melayang pada keanehan serangan ular-ular tersebut.
"Mas Bagas..." bisik Kirana parau, matanya menatap nanar ke arah jendela kamar. "Apakah... apakah mereka... ?"
Sebelum Kirana sempat melanjutkan prasangka buruknya, Bagas segera meletakkan jari telunjuk tegapnya di atas bibir manis Kirana.
"Hush... Jangan bicara yang tidak-tidak, Sayang," potong Bagas cepat dengan suara rendah yang teramat lembut namun sarat ketegasan.
Bagas menangkup kedua pipi mulus Kirana, menatap lurus ke dalam iris mata bening istrinya yang berkaca-kaca.
"Ini semua hanyalah musibah alam biasa, Dinda," tegas Bagas dengan intonasi yang menentramkan. "Kamu tidak boleh berpikir yang macam-macam, apalagi menyalahkan dirimu sendiri. Kamu sekarang adalah manusia fana... Kamu adalah istriku, dan calon ibu dari anak yang sedang tumbuh di dalam rahimmu ini. Tugasmu hanyalah menjaga kesehatanmu dan Si Kecil."
Kirana menatap mata Bagas, merasakan gelombang kedamaian dan perlindungan mutlak yang terpancar dari sosok suaminya. Seluruh kecemasan dan rasa bersalah yang mencengkeram sukmanya sejak pagi seketika luntur tak berbekas di bawah wibawa Bagas.
"Iya, Mas Bagas..." tutur Kirana pasrah nan lembut, menyunggingkan senyuman bening. "Maafkan Kirana yang sudah berpikir yang bukan-bukan..."
"Tidak apa-apa, Dinda. Mas mengerti ketakutanmu," balas Bagas mesra seraya mencium lembut bibir manis istrinya. "Ini sudah larut malam, udara semakin dingin. Ayo kita istirahat. Kamu dan anak kita butuh istirahat yang cukup."
Bagas berdiri seraya menggendong anggun raga Kirana di dalam dekapannya, membawanya melangkah menuju peraduan kayu jati. Bagas membaringkan Kirana dengan penuh kehati-hatian di atas empuknya tumpukan kain mori tebal, lalu menyelimuti tubuh istrinya hingga ke dada.
Bagas menyusul berbaring di samping Kirana, merapatkan dada bidangnya pada tubuh mulus istrinya. Tangan tegap Bagas merangkul pinggang Kirana, melingkupi perut lima bulan yang membusung hangat itu dalam dekap perlindungan yang utuh.
Bersambung...