NovelToon NovelToon
Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.

Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.

Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.

Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.

Mari mengikuti ceritanya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 Mencoba Mengobrol

Hubungan Ezra dan Refisha tidak baik-baik saja karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Ezra justru tidak pulang ke rumah dan lebih menghabiskan waktunya di lapangan futsal.

Tetapi Ezra tidak bermain futsal, melainkan dia tampak frustasi yang duduk di salah satu bangku di atas mejanya penuh dengan minuman kaleng, beberapa kali Ezra menghela nafas kasar.

"Woy!" Yogi menepuk baru Ezra.

"Kenapa sih dari tadi nggak ikut main? Malah kayak orang stress di sini?" tanya Yogi.

"Lagi nggak mood," jawabnya.

"Memang ada masalah apa? kenapa tiba-tiba tidak mood?" tanyanya.

"Aku harus membayar semua uang yang aku pakai dari Roby dan masalah uang ini juga akhirnya diketahui mama dan papa, sudah pasti harga diriku seolah-olah tidak ada di depan Refisha, bagaimana tidak untuk biaya pernikahan saja aku harus meminjam," jelas Ezra.

"Kesimpulannya kau berpikir jika Refisha menganggapmu rendah karena pada kenyataannya Refisha wanita mandiri, berdiri di kaki sendiri dan sementara kau masih bergantung pada orang tua, lebih parahnya biaya pernikahan kalian masih melibatkan orang lain?" ucap Yogi.

Ezra melihat serius ke arah Yogi.

"Maaf Ezra, aku tidak bermaksud menarik kesimpulan seperti itu, tetapi menurutku, itu belum tentu benar," ucap Yogi sangat berhati-hati berbicara karena ingin menjaga perasaan sahabatnya.

"Ezra, tetapi dengan kau berada di tempat ini itu tidak akan menyelesaikan masalah, kau seharusnya pulang dan bicara baik-baik dengan istrimu, jangan salah Refisha, seharusnya dengan posisi Refisha saat ini, kau harus jadikan motivasi, ini bukan persaingan dalam pernikahan, tetapi menjadi lebih baik karena pengaruh dari istri, lagi pula yang diuntungkan dalam hal ini juga kamu juga," Yogi sebagai sahabat tidak henti-hentinya memberikan nasihat kepada Ezra.

Entahlah Ezra mendengarkan atau justru masih marah pada Refisha. Tetapi sebagai sahabat Yogi pasti ingin pernikahan sahabatnya itu baik-baik saja dan tidak terjadi kesalahpahaman terus-menerus. Yogi sangat memahami apa yang dirasa Ezra saat ini. Pria memang akan merasa tidak ada apa-apanya jika wanita lebih berada di atas mereka.

******

Sementara Refisha sudah pasti memikirkan suaminya, dia tidak bisa tidur karena Ezra kunjung tidak datang membuat Refisha tampak murung, berdiri di depan jendela, menggunakan piyama dengan rambutnya yang dibiarkan di gerai dan tangannya sejak tadi memegang ponsel.

"Ya Allah, mengapa beliau belum pulang juga? Apa yang terjadi?" ucapnya dengan perasaan yang tidak enak, benar-benar sangat khawatir yang tidak bisa dijelaskan.

Ceklek.

Refisha langsung menoleh ke belakang dan ternyata orang yang dia tunggu pulang aja untuk. Ezra dan Refisha saling melihat dari kejauhan dengan mata mereka yang terus saling menatap.

"Ezra....." lirih Refisha melangkah menghampiri suaminya dengan berlari dan kemudian memeluk Ezra dengan sedikit berjinjit. Ezra menghela nafas, tadinya tidak ingin membalas pelukan istrinya namun tangannya akhirnya memeluk punggung suami istri begitu keras dengan mata terpejam dan sedikit kepalanya tertunduk pada pundak Refisha.

Tidak ada yang mereka bicarakan, seolah-olah bahasa tubuh mereka sudah saling bercerita satu sama lain.

Sampai pelukan itu akhirnya terlepas perlahan. Ezra melihat bagaimana sang istri benar-benar sangat mengkhawatirkannya Ezra mengusap punggung Refisha.

"Kamu dari mana?" tanya Refisha lembut.

Bagaimana tidak khawatir sudah jam 02.00 pagi tidak pulang.

"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Ezra.

"Bagaimana mungkin aku bisa tidur dan sementara suamiku tidak pulang," ucapnya.

Ezra memegang kedua pipi Refisha dan kemudian mencium lembut pipi sang istri.

"Maafkan saya Refisha!" ucapnya menyadari kesalahannya karena sudah membuat sang istri khawatir.

"Kamu marah kepada saya?" tanya Refisha.

Ezra menggelengkan kepala dan kembali membawa sang istri ke dalam pelukannya.

"Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran saya, kenapa saya lari dari masalah, seolah-olah menyalahkan kamu, padahal sudah jelas bahwa ini adalah masalah saya dan niat kamu untuk membantu saya bukan untuk merendahkan saya seolah-olah tidak bisa menyelesaikan masalah ini, tetapi kamu hanya ingin membantu saya," ucap Ezra pada akhirnya menyadari kesalahannya.

Refisha kembali melepas pelukan itu, tatapan suaminya begitu dalam kepadanya, Refisha memegang pipi Ezra.

"Demi Allah saya tidak pernah merendahkan kamu, saya tidak pernah merasa lebih tinggi dibandingkan kamu, saya tidak pernah merasa lebih sukses, saya sungguh tidak bermaksud apapun, menurut saya permasalahan apapun dalam rumah tangga, siapa yang memiliki masalah harus diselesaikan secara bersama, untuk apa menikah jika permasalahan yang kita hadapi harus diselesaikan sendiri-sendiri," ucap Refisha.

"Kamu benar! Dan inilah kebodohan saya yang tidak memahami semua itu, saya seperti anak kecil, sangat mudah sensitif dan kemudian lari dari masalah, menyalahkan kamu dan padahal apa yang kamu lakukan sudah benar," ucap Ezra.

"Maafkan saya, ya!" ucap Ezra membuat Refisha menganggukkan kepala.

Ezra meletakkan tangannya di punggung sang istri, semakin mendekat dan menggendong istrinya ala bridal style.

Ezra melangkah menuju ranjang, membaringkan sang istri dengan sangat lembut di atas ranjang, kemudian juga dia naik keranjang dan masuk ke dalam selimut membawa Refisha ke dalam pelukannya dan mencium lembut kening Refisha.

"Ini sudah malam, kita sebaiknya istirahat, kita lanjutkan saja besok pembicaraan kita," ucap Ezra.

Refisha menganggukan kepala karena sebenarnya jujur dia juga sangat mengantuk.

******

Pagi-pagi Ezra sudah terlihat sibuk di sofa dengan beberapa dokumen yang dia periksa. Refisha tadi turun ke dapur sebentar untuk membuat teh dan kembali memasuki kamar dengan membawa secangkir teh, Refisha kemudian mendekati suaminya dengan duduk di sebelahnya dan meletakkan teh tersebut di atas meja.

"Refisha, bagaimanapun aku tetap tidak bisa menerima uang dari kamu untuk membayar semua uang yang aku pinjam dari Roby, aku juga tidak akan memakai uang Mama dan Papa, proyek ini sudah hampir berjalan 7 bulan, jika proyek ini selesai maka keuntungannya akan aku terima, aku baru saja berkomunikasi dengan Roby. Alhamdulillah dia memberi keringanan kepadaku satu bulan untuk menyelesaikan pembayaran itu," ucap Ezra ternyata mendapat solusi tanpa harus memakai uang istrinya.

"Alhamdulillah jika ada solusi yang baik, semoga saja proyeknya berhasil dengan cepat, keuntungannya juga bisa kamu miliki dan menyelesaikan urusan masalah kamu dengan Roby," ucap Refisha pasti sebagai istri merasa lega dengan apa yang dikatakan suaminya.

"Kamu benar, aku juga sangat bersyukur ternyata ada penyelesaian masalah dalam hal ini. Ya walau sebenarnya aku juga takut, tetapi Alhamdulillah sama benar-benar baik-baik saja," sahut Ezra.

Refisha tersenyum mendengar kata-kata suaminya, Ezra memegang tangan Refisha dan menatap sang istri begitu dalam.

"Seandainya aku mendengarkan kamu, meminta solusi kepada kamu, pasti tidak akan seperti ini, maafkan aku ya," ucap Ezra lagi-lagi merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, sekarang yang terpenting masalahnya sudah dapat diselesaikan, kamu hanya tinggal fokus saja pada penyelesaian proyek ini dan maka semua akan baik-baik saja," ucap Refisha.

"Kamu benar," sahut Ezra.

"Oh iya Ezra, nanti sepertinya aku pulangnya agak malam, karena harus mempersiapkan acara fashion show yang hanya tinggal satu minggu lagi," ucap Refisha sekalian meminta izin kepada suaminya.

"Aku juga harus lembur nanti malam, nanti malam aku jemput kamu, kita pulang sama-sama ya," ucap Ezra.

Refisha mengangguk-anggukkan kepala, kalau pasangan suami istri itu saling terbuka satu sama lain, mereka akan terlihat manis.

Bersambung......

1
Dew666
Belah durenya di cut nanggung nih
Yasinta Niken
saya suka dengan cerita2nya tapi kenapa selalu putus 2
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!